Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Berbelanja


__ADS_3

Hari ini adalah akhir pekan, seperti biasanya Nathan akan memboyong setumpuk pekerjaannya ke rumahnya.


Sesil seperti biasa sedang berkebun di samping rumah, memotong dan merapihkan tanaman bunga mawar yang tumbuh subur di sana dengan berbagai macam warna yang menyebarkan aroma wangi yang membuat Sesil betah berlama-lama di sana.


Bahkan seusai menemani suaminya sarapan Sesil langsung menuju taman yang memang Nathan siapkan untuk mempercantik rumah minimalis mereka berdua.


Senyum di wajah Sesil tak hentinya mengembang cantik di wajahnya bahkan senyuman Sesil mengalahkan kecantikan kebun bunga mawar yang sedang di urusnya.


Nathan masih berkutat di dalam kamar dengan setumpuk pekerjaan yang sudah menjadi makanan sehari-harinya. Ingin rasanya Nathan melempar berkas-berkas ini dan membuangnya namun itu tidak mungkin dia lakukan, walau lelah tubuhnya tapi ini adalah tanggung jawabnya.


"Tuan, ini kopinya" Bi nung meletakkan secangkir kopi di atas meja kerja Nathan.


"Terimakasih bi" Seru Nathan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop


"Sama-sama Tuan, saya permisi" Bi Nung berlalu dari kamar Nathan, namun baru saja beberapa langkah Tuannya kembali memanggil dirinya


"Bi, apa istriku masih berkebun?" Kali ini Nathan mengarahkan pandangannya menatap asisten rumah tangganya. Bi Nung hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya, lalu dia pun pamit untuk melakukan pekerjaaan kembali.


Nathan melirik jam yang menempel sempurna di dinding kamarnya, waktu sudah menunjukan hampir jam sebelas pagi, Nathan melihat cuaca di luar juga cukup terik, membuatnya merasa tak tega terhadap istrinya yang terkena panasnya sang mentari.


Nathan beranjak dari duduknya serta meninggalkan pekerjaannya menyusul istrinya yang berada di taman samping rumah.


Nathan berdiri tak jauh dari istrinya, dia melihat istrinya sedang sibuk memotret bunga mawar dengan kamera yang di pegangnya. Rona kebahagiaan terpancar jelas di raut wajah istrinya. Bahkan senyuman Sesil masih mampu membuat jantung Nathan berdetak lebih cepat dari sebelumnya, meskipun mereka sudah menikah setahun lebih lamanya.


Nathan melangkahkan kakinya mendekat ke arah istrinya kemudian memeluk tubuh istrinya dan mendaratkan ciuman di puncak kepala Sesil.


"Sayang, ayo masuk. Ini sudah cukup terik" Nathan memutari kursi roda dan kini berjongkok di depan istrinya.


"Tapi aku jenuh di dalam rumah terus, berkebun dan memotret setidaknya aku bisa sedikit terhibur Nath" suaranya terdengar menjadi tak bersemangat.


Nathan terdiam mendengar ucapan istrinya, memang sudah dua minggu lamanya istrinya duduk di kursi roda dan melakukan terapi berjalan namun belum membuahkan hasil.


Dan selama itu pula Nathan sibuk dengan pekerjaannya meskipun tak mengurangi perhatian dan kasih sayang kepada istrinya. Di sela-sela kesibukannya Nathan pasti selalu menyempatkan untuk memanjakan satu-satunya wanita yang dia cintai.


"Ya sudah, kalau begitu biar aku yang memotretmu" Nathan mengambil alih kamera dari tangan Sesil


"Tidak, aku tidak mau ! Kau yang benar saja" Sesil menundukkan pandangannya menatap kedua kakinya yang mati rasa


"Aku lumpuh Nath, mana mungkin aku bisa berpose" Imbuh Sesil


"Ada beberapa kaum difabel yang menjadi model terkenal, tapi mereka tak kalah dengan model yang memiliki fisik sempurna" Nathan menatap lekat-lekat wajah istrinya


"Kau pun juga pasti bisa sayang" Nathan membelai lembut pipi istrinya


"Sudah ayo" Nathan menempatkan kursi roda Sesil dan mencari eangle yang terbaik kemudian menyuruh istrinya tersenyum, awalnya Sesil merasa minder, tapi karena Nathan terus menyemangati membuat Sesil menjadi bergairah dan melakukan banyak pose.


Nathan melihat beberapa hasil jepretan yang di ambil olehnya. Istrinya terlihat begitu cantik meskipun memiliki kekurangan fisik tapi itu tidak membuat aura istrinya pudar.


Nathan begitu bersyukur memiliki istri yang cantik wajah serta hatinya yang memiliki kemurahan luar biasa. Bahkan setelah dirinya membuat kesalahan, Sesil masih bersedia memberinya kesempatan bahkan membelanya di depan orang tuanya.


"Nath, apa hasilnya jelek?" Sesil mendorong kursi rodanya mendekat ke arah suaminya, karena suaminya malah terlihat diam melamun


"Tidak sayang, ini sangat bagus. Lihatlah" Nathan menunjukkan hasil jepretannya kepada istrinya.


Sesil tersenyum puas melihat hasil foto dirinya, ternyata masih terlihat luwes dan tidak memalukan meski kini dirinya duduk di kursi roda.


"Ya sudah, ayo kita masuk. Setelah ini, aku mau mengajakmu berbelanja keperluan rumah sayang" Nathan mendorong kursi roda istrinya masuk ke dalam rumah.


Setelah sampai rumah, Nathan membopong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi dan membantu istrinya membersihkan diri.


Meski Nathan harus berperang dengan hasrat dalam dirinya untuk tidak menyentuh Sesil saat ini.


^


Paragon Mall


Nathan memarkirkan mobilnya namun melarang Sesil untuk turun, dia berlari kecil mengambil troli berukuran besar kemudian mendorongnya mendekat ke arah mobilnya, kemudian Nathan membuka pintu mobil dan membopong tubuh Sesil dan mendudukkan istrinya di dalam keranjang belanjaan.


"Nathan turunkan" Sesil meronta minta di turunkan, namun Nathan hanya tersenyum jahil lalu menutup pintu mobilnya.


"Lets Go sayang" Nathan mulai mendorong troli dengan begitu semangat bahkan mereka berdua menjadi pusat perhatian pengunjung Mall.


Sesil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya karena malu akan tingkah suaminya.

__ADS_1


Nathan mengarahkan troli masuk ke dalam jajaran kebutuhan pokok.


Kemudian Nathan dengan begitu telaten memilah produk yang akan di belinya, dan terlebih dahulu meminta pendapat istrinya sebelum memasukkan ke dalam keranjang belanjaan.


Awalnya Sesil malu akan tingkah Nathan, tapi kini dirinya malah Senang ketika Nathan mengajaknya bercanda dengan mendorong troli ke sana kemari.


Bahkan Sesil tak hentinya tertawa renyah menikmati kebersamaan mereka berdua, meski hanya berbelanja sederhana namun mampu membuat Sesil begitu bahagia.


Nathan tak kalah senangnya, dia begitu bahagia bisa melihat istrinya kembali tertawa seperti dulu.


"Sayang, kau biasa pakai yang mana?" Nathan berhenti tepat di depan rak yang berisi jajaran pembalut wanita. dengan berbagai merk dan ukuran.


Sesil menepuk keningnya serta menggelengkan kepalanya tak percaya kalau suaminya tidak malu membelikan barang yang hanya di pakai oleh wanita. Bahkan beberapa pengunjung wanita yang berdiri tak jauh dari mereka menatap ke arah Nathan dengan muka serta ekspresi yang membuat Sesil cemburu


"Tampan sekali dia"


"Wanita itu sangat beruntung memiliki pasangan sepertinya, Tapi sayang wanitanya sepertinya cacat"


Lontaran demi lontaran terdengar di telinga Sesil begitu jelas dan nyata, membuatnya kembali melihat ke arah Nathan yang sedang sibuk memilih pembalut untuknya.


"Sayang bukannya biasanya kau memakai yang ini?" Nathan membawa dua kotak pembalut yang memiliki ukuran berbeda dengan merk yang sama.


Belum sempat Sesil menjawab tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil namanya


"Nathan.." Suara wanita yang terdengar begitu seksi menyita perhatian Sesil.


Seketika Nathan membalikkan badan dan melihat Elena dengan pakaian kurang bahan berdiri di belakangnya


"Hai apa kabar?" Elena berjalan mendekat dan menatap Nathan begitu dalam seolah sama sekali tidak menganggap keberadaan Sesil di sana.


Nathan hanya diam saja tak berniat menjawab pertanyaan dari Elena.


Nathan masih teringat akan sikap Elena pada acara reuni sekolahnya beberapa waktu yang lalu, bahkan Elena mempermalukan istrinya di depan umum.


Di acuhkan oleh Nathan bukan berarti Elena menyerah begitu saja


"Kau sedang apa?" Elena melihat Sesil yang duduk di dalam troli belanjaan dengan raut wajah begitu datar


"Kalian hanya berdua? kalian belum memiliki anak? padahal sudah menikah begitu lama?" Cecar Elena mencoba menguasai situasi


"Ya ampun Nath, jangan bilang istrimu tidak bisa memberimu keturunan?" Elena berpura-pura memasang wajah iba menatap Sesil.


"Sil kenapa kau diam saja? turunlah ! Kau tidak merasa kasihan melihat suamimu memilihkan pembalut untukmu? lihatlah orang-orang menatap aneh ke arah Nathan" Imbuh Elena lagi.


Namun Sesil masih tak bergeming di posisinya, menatap ke arah Nathan yang wajahnya sudah berubah menjadi merah menahan emosi.


"Ya ampun ! Astaga, jangan bilang kau lumpuh?" Elena menutup mulutnya sendiri dengan wajah mengejek


"Ups" Elena terkekeh pelan


"Sil, astaga harusnya kau kasihan terhadap suamimu ! Seharusnya kau menyuruhnya mencari penggantimu, wanita yang memiliki fisik sempurna, bisa memenuhi kebutuhan batinnya, dan yang paling penting bisa memberinya keturunan"


"Iya kan Nath?" Elena berjalan mendekat dan menyentuh lengan Nathan dengan lembut, namun Nathan langsung menepis tangan Elena dengan kasar.


Jika saja Elena seorang laki-laki pasti Nathan sudah pastikan dia pulang hanya tinggal nama saja.


"Nath ayolah, apalagi yang di harapkan dari seorang wanita lumpuh dan cacat sepertinya" Elena melirik ke arah Sesil dengan begitu sinis.


Nathan menarik sebelah sudut bibir tersenyum sinis melihat ke arah Elena.


Dia berjalan mendekat ke arah istrinya yang menundukkan pandangannya. Kini mereka bertiga menjadi pusat perhatian karena perkataan Elena barusan.


"Perkataan yang baru saja kau katakan memang sebagian benar, istriku tidak bisa berjalan, belum memberiku keturunan. Tapi satu hal yang harus kau tau" Nathan menajamkan matanya menatap Elena bahkan tangannya menunjuk ke arah Elena yang tiba-tiba diam menutup mulutnya


"Aku mencintainya, aku tidak perduli apapun kondisinya. Bahkan aku bersedia menukar kakiku dengannya, atau kalau perlu aku akan memberikan seluruh hidupku untuk merawatnya. Terserah orang mau memandang aku seperti apa, itu urusan mereka. Mau menganggapku takut kepada istri atau bodoh karena mau setia dengan satu wanita, aku tidak perduli ! Bahkan jika ada yang berani membuat istriku bersedih aku tidak akan sungkan membuatnya merasakan penderitaan yang lebih dari apa yang istriku rasakan" Tukas Nathan penuh penekanan. Wajahnya terlihat begitu dingin, auranya begitu kuat membuat satu persatu orang di sana membubarkan diri masing-masing. Hingga kini hanya ada Elena, Sesil dan Nathan.


"Elena, tempo hari aku masih memberimu oksigen untuk bernafas. Tapi kali ini aku akan dengan senang hati, dan kemurahan hatiku akan memberimu karbondioksida untuk bernafas" Nathan tersenyum sinis menatap Elena yang sudah memucat wajahnya.


"Nath.." Sesil berusaha menenangkan suaminya yang sedang dalam emosi luar biasa


"Kenapa sayang?" Nathan terdengar melunak nada bicaranya saat menjawab istrinya, bahkan dia menatap Sesil dengan tatapan yang sulit di artikan


"Sudahlah, lebih baik kita melanjutkan berbelanja, masih banyak yang belum di beli" Sesil menarik tangan Nathan

__ADS_1


"Sebentar sayang" Nathan mengusap kepala istrinya lalu kembali mengalihkan pandangannya menatap Elena


Nathan berjalan mendekati Elena yang diam mematung di posisinya dengan keringat dingin mulai membasahi dahinya.


Nathan mendekatkan tubuhnya ke arah Elena dan membisikkan sesuatu yang membuat Elena seketika membulatkan kedua matanya.


"Katakan selamat tinggal pada perusahaan keluargamu" Nathan menarik sebelah sudut bibirnya dan berbalik kembali mendekat ke arah istrinya yang sedang menunggunya.


"Ayo sayang, kita lanjutkan lagi" Nathan mendorong troli meninggalkan Elena yang masih terdiam mematung di posisinya.


Nathan mengarahkan troli belanjaan mereka menuju deretan buah dan aneka minuman kemasan.


Nathan mencoba mengalihkan perhatian istrinya yang sepertinya masih memikirkan perkataan Elena.


Namun sepertinya usahanya kurang berhasil, meskipun istrinya terlihat tersenyum, namun senyum di bibir istrinya itu tidak tulus seperti sebelumnya.


Setelah menyelesaikan berbelanja dan membayarnya di kasir, Nathan menyuruh salah seorang satpam untuk membawa barang belanjaannya ke mobilnya. Sementara dirinya membopong tubuh Sesil menuju mobil.


Setelah mendudukkan istrinya di kursi mobil bagian depan, Nathan kemudian memasukkan barang belanjaan ke dalam mobilnya.


Setelah tertata dengan rapih Nathan masuk ke dalam mobil dan melajukan kembali mobilnya kembali ke rumah.


Sepanjang perjalan Sesil terlihat diam melihat pemandangan keluar jendela. Jalanan kota kelahirannya selalu terlihat padat apalagi di waktu akhir pekan seperti ini.


Tidak membutuhkan waktu lama, Mobil yang Nathan kendarai sudah terparkir di bagasi rumahnya.


Nathan memanggil penjaga rumah untuk membawa barang belanjaannya masuk ke dalam rumah, sementara dirinya membopong tubuh Sesil dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Setelah meletakkan tubuh istrinya di atas ranjang, Nathan berjalan mendekat ke arah pintu untuk menutupnya lalu menguncinya, kemudian dirinya kembali mendekat ke arah ranjang dan merangkak ke atas, kini posisinya mengungkung tubuh istrinya yang terbaring di bawahnya. Kedua bola mata Nathan menatap wajah istrinya.


"Jangan dengarkan Elena. Dia hanya sirik padamu" Ucap Nathan dengan begitu lembut


"Tapi Nath..."


Ucapan Sesil terpotong sebelum sempat di selesaikan olehnya. Nathan sudah mengecup bibir istrinya dengan rakusnya. Menikmati bibir tipis istrinya yang memiliki candu untuknya. Menggigit dan lebih memperdalam ciuman mereka.


Setelah keduanya habis nafas, Nathan melepaskan bibir istrinya dan mengatur nafasnya yang naik turun begitupun dengan Sesil.


"Aku selalu menginginkanmu sayang, menginginkan lebih dan lebih" Nathan menarik dagu istrinya dan keduanya saling menatap begitu lama, kemudian Sesil meraih tengkuk leher suaminya dan memulai ciuman mereka kembali.


Keduanya berciuman begitu panas hingga Nathan tak bisa lagi mengendalikan tangannya. Tangannya sudah bergerilya di balik baju yang Sesil kenakan. Bahkan terdengar leguhan dari bibir mungil Sesil, membuat Nathan menginginkan lebih dari ini.


Saat Nathan mulai membuka melucuti baju istrinya, dan Sesil juga semakin memainkan bibir Nathan membuat Nathan tak kuasa menahan hasratnya.


Namun di detik terakhir, Nathan melepaskan cumbuannya lalu berbaring di samping tubuh istrinya yang sudah setengah telanjang.


Terlihat wajah Sesil menjadi muram. Pikirannya mengira kalau suaminya tak lagi menginginkannya lagi.


Nathan memposisikan tubuhnya tidur menghadap istrinya, bahkan tangannya melingkar sempurna di perut rata Sesil.


"Sayang, aku belum bisa melakukannya saat ini, meskipun aku juga sangat menginginkannya. Semua ini demi kesehatanmu. Karena dokter menganjurkan untuk aku tidak menyentuhmu dua minggu ini. Meskipun sudah dua minggu, tapi aku masih ingin menunggu beberapa hari ke depan. Aku tidak mau melukaimu sayang" Nathan membelai mesra pipi istrinya.


Sesil mengangguk paham bahkan senyum di bibirnya kembali mengembang. Nathan mencoba mengusap istrinya supaya tertidur. Setelah yakin istrinya terlelap Nathan membesarkan volume AC kamarnya karena cuaca begitu panas di luar.


Kemudian dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Sean. Setelah mengirim pesan singkat tersebut, Nathan meletakkan kembali ponselnya di tempat semula dan melingkarkan tangannya kembali di tubuh istrinya dan imut tidur siang menikmati akhir pekan.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tuliskan komentar yang lucu guys, biar mood srayu membaik🙏

__ADS_1


__ADS_2