
Nathan baru saja kembali dari pertemuan bisnisnya siang ini dari luar negri, dia terlihat baru saja menginjakkan kakinya kembali di lobi kantor setelah tiga hari pergi berdinas, jika saja siang ini Nathan tidak memiliki janji bertemu dengan investor perusahaan miliknya tentu saja Nathan akan lebih memilih langsung kembali ke rumahnya bertemu dengan istri serta anaknya. Rasa rindu selama tiga hari tidak berjumpa membuat Nathan sangat ingin bertemu dengan Kenzo. Anaknya itu sangat cepat pertumbuhannya serta pola pikirnya bisa melampuai usia anak-anak sepantaran dirinya.
Ya ! Tak terasa 4 tahun usia Kenzo, rasanya baru kemarin Nathan menimang putranya, rasanya pula Nathan baru kemarin menemani Sesil melahirkan, tapi waktu memang berlalu begitu cepatnya, tak terasa kini Kenzo sudah sebesar itu. Bahkan pola pikirnya sangatlah berbeda dari teman-temannya pada umumnya, putranya Kenzo sudah mampu membaca dan berhitung layaknya anak-anak yang sudah duduk di bangku Sekolah Dasar
Sebenarnya Nathan juga tidak mengerti mengapa putranya memiliki kepandaian di atas rata-rata anak seusianya.
"CEO, bagaimana? apakah anda sudah paham dengan apa yang saya jelaskan?" perkataan Bram membuyarkan semua pikiran Nathan.
"Apa?" tanya Nathan berusaha fokus kembali
Bram menghela nafasnya dengan berat lalu menghembuskannya perlahan, dia harus kembali menjelaskan semua jadwal atasannya itu sekali lagi, padahal jadwal yang di miliki Nathan tidaklah sedikit. Bahkan Emilia terlihat mengulum senyumnya melihat penderitaan yang Bram alami, bagaimana tidak? Emilia juga sering melakukan apa yang Bram lakukan saat ini, yaitu menyebutkan ulang semua yang sudah dia baca.
Sementara mereka terus saja berjalan menuju ruang rapat, kebetulan mereka mengadakan janji pertemuan di kantor pusat Dignal Group. Suara benturan dan hentakkan sepatu heels dan sepatu anak-anak menggema di lorong tersebut.
"Papi..." teriakan khas suara anak kecil seketika mampu menghentikan langkah kaki Nathan beserta dua asistennya, tak terkecuali Bram seketika langsung berhenti berbicara dan ikut berbalik badan mencari sumber suara yang mampu mencuri perhatiannya.
"Papi.." panggilan itu terulang kembali dari bibir mungil seorang anak laki-laki berumur 4 tahun yang sedang berlari mendekat ke arah Nathan.
"Jagoan papi?" Seketika Nathan langsung berjongkok dan membuka tangannya lebar-lebar menyambut kedatangan putranya.
"Papi, Kenzo kangen" Kenzo terlihat langsung menghambur ke dalam dekapan Nathan yang kini berjongkok mensejajarkan tingginya supaya terjangkau oleh putranya.
"Papi juga kangen sayang" Nathan meregangkan pelukannya dan menatap putranya yang memiliki bola mata ke kebiruan seperti opahnya (Swan)
"Kenapa lama sekali tidak pulang pi?" Kenzo kembali memeluk papinya, rasanya tiga hari tidak di temani papinya dia begitu merindukan papinya. Karena hampir setiap malam Kenzo di ajak bermain kuda-kudaan oleh Papinya selain itu pula papinya akan selalu membacakan dongeng ketika dirinya akan tidur.
Nathan hanya tersenyum sambil tangannya mengusap punggung putranya, pandangan matanya beralih menatap wanita yang kini berdiri tepat di depan matanya, wanita yang sudah menyempurnakan kehidupannya itu terlihat sangat cantik, bahkan bentuk tubuhnya kembali seperti saat masih gadis dulu, wanita yang mampu membuat Nathan selalu merasa tak betah berada di luar rumah itu adalah istrinya sendiri, Sesilia. Siang ini Sesil mengenakan mini Dress yang memiliki tinggi sepuluh sentimeter di atas lutut di padukan dengan heels senada serta tas salah satu brand ternama dari benua Eropa membuat penampilan Sesil selalu mampu mencuri perhatian siapa saja yang melihatnya.
"Jagoan papi ada apa kemari sayang?" Nathan melepaskan pelukan putranya kemudian membelai lembut pipi Kenzo
"Papi, ayo kita pulang. Bukankah papi berjanji setelah pulang dari luar negri kita akan membeli mainan bersama?"rengek Kenzo sambil memelaskan wajahnya
"Sayang, tapi papi ada pekerjaan yang harus papi selesaikan. Sekarang Kenzo tunggu di ruangan papi ya, papi janji tidak akan lama" bujuk Nathan
"Tidak mau, papi selalu saja sibuk. Papi tidak sayang Kenzo" Kenzo memalingkan wajahnya ke sembarang arah dan tidak mau menatap Nathan yang terlihat menggaruk kepalanya.
Nathan mengalihkan pandangan matanya menatap Sesil, berharap istrinya mau membujuk Kenzo supaya mau menunggunya setidaknya sampai urusan dengan investor asing beres. Bagaimanapun juga investor ini sangatlah penting.
Sebenarnya Sesil enggan sekali membantu suaminya, karena setelah kelahiran Kenzo Nathan menjadi sangat pekerja keras meski tak di pungkiri oleh Sesil kalau Nathan selalu menyediakan waktunya untuk di habiskan bersama dirinya juga Kenzo, tapi waktu bersama keluarga jauh lebih sedikit bila di bandingkan dengan waktu bekerja Nathan selama ini.
"Kenzo sayang.." Sesil ikut berjongkok dan mulai meraih tangan putranya lalu menggenggamnya
__ADS_1
Kenzo masih diam di posisinya, bahkan bibirnya terlihat manyun. Sebenarnya Kenzo bukan anak yang suka menyusahkan kedua orang tuanya, tapi kali ini Kenzo ingin papinya bisa beristirahat terlebih dahulu, karena papinya pasti sangat lelah baru saja kembali dari luar negri. Kenzo tidak ingin papinya sakit karena kelelahan, sesederhana itu pikiran Kenzo.
"Sayang dengarkan mami, papi masih ada pekerjaan penting yang harus di selesaikan. Jadi Kenzo tidak boleh menganggu papi Nak"
"Mam.." Kenzo kembali menutup rapat-rapat mulutnya
"Kenapa sayang?" Sesil menautkan kedua alisnya menatap ke arah putranya yang kini malah menundukkan pandangannya menatap lantai yang kini di pakainya untuk berpijak.
Nathan melirik jam di pergelangan tangannya, waktu meeting sebentar lagi akan di mulai, tapi bagaimanapun juga Kenzo adalah hal paling penting dalam hidupnya saat ini. Kerja keras, uang serta semua yang Nathan hasilnya lewat jerih payahnya selama ini semata-mata hanya untuk mencukupi kehidupan anak dan istrinya, Nathan tidak mau Kenzo dan Sesil hidup kekurangan.
"Kenzo dengarkan mami, Papi bekerja keras selama ini, bahkan papi rela bekerja di saat kita tertidur pulas itu semata-mata papi lakukan supaya kita bisa makan dengan layak sayang" Sesil menghela nafasnya, berharap putranya bisa mengerti apa yang di katakan olehnya.
Mendengar ucapan maminya, seketika Kenzo langsung mengangkat wajahnya dan langsung menatap kedua orang tuanya yang kini berjongkok tepat di hadapannya, kedua bola mata Kenzo menatap secara bergantian dua pasang mata yang kini juga sedang menatapnya.
"Kenzo, papi janji setelah pekerjaan papi ini selesai, papi akan langsung mengajak Kenzo membeli mainan" Nathan mengangkat jari kelingkingnya ke depan wajah putranya.
"Benar?" tanya Kenzo sambil menautkan kedua alisnya.
"Uhm" Nathan langsung menganggukkan kepalanya dengan yakin.
"Janji?" imbuh Kenzo
"Tentu sayang!" mendengar janji yang papinya ucapkan seketika wajah Kenzo berubah menjadi berbinar, bahkan dia segera menautkan jari kelingking miliknya dengan jari kelingking milik papinya.
Setelah kepergian Nathan, Sesil membawa Kenzo menuju ruang kerja milik suaminya di lantai paling atas gedung ini. Dengan langkah kaki yang ringan Kenzo menggandeng tangan wanita yang telah melahirkan dirinya.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan papinya begitu banyak hal di tanyakan oleh Kenzo pada maminya, karena memang rasa keingintahuan yang di miliki Kenzo akan hal-hal yang baru saja di lihat sangatlah tinggi.
Sesil mendorong handle pintu ruang kerja suaminya dan membuka pintu lebar-lebar supaya Kenzo bisa leluasa masuk ke dalamnya. Meski ini bukan kali pertama Kenzo datang ke kantor papinya, tapi entah mengapa Kenzo selalu saja senang bisa datang kemari, bahkan ingin rasanya Kenzo cepat tumbuh menjadi orang dewasa supaya bisa meringankan pekerjaan papinya.
^
Setelah hampir dua jam menunggu di dalam ruangan kerja suaminya akhirnya handle pintu terbuka dan masuklah Nathan ke dalam ruangan tersebut. Senyuman di bibirnya mengambang dengan sempurna, karena jujur saja Nathan sangat merindukan istri serta anaknya.
"Papi.." Kenzo segera berlari menyambut kedatangan pria yang di anggap Hero olehnya.
Hup.. Nathan langsung menangkap putranya dan menggendongnya dengan begitu senang, bahkan Nathan berputar beberapa kali membuat Kenzo tertawa riang di dalam gendongan papinya, Sesil hanya tersenyum melihat dua pria yang sangat di cintainya begitu gembira saling melepas rindu.
"Oke, sekarang Kenzo mau papi belikan apa?" tanya Nathan saat dirinya sudah duduk di sofa tepat di samping istrinya, bahkan Kenzo terlihat duduk di pangkuan papinya.
"Papi, Kenzo mau membeli robot seperti yang Steve miliki! Kemarin paman Dave dan Bibi dokter datang ke rumah mengajak Steve, lalu Steve mengajak Kenzo bermain robot tapi Kenzo belum memiliki robot yang sama dengan Steve pi" Jawab Kenzo dengan wajah yang polos.
__ADS_1
"Oh ya? Robot milik jagoan papi kan banyak?" tutur Nathan sambil mencubit gemas pipi putranya.
"Tapi Kenzo mau yang seperti milik Steve pi" rengek Kenzo
"Oke,papi akan mengantar membelinya" seru Nathan dengan begitu semangatnya.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Sesil menaikkan kedua alisnya.
"Aku sudah batalkan semua jadwalku hari ini, kau tidak perlu kawatir sayang" Nathan tersenyum sambil tangan sebelah kiri menggenggam tangan istrinya dan tangan kanannya memeluk Kenzo.
"Asik, papi sayang Kenzo"Kenzo langsung mengecup pipi papinya beberapa kali dengan begitu girangnya.
"Tapi pi.." Seketika raut wajah Kenzo berubah menjadi murung kembali.
"Tapi apa sayang? apa ada yang kau inginkan lagi sayang?" Tanya Nathan, dan Kenzo hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Apa sayang? katakan?"
"Pi, setelah pulang membeli mainan kita berkunjung ke rumah opah Swan ya, Kenzo merindukan opah pi"
"Oh itu, tentu saja boleh sayang. Papi juga merindukan opah"
Kenzo kembali tersenyum gembira saat papinya menyetujui permintaannya. Begitu pula dengan Sesil, dirinya juga sangat senang karena meski suaminya sangat sibuk tapi suaminya tetap mengutamakan keluarga.
Setelah bercengkrama dengan puas, Nathan mengajak Kenzo serta Sesil menuju toko mainan yang biasa mereka kunjungi untuk membeli mainan milik Kenzo.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Visual Kenzo, akan Srayu kasih di akhir cerita ini ya😘