Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Palsu Tapi Seperti Nyata


__ADS_3

Sesil mengambil beberapa udang dan manaruh di piring yang berada tepat di depannya, sesil memang seorang vegetarian, dan sesil juga tipikal pemilih makanan, sesil tidak bisa makan sembarangan.


Sesil mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dan di susul dengan udang bakar yang aromanya sangat membangkitkan selera makan, ketika udang sudah masuk ke dalam mulutnya, sesil mulai mengunyah makanannya, dan rasa gurih dari udang menyebar ke seluruh rongga mulutnya.


Sesil memganggukkan kepalanya, sesil baru tau di semarang ada resto yang menjual udang bakar selezat ini, sesil mencoba menoleh ke mencari tau apa nama resto ini.


Dan seketika sesil melebarkan matanya ketika melihat dean memasuki resto, sesil meraih ras jinjingnya untuk menutupi wajahnya.


Nathan yang melihat tingkah sesil hanya bisa tersenyum, sesil terlibat begitu konyol.


"Untuk apa kau menutupi wajahmu? bukankah sedari tadi dean sudah mengikuti kita?" terdengar nada ejekan dari ucapan nathan.


Sesil menepuk jidatnya sendiri, mengapa sesil bisa lupa kalau memang dean sudah mengikuti dirinya sedari awal mereka keluar dari pemakaman tadi.


Sesil hanya tersenyum masam ke arah nathan yang sedang asik menikmati makanan.


Sepertinya dean memang sengaja mengikuti dirinya, buktinya kini dean terlihat berjalan ke arah meja yang nathan dan sesil tempati.


"hello, I did not expect, I see you guys again" dean tersenyum memandang sesil dan nathan bergantian.


Dean yang memang berdarah asli australia itu menyapa mereka menggunakan bahasa inggrisnya.


"Belagu sekali dia" sesil menatap tak suka ke arah dean.


Sedangkan nathan melirik ke arah dean kemudian membalas senyum dean.


"May I join"? dean menaik turunkan alisnya.


"of course", mendengar jawaban nathan, seketika sesil memlototkan matanya ke arah nathan, sesil benar benar tidak menyangka nathan memperbolehkan dean untuk gabung makan satu meja bersama dirinya.


Dean berjalan dan mendudukan diri tepat di bangku kosong samping sesil.

__ADS_1


"adik sesil duduk kemarilah" nathan menepuk bangku kosong yang terletak tepat di sampingnya, nathan tersenyum dan berusaha menahan tawanya ketika mengucapkan kata "adik".


Sesil benar benar tak menyangka kalau nathan akan mengulangi kata kata darinya, dan mengambil kesempatan untuk bisa duduk berdekatan dengan dirinya.


Dua pilihan yang sama sama berat menurut sesil, satu mantan kekasih psikopat dan satu lagi mantan kakak kelas menyebalkan.


Sesil diam sejenak dan memikirkan sikap apa yang harus dia lakukan saat ini. Sesil ingin sekali kabur saja, sesil sudah muak dengan dua orang lelaki yang kini berada satu meja dengannya.


Tetapi jika sesil kabur, berarti semua ucapan dean benar, bahwa dirinya masih single dan mencintai dean, yang itu artinya dean akan kembali mengejar dirinya, bahkan bisa melakukan teror mengerikan. Membayangkan saja sesil sudah bergidik ngeri.


Nathan melihat raut wajah sesil yang sedang melamun, tangan nathan terulur menyentuh tangan sesil. Sentuhan tangan hangat nathan membangunkan sesil dari lamunannya, Sesil menatap mata nathan dengan dalam, sentuhan tangan nathan membuat sesil merasa sedikit tenang, kemudian nathan menganggukan kepala ke arah sesil. Sesil seperti sedang terhipnotis, dengan patuh sesil berdiri dari kursinya dan berpindah duduk bersebelahan dengan nathan.


"Dean, mungkin mau pesan makanan"? nathan lantas memanggil pelayan.


Dean memesan beberapa makanan dan minuman soda.


Setelah selesai memesan makanan, dean kembali melihat nathan dan sesil yang kini duduk bersebelahan.


"Ayo, lanjutkan makanmu" nathan mengambilkan udang dan menaruh di piring sesil.


"siapa bilang? bukan tak suka, tapi di paksa tidak suka olehmu karena kau alergi udang"! jawab sesil dengan ketus.


Ada bumbu udang yang tercecer di bibir sesil akibat sesil menjawab pertanyaan dari dean dan nathan dengan reflek mengusap bibir sesil yang belepotan dengan ibu jarinya.


Sesil yang mendapat perlakuan manis dari nathan sontak saja menjadi diam seperti batu, jantungnya kembali berdegup dengan kencang saat ibu jari nathan mengusap bibirnya, ada getaran hebat yang menusuk hatinya.


Nathan memperhatikan bibir sexi sesil dengan seksama, alih alih fokus membersihkan dengan ibu jarinya, nathan malah berfikir untuk membersihkan bibir sesil dengan bibirnya.


Nathan yang menyadari pikiran liarnya, langsung membuang jauh jauh dari otaknya.


Nathan menjauhkan ibu jarinya dan mengambil tisu kemudian menyerahkan ke arah sesil supaya sesil membersihkannya sendiri.

__ADS_1


Dean yang menyaksikan secara langsung adegan di hadapannya merasa geram, sesil adalah miliknya, bukan milik orang lain termasuk Nathan sekalipun.


Dean berusaha menahan emosinya dan tersenyum ke arah nathan.


"Kak nathan, apakah kalian..."


belum selesai dean mengucapkan kata katanya, nathan sudah terlebih dahulu memotong perkataan dari dean "Lebih dari yang kau pikirkan" nathan tersenyum sinis ke arah dean.


Seketika itu wajah dean berubah menjadi merah menahan emosinya yang sudah sampai di ubun ubunnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Kalau sedikit yang like sama komentar, srayu mogok nulis aja ah😔


__ADS_2