
WARNING !!! 21+ HARAP BIJAK DALAM MEMBACA
BAGI YANG BELUM BERUMUR 21TAHUN, SRAYU HARAP PART INI SI SKIP OKE🙏😊
Sesil menarik nafasnya dan beranjak dari sofa, dia. dengan ragu-ragu berjalan mendekat ke arah kamar mandi dan mendorong pintu kamar mandi, benar saja pintunya tidak di kunci oleh nathan, dengan menekan rasa malunya sesil menghampiri nathan yang kala itu berdiri di bawah guyuran air shower dengan pakaian lengkapnya, sepertinya nathan benar-benar merasa marah.
Sesil mendekat ke arah nathan dan memeluk tubuh kekar suaminya dari belakang.
"Maafkan aku" Ucap sesil lirih, sesil memeluk nathan dari belakang, berharap suaminya mau memaafkan sikapnya yang kekanakan seperti tadi.
Nathan cukup terkejut saat sesil menyusulnya ke dalam kamar mandi, Namun nathan masih diam tak bergeming akan posisinya.
Nathan ingin sesil lebih bisa memahami isi hatinya, kalau hanya ada sesil dalam hati dan hidupnya.
"Nath.." Sesil kembali memanggil nathan, berharap suaminya mau berbalik badan dan menatapnya.
Bukannya menjawab pertanyaan sesil, tangan nathan terangkat memegang tombol yang terletak dekat dengan shower, nathan mengganti air dingin dengan air hangat, nathan tidak ingin sesil masuk angin dan sakit.
Sudah cukup nathan membuatnya menangis dan jangan sampai nathan juga membuatnya sakit.
Setelah mengganti airnya, nathan melepaskan tangan sesil yang melingkar sempurna di perut sesil.
Nathan berbalik badan dan menatap ke arah sesil yang menundukkan pandangannya.
"Nath, aku tau aku salah, aku sudah salam faham dan menuduhmu melakukan hal yang tidak semestinya.." Sesil menarik nafasnya berat.
"Kalau berbicara, akan lebih sopan jika kau menatap lawan bicara?" ucap nathan, penuturan nathan membuat sesil perlahan mengangkat kepalanya dan mencoba menatap wajah nathan.
"Kau pasti hanya melihat sebentar saat di resto kan? kau pasti tidak melihat aku menjauhkan tangan yasmine saat dia menggenggam tanganku? aku takut jika kau datang dan melihatnya kau akan salah faham dengan yasmine, dan semua dugaanku benar, kau salah faham hanya dengan melihat suatu permasalah sepotong saja, harusnya kau melihat semuanya baru bisa kau menyimpulkan aku bersalah atau tidak"
"Aku..."
"Ssttttt" Nathan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sesil.
"Aku tidak akan mempermasalahkan perihal ini lagi, aku akan melupakan semuanya, karena bagiku kau kembali dengan selamat ke sisi ku saja itu sudah lebih dari cukup buatku, karena jika kau pergi dari sisiku, aku tidak tau harus bagaimana menjalani hidupku" Nathan memeluk sesil dengan erat, seolah-olah nathan tak ingin kehilangan sesil seperti tadi, kehilangan sesil sama saja sepertu kehilangan separuh nyawanya.
Sesil pun membalas pelukan suaminya itu.
"Ada satu hal lagi" Nathan melepaskan pelukannya dan menatap dalam ke kedua bola mata istrinya.
"Jangan pernah mudah mengucapkan kata pisah, apapun masalahnya, besar atau kecil ujiannya, kita harus bicarakan dengan baik-baik, karena setiap masalah pasti memiliki jalan penyelesaiannya masing-masing"
"Hm, aku janji" Sesil dengan cepat menjawab dan menganggukkan kepalanya,bahkan mengangkat jari kelingkingnya ke depan wajah nathan, layaknya anak kecil yang sedang berjanji dengan temannya, membuat nathan tersenyum gemas dan ikut mengangkat jari kelingkingnya dan menyatukan dengan jari kelingking sesil.
"Ya sudah mandilah, aku akan mandi di kamar sebelah" Nathan mengecup kening sesil dan hendak pergi meninggalkan sesil, namun sesil meraih tangan nathan dan menggelengkan kepala ke arah nathan
"Hm..." Sesil menundukkan kepalanya, wajahnya sudah terlihat begitu merona.
"Sudah menjelang pagi, cepatlah mandi" Nathan melepaskan tangan sesil dan berlalu keluar dengan membawa handuk di tangannya, membuat sesil menggerutu dengan kesal.
"Dia selalu saja menolakku, apa dia itu bukan laki-laki? Atau dia tidak bisa melakukannya? Atau dia tidak suka wanita" Gerutu sesil dengan kesal.
Nathan mandi di kamar mandi kamar sebelah, dia sebenarnya tau apa yang akan sesil katakan tadi, namun rasanya nathan tidak ingin sesil melakukan hal itu karena penebusan dosa serta upaya menebus kesalahan yang baru saja dia lakukan tadi.
__ADS_1
Nathan segera menuntaskan acara mandinya, setelah mengenakan handuk kimononya, nathan kembali lagi menuju kamarnya, dan. saat memasuki kamarnya, terlihat sesil sedang mengeringkan rambut panjangnya menggunakan hair dryer.
Nathan mengambil baju yang sudah di siapkan oleh sesil dan masuk kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Setelah berganti pakaian, nathan keluar kamar mandi dan melihat sesil masih mengeringkan rambutnya.
Sesil mengenakan tangtop dan celana hot pen, mengumbar paha mulusnya dan menonjolkan buah dadanya.
Sesil memang sengaja memilih pakaian ini untuk memancing nathan, jika nathan masih tidak terpnacing maka sudah bisa di pastikan bukan lelaki normal.
Awalnya sesil ingin mengenakan ligeria pemberian dari imelda, tapi nyali sesil tak sekuat itu.
Nathan terkesiap melihat sesil yang tampil begitu seksi, bahkan nathan beberapa kali menelan salivanya dengan susah payah.
"Sayang biar ku bantu" Nathan berjalan mendekat ke arah sesil dan berdiri tepat di belakang sesil untuk membantu mengeringkan rambut sesil.
Sesil dengan senang hati menerima bantuan dari nathan.
Sedangkan nathan selama mengeringkan rambut sesil dia sama sekali tidak fokus, pandangan matanya melihat ke arah cermin yang memantulkan tubuh seksi istrinya itu.
Hormon lelaki dewasa di dalam tubuh nathan berteriak meminta pelampiasan.
"Sudah.." Nathan meletakkan kembali hair dryer ke atas meja rias, dan hendak beranjak pergi dari sesil, namun dengan cepat sesil menarik tangan nathan dan menatapnya dengan sinis.
"Apa aku tidak semenarik yasmine hah? Hingga berkali-kali kau menolakku? Apa kau membuatku menjadi istrimu tanpa menjadikan aku istri seutuhnya hah? Sesil berteriak ke arah nathan yang menatap sesil dengan rasa yang begitu terkejut.
"Aku juga ingin menjadi istrimu yang seutuhnya, apa kau tidak paham atau kau memang bukan lelaki hah?" Sesil tak bisa lagi mengontrol emosinya, Sesil sudah berpenampilan sedemikian seksi tapi nathan masih tidak mau menyentuhnya.
"Apa??" Nathan mengernyit heran mendengar semua penuturan sesil.
Nathan mendekat ke arah sesil dengan satu kali langkah dan langsung ******* habis bibir istrinya itu yang membuat nathan selalu merasa ketagihan.
Nathan mulai mengecup bibir mungil sesil, merasakan bibir istrinya yang di rasa begitu manis, kedua tangannya juga secara naluri mulai melakukan apa yang biasa di lakukan
Sesil menggelijang saat kedua tangan nathan tak bisa terkendalikan lagi.
Nathan membawa sesil ke atas ranjang dan langsung menjatuhkan serta menindih tubuh istrinya, perlahan nathan melucuti semua pakaian yang sesil kenakan.
Saat nathan berhasil membuka pengait Bra sesil, sesil dengan cepat menutupi bagian dada depannya dengan kedua telapak tangannya, wajahnya sudah begitu merona menahan malu. Namun rasanya nathan sudah tidak bisa mengendalikan nafsunya sendiri.
Nathan segera menyingkirkan tangan sesil dan langsung melahap gunung kembar sesil dengan rakus, nathan menghisap secara bergantian.
Awalnya sesil mencoba menjauhkan kepala nathan, namun rasanya usahanya sia-sia, nathan sudah kehilangan akal sehatnya.
Sesil hanya bisa menikmati setiap perlakuan nathan yang memberi rasa yang belum pernah sesil rasakan.
Nathan masih terlihat betah bermain-main dan belum berniat untuk melakukan permainan yang sebenarnya, setelah puas bermain di sana, sebelum meninggalkan dada sesil, nathan terlebih dahulu memberi jejak-jejak kepemelikan di sana.
Kini mulut nathan beralih ke **** ***** milik sesil, nathan kembali melancarkan aksinya membuat sesil mendesah berkali-kali, bahkan sesil meracau tidak jelas.
Setelah puas bermain-main, nathan melepaskan semua pakaiannya, dan memulai permainannya.
Perlahan nathan memasukkan kepemilikannya, membuat sesil menjerit kesakitan.
__ADS_1
"Sakit ! Cukup !!!" Sesil berteriak ke arah nathan yang menurutnya sedang menyiksanya di bagian bawah sana.
"Sayang tenanglah" Nathan mengusap kepala sesil dan mengecup sesil dengan mesra.
"Tenang bagaimana? ini sakit sekali lepaskan cepat" Sesil mendorong tubuh nathan menjauh darinya, namun tenaganya kalah kuat dengan nathan.
Nathan mengehentikkan sejenak aktivitasnya.
Dan mengecup bibir sesil dengan mesra. Setelah melihat sesil sedikit tenang, nathan melepaskan kembali ciumannya.
"Sakitnya hanya sebentar, aku akan berhati-hati" Rayu nathan. Nathan kembali melanjutkan niatnya.
"Ahhhh" Sesil mendesis kesakitan saat kepemilikan nathan masuk dengan sempurna di bawah sana. Nathan merasa merobek sesuatu di dalam sana.
Sesil menahan rasa samit yang luar biasa akibat perlakuan nathan, tiba-tiba saja sesil menggigit tangan lengan tangan nathan, membuat nathan mendesis menahan sakit.
"Kenapa kau menggigitku" Nathan menyipitkan matanya melihat ke arah sesil yang saat ini berada di bawah kendalinya.
"Itu tidak sebanding, coba kau jadi aku ! Biar kau tau rasanya. betapa sakitnya!" Dengus sesil, membuat nathan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Cukup lama nathan diam tak bergerak, memberi sesil jeda untuk bisa menyesuaikannya. Setelah sesil bisa menyesuaikannya, nathan membawa sesil menikmati permainannya, hanya suara dernyitan ranjang yang terdengar begitu menggema mengisi ruang kamar itu. Nathan memberi sesil rasa yang belum pernah sesil tau sebelumnya, bahkan aktivas panas mereka belum selesai hingga fajar terbit.
Setelah beberapa kali nathan melakukannya, dan melihat sesil kelelahan, membuat nathan menyudahi aktivitasnya dan membiarkan sesil tidur mengistirahatkan badannya.
Sesil sudah terlelap karena rasa lelah di tubuh ya membuat matanya menjadi begitu berat.
Nathan masih terjaga dan tak bisa tidur, nathan menatapi wajah sesil yang begitu menangkan saat terlelap, nathan benar-benar merasa bahagia karena kini dia dan sesil sudah resmi menjadi suami istri yang seutuhnya.
Nathan berkali-kali memberi ciuman ke wajah sesil, membuat sesil hanya menggeliat dan mengubah posisi tidurnya.
Nathan menarik selimut dan membalutkan ke tubuh sesil yang tidur tanpa mengenakan busana.
Kemudian nathan menarik tubuh sesil dan mendekapnya dengan erat, dan ikut memejamkan matanya. Karena nathan juga sudah sangat lelah dan mengantuk.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bijaklah dalam menyikapi setiap permasalahan dalam suatu hubungan, jangan hanya karena masalah kecil kita mengajukan kata pisah dengan pasangan kita, setiap orang wajar memiliki teman lawan jenis, tapi itu bukan alasan yang di jadikan sebagai jalan perpisahan.
Yang setuju sama srayu angkat tangannya????