Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Apakah Pertanda Baik ?


__ADS_3

Mobil yang nathan kendarai tepat berhenti di depan pintu utama kediaman swan, Nathan turun terlebih dahulu dan mengitari mobilnya untuk membukakan pintu mobilnya untuk sesil.


Sesil turun dari mobil dengan mengenakan jaket pemberian nathan, sejenak sesil melihat ke arah nathan dengan bajunya yang basah kuyup, jika ini di biarkan bisa saja nathan terkena flu, karena perjalanan dari rumah sesil menuju rumahnya cukup jauh, belum lagi di tambah kemacetan lalu lintas kota semarang.


"Ayo masuk" akhirnya sesil mengajak nathan masuk ke rumahnya, niat sesil hanya sederhana, sesil akan meminjamkan baju papinya untuk nathan kenakan.


Namun ada keraguan dalam hati nathan, memang nathan suatu saat akan masuk ke dalam sana, namun sebelumnya nathan akan menunjukan diri bahwa dia pantas untuk di terima di rumah tersebut.


"Kenapa diam saja? ayo!" sesil kembali mengajak nathan ikut masuk ke dalam rumahnya.


Belum sempat nathan menjawab ajakan sesil, seketika pintu rumah sesil terbuka, sontak saja nathan dan sesil melihat ke arah pintu utama.


Nampak seorang lelaki berumur dengan rambut yang sudah memutih dan terlihat beberapa keriputan di wajahnya berdiri di ambang pintu, dan menggelengkan kepalanya ke arah sesil.


"Opah" seketika sesil berteriak melihat opahnya ada di rumahnya, sesil berlari ke arah opahnya dan merentangkan tangannya hendak memeluk opahnya.


"No, no ! jangan peluk opah ! baju kamu basah" kinos mengibaskan telapak tangannya ke arah cucu kesayangannya.


Sesil mengerucutkan bibirnya ke arah opahnya.


"opah kapan datang? oma ikut ?" kepala sesil melihat ke dalam rumahnya mencari keberadaan omanya.


"Ada, di dalam sedang membuat cake untuk opah! kau ini naik mobil, tapi kenapa bajumu basah kuyup hah" kinos mencubit pipi cucu kesayangannya.


"Ah opah sakit" sesil mengelus pipinya dengan telapak tangannya.


"Sesil,hm..." sesil berpikir sejenak mencari jawaban yang tepat, tidak mungkin sesil mengatakan kalau dia main hujan hujanan di pelabuhan tadi.


"Sesil tadi ke makam mami, terus tiba tiba hujan turun dan sesil tidak membawa payung, sedangkan jarak mobil teman sesil jauh dari area pemakaman mami, jadilah sesil kehujanan" sesil menyunggingkan senyumnya, dan dalam batinnya meminta maaf kepada maminya karena sudah membawa nama maminya untuk kebohongannya.


"Teman?" seketika kinos melihat ke arah nathan yang masih berdiri mematung di dekat mobilnya.


"Kak nathan kemari" sesil melambaikan tangannya ke arah nathan, namun sepertinya sedang bengong dan tak mendengar panggilan dari sesil.


Sesil mendengus dengan kesal, dan berjalan menghampiri nathan.


"Kak nathan, halo" sesil mengibaskan telapak tangannya di depan wajah nathan.


"Ehm, iya" nathan seketika bangun dari lamunannya.


"Ayo, masuk" sesil menarik tangan nathan dan membimbingnya bertemu dengan kinos.


"Sil...?" kinos menatap ke arah cucunya


"Opah, ini kak nathan, kita dulu teman satu SMA, dan kebetulan kami juga berkuliah di universitas yang sama" sesil memperkenalkan nathan kepada kinos.


Nathan kemudian membungkuk memberi hormat dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan kinos, uluran tangan nathan mendapat sambutan hangat dari kinos, kinos pun mengulurkan tangannya untuk membalas jabat tangan dari nathan

__ADS_1


"Ajak temanmu masuk, dan pinjamkan dia baju, kasihan bajunya juga basah sepertimu" kinos mengusap kepala cucunya. Kemudian dia berlalu pergi meninggalkan cucunya masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


"Ayo nath" sesil menarik lengan nathan untuk masuk ke dalamnya, dan nathan hanya bisa mengikuti ajakan sesil karena nathan sudah mendengar sendiri opah sesil menyuruhnya masuk ke dalam rumah, sesil dan nathan berjalan beriringan memasuki rumah.


Kemudian sesil mengantar nathan ke kamar tamu dan membiarkan nathan mandi di sana.


Sementara sesil ke kamar papinya mencari baju yang sekiranya cocok untuknya.


Ketika sesil sedang mencari di dalam lemarinya, tiba tiba suara seseorang menghentikan aktivitasnya


"Cari apa sayang" Suara rara terdengar begitu nyaring di telinga sesil.


"Tante ???" Sesil berbalik badan dan melihat rara tersenyum di belakangnya.


"Cari apa?" rara kembali mengulangi pertanyaannya.


"Cari baju papi, yang kelihatan pantas untuk anak seusia sesil!" sesil tersenyum ke arah tantenya, sedangkan tantenya mengerutkan dahinya karena tidak mengerti kemauan dari keponakannya.


"Teman sesil kebasahan sama seperti sesil tante, jadi sesil ingin meminjamkan baju papi untuknya" sesil kembali menjelaskan kepada tantenya.


"Oh" Rara membulatkan bibirnya, dan kemudian ikut membatu sesil mencari baju untuk nathan.


"Sil, bagaimana dengan ini" Rara mengambil kemeja berwarna maroon yang masih terdapat bandrol di kerah baju tersebut, menandakan baju tersebut masih baru.


"Boleh juga tan, bagus !" sesil tersenyum ke arah tantenya dan membawa kemeja berserta celana pendek yang sudah sempat dipilihnya bersama tantenya.


Sesil mengetuk beberapa kali pintu kamar tersebut, namun masih belum ada jawaban, akhirnya sesil membuka pintu tersebut dan memasukkan kepalanya terlebih dahulu ke dalam kamar, nampak kamar mandi masih tertutup yang menandakan nathan masih mandi di dalam sana, akhirnya sesil berjalan memasuki kamar tersebut


"Nath, Aku simpan bajunya di tempat tidur, pakailah" sesil berteriak memberitahu nathan dan hendak keluar dari kamar namun tiba tiba ada yang memeluknya dari belakang, sesil memlototkan matanya saat ada yang memeluknya dari belakang. Ketika sesil hendak melepaskan pelukannya, nathan lebih mengeratkan lagi pelukannya, dan menenggelamkan wajahnya di leher sesil. Nathan menikmati aroma tubuh sesil yang samar samar harumnya masih bisa di cium aromanya oleh nathan meskipun baju sesil semuanya basah.


Sesil mencoba melepaskan tangan nathan yang masih melingkar di perutnya, sesil merasakan hangat bidang dada nathan yang menempel di punggungnya yang basah, semakin sesil bergerak nathan semakin memeluknya dengan erat.


"Bisakah kita seperti ini seterusnya?" nathan berkata dengan lembut di telinga sesil, bahkan nafas hangat nathan membuat bulu kuduk sesil merinding.


"Nath, lepaskan, nanti kalo opa melihat bisa salah faham"! wajah sesil sudah terasa sangat panas, sepertinya sudah sangat merona.


Sedangkan nathan masih terus memeluknya, rasanya nathan enggan sekali melepaskan sesil, gadis kecilnya selalu membuat dirinya lepas kendali, maka nathan harus segera mendapatkan restu dari keluarga sesil.


"Cepat mandilah" nathan melepas pelukannya dari tubuh sesil, seketika itu sesil langsung berlari keluar dari kamar tersebut tanpa menoleh ke belakang, nathan hanya bisa menggelengkan kepala sembari tersenyum.


Nathan menutup pintu kamar dan mengambil baju yang terletak di atas tempat tidur.


Nathan melihat baju yang masih terdapat bandrolnya dan celana pendek cassual yang nampaknya cocok untuk dirinya.


Kemudian nathan mengenakannya.


Sementara sesil kini berdiri di depan cermin kamar mandi dengan memegang dadanya yang rasanya jantungnya berdetak lebih kencang, sesil merasa semenjak bertemu dengan nathan jantungnya selalu berdetak dengan tidak normal, mungkin sesil harus segera memeriksakan kondisi jantungnya.

__ADS_1


Sesil menyalakan shower kamar mandi dan memulai aktivitas mandinya, sedangkan nathan yang sudah selesai berpakaian keluar dari kamar tamu dan berjalan menuju ruang tamu.


Nampak di sana terlihat tiga orang yang sedang mengobrol dan menikmati secangkir teh hangat serta cake coklat.


Nathan berjalan ragu-ragu menuju mereka. Mendengar langkah kaki mendekat ketiga orang tersebut kompak menoleh ke arah sumber suara.


Kinos yang sudah sempat bertemu dengan nathan tadi tersenyum ramah ke arah nathan.


"Kemari nak, ini sudah di siapkan teh hangat untukmu" kinos melambaikan tangan ke arah nathan


"Ini teman sesil?" anne ikut menimpali ucapan suaminya.


Nathan hanya tersenyum canggung, kemudian membungkuk memberi salam dan memperkenalkan diri.


"Duduklah" kali ini Rara yang berbicara.


Nathan dengan ragu kemudian ikut duduk bergabung dengan mereka.


"Baru pertama kali, cucu kita membawa seorang pria pulang, apakah dia kekasihnya?" anne berbisik ke telinga suaminya dan di balas senyuman oleh kinos.


Kemudian mereka berempat mengobrol, lebih tepatnya banyak pertanyaan yang di tujukan untuk nathan. Namun nathan dengan senang hati dan jujur menjawabnya, membuat kinos menyukai nathan, nathan sangat mirip dengan putranya yang pekerja keras.


Tak lama kemudian Sesil menyusul ke ruang tamu dan bergabung dengan mereka, sesil duduk di antara oma dan opahnya, sesil bergelayut manja di lengan kakeknya, karena memang sesil sudah dekat dengan kakeknya sejak kecil.


"Tante, om dan keandra kenapa tidak kemari?"


"Om kan dinas dengan papi mu keluar kota, sedangkan kean sedang UAS, jadi tidak tante ijinkan menginap di sini"


"Oh" sesil membulatkan bibirnya dan melirik ke arah nathan yang sedang mengobrol dengan kakeknya.


Setelah cukup lama mengobrol nathan memutuskan untuk pamit pulang.


Sesil mengantar hingga depan pintu, dan mengucapkan terimakasih kepada nathan yang sudah mengantarnya pulang.


Nathan menaiki mobilnya dan meninggalkan pelataran rumah sesil, ketika mobil nathan sudah tidak terlihat lagi, sesil kembali masuk ke dalam rumahnya. Kepalanya terasa pusing dan sesil juga beberapa kali bersin-bersin.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2