
Hari ini juga swan di temani oleh Sean, menuju kantor polisi untuk melaporkan dean atas kasus penculikan dan percobaan pemerkosaan.
Swan sebenarnya tidak ingin membawa ke jalur hukum, karena swan juga punya cara sendiri untuk bisa menyiksa dean, sama seperti dulu swan meleyapkan arik dengan begitu halus tanpa mengotori tangannya sendiri.
Swan dan sean kini baru selesai membuat laporan, dan kini mereka berdua keluar dari kantor polisi dan hendak kembali lagi ke rumahnya.
🌷🌷🌷
Dean yang sedang di rawat di salah satu rumah sakit di semarang, kini sedang memainkan ponselnya, sedangkan tasya juga terlihat duduk di sofa yang terletak tidak jauh dari ranjang yang dean tempati, tasya sedang asik melihat majalah fashion.
Sedangkan ayah dean sedang ada urusan bisnis di luar kota beberapa hari ke depan.
Namun tiba-tiba pintu ruang rawat itu terbuka dan beberapa orang uang berseragam polisi memasuki ruang rawat dean.
"Selamat siang" Salah seorang polisi memberi hormat kepada tasya, dan seketika tasya bangkit dari duduknya
"Siang pak, ada yang bisa saya bantu" seru tasya
"Kami dari kepolisian membawa surat perintah penangkapan saudara dean atas tuduhan penculikan dan percobaan pemerkosaan" salah seorang polisi menyerahkan amplop yang berisi surat penangkapan untuk dean.
Seketika tasya melihat ke arah dean yang juga sedang menatapnya, tasya kembali mengalihkan pandangannya dan mengambil amplop tersebut kemudian membacanya dengan seksama.
"Tapi putra saya sedang sakit" Tasya mencoba mencari alasan supaya dean tidak di bawa
"Tadi kami sudah berkoordinasi dengan dokter, dan dokter bilang saudara dean kondisinya sudah membaik, mari ikut kami" Polisi terebut kemudian menarik tangan dean .
"Tunggu pak, saya bisa jelaskan" Dean mencoba mengelak
"Silahkan jelaskan di kantor" Kemudian polisi tersebut membawa paksa dean keluar dari rumah sakit dan menggiringnya menuju kantor polisi
🌷🌷🌷
"Tunggu sebentar, pasti kau akan segera keluar" Tasya mencoba menenangkan dean yang kini mendekam di balik jeruji besi
"Ma, tolong dean , dean tidak mau ada di sini" Dean menatap sendu ke arah tasya
"Kalau sampai ayah tau, ayah pasti akan marah besar ma" imbuh dean lagi
"Sebentar lagi kau akan keluar" Tasya mencoba menyakinkan kembali putranya.
Jangan sebut dia Anastasya jika dia tidak memiliki seribu akal untuk melepaskan dean dari dalam sana.
Karena tasya juga sudah melaporkan balik nathan atas tuduhan penganiyayaan.
Dan benar saja, tak lama kemudian nathan di bawa oleh dua orang polisi dan di jebloskan berbeda sel dengan dean.
"Mama tunggu kau di depan" Tasya tersenyum puas saat melihat nathan yang kini sudah masuk ke dalam tahanan.
"Kau di sini juga?" seru dean, terdengar nada ejekan dari ucapan yang terlontar dari mulut dean, nathan masih diam saja tidak merespon, nathan duduk dan menyandarkan punggungnya di tembok.
Tak berselang lama, emilia sang sekretarispun datang, wajahnya terlihat begitu kaget ketika melihat bosnya berada di dalam sana.
"Bos?" Emilia memanggil nathan, dan seketika nathan bangkit dari duduknya dan menghampirinya.
"Hubungi pengacara keluarga, cepat keluarkan aku dari sini" Seru nathan, dan emilia pun mengangguk, kemudian emilia menjauh dari nathan dan menghubungi pengacara keluarga nathan.
Setelah menghubungi pengacara keluarga nathan, emilia hendak kembali lagi melihat kondisi bosnya, tapi seketika itu emilia mengingat sesil, jadi terlebih dahulu emilia mengirim pesan singkat kepada sesil tentang kondisi bosnya saat ini. Setelah mengirim pesan singkat emilia kembali menyimpan ponselnya dan mendekat ke arah nathan.
__ADS_1
"Bagaimana?" Nathan menatap tajam sekretarisnya yang berdiri tepat di depannya.
"Pengacara keluarga sedang berada di luar kota bos, jadi paling besok beliau baru kembali, atau bos mau mencari pengacara pengganti?"
"Cari pengganti, aku tidak mau berlama-lama di sini" tukas nathan, seketika itu emilia menyanggupi dan pergi untuk mencari pengacara pengganti.
Setelah emilia pergi, nathan kembali mendudukkan dirinya, kedua tangannya menutup wajahnya.
"Nath..?" suara yang begitu familiar tiba-tiba menyentak telinga nathan, seketika nathan membuka tangannya yang menutupi wajahnya, dan melihat ke arah sumber suara, benar saja gadis kecilnya datang, tapi dari mana gadis kecilnya tau?
"Emilia" gumam nathan dalam hati.
"Kenapa kau kemari? Pulanglah, tunggu aku di rumah" Nathan dan sesil saling berdiri berhadapan hanya di batasi oleh jeruji besi.
Sesil menggelengkan kepalanya menolak usulan dari nathan, nathan bisa berada di sini itu semua karena nathan menolong dirinya.
Dean yang melihat adegan di sampingnya merasa geram, rasanya jika bisa dean ingin menghajar nathan lagi, dean kembali teringat kejadian tadi pagi, jika nathan tidak datang mengganggu pasti dean sudah berhasil menikmati tubuh sesil.
"Aku datang kemari bersama papi, papi akan membebaskanmu" imbuh sesil, sesil menatap nathan dengan sendunya.
Sedangkan swan sedang berbicara kepada polisi tentang syarat pembebasan nathan, namun swan seketika terkejut ketika mendengar yang melaporkan nathan adalah Ibu Anastasya, swan tidak mengerti apa hubungannya tasya dan dean.
Belum terjawab pertanyaannya, muncullah tasya yang baru saja kembali dari toilet.
Swan menatap tajam ke arah tasya uang juga sedang menatapnya.
"Pak, saya permisi dulu" Swan bangkit dari kursinya dan menarik tangan tasya dengan kasar menjauh dari jangkauan polisi.
Swan membawa tasya ke parkiran mobil, setelah memastikan hanya ada mereka berdua swan melepaskan tangan tasya, dan menatap tajam ke arah tasya.
"Hm, kita satu sama" Tasya menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum ke arah swan yang sedang menatapnya.
Swan yang mendengar penuturan tasya matanya seketika terbuka lebar, swan tidak menyangka tasya adalah ibu tiri dari dean, selama ini yang swan tau wira rekan bisnisnya baru saja menikah sekitar lima tahun, dan selama lima tahun mereka menjalin bisnis swan belum pernah sekalipun bertemu dengan istri wira.
"Kalau kau mencabut tuntutanmu terhadap dean, aku juga akan melakukan hal yang sama" Tasya menatap kedua bola mata swan, dan tasya tersenyum ke arahnya.
Sedangkan swan menarik kedua alisnya, swan tak menyangka tasya akan kembali lagi ke kehidupannya.
"Kalau kau tidak setuju tidak masalah, aku tidak rugi karena aku tidak perduli dengan dean, tapi calon menantumu itu? pasti putri kesayanganmu akan memikirkannya?" ucap tasya kembali
"Untuk kali ini aku akan mengalah padamu, tapi kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan ! " seru swan
"Cukup sudah kau mengambil istriku, dan jangan mencoba untuk menyentuh putriku" tukas swan.
"Aku tidak akan menyentuh putrimu tapi dengan satu syarat ! Kembalilah bersamaku, dan aku akan menjadi mami yang baik untuk sesil, karena jujur aku masih sangat mencintaimu" Tasya mencoba meraih tangan swan, namun dengan cepat swan mengibaskan tangan tasya.
Tasya yang masih mendapat penolakan dari swan mengepalkan kedua tangannya, bahkan wajah tasya berubah menjadi merah padam menahan amarahnya.
Swan berjalan memasuki kantor polisi, begitupun dengan tasya.
Mereka berdua sama-sama mencabut laporannya.
Dan dengan saat bersamaan dean dan nathan pun di bebaskan dari kantor polisi.
Dean langsung menghampur ke pelukan tasya.
"Mama memang yang terbaik" Dean memeluk tasya dengan erat, sedangkan nathan dan sesil baru terlihat keluar dari dalam sana.
__ADS_1
Sesil yang melihat tasya, langsung bersembunyi di balik punggung nathan.
"Ada apa sip?" Nathan mengeryit keheranan melihat tingkah sesil, swan yang melihat putrinya bersembunyi di balik punggung nathan langsung berjalan mendekat ke arah putrinya.
"Kemari sayang" swan merentangkan tangannya dan seketika sesil berlari memeluk papinya.
Swan tau betul sesil masih menyimpan trauma mendalam akibat kematian maminya yang di bunuh tepat di depan mata kecilnya, meskipun swan sudah membawa sesil berobat ke beberapa psikolog tapi trauma sesil hingga saat ini belum sembuh sebenarnya.
Swan kemudian membimbing sesil keluar dari kantor polisi dan mengajaknya masuk ke dalam mobilnya, sedangkan nathan masih mengeryit heran dengan tingkah sesil yang selalu merasa takut jika bertemu dengan mama dari dean.
Kini mereka bertiga duduk di dalam mobil, swan duduk di samping supir sedangkan sesil duduk di bangku belakang bersama nathan. Swan menyerahkan sebotol air mineral dan menyuruh sesil meminumnya.
Sesil meneguknya beberapa teguk, kemudian mengembalikan air mineral kepada papinya.
Sesil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan matanya.
"Sil kau baik-baik saja?" nathan kembali melontarkan pertanyaannya
Sedangkan sesil masih diam saja tidak menjawab.
"Dia baik-baik saja" swan menghela nafasnya dengan berat
"Hanya sedikit masih trauma" imbuh swan lagi.
"Trauma?" nathan mengulangi ucapan swan
"Trauma apa?" imbuh Nathan kembali.
"Ibu dari dean adalah..." swan ragu melanjutkan kata-katanya lagi, swan takut sesil akan tidak mampu mendengarnya.
"Pembunuh mami" kali ini sesil yang menjawabnya, sontak saja nathan dan swan menatap ke arah sesil yang masih memejamkan matanya, nathan lebih terkejut lagi, dia tidak menyangkan ibu dean lah penyebab mami sesil meninggal, pantas saja tempo hari saat bertemu di boutique sesil begitu tertekan dan ketakutan, ternyata inilah alasan mengapa sesil merasa takut kepada mama dari dean.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mungkin lebih baik tasya dan swan bersatu kali ya, biar tasya tobat nggak jahat lagi, hihihi
__ADS_1
Pelakor kejam se-mangatoon😁