
Sesil menggeliat dari tidur pulasnya, namun dia merasa masih ada tangan kokoh yang melingkar di atas perutnya. Sesil mengusap matanya beberapa kali dan melihat ke arah samping, ternyata suaminya masih memejamkan kedua matanya, karena waktu memang masih terbilang pagi.
Sesil perlahan memindahkan tangan suaminya ke atas guling, lalu dengan sangat hati-hati Sesil perlahan turun dari atas ranjang dan menapakkan kaki di lantai kamarnya yang terbuat dari marmer yang memiliki harga cukup fantastis.
Perlahan Sesil melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian untuk mengambil baju ganti, kemudian setelah mengambil pakaian ganti Sesil menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian Sesil terlihat sudah kembali dari ritual paginya, dia terlihat sudah rapih mengenakan pakaian kerjanya. Setelah menyisir rambut dan memberi polesan kecil di area wajahnya, Sesil keluar kamar menuju lantai bawah, pagi ini Sesil berencana ingin membantu Bi Nung untuk memasak menu sarapan pagi.
Karena entah mengapa Sesil pagi ini ingin memakan pancake cokelat dengan selai madu di atasnya.
Saat Sesil sudah berada di depan pintu dapur yang terbuat dari kaca, dia melihat wanita paruh baya yang sudah membantunya selama dua tahun ini sedang berkutat dengan berbagai peralatan dapur, wanita yang pernah menyelamatkan nyawanya saat dirinya di dorong dari tangga, jika saja Bi Nung tidak datang tepat waktu mungkin ceritanya akan lain tidak seperti saat ini. Tuhan begitu menyayangi Sesil hingga menempatkan orang-orang yang begitu mengasihinya.
"Selamat pagi Bi" Sapa Sesil sambil menepiskan senyumnya.
"Selamat pagi Nyonya, ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak Bi, saya malah ingin membantu bibi menyiapkan sarapan pagi" Sesil mengenakan celemek untuk menutupi tubuhnya bagian depan
"Tidak usah Nyonya, jika ada yang ingin Nyonya makan, katakan saja? biar saya buatkan?"
"Bibi berhentilah memanggil saya nyonya, Saya sudah menganggap Bibi keluarga saya sendiri. Panggil Sesil saja" tutur Sesil sambil mulai mengeluarkan beberapa bahan dari dalam kulkas
Bi Nung hanya terdiam tidak merespon perkataan Sesil, karena jujur saja Bi Nung bingung harus bersikap bagaimana, karena Bi Nung sadar diri dimana dirinya saat ini, dan siapa Sesil di rumah ini.
"Bi? halo?" Sesil mengibaskan tangannya di depan wajah wanita paruh baya yang senantiasa bersikap sopan terhadapnya.
"Tapi Nyonya..." Bi Nung menundukkan kepalanya
"Ya kalau tidak enak, Bibi panggil saja Nona, jangan Nyonya, karena terlalu terlihat ada batas" imbuh Sesil lagi.
Bi Nung menganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang di katakan oleh Sesil, kini kedua wanita beda generasi itu terlihat bahu membahu membuat menu sarapan pagi, meski pada awalnya Bi Nung melarang Sesil membantu dirinya. Tapi karena Sesil terus memaksa akhirnya membuat Bi Nung menuruti kemauan dari majikannya.
Hingga kurang dari satu jam lamanya akhirnya semua masakan mereka sudah terhidang di atas meja makan.
^
Suara jam weker mengganggu tidur pulas Nathan, hingga pria muda yang sebentar lagi akan menjadi calon ayah itu mengumpat benda yang memiliki suara sangat nyaring dan menganggu tidur pulasnya.
Nathan mengambil jam weker yang terletak di atas nakas, kemudian Nathan menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya lantas dia terlihat duduk di tengah ranjang menyilangkan kaki dan kedua tangannya terlihat mengucek kedua matanya supaya penglihatannya lebih jelas.
Saat menyadari istrinya sudah tidak ada di atas ranjang, seketika Nathan menjadi sangat panik, dia menyapu seluruh ruang kamarnya tapi sayangnya dia tak mendapati sosok istrinya.
Dengan cepat Nathan turun dari atas ranjang untuk mencari keberadaan istrinya.
Saat tak mendapati istrinya di lantai dua, Nathan semakin terlihat panik, dia takut terjadi hal buruk pada istri serta calon anaknya.
Dengan langkah tergesa-gesa, Nathan menuruni anak tangga untuk mencari keberadaan istrinya, namun langkah kakinya terhenti saat mendengar suara tawa dari arah dapur, suara tawa yang di yakini milik istrinya. Dengan langkah kaki yang lebar Nathan mengarahkan langkah kakinya menuju dapur, dan saat berdiri di pintu kaca, Nathan melihat Sesil sedang tertawa mendengar celotehan dari Bi Nung yang terlihat sedang sibuk mengaduk susu hangat di dalam gelas panjang yang baru saja di isi dengan air panas.
__ADS_1
"Sayang?" Panggil Nathan saat dirinya sudah membuka pintu kaca pembatas ruang makan dan dapur.
"Kau sudah bangun?" Sesil menepiskan senyumnya.
Namun mata Nathan terkesiap melihat penampilan istrinya yang sudah rapih dengan setelan baju kerja. Tanpa berkata sepatah katapun, Nathan menarik tangan Sesil meninggalkan ruang dapur dan mengajaknya ke lantai dua menuju kamarnya.
Saat sudah sampai di kamar Nathan langsung menutup pintu rapat-rapat dan langsung mendorong tubuh istrinya pelan hingga terhimpit antara dinding dan tubuhnya, Sesil begitu terkejut saat suaminya tiba-tiba saja menghimpit tubuhnya, bahkan sorot mata Nathan terlihat begitu mendalam susah di artikan.
"Ada apa?" tanya Sesil dengan suara yang takut-takut
"Mau kemana?" Nathan semakin menajamkan pandangan matanya, bahkan kini hidung mancungnya sudah menempel di hidung mancung istrinya.
"Menyiapkan sarapan pagi, lalu ke kantor seperti biasa" jawab Sesil apa adanya.
"Menyiapkan sarapan paginya sudah?"
"Sudah" Sesil menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Lalu, kau akan bekerja hari ini?"
"Uhm" Sesil dengan cepat kembali menganggukkan kepalanya.
"Kau lupa memiliki sebuah janji denganku?"
"Janji?" Sesil mengulangi pertanyaan suaminya.
Nathan memutar kedua bola matanya karena merasa jengah melihat sikap istrinya. Dan tanpa aba-aba Nathan meraup bibir istrinya dan memberikan kecupan di sana. Cukup lama Nathan mengecup bibir istrinya, berharap Sesil bisa mengingat janji yang sudah di ucapkan dulu padanya.
Merasa sudah kehilangan banyak nafas, Nathan melepaskan ciumannya dan kembali menatap tajam istrinya.
"Mulai sekarang jika kau melupakan janji padaku, aku akan memberimu hukuman seperti tadi" seru Nathan.
"Hukuman? cium maksudmu?" tanya Sesil dengan kedua mata yang berbinar.
"Tentu saja aku mau setiap hari di hukum olehmu" jawab Sesil dengan begitu antusias, membuat Nathan menggelengkan kepala akan tingkah istrinya yang di rasa menggemaskan.
"Sudahlah, biar aku jelaskan. Dulu sebelum aku injinkan kau bekerja di kantor membantuku, bukankah kau berjanji saat kau hamil kau akan berhenti dengan sendirinya dari kantor? dan sekarang aku menagih janji yang sudah kau ucapkan padaku" tegas Nathan.
"Oh.." Sesil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil tersenyum tidak jelas.
"Sudah ingat??" imbuh Nathan lagi
"Tapi perutku belum membuncit, jadi biarkan aku tetap beraktifitas seperti biasanya, dokter juga mengatakan kandunganku dalam keadaan yang baik-baik saja sayang?" Sesil bergelayut manja di lengan suaminya, berharap Nathan mau mengijinkan dirinya tetap bekerja seperti biasanya.
"Sayang, janji adalah hutang. Kau tau bukan hutang harus di bayar?" Nathan menaikkan kedua alisnya
Sesil membungkam mulutnya rapat-rapat, dia tidak bisa bayangkan di sisa waktunya sembilan bulan mengandung harus berdiam diri di dalam rumah dan tidak melakukan kegiatan apapun, itu pasti sangat membosankan untuk Sesil.
__ADS_1
Sesil berusaha memutar otaknya berfikir sejenak bagaimana caranya dirinya bisa membujuk suaminya.
"Sayang, tapi aku takut di rumah sendirian, aku takut ada orang jahat datang kemari" Sesil memelaskan wajahnya, dan benar saja ucapan Sesil kali ini ampuh membuat Nathan terdiam dan berfikir keras.
Bukan tanpa alasan Nathan mendengarkan omongan istrinya, karena memang betul apa yang Sesil katakan, seketat apapun rumahnya di jaga pada akhirnya dulu Kintani berhasil menerobos benteng pertahan yang Nathan serta Swan dirikan.
Untuk kali ini Nathan tidak ingin kecolongan untuk kedua kalinya, dia tak ingin kehilangan calon anaknya untuk kedua kalinya lagi.
"Baiklah, kau boleh ke kantor bersamaku" jawab Nathan sambil tersenyum penuh misteri.
Sesil yang merasa girang karena mendapatkan izin dari suaminya sama sekali tidak mencurigai kalau Nathan memiliki ide lain di dalam benaknya.
"Ya sudah, aku mandi dulu. Kau tunggu aku di ruang makan saja"
"Oke sayang" jawab Sesil dengan menepiskan senyuman di bibirnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Vote ya sedikit banget?
__ADS_1
Komentarnya apalagiš