Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Semakin Bersinar


__ADS_3

Hari semakin berlalu, Sesil dan Nathan semakin kompak dalam mengurus perusahaan, bahkan keduanya sepakat meleburkan Carnal Group dan Adigja Group menjadi Dignal Group. Semua itu sudah melewati kesepakatan antara Swan serta Adibjo. Bahkan yang mengusulkan peleburan ini adalah Sesil.


Kini Dignal Group benar-benar menguasai pasar bisnis baik dalam negri bahkan nama Dignal Group cukup terkenal di kaca internasional, karena memang sebelumnya Carnal Group memiliki banyak investor serta client dari luar negri.


Semenjak Sesil dan Nathan mengumumkan peleburan dua perusahaan itu, kini Sepasang suami istri itu wara-wiri di kabar pasar.


Bahkan seperti biasanya, Swan sedang duduk melihat siaran televisi. Wajah putri dan menantunya terlihat di sana sedang di wawancarai perihal kesuksesannya memimpin perusahaan dan membawa perusahaan merela melejit tak tertandingi saat ini.


Sesil yang terlihat lebih calm dan teduh mampu membuat mata para penonton tak berhentinya berdecak kagum, keteduhan wajah Sesil di sandingkan dengan Nathan yang memiliki aura luar biasa di tambah wajah Nathan yang terlihat sangat tenang dan berwibawa membuat mereka menjadi pasangan yang banyak di idolakan oleh pasangan milenial saat ini.


Kesuksesan Nathan melebarkan sayap bisnisnya membuat banyak orang menghujaninya dengan pujian dan sanjungan.


Swan benar-benar bangga melihat wajah kedua anaknya yang sedang di wawancara.


Dia tak hentinya mengucapkan rasa syukur atas kesuksesan yang di limpahkan kepada anak dan menantunya, bahkan setelah badai besar yang menghantam rumah tangga keduanya.


Tiba-tiba Swan merasa ada yang menyandarkan kepalanya di pundaknya, Swan menoleh ke samping dan melihat wajah mendiang istrinya di sampingnya.


Wajah mendiang istrinya terlihat begitu tersenyum, bahkan Swan merasakan istrinya membelai lembut pipinya dengan jari-jemarinya.


"Sayang.." Ucap Swan lirih, matanya terlihat berkaca-kaca, karena sudah lama sosok mendiang istrinya tak muncul di hadapannya.


Ingin rasanya Swan cepat menyusul Ayu pergi ke sisi Tuhan, tapi rasanya dia tidak tega meninggalkan Sesil saat ini, usia Sesil masih sangat muda. Meskipun saat ini putrinya sudah memiliki suami yang sangat mencintainya tapi Swan belum bisa meninggalkannya saat ini.


Maka hanya dengan bayangan wajah mendiang istrinya sudah bisa membuat rasa rindunya sedikit terobati.


Swan juga meletakkan kepalanya di atas kepala istrinya yang juga di rasa sedang melihat siaran televisi dengan wajah yang begitu bahagia.


^


Sementara di salah satu stasiun televisi swasta, Sesil dan Nathan baru saja selesai melakukan wawancara.


Keduanya di dampingi oleh asisten masing-masing sepakat untuk pergi menggunakan mobil masing-masing, karena keduanya memiliki janji temu dengan client yang berbeda. Setelah memeluk dan memberi kecupan di tubuh istrinya, Nathan dan Sesil pergi meninggalkan gedung televisi swasta tersebut.


Hari ini jadwal Nathan tidak terlalu padat, berbeda dengan istrinya. Sesil memiliki sedikit masalah dengan clientnya. Bahkan client istrinya meminta kembali di atur jadwal pertemuannya setelah dua kali melakukan pertemuan namun belum menemukan kata sepakat.


Sesil di antar oleh sopir serta di dampingi emilia terlebih dahulu meninjau salah satu pembangunan mall yang di naungi oleh perusahaan miliknya.


Bahkan peninjauan Sesil memakan waktu hingga sore hari. Sesil benar-benar merasa terkuras tenaganya, tapi dia masih memiliki satu client yang harus di temui olehnya, client yang menurutnya sangat merepotkan karena dua kali pertemuannya belum juga menemukan kata sepakat.


Setelah di rasa semua di kontrol dan tidak ada masalah, Sesil melanjutkan kembali perjalanannya menuju salah satu hotel ternama di kota Semarang.


Dia memang sengaja datang lebih awal supaya bisa menunggu client sekaligus mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.


Gumaya Tower Hotel.. at 07.30pm


Sesil duduk bersebelahan dengan Siska, asistennya. Keduanya terlihat menikmati segelas jus alpukat sembari mempersiapkan beberapa berkas yang di perlukan. Hingga tak berselang lama clientnya yang berasa dari benua Eropa datang masuk ke dalamnya.


Wajahnya masih terlihat sangat gagah meskipun usianya sudah lewat kepala tiga, setelan jas tuxedo yang membalut tubuh kekarnya membuat siapa saja berdecak kagum akan penampilannya.


Menyadari kedatangan clientnya, Sesil dan Siska berdiri dan memberi salam kepada pria bule yang baru saja masuk di temani asistennya.


"Selamat malam Tuan Geordan, apa kabar?" Sesil menjabat tangan pria bule yang di ketahui memiliki nama Geordan


"Selamat malam Nona Cornelio, senang berjumpa denganmu" Geordan membalas jabat tangan Sesil dan tersenyum penuh makna.


"Bisakah kalian berdua meninggalkan kamu?" Geordan menatap asistennya serta Siska secara bergantian, membuat Siska seketika menoleh ke arah bosnya.


"Tapi Siska asisten saya Tuan, saya membutuhkan bantuannya untuk membantu saya mempresentasikan proposal saya" Seru Sesil mencoba menghalangi niat Geordan.


"Baik, kalau begitu kerja sama kita bisa di bicarakan lain waktu" Geordan beranjak dari kursinya hendak keluar dari resto tersebut.

__ADS_1


"Baik, baik" Sesil mencoba bersabar menghadapi clientnya yang satu ini, sejenak Sesil melirik ke arah samping tempat dimana Siska duduk.


Siska langsung paham kemauan dari bosnya, kemudian dia pun beranjak dan berpindah meja mencari tempat yang kosong. Kebetulan letak meja yang kosong cukup jauh dari meja bosnya, tapi Siska setidaknya masih bisa mengawasi gerak-gerik pria bule yang menurutnya aneh itu. Jika pria bule itu berani menyentuh bosnya, dia bertekad akan menghajarnya apapun resikonya nanti.


Kini di meja tersebut tersisa Sesil dan Geordan. Geordan masih tak berhenti menatap wajah wanita yang di kagumi selama beberapa minggu ini. Ketangguhan Sesil dalam berbisnis membuat Geordan benar-benar ingin mengenal Sesil lebih dekat, bahkan Geordan rela mengeluarkan dana yang cukup banyak demi bisa menjalin kerja sama dengan Dignal Group.


"Jadi bagaimana Tuan, apakah sudah bisa di mulai?" Seru Sesil dengan mulai membuka layar laptopnya.


"Tentu saja" Geordan tersenyum senang sembari kedua matanya terus menatap wajah Sesil


"Baik Tuan, jadi begini" Sesil mulai menjelaskan rincian proyek yang di tawarkan oleh perusahaan miliknya. Mulai dari dana yang di kucurkan oleh pihak pertama, keuntungan serta waktu yang di perlukan untuk membereskan proyek tersebut.


Sesil masih terus mempresentasikan detail apa saja yang harus di perhatikan saat pembangunan nanti bahkan resiko apa saja yang bisa terjadi dan cara mengatasi resiko tersebut tak luput dari perhatian Sesil.


"Bagaimana Tuan, apakah yang kali ini anda menyetujuinya?"


"Tentu saja saya sangat puas dengan apa yang nona Cornelio katakan barusan, tapi akan lebih puas lagi bila kita..." Tiba-tiba Geordan meraih tangan Sesil dan menggenggamnya, namun dengan cepat Sesil mencoba melepaskan genggaman tangan itu dari Geordan. Kedua matanya menyipit mencoba mencerna apa yang akan pria bule di hadapannya inginkan.


Geordan tersenyum dan semakin merasa tertantang dengan sikap Sesil yang seperti ini. Jika biasanya wanita karir seperti Sesil akan melakukan banyak cara untuk menarik hati clientnya, bahkan tak jarang dari mereka bersedia memuaskan clientnya di atas ranjang demi mendapatkan sebuah keuntungan untuk perusahaan miliknya.


"Aku sudah lama mengagumi Nona, terlebih lagi keluarga saya juga sudah lama bermitra bisnis dengan pihak Carnal dari semenjak masih di pimpin oleh pipi anda, Tuan Swan" Geordan kembali tersenyum penuh makna, sedangkan Sesil masih mencoba bersabar akan tingkah pria yang mulai di rasa menyebalkan.


"Nona, saya bersedia mengucurkan berapapun dana yang Nona minta, asalkan Nona mau menjadi teman kencan saya selama seminggu"


Mendengar ucapan Geordan, kedua alis Sesil menaut dengan sempurna, dia tak menyangka pikiran Geordan sedangkal itu.


"Saya tau Nona sudah memiliki suami, bahkan suami nona adalah CEO di Dignal Group, saya juga tau Nona sudah menikah hampir satu setengah tahun lamanya tapi belum memiliki keturunan. Saya yakin suami Nona tidak mampu memberi nona seorang keturunan. Jadi apa salahnya kalau nona bermain dengan saya. Jika anda tidak mau meninggalkan suami nona kita bisa bermain secara diam-diam di belakang suami Nona" Ucap Geordan penuh hasutan


Sesil mengepalkan tangannya menahan emosi yang sudah membuncah, rasanya dia ingin merobek mulut pria yang tidak beretika di hadapannya saat ini. Namun Sesil masih berusaha sabar dan menepiskan senyumnya. Membuat Geordan salah mengartikan senyuman Sesil.


"Tuan Geordan, mungkin anda sedikit salah menilai saya. Saya memang seorang wanita karir, tapi bukan berarti saya akan menghalalkan segala cara untuk mencapai puncak karir saya. Nafkah yang suami saya berikan lebih dari cukup. Bekerja seperti ini hanya sebuah hiburan di tengah waktu senggang saya. Terimakasih untuk waktunya, saya lebih baik kehilangan proyek ini di bandingkan kehilangan kehormatan saya sebagai seorang istri" Sesil menutup laptop miliknya dan berdiri dari tempat duduknya.


"Siska" Sesil berteriak memanggil sekretarisnya, membuat beberapa pengunjung resto menatap ke arah dirinya


"Siska ayo kita pulang" Tukas Sesil


Siska mengangguk patuh dan langsung mengambil alih laptop serta beberapa berkas yang di bawa oleh bosnya.


Sedangkan Geordan begitu tak menyangka kalau Sesil memilih menolaknya di bandingkan menyetujui usulannya.


Geordan tak menyangka kalau Sesil rela kehilangan proyek yang bernilai milyaran rupiah demi mempertahankan kehormatannya sebagai seorang istri. Ada rasa kesal dalam hatinya, tapi kekagumannya terhadap Sesil semakin membesar.


^


Mobil Sesil memasuki sebuah pelataran rumah minimalis setelah sebelumnya Sesil mengantar Siska pulang ke rumahnya terlebih dahulu.


Saat memasukkan mobil ke dalam garasi, terlihat mobil Nathan sudah terparkir di sana. Sepertinya Nathan sudah pulang terlebih dahulu.


Setelah mobilnya terparkir sempurna, Sesil membawa tas kerjanya masuk ke dalam rumah.


Suasana rumah sudah sepi, bahkan Sesil tak melihat Nathan berada di sofa ruang tamu menunggu kedatangannya.


Sesil perlahan menyusuri anak tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.


Saat Sesil membuka pintu kamarnya, terlihat Nathan sedang memangku laptop.


"Sayang, kau sudah pulang" Nathan mengalihkan pandangannya dari layar laptop menyambut kedatangan istrinya.


"Hm" Jawab Sesil ala kadarnya kemudian tanpa menghiraukan Nathan, Sesil melepas sepatu heels yang di kenakan olehnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Nathan mengeryitkan dahinya merasa heran akan tingkah istrinya yang tiba-tiba tidak seceria biasanya.

__ADS_1


Bahkan tak butuh waktu lama Sesil sudah keluar dari kamar mandi dengan mini dress rumahan yang di rasa nyaman olehnya.


Melihat istrinya sudah selesai mandi dan sedang berada di depan meja rias, seketika Nathan menutup laptopnya dan mendekati istrinya.


"Sayang biar aku bantu" Nathan mengambil alih sisir dari tangan Sesil dan mulai menyisir rambut istrinya dengan perlahan supaya tidak menyakiti kepala istrinya.


Setelah rambut istrinya rapih, Nathan mulai memijat kecil di kepala istrinya. Membuat Sesil memejamkan matanya menikmati pijatan dari suaminya yang di rasa begitu nyaman.


"Kau sudah makan?"


Mendengar pertanyaan suaminya, Sesil hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya. Karena memang sedari siang dia belum sempat makan nasi.


Nathan menghela nafasnya, dan langsung memutar tubuh istrinya hingga kini keduanya saling berhadapan.


Nathan langsung berjongkok mensejajarkan diri dengan Sesil.


"Sayang, kau lupa janjimu?" Nathan menatap lekat-lekat kedua bola mata istrinya. Sedangkan Sesil mencoba mengingat janji apa yang di maksudkan oleh suaminya.


"Hm.." Nathan kembali menarik nafasnya


"Biar aku ingatkan kembali, bukankah dulu sebelum kau, aku ijinkan bekerja sudah berjanji kalau tidak akan terlalu lelah?" Nathan menaikkan kedua alisnya, sedangkan Sesil tersenyum mengingat hal itu.


"Sayang, aku ingin cepat ada baby di sini" Nathan mengusap perut rata istrinya.


Seketika Sesil menjadi terdiam dan kembali mengingat perkataan Geordan padanya.


"Nath..hmm" Sesil terlihat ragu-ragu melanjutkan kata-katanya


"Ada apa hm?" Nathan membelai lembut pipi istrinya


"Jika aku tidak bisa lagi memberimu keturunan, apa kau masih mau di sampingku?" Ucap Sesil lirih dengan nada takut-takut.


Nathan seketika diam tak mengerti apa yang membuat istrinya bisa bertanya hal konyol seperti itu padanya.


Melihat suaminya diam Sesil menjadi semakin takut. Dia yakin kalau setiap orang pasti mendamba akan hadirnya buah hati, termasuk suaminya.


"Ada atau tidaknya buah hati kita kelak, aku akan tetap berada di sisi mu. Apapun keadaannya. Jika Tuhan tidak mempercayakan lagi momongan kepada kita, tentu kita masih bisa mengadopsi anak dari panti asuhan dan kita besarkan layaknya anak kita" jawab Nathan dengan menepiskan senyumnya


"Tapi aku yakin sayang, Tuhan akan kembali mempercayakan baby kepada kita" Nathan mengecup perut rata istrinya. Namun tiba-tiba saja Nathan tersenyum saat mendengar cacing di perut istrinya berdemo minta jatah makan.


Kemudian Nathan mengajak Sesil makan malam, meskipun awalnya Sesil menolak karena takut menjadi gemuk. Namun Nathan tetap memaksa Sesil untuk makan malam bahkan membuatkan spageti mashroom kesukaan istrinya seperti awal pernikahan mereka dulu. Bahkan Nathan juga kali ini ikut makan menemani istri manjanya yang selalu saja membuatnya merasa begitu gemas.


Di sela-sela menikmati spageti mashroom buatan Nathan, Sesil menceritakan keluh kesah serat pengalamannya hari ini.


Rasanya dia begitu kesal dengan client yang di temuinya.


Meskipun seperti itu Sesil tidak mau memberi tahu siapa client yang di maksud olehnya, jika di beri tahu, Sesil yakin pasti Nathan akan bertindak di luar nalar.


Karena saat Sesil menceritakan saja Nathan sudah terlihat begitu marah karena istrinya sudah di rendahkan seperti itu.


Namun karena usaha dadi Sesil mampu meredam kemarahan di hati suaminya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2