Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Kehancuran


__ADS_3

Nathan sedang tersenyum di kursi kantornya sambil melihat siaran televisi, bahkan wajahnya terlihat begitu bahagia.


Rasanya hatinya begitu merasa puas akan apa yang di lihatnya saat ini. Tikus-tikus menjijikkan yang mengusik kehidupannya akan di singkirkan satu persatu dengan cara mengenaskan.


Tok..Tok..Tok..


Terdengar pintu ruang kerjanya di ketuk beberapa kali


"Masuk" Nathan menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari siaran berita di layar televisi.


"CEO, ini harga saham dari perusahaan keluarga Elena, dua hari ini mengalami penurunan drastis karena hampir seluruh investor menarik modal mereka setelah foto-foto syur Elena dengan salah seorang produser ternama itu tersebar luas di media sosial" Bram menyodorkan map berwarna biru ke depan Nathan.


Nathan hanya meliriknya saja tanpa berniat melihatnya.


"Apa CEO tidak tertarik membeli saham mereka?" Tanya Bram penasaran


"Aku??" Nathan mengalihkan pandangannya menatap Bram yang berdiri di depan meja kerjanya, kemudian dengan santainya Nathan malah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi lalu menautkan kedua telapak tangannya.


Bram mengeryit heran tak bisa membaca apa yang bosnya inginkan saat ini. Ekspresi Nathan benar-benar tidak bisa di baca oleh Bram.


"Aku tidak sudi membeli saham mereka yang tak seberapa itu, aku ingin kau membuat mereka tidak memiliki jalan kembali serta hancur sehancur-hancurnya"


Bram tercengang dengan apa yang baru saja di katakan oleh Nathan. Dia tak menyangka di balik wajah tampan dan sikap diam Bos barunya, menyimpan sikap tak mengenal ampun.


"Baik CEO, saya mengerti. Saya permisi" Bram mundur beberapa langkah dan lalu berbalik badan berlalu dari ruangan bosnya kembali bekerja.


Nathan mematikan televisi dan kembali menatap layar laptop melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk.


Nathan terus berkutat dengan pekerjaan dan berkas-berkas yang selalu saja menumpuk di meja kerjanya hingga dia lupa waktu.


Tiba-tiba ponselnya bergetar beberapa kali, membuat Nathan meraih dan membuka ponselnya, ada satu pesan gambar masuk yang memotret Sesil sedang berbincang dengan Elena di sebuah taman yang di yakini Nathan tak jauh dari komplek perumahannya.


Kau menghancurkan aku, aku juga bisa ~+6281******908


"Sial" Nathan meremas ponselnya dengan begitu marah, meskipun hanya foto Sesil sedang berbincang dengan Elena, namun Nathan yakin betul Elena mempunyai tujuan lain.


Ponsel dalam genggaman tangan Nathan kembali bergetar dan menunjukkan nomor yang sama mengirim sebuah video.


Nathan memutar video itu dan memperlihatkan Sesil masuk bersama Elena sebuah mobil hitam yang kemudian melesat ke jalan raya.


Nathan meraih jas kerjanya dan mengenakannya, dia sangat kawatir dengan kondisi istrinya saat ini yang sedang bersama Elena.


Saat Nathan keluar ruangan, ponselnya kembali bergetar, satu pesan masuk yang mengirim sebuah alamat masuk ke dalam ponselnya.


Dia semakin yakin kalau Elena pasti mempunyai tujuan di balik ini semua.


"Bos mau kemana?" Emilia menegur Nathan yang keluar ruang kerjanya dengan raut wajah yang tidak bersahabat.


Namun Nathan mengacuhkan sekretarisnya dan berjalan dengan cepat, membuat Emilia harus berlari menyusul bosnya yang sudah menjauh dari hadapannya.


"Bos, satu jam lagi ada pertemuan dengan investor dari Paris, ini pertemuan yang sangat penting bos" Emilia mengekor di belakang Nathan yang masih mengacuhkannya.


"Bos, kita bersusah payah menarik investor ini, jangan sampai kita kehilangan kesempatan" Emilia masih berusaha mengingatkan Nathan namun sayangnya usahanya sia-sia saja.


"Bos jangan sampai....."


"Diam" Nathan menghentikan langkah kakinya dan menatap tajam Emilia yang menundukkan kepalanya karena takut akan bentakan Nathan


"Bram akan mengurus semuanya, suruh dia menemui investor itu" Saut Nathan sambil kembali melangkahkan kakinya


"Tapi bos, Bram orang baru, itu sangat beresiko"


Nathan menarik nafasnya kesal dan berbalik badan menatap Emilia dengan raut wajah yang sudah memerah.


"Sekali lagi kau berani berbicara, akan aku pastikan hari ini hari terakhirmu bekerja di sini" Tukas Nathan. Tanpa menghiraukan Emilia dia masuk ke dalam lift yang membawanya langsung ke area parkiran kantornya.


Setibanya di basement, Nathan langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kencang.

__ADS_1


Namun sebelum itu, dirinya lebih dulu mengirim pesan kepada Dave untuk membantunya. Karena Nathan yakin kalau Dave pasti bisa di andalkan.


Nathan mengarahkan laju mobilnya menuju alamat yang dikirimkan oleh Elena.


Kurang dari satu jam, Nathan sudah tiba di tempat yang di tuju olehnya.


Sebuah rumah yang terlihat terpencil karena berada di pinggiran kota Semarang.


Nathan turun dari mobil dan masuk ke dalamnya, rumah tersebut terlihat begitu sepi.


Namun Nathan tetap berhati-hati saat masuk ke dalamnya.


Tidak ada penjagaan berarti itu yang membuat Nathan malah menjadi waspada.


Nathan membuka pintu utama dan terdengar sambutan hangat dari dua orang wanita yang sedang duduk sambil menghisap sebatang rokok di tangannya.


"Halo Honey, akhirnya kamu datang juga" Elena tersenyum menyambut kedatangan Nathan


"Masuklah" Imbuh Nathan lagi.


Nathan menyipitkan matanya melihat wanita yang duduk di samping Elena. Wanita yang di rasa tidak asing olehnya.


Tapi Nathan bingung pernah bertemu dimana dengan wanita itu.


"Kau lupa padaku?" Tasya tersenyum dan mematikan sebatang rokok yang di hisapnya kemudian menatap Nathan yang berdiri di ambang pintu.


"Anastasya Wiradja" Tasya mengambil gelas yang berisi wine dan meminumnya hingga tersisa setengah gelas.


Nathan menarik nafasnya saat mendengar nama belakang wanita paruh baya tersebut. Nama belakang yang sama dengan Dean mantan kekasih istrinya dulu.


"Nyonya Wira, apa kabar?"


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, aku baru kembali dari luar negri" Tasya tersenyum membalas sapaan yang di lontarkan oleh Nathan.


"Elena adalah salah satu anak didik di salah satu cabang agensi model yang aku buka" imbuh Tasya


Nathan hanya diam saja mendengarkan semua perkataan dua jelmaan manusia yang berdiri di hadapannya.


"Sekarang aku memberimu pilihan, kau akan melihat istrimu bernyawa tapi menceraikannya dan menikah dengan Elena, atau kau memilihnya dan aku akan dengan senang hati mencabut nyawanya" Tasya tersenyum puas


"Dimana istriku? biarkan aku melihatnya. Baru aku bisa menentukan aku akan memilih siapa" Nathan sekuat tenaga menahan emosinya.


"Bawa Dia"


Kemudian salah seorang pengawal tasya membawa Sesil keluar dari sebuah kamar dengan kondisi mulut Sesil di sumpal kain dan tangannya di ikat di kursi roda.


"Kau sudah melihatnya bukan?" Seru tasya lagi sambil menuangkan Wine ke dalam gelas kosong miliknya


Nathan melangkahkan kakinya ingin mendekat ke arah Sesil namun langkah kakinya terhenti saat melihat penjaga yang berdiri di belakang Sesil mengeluarkan senjata api dan menodongkan di belakang kepala Sesil.


Nathan mengepalkan tangannya dan berhenti di tempat semula. Dua tidak mungkin bertindak gegagah saat ini. Dia harus pintar-pintar mengulur waktu hingga bantuan datang.


"Nath, tinggalkan dia. Wanita cacat itu tidak ada gunanya untukmu. Malah akan menyusahkan kau seterusnya" Elena berjalan maju dan bergelayut manja di lengan Nathan.


"Lepaskan" Nathan menepis tangan Elena, bahkan langsung mendorong tubuh Elena menjauh darinya.


"Oh, jadi perlu aku ingatkan siapa aku ya?" Tasya menarik sudut bibirnya dan tersenyum sinis menatap Nathan


"Buka penyumpal mulutnya" Seru Tasya, dia ingin melihat Ekspresi terakhir Sesil sebelum dirinya menghabisinya nanti, mendengar instruksi Tasya, pengawalnya langsung membuka kain yang menutup mulut Sesil.


"Nath, pergilah dari sini sebelum terlambat"


Nathan hanya tersenyum menatap istrinya dan menganggukkan kepala sebagai kode untuk istrinya agar tetap tenang dan percaya padanya.


"Kau dan Swan sama-sama keras kepala, sama-sama memilih wanita yang tidak berguna. Bahkan kalian berdua menghalalkan segala cara untuk melindungi wanita bodoh ini" Tasya melirik ke arah Sesil


"Dulu aku membunuh Ayu dengan tanganku sendiri, karena wanita ****** itu yang sudah merebut Swan dari sisi ku, mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku, bahkan karena wanita itu pula Swan menghancurkan karirku, sama seperti kau menghancurkan karir Elena saat ini" Terdengar luapan emosi dari setiap kata yang terlontar dari mulut Tasya

__ADS_1


"Bukan hanya itu pula, di saat aku memulai kehidupan baru, Swan kembali merenggut putra tiriku Dean dengan cara yang begitu mengenaskan hingga suamiku mengajak pindah keluar negri dan sebulan yang lalu suamiku meninggal"


"Jadi apa salahnya, kalau dulu aku meleyapkan Ayu ,dan sekarang aku akan meleyapkan istrimu di depan matamu"


Tasya meraih senjata api dan mengarahkannya ke Sesil.


"Tunggu" Suara Nathan membuat Tasya menurunkan senjata apinya.


"Aku akan memilih Elena, sebenarnya aku menikahi Sesil hanya untuk kepentingan bisnis semata, dan setelah aku mendapatkannya aku berencana akan meninggalkannya. Dan kalau kau ingin membunuhnya silahkan saja, tapi nanti setelah tujuanku terlaksana"


Elena yang mendengar penuturan dari Nathan seketika menjadi gembira, karena sedari tadi dia hanya duduk di samping Tasya dan melihat pertunjukkan yang membosankan.


"Bolehkan aku ikut bergabung minum? karena aku sangat haus?" Nathan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Tasya


Namun bukan Tasya namanya kalau dirinya percaya begitu saja dengan apa yang di katakan oleh Nathan.


"Kau pikir aku bodoh? Apa yang bisa membuktikan kalau kau tidak membohongiku?"


Nathan berjalan mendekat ke arah Sesil yang sedari tadi menatapnya, namun kali ini wajah Nathan terlihat begitu tak bersahabat, dan saat sampai di hadapan Sesil dengan tidak ragu Nathan melayangkan satu tamparan keras di pipi istrinya, lalu tanpa melihat Sesil dia berjalan mendekat ke arah sofa dan duduk di sana dekat dengan Tasya.


"Bagus-bagus, saya suka" Tasya bertepuk tangan melihat adegan di hadapannya. Sedangkan Sesil meringis menahan rasa sakit di pipinya, bahkan terlihat lima tapak jari-jemari Nathan di pipi mulusnya.


Tasya yang merasa senang, langsung menuangkan wine ke dalam gelas dan mengajak Nathan serta Elena bersulang.


"Nyonya Wira, jika anda berkenan, saya sendiri yang akan mengesekusi wanita cacat itu. Karena dia pula seluruh keluargaku menderita, bahkan om Arik juga mati di tangan Swan. Sebenarnya saya sudah sejak lama ingin menuntut balas atas apa yang pernah di lakukan oleh keluarganya, tapi belum memiliki kesempatan saja" Seru Nathan sambil meminum wine kembali.


"Jadi kau keponakan dari Arik Prakasa?" Tasya begitu terkejut dengan apa yang di dengarnya


"Hm" Nathan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Cepat Honey, leyapkan saja wanita cacat itu. Setelah itu kita pindah keluar negri, menikah dan hidup bahagia" Ucap Elena dengan nada begitu manja bahkan langsung menyandarkan kepalanya di pundak Nathan.


"Tentu Elena, apa yang kau mau akan segera kau dapatkan" Nathan mengusap kepala Elena beberapa kali. Membuat Sesil merasa begitu cemburu melihatnya. Tapi di saat seperti ini, Sesil harus tetap percaya dan yakin dengan Nathan suaminya.


"Oh, tentu saja dengan senang hati, balaskan kematian Arik" Tasya mengeluarkan pistol dan menyerahkan kepada Nathan. Kemudian dengan senang hati Nathan menerima pistol tersebut dan berjalan mendekat ke arah Sesil yang duduk di kursi roda.


"Di dalam pistol itu hanya ada satu peluru yang sudah di lapisi dengan racun, bunuh dia tepat di jantungnya" Seru Tasya, bahkan Tasya terdengar tertawa begitu sarkas seperti orang yang sudah tidak waras.


"Ayo sayang, cepat lakukan" Kali ini Elena ikut menimpali. Nathan hanya tersenyum menatap kedua wanita yang sedang sibuk menenggak wine.


Nathan mengarahkan pistol tepat di samping kepala Sesil.


Melihat Nathan yang akan mengeksekusi tawanannya, pengawal yang sedari tadi menjaga Sesil seketika memposisikan diri berdiri di samping Sesil. Dia begitu senang karena tugasnya akan di ambil alih tapi dia tetap menerima bayarannya.


Nathan mengarahkan pistol tepat di samping kepala Sesil kemudian mulai menarik pistol tersebut.


Sedangkan Tasya dan Elena melebarkan senyumnya melihat adegan di depan matanya.


"Aku akan segera membalas kematian om Arik" Nathan menarik sebelah sudut bibirnya dan tertawa sarkas.


Dan menatap kembali ke arah Sesil yang sedari tadi menggelengkan kepalanya.


"Aku mencintaimu Nath, jangan lakukan ini" Sesil memelaskan wajahnya menatap kedua bola mata Nathan, namun Nathan tak mau menatap wajah Sesil dan semakin mendekatkan pistol di kepala istrinya


Dor..


Terdengar satu dentuman pistol menggema di rumah tersebut.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2