Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Dia Bergerak !


__ADS_3

Sesil baru saja selesai membersihkan diri, dia segera naik ke atas ranjang kamarnya, tubuhnya terasa begitu lelah, meski hanya menemani Imelda di rumah sakit tapi tubuhnya terasa begitu pegal mungkin karena usia kandungannya sudah menginjak tiga puluh minggu.


Sesil mengusap perutnya yang semakin membuncit "Nak, Mami ingin segera melihatmu lahir ke dunia"


Rasanya Sesil sudah merasa tak sabar menanti kelahiran anak pertamanya, dia sudah membayangkan wajah anaknya kelak. Jika perempuan pasti akan sangat mirip dengan Papinya, jika perempuan tentunya dia akan mirip dengan dirinya.


Sejenak Sesil melirik ke arah samping, terdapat baby box berwarna biru di sana serta berbagai berbagai perlengkapan bayi yang di kirim oleh ayah serta papinya. Meski kedua calon kakek tersebut belum mengetahui jenis kelamin calon cucunya, tapi mereka begitu antusias membelikan berbagai barang di di dominasi dengan warna biru serta putih, kedua warna tersebut di pilih oleh mereka karena warna tersebut bersifat netral serta dapat di gunakan oleh pria maupun wanita.


Malam semakin larut, Nathan juga baru selesai mandi karena tubuhnya terasa begitu berkeringat. Nathan terlihat mengeringkan rambutnya yang basah, bahkan tetesan air yang jatuh dari rambutnya terlihat membasahi piyama yang di kenakan kala itu.


Setelah di rasa cukup kering, Nathan meletakkan handuk kecil yang di gunakan untuk mengeringkan rambutnya ke dalam keranjang pakaian kotor. Kemudian Nathan membawa langkah kakinya mendekat ke arah istrinya, lalu Nathan terlihat merangkak dan naik ke atas tempat tidur, dia langsung menyandarkan kepalanya di pundak istrinya.


Rasanya Nathan begitu merindukan moment seperti ini.


"Pasti kau lelah" tanya Sesil sambil tangannya mulai memijit kepala suaminya dengan perlahan, Nathan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Tubuhnya terasa begitu lelah, karena tadi saat baru saja kembali dari kantor, istrinya merengek meminta dirinya untuk mengantarkan ke rumah sakit melihat Imelda serta Steve anaknya, sebenarnya Nathan enggan untuk mengantarkan istrinya, tapi di satu sisi Nathan tidak mungkin membiarkan Sesil yang sedang hamil besar pergi seorang diri.


Tangan Sesil masih terus memberikan pijitin lembut di kepala suaminya, sementara Nathan mengangkat tangannya dan memberikan usapan lembut di perut istrinya "Nak, Papi sudah tidak sabar menunggumu hadir bersama kami"


Nathan kembali menarik dua sudut bibirnya, enam minggu sepuluh hari waktu yang di tentukan oleh dokter untuk hari kelahiran anak mereka, rasanya Nathan benar-benar ingin segera hari itu tiba, dia ingin segera mendengar tangisan pertama anaknya.


Saat sedang sibuk memberikan usapan di perut istrinya, tiba-tiba saja Nathan merasakan ada tendangan dari dalam perut Sesil


"Sayang, apa kau merasakan? Anak kita bergerak?" seru Nathan antusias , senyuman di wajahnya mengembang dengan sempurna. Bahkan Nathan langsung memindahkan kepalanya dari pundak Sesil menuju perut istrinya.


Perlahan Nathan menempelkan daun telinganya di perut buncit istrinya "Nak, apa kau mendengar papi?" Nathan kembali mengajak anak dalam kandungan istrinya berbicara, dan seolah mendengar perkataan papinya, bayi dalam perut Sesil kembali menendang-nendang

__ADS_1


"Sayang, lihatlah anak kita. Dia menjawab pertanyaanku" seru Nathan dengan begitu girangnya


"Kau ini, dia sudah sering menendang-nendang perutku, sepertinya dia sudah tidak sabar untuk melihat kedua orang tuanya" ucap Sesil sambil tangannya mengelus kepala suaminya yang masih menempel dengan sempurna di perut istrinya.


Nathan begitu senang karena anaknya sangat aktif meski Nathan belum mengetahui jenis kelaminnya, tapi Nathan yakin kalau anaknya akan lincah jika sudah lahir nantinya.


"Jangan nakal anak papi di dalam sana, jika terus menendang-nendang nanti perut mami sakit sayang" bisik Nathan kembali sembari memberikan usapan lembut di perut istrinya.


Namun seolah paham dengan yang Nathan katakan, bayi dalam perut Sesil diam tak lagi menendang-nendang.


"Anak papi pintar dan penurut ya" Nathan menghujani perut istrinya dengan banyak sekali ciuman


"Sepertinya dia sangat menurut denganku sayang" Nathan mendongak menatap wajah istrinya yang saat ini juga Sesil sedang melihat ke arah Nathan.


Sesil hanya tersenyum saja menatap wajah Nathan, dia juga senang bisa melihat suaminya tersenyum saat mengajak calon anak mereka berbincang. Setelah puas mengobrol dengan calon anak mereka, Nathan mengambil sebuah majalah dan mulai membacakan dongeng, karena meski masih dalam kandungan harus sering-sering di ajak berbicara atau mendengarkan sebuah cerita dapat membangun ikatan batin antara orang tua dan bayi yang masih dalam kandungan jadi saat dia lahir kelak akan lebih tenang bila mendengar suara milik kedua orang tuanya.


Setelah menghabiskan beberapa cerita, Nathan menutup majalahnya dan kembali meletakkan majalah tersebut di atas meja kecil, lantas Nathan membaringkan tubuh Sesil dan menyelimuti istrinya, Nathan memberikan belaian lembut di kepala istrinya hingga membuat Sesil terasa begitu nyaman dan menguap beberapa kali bahkan mata Sesil terlihat berair hingga tak butuh waktu lama Sesil memejamkan matanya dan melesat ke alam mimpi. Namun berbeda dengan Nathan, kedua matanya masih terjaga, dia menatap wajah istrinya yang kini sudah terlelap.


Rasanya Nathan ingin menukar posisi dengan Sesil, dia begitu tak tega melihat istrinya kesulitan bergerak saat tidur, bahkan bisa di bilang aktifitas istrinya sangat terbatas karena perutnya yang semakin membesar. Namun Nathan begitu takjub karena selama Sesil mengandung istrinya tidak pernah mengeluh apapun padanya.


"Terimakasih sayang, sudah rela melakukan segalanya untuk orang sepertiku, dan maafkan aku yang penuh dengan kekurangan bahkan belum bisa membuatmu bahagia" Nathan tersenyum getir saat mengingat semua pengorbanan istrinya.


Bahkan Sesil bersedia menerima semua kesalahannya yang sangat fatal, terus-menerus memikirkan perasaan dirinya tanpa mempertimbangkan kebahagiaan hatinya sendiri.


"Terimakasih sayang" Nathan mencondongkan tubuhnya dan memberikan satu kecupan di kening istrinya.


Nathan mengecupnya begitu lama, meresapi suasana malam ini. Sesil adalah mimpi indah dalam hidupnya yang di wujudkan Tuhan dalam kehidupan nyata.

__ADS_1


Setelah merasa istrinya sudah tertidur dengan pulas, Nathan beranjak turun dari ranjang menuju meja kerjanya karena ada pekerjaan yang harus di kerjakan dan di selesaikan malam ini juga.


Meski tubuh Nathan terasa begitu lelah, tapi Nathan harus tetap semangat bekerja apalagi sebentar lagi akan ada satu kehidupan yang harus di tanggung olehnya, dia bertekad akan memberikan penghidupan yang layak untuk anak serta istrinya kelak. Nathan tidak ingin anak dan istrinya hidup kekurangan.


Nathan mulai membuka layar komputer lipatnya, dia membuka file pekerjaan miliknya yang baru selesai tiga puluh persen, padahal jadwal dead linenya adalah besok siang.


Nathan mulai menggerakkan jari-jemarinya di atas keyboard laptop miliknya, dia mulai mengetik dengan begitu luwesnya.


Namun di sela-sela pekerjaannya, Nathan masih sempat melihat ke arah istrinya yang masih terlihat pulas tertidur, setelah yakin istrinya masih tertidur dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Setelah memakan waktu cukup lama, Nathan sudah menyelesaikan pekerjaannya, dia merapihkan map-map yang terlihat berantakan di atas meja, lalu mematikan layar laptop miliknya dan kembali menyimpan berkas serta laptop miliknya ke tempat semula kemudian Nathan segera naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2