
Mobil yang di tumpangi Nathan perlahan meninggalkan hiruk pikuk ramainya kota Semarang. Perjalanan mulai tegang di rasa Nathan ketika mobilnya kini malah mengarah ke luar kota Semarang, menuju pinggiran kota. Jalanan juga terlihat begitu sepi.
Semakin mobil melaju entah kemana Nathan juga merasa begitu asing, jalanan yang berada di tepian kota, membuat Nathan sedikit merasa kawatir akan di bawa dirinya saat ini. Jika papi mertuanya berniat menghabisinya di sini, maka Nathan bertekad akan memperjuangkan nyawanya demi istrinya yang sedang menunggu dengan setia di rumahnya.
Mobil yang di tumpangi mereka berhenti di sebuah gedung yang cukup besar dan memiliki lantai tiga, namun dinding gedung tersebut sudah di tumbuhi banyak sekali lumut, bahkan ilalang tumbuh dengan subur melebihi pagar halaman gedung tersebut yang hanya memiliki tinggi 1,5m
Sang sopir dengan sigap turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu untuk Swan, namun Nathan yang merasa tidak pantas, tanpa menunggu di bukakan pintu langsung turun dengan sendirinya.
Nathan melihat sekeliling tempat ini, nampak begitu sepi serta jauh dari jangkauan penduduk.
Rindangnya pepohonan membuat suasana menjadi begitu mencekam.
Begitu banyak rasa takut yang terbesit di pikiran Nathan saat ini, namun Nathan berusaha mengontrol dirinya sendiri supaya tetap terlihat tenang.
Nathan sejenak melirik ke arah Swan yang kini baru saja tiba tepat di sampingnya. Wajah mertuanya itu sama sekali tanpa ekspresi, datar, dingin tak bisa di tebak apa yang sedang di pikirkannya, bahkan jika melihat sorot matanya juga percuma, hanya terpancar hawa dingin yang membuat siapa saja akan tunduk akan perkataannya.
Nathan bergidik ngeri akan hal itu, dia baru menyadari saat ini kalau memang benar Sang Raja bisnis memiliki karisma yang tak di miliki oleh orang lain, pantas saja papi mertuanya itu bisa mendirikan perusahaan dari nol hingga menjadi perusahaan terbesar di bidangnya saat ini, bahkan lebih dari itu, semua cabang dari berbagai jenis bisnis juga begitu sukses berkat tangan dingin mertuanya. Tak heran begitu banyak orang di luar sana yang mendamba menjadi suami Sesil, inilah alasannya.
Nathan tak bisa menebak orang seperti apa mertuanya, tak bisa menebak sekejam apa di balik sikap tenangnya.
Swan yang sebenarnya menyadari di tatap oleh menantunya nampak acuh saja seolah-olah tak ada Nathan di sampingnya. Hanya dengan satu kali tepukan tangan Swan, tiba-tiba saja keluarlah dua orang yang bertubuh kekar dari dalam gedung, bahkan dengan setengah berlari orang tersebut langsung menggeser pintu gerbang dan membukanya serta langsung menunduk memberi hormat kepada Tuannya.
Nathan menyipitkan matanya melihat dua orang yang di rasa tak asing di matanya, dan ternyata benar dugaannya, dua orang tersebut adalah orang yang sudah menghajarnya tempo hari di rumah sakit. Hati Nathan semakin berdebar, rasanya nyawanya sudah berada di ubun-ubun, bahkan mungkin saja jika papinya menghabisinya takkan memberikannya jalan untuk keluar lagi.
"Selamat datang Tuan Besar, silahkan masuk" Kata dua orang yang berdiri menunduk di samping pintu gerbang.
Tanpa menjawab sepatah katapun Swan melangkahkan kaki masuk ke dalam, sedangkan Nathan masih berdiri mematung di posisinya.
Swan yang sudah beberapa langkah berdiri di depan Nathan, seketika menoleh ke arah menantunya yang masih mematung.
Swan menggelengkan kepalanya sedikit, dan salah seorang penjaga langsung menepuk pundak Nathan hingga membuat Nathan tersadar dari lamunannya.
Swan menajamkan pandangan matanya hingga membuat Nathan akhirnya langsung berjalan menyusulnya ke arah mereka.
Nathan dan Swan berjalan beriringan memasuki gedung, suasana di dalam gedung nampak begitu terawat, bahkan Nathan sempat melintasi sebuah ruangan yang bersih di lengkapi sofa, meja tamu serta ac di dalamnya. Benar-benar di luar ekspetasi Nathan tadi.
Saat pertama tiba, Nathan mengira ini adalah bangunan yang sudah tak terawat lagi, namun saat masuk ke dalamnya benar-benar terawat dam bersih.
Hingga kini Swan mengajak Nathan menaiki tangga menuju lantai dua dan berhenti tepat di sebuah kamar,lagi-lagi dua pengawal yang sedari tadi berjalan di belakang mereka dengan sigap langsung membukakan pintu untuk Swan.
Swan masuk terlebih dahulu di ikuti oleh Nathan di belakangnya.
Nathan membuka matanya lebar karena terkejut melihat kondisi di dalam kamar yang sama persis seperti kamar utama di rumahnya yang di tempati oleh dirinya dan Sesil.
Swan berjalan menuju sofa dan langsung duduk menyilangkan kakinya di sana. Kedua tangannya terlipat di atas perut dengan pandangan mata yang lurus ke depan.
"Duduklah"
Nathan yang benar-benar merasa bingung hanya bisa pasrah dan ikut duduk bersebelahan dengan mertuanya namun masih ada jarak.
Sedangkan dua pengawal itu berdiri di bekalang sofa yang kini di tempati Nathan dan Swan.
"Bawa dia masuk" Seru Swan
Nathan semakin mengernyitkan dahinya tak mengerti siapa yang di maksud oleh mertuanya. Dan tiba-tiba saja seorang pelayan masuk dengan mendorong sebuah kursi yang di duduki oleh seseorang yang wajahnya di tutupi kain hitam.
Dan yang membuat Nathan terkejut, om Sean juga datang di belakangnya.
__ADS_1
Kepala Nathan saat ini di penuhi berbagai pertanyaan yang mengisi kepalanya.
"Buka" Seru Swan masih dengan ekspresi wajah yang sama.
Sang pelayan mendekat satu langkah dan perlahan membuka kain hitam yang di gunakan untuk menutup kepala orang tersebut.
"Tante Kinanti?" Seru Nathan tak percaya akan penglihatannya saat ini.
"Kau mengenalnya?" Sindir Swan
Nathan seketika diam seribu bahasa, matanya menatap lekat-lekat wajah Kinanti yang terlihat beberapa keriputan di sana, bahkan wajahnya sudah tak secantik saat beberapa minggu yang lalu Nathan menemuinya. Wajahnya kini polos tanpa polesan make sedikitpun menampakkan wajah aslinya yang ternyata di bawah standar
"Kenapa kau diam saja?" Swan mengalihkan pandangannya menatap ke arah Nathan yang terlihat shock
"Di-di-dia hm... dia adalah..."
"Istri dari Arik Prakasa" Tukas Swan
"Kintani Larasati" Imbuh Swan lagi
Nathan hanya bisa menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang mertuanya katakan padanya.
"Kau mencintai putriku?"
Mendengar pertanyaan Swan, Nathan dengan cepat menganggukkan kepalanya
"Kau senang melihat istrimu menderita?" Imbuh Swan lagi
"Tentu tidak, bahkan satu tetes air mata Sesil sudah mampu meremukkan hatiku" Jawab Nathan dengan begitu pasti, memang benar adanya seperti itu yang dia rasakan saat membuat Sesil menangis karena kesalahannya.
"Kau tidak ingin mengetahui bagaimana buah hati kalian di lenyapkan?" Swan menarik sebelah sudut bibirnya. Hari ini Swan ingin mendapatkan pembuktian akan setiap perkataan yang di ucapkan oleh Nathan kalau dirinya mencintai putrinya.
Seketika itu pula Nathan menatap tajam ke arah Kintani yang duduk tak berdaya dengan posisi tangan terikat dan muluk di lakban.
"Buka mulutnya" Seru Nathan. Kali ini bukan pelayan yang membukanya, namun Sean dengan kasar membuka lakban yang menutupi mulut Kintani sedari tadi
"Nathan jangan terhasut dengan raja iblis sialan itu ! Kau harus percaya tante Nath, tante tidak mungkin melakukan itu semua terhadap calon anakmu ! Tante benar-benar tidak tau kalau istrimu mengandung, dan lagi pula istrimu yang salah Nath, dia tergelincir sendiri di tangga balkon kamar" Kintani langsung berbicara tanpa henti membuat Sean mengepalkan tangannya dan ingin sekali merobek mulut wanita siluman di hadapannya itu.
"Katakan saja sejujurnya, apa yang sudah Anda lakukan terhadap istri saya?" Nathan berkata dengan penuh nada penekanan
"Aku ini istri dari mendiang om kamu nath ! kamu jangan sampai terhasut pria sialan yang duduk di sebelahmu, di itu otak pembunuhan dari mendiang om kamu, suami tante" Seolah tak perduli dengan semua pertanyaan Nathan, Kintani terus berusaha melontarkan nada provokasi terhadap Nathan.
Membuat Swan malah tersenyum melihat adegan seru di hadapannya, seolah dirinya sangat menikmati pertunjukan komedi yang membuatnya terhibur.
Kintani meludah ke lantai melihat Swan tersenyum sendiri.
"Kau lihat sendiri Nath, pria yang berada di sampingmu tertawa penuh kemenangan, dia sudah berhasil membuat kau dan aku bertengkar dan pasti sudah tidak akan ada lagi yang menuntut balas kematian Arik" Kintani berkata dengan penuh emosi, bahkan beberapa kali Kintani mencoba berdiri namun hanya dengan menggunakan satu telapak tangannya saja Sean sudah mampu menahan tubuh Kinanti.
Nathan diam saja membisu tak menjawab ucapan Kinanti. Dia masih ingin mendengar apalagi yang akan di katakan olehnya.
"Kau jangan bodoh Nath, kau bisa menendang seluruh keluarga Cornelio dari rumah, dan membuat mereka semua menjadi gelandangan sama seperti apa yang pernah mereka lakukan terhadap keluargamu ! ingat Nath kematian Arik yang begitu mengenaskan, apakah kau akan membiarkan orang yang melakukan itu bisa menikmati sisa hidupnya dengan tenang? sedangkan Arwah om Kamu menuntut keadilan?"
"Hm.." Nathan mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mengusap dagunya menggunakan jari -jemarinya.
Merasa Nathan sudah terprovokasi, Kintani tersenyum senang, karena kemenangan tetap akan di posisinya saat ini. Jikapun dia mati disini setidaknya tidak akan sendirian, Nathan juga akan menemaninya nanti. Karena Swan tidak mungkin membiarkan menantu yang sudah berulang kali melakukan kesalahan lolos begitu saja. Jika Nathan mati, Sesil pasti akan hidup menderita,setelah kehilangan calon anaknya, kelumpuhan kakinya, dan nanti sebentar lagi akan mendapat kenyataan kalau suaminya di habisi oleh papinya sendiri.
"Bereskan" Suara bariton Swan menggelegar mengisi ruangan tersebut, dua pengawal yang sedari tadi diam saja seketika langsung maju ke depan mendekat ke arah Kinanti. Seketika Kinanti melebarkan matanya tak percaya nyawanya akan melayang hari ini di tempat ini.
__ADS_1
Nathan juga langsung menoleh ke arah Swan yang masih duduk dengan tenang di posisinya. Nathan tak menyangka sebentar lagi akan menyaksikan kekejaman yang papi mertuanya lakukan.
Sedetik kemudian Nathan melebarkan mata saat melihat dua orang pengawal malah memegang tangan pelayan yang sedari tadi berdiri diam di samping Sean.
"Lepaskan ! Apa salah saya tuan?" Pelayan tersebut memberontak minta di lepaskan, namun seolah tuli Swan nampak acuh saja tidak melihat sedikitpun ke arah pelayan yang perlahan di bawa keluar oleh dua pengawal.
"Hm" Swan menarik sebelah sudut bibirnya, sedangkan Nathan hanya mengeryitkan dahi tidak mengerti. Bukankah yang akan di leyapkan Kintani, kenapa malah pelayan tal berdosa yang di bawa.
Nathan semakin tak mengerti apa yang ada di dalam pikiran Swan.
Tak lama kemudian terdengar jeritan dari suara pelayan, suara yang sangat mengerikan di telinga Nathan, bahkan membuat bulu halus yang tumbuh di lehernya meremang dengan sempurna.
"Bagaimana? Seru kan permainan kita?" Swan menaik turunkan alisnya dan tersenyum ke arah Kintani yang sedang menatapnya.
"Kintani, kau bukan tandinganku! Kau hanya debu yang perlu aku bersihkan dengan setetes air liurku" Seru Swan dengan nada mengejek, membuat Kintani semakin naik pitam menahan gejolak emosinya
"Jangan terlalu pandai ! Kau membayar salah satu pelayanku untuk menjadi mata-mata untukmu bukan? bahkan saat kau di sekap di sini kau diam-diam membuat strategi untuk mengeluarkanmu dari sini, tapi semua orang-orangmu sudah aku bereskan, aku sengaja menyisakan satu untuk menemanimu sebelum kalian di pisahkan" Swan menatap tajam ke arah Kintani yang tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi pucat dan takut
Saat ini hanya Nathan satu-satunya harapan untuknya hidup. Jika dia harus mati dia juga harus berhasil memprovokasi Nathan terlebih dahulu.
Sedangkan Nathan benar-benar tak percaya dengan apa yang baru di dengarnya, Swan begitu jeli menganalisa permasalahan, bahkan dia tak menyisakan satu helai daun kering di sekeliling pohon utama.
"Hm, jadi mumpung aku masih sedikit memberimu kesempatan, lebih baik kau katakan saja apa yang sudah kau lakukan terhadap putriku?" Tukas Swan
Terdengar jeritan kembali dari suara pelayan yang sepertinya sedang di siksa tak jauh dari ruangan itu. Membuat Nathan bergidik ngeri, namun tidak dengan Kintani, seolah merasa tak takut mati, Kintani malah kembali melontarkan nada menghasut
"Nath kau sudah lihat sendiri pria seperti apa yang kini menjadi papi mertuamu bukan? dia itu bukan manusia ! melainkan iblis yang menjelma sebagai manusia ! Dia hanya akan bersikap baik di depan keluarganya, tapi jika di luar dia seperti vampir yang haus akan darah ! bahkan menghilangkan nyawa seseorang saja itu adalah kesenangan untuknya !!"
Nathan diam saja tak bergeming mendengar apa yang di katakan Kinanti, sedangkan Sean juga nampak berdiri dengan tenang sekali, bahkan raut wajahnya sama tidak bisa di tebak seperti Swan.
"Nathan bahkan kau juga harus tau, selain Arik, Dean anak tiri dari Tasya sekaligus mantan kekasihnya serta putra tunggal dari keluarga Wiradja sudah di bunuh olehnya ! Namun hebatnya raja iblis itu membuat skenario seolah-olah Dean mati karena kecelakaan ! memang benar karena kecelakaan tapi semua sudah di atur olehnya" Seru Kinanti lagi
Swan dan Sean nampak diam saja tak bergeming, seolah-olah mereka sedang mendengarkan jaksa penuntuk umum yang membacakan surat tuntutannya acara di meja hijau.
"Ingat Nathan, ingat semua tujuanmu sejak kecil " Selangkah lagi Nathan semua mimpimu akan terwujud ! Jangan hanya karena kau mencintai seorang gadis kau menjadi buta akan cinta ! Kau juga akan mengalami terbuang seperti sampah jika kau tak lagi di butuhkan.
Nathan diam mencoba mencerna apa yang di katakan oleh Kintani, memang ada benarnya juga.
.
.
.
.
.
.
.
.
Apa keputusan Nathan besok?
Akankah memilih Sesil atau tetap Melanjutkan niat balas dendamnya ?
__ADS_1
Kalian penasaran? tuliskan isi hati kalian😁