
Dua orang anak laki-laki berusia 12 tahun sedang menyusun sebuah prakarya tugas dari sekolah, meski keduanya bersekolah di tempat yang berbeda tapi kebetulan bulan ini keduanya mendapat tugas untuk membuat sebuah prakarya dari bahan daur ulang. Kenzo Hidejhosi Cornelio anak pertama dari pasangan Nathan dan Sesil kini sudah duduk di bangku kelas sembilan Sekolah Menengah Pertama, meski seharusnya Kenzo masih duduk di bangku Sekolah Dasar tapi karena Kenzo memiliki kemampuan di atas rata-rata maka dari itu Kenzo saat ini sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Sementara Steve, dia masih duduk di bangku kelas tujuh Sekolah Menengah Pertama.
Meski keduanya bersekolah di tempat yang berbeda tapi persahabatan keduanya sangatlah erat, bahkan hampir setiap hari Steve bermain ke rumah sahabat baiknya itu.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, sebuah kerajinan yang terbuat dari bahan dasar bungkus kopi sudah di selesaikan oleh Kenzo, sebuah Tas berukuran 20cm x 30cm itu sudah di selesaikan dengan apik oleh Kenzo, sementara Steve memilih membuat sebuah bunga berbahan dasar dari botol bekas minuman dengan berbagai warna.
"Akhirnya selesai" Steve menatap kagum akan hasil kerja kerasnya membuat tugasnya kali ini.
"Hm, aku juga sudah selesai" timpal Kenzo sambil merapihkan beberapa bungkus kopi sisa yang berceceran di atas lantai.
Setelah merapihkan kembali semua bahan sisa, Kenzo dan Steve meletakkan hasil kerajinan tangan mereka di atas meja kecil di di samping kamar Kenzo kemudian keduanya berlalu keluar kamar untuk menyusul Mami Sesil yang sedang sibuk di dapur membuat cake cokelat kesukaan Kenzo.
Saat mendekati dapur, indera penciuman Kenzo mengendus aroma lezat dari kue cokelat kesukaannya, dengan langkah kaki yang lebar Kenzo masuk ke dalam dapur dan melihat sebuah Kue cokelat tersaji di atas meja makan.
"Mam, kuenya sudah matang?" tanya Kenzo sambil menarik salah satu kursi dan mendudukkan tubuhnya di sana.
"Itu sudah ada yang dingin sayang, apa kau mau Mami potongkan?" tanya Sesil sambil tangannya sibuk mengolesi loyang dengan margarin
"Bibi, kelihatannya enak sekali. Steve juga mau"
"Makanlah, Bibi sengaja membuat banyak hari ini. Oh ya bagaimana apa tugas kalian sudah selesai?"
"Sudah mam, tapi ngomong-ngomong dimana Angella?" tanya Kenzo sambil kedua matanya menyapu ruangan dapur
Angella adalah anak kedua dari Sesil dan Nathan yang kini baru berusia empat tahun ,gadis mungil dan imut itu selalu saja membuat kegaduhan di rumah bahkan hampir setiap hari membuat Kenzo merasa pusing akan tingkah adiknya yang suka berbuat semaunya sendiri. Meski begitu Kenzo sangat menyayangi adik semata wayangnya, karena sejak lama Kenzo memang menginginkan seorang adik supaya ada teman bermain.
"Entahlah, Mami pikir Angella menyusulmu ke kamar? soalnya dia bilang ingin bermain bersamamu" imbuh Sesil
"Kamar?" jawab Steve dan Kenzo berbarengan, bahkan keduanya saling beradu pandang dan melebarkan matanya. Tanpa menunggu lama keduanya segera beranjak dari kursi dan berlari meninggalkan ruang dapur
Sesil hanya mengangkat kedua bahunya dan kembali melanjutkan memasukkan adonan kue ke dalam loyang. Tinggal satu loyang lagi kue buatannya selesai. Semenjak kelahiran Kenzo Sesil memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Meski tak bisa di pungkiri Sesil sering membantu pekerjaan suaminya jika Nathan bekerja lembur dari rumah.
Semuanya dia lakukan dengan senang hati.
"Angella" teriak Kenzo dengan suara yang menggema bahkan terdengar hingga ruang dapur.
Sesil yang mendengar teriakan putra sulungnya langsung melepaskan clemek yang membalut tubuh bagian depan. Dengan tergesa-gesa Sesil membawa langkah kakinya menuju kamar putra sulungnya.
"Astaga Angella !!! Kenapa kau merusak tugas prakarya kakak?" Kenzo dengan kesal mengambil alih tas berbahan dasar bungkus kopi dari tangan Angella dengan paksa.
Angella yang merasa takut langsung menundukkan pandangannya ke arah lantai yang kini di gunakan olehnya sebagai alas pijakan kakinya.
Awalnya Angella datang ke kamar kakaknya untuk mengajak kakaknya bermain, tapi saat masuk ke dalam kamar kakaknya ternyata kamarnya kosong.
"Angella? jawab kakak !" Bentak Kenzo dengan begitu kesalnya. Adiknya ini selalu saja membuatnya kesal setiap hari.
"Ken, sudahlah. Kita bisa memperbaikinya" Steve menyentuh pundak sahabatnya dan berusaha menenangkan Kenzo yang sedang marah. Namun Kenzo malah menepis dengan kasar tangan Steve.
"Angella, kau ini..."
"Ada apa ini?" suara bariton Sesil memotong perkataan Kenzo pada Angella
"Mam, lihatlah prakarya untuk besok di rusak Angella" Kenzo menunjukkan tas buatannya yang sudah rusak kepada maminya.
Sesil meraih tas tersebut dari tangan putranya, lalu kembali lagi menatap ke arah Kenzo yang sedang memasang wajah kesal terhadap adiknya.
__ADS_1
Sesil menghela nafasnya, lalu tangannya meraih tangan putranya kemudian mengajaknya keluar kamar.
Sementara Angella masih tak bergeming di posisinya, wajahnya begitu ketakutan. Karena ini kali pertama melihat kakaknya semarah barusan. Wajah tampan kakaknya sangat menyeramkan bila sedang marah.
"Angella, sudahlah. Kakak Kenzo hanya marah sementara saja" Steve berjalan mendekat dan berjongkok untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan adik sahabatnya.
Namun Angella masih diam saja, bahkan karena mendengar ucapan dari Steve kedua matanya terlihat berair. Bahkan air matanya terlihat lolos dari kedua bola mata kecilnya hingga jatuh tepat di hadapan Steve.
"Jangan menangis, Kakak nanti akan membujuk kak Kenzo supaya tidak marah lagi" bujuk Steve sambil mengusap air mata Angella menggunakan ibu jarinya.
"Angella tidak sengaja merusaknya kak" ucap Angella dengan suara yang lirih.
"Kakak tau, sudah jangan menangis" hibur Steve berusaha menenangkan gadis kecil di hadapannya.
"Bagaimana kalau kita main kuda-kudaan?" bujuk Steve
"Memangnya Kakak mau?" Angella mengangkat wajahnya menatap ke arah Steve yang kini berjongkok tepat di hadapannya
"Tentu saja, yang penting Angella jangan menangis lagi ya" Steve menepiskan senyuman di bibirnya
Sementara di ruang tamu, Sesil mengajak putra sulungnya untuk duduk. Dengan perlahan Sesil mengusap kepala Kenzo dan membelainya, mencoba menenangkan putranya yang pasti sedang marah saat ini.
"Ken, apa kau masih marah?" tanya Sesil dengan lembut.
"Maafkan Kenzo mam, Kenzo lepas kendali tadi" Kenzo langsung memeluk tubuh maminya dengan erat. Ada penyesalan dalam hatinya karena sudah membentak adiknya barusan.
Tidak seharusnya Kenzo membentak adiknya yang masih berusia empat tahun. Seharusnya dia bisa lebih bersabar menghadapi adiknya yang masih kecil. Kenzo yakin pasti adiknya tidak sengaja merusak prakarya miliknya.
"Ken, kau harus lebih bersabar pada adikmu. Dia masih kecil nak, dia belum mengerti apa-apa" imbuh Sesil dengan suara lembut.
"Kenzo tau mam, Kenzo juga menyesal sudah memarahi Angella" Kenzo semakin mengeratkan pelukannya di tubuh wanita yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan itu.
Sepeninggal maminya, Kenzo kembali menuju kamarnya, saat tepat berdiri di ujung tangga, telinga Kenzo menangkap suara tertawa yang di yakini pasti milik Angella.
Kenzo berjalan mendekat ke arah pintu dan melihat Steve sedang bermain kuda-kudaan bersama adiknya. Angella begitu tertawa riang bermain bersama Steve, dan saat melihat Kenzo memasuki kamar senyum di bibir Angella langsung sirna. Wajahnya kembali tanpa ekspresi bahkan Angella juga langsung turun dari punggung Steve dan berdiri tepat di hadapan kakaknya dengan menundukkan padangan matanya.
"Kakak, Angella minta maaf. Angella tidak sengaja merusak tas milik kakak" suara Angella begitu lirih namun bisa di dengar oleh Kenzo dengan jelas.
"Angella tau kan kakak mengumpulkan bungkus kopi begitu susah payah, bahkan papi harus membeli banyak sekali kopi demi membantu tugas kakak!"
"Angella tau kak. Angella minta maaf" pinta Angella dengan suara semakin ketakutan.
"Ken, sudahlah ! Angella kan sudah meminta maaf"
"Steve diamlah, aku sedang berbicara dengan adikku" tegas Kenzo
Kenzo melangkahkan kakinya satu langkah dan semakin memangkas jarak antara dirinya dan adiknya "Bukankah papi dan mami mengajarkan kita untuk menatap mata orang yang sedang di ajak berbicara?" imbuh Kenzo
Angella dengan takut-takut mengangkat wajahnya dan menatap kakaknya yang juga sedang menatap ke arah dirinya. Kedua bola mata kecilnya terlihat sembab seperti habis menangis. Kenzo yang melihat mata adiknya sembab seketika merasa begitu kasihan. Bagaimanapun juga Kenzo sangat menyayangi Angella, adik yang sudah di tunggunya selama delapan tahun ini. Bahkan selama delapan tahun Kenzo selalu berdoa pada Tuhan supaya maminya bisa kembali hamil lagi dan dirinya bisa memiliki seorang adik yang bisa dia jaga dan lindungi. Kenzo berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Angella.
"Maafkan kakak, sayang" Kenzo langsung memeluk adik mungilnya dengan erat.
Mendapat pelukan dari Kakaknya seketika itu pula Angella kembali tersenyum dan membalas pelukan kakaknya. Bahkan setelah melepaskan pelukan kakaknya Angella langsung memberi kakaknya banyak ciuman di kedua pipi kakaknya membuat Kenzo geli dan tak hentinya tertawa.
Setelah berbaikan dengan adiknya, Kenzo langsung memperbaiki tas yang sudah di rusak oleh adiknya. Kali ini Angella juga ikut menemani kakaknya. Steve juga terlihat duduk di samping Angella dan sesekali menyuapkan sepotong kue cokelat yang baru saja di sajikan dengan segelas jus dingin oleh mami Sesil.
__ADS_1
Tak terasa waktu semakin sore, terdengar suara deru mesin mobil terparkir di halaman rumahnya. Dan tak berselang lama bel rumah Sesil berbunyi. Dengan tergopoh-gopoh Bi Nung berjalan mendekat ke arah pintu utama dan membukanya. Terlihat wajah Imelda bersama seorang anak berusia lima tahun berdiri di ambang pintu. Bi Nung yang sudah begitu akrab dengan Imelda seketika itu pula langsung mempersilahkan Imelda masuk ke dalam rumah.
Setelah mempersilahkan Imelda duduk, Bi Nung berpamitan untuk memanggil Sesil terlebih dahulu.
"Mel kau sudah datang" sapa Sesil
"Dimana Steve? kenapa rumahmu sepi sekali?" seru Imelda yang memperhatikan sekeliling rumah sahabatnya.
"Kakak dimana Bibi?" tanya seorang anak kecil yang duduk di samping Imelda.
"Hallo Leonil? kenapa baru datang sekarang?"
"Tadi mama mengajakku pergi ke dokter gigi" jawab Leonil
"Kakak Steve berada di kamar kakak Kenzo. Ke sanalah"
Leonil dengan begitu senang langsung menyusul kakaknya ke tempat yang sudah di tunjukkan. Usia Leonil berbeda hanya satu tahun dengan Angella. Biasanya setiap akhir pekan Leonil akan datang kemari untuk bermain bersama Angella.
"Kakak.." panggil Leonil yang kini berdiri di ambang pintu kamar Kenzo.
*Leonil? masuklah" Steve melambaikan tangannya ke arah adiknya. Leonil juga langsung masuk ke dalam kamar Kenzo dan ikut bergabung bersama mereka.
Setelah Kenzo menyelesaikan tasnya kembali, Steve segera mengajak adiknya menyusul mamanya ke bawah karena hari sudah semakin sore. Steve segera mengajak mama Imelda untuk kembali ke rumahnya meski sebenarnya Imelda masih betah mengobrol dengan Sesil tapi apalah daya dia tidak bisa menolak permintaan Steve jika sudah membawa nama papa Dave.
Setelah mengantarkan sahabatnya sampai ke teras rumahnya dan mobil yang di kendarai oleh Imelda tak terlihat lagi Sesil masuk ke dalam rumahnya.
Malam Harinya..
Setelah makan malam bersama seperti biasanya Sesil dan Nathan duduk menemani anak-anak mereka belajar di ruang santai. Kenzo juga terlihat sedang membaca buku, sementara Angella sedang mewarnai buku gambar favoritnya di bantu oleh papinya.
"Papi, besok Angella ingin di belikan pensil warna yang baru"
"Boleh, tapi Angella harus mencium pipi papi dulu" Nathan menunjuk pipi kanannya menggunakan jari telunjuknya. Angella dengan senang hati mencium pipi papinya. Bahkan karena gemas Nathan langsung menarik tubuh mungil Angella dan meletakkannya di pangkuannya.
Nathan begitu bahagia karena keluarganya begitu di limpahkan banyak sekali kebahagiaan. Bahkan kelahiran Angella membuat keluarganya menjadi lebih lengkap lagi.
Sambil terus menemani Angella mewarnai sesekali Nathan melihat ke arah Kenzo yang duduk membaca buku dengan begitu fokus, putranya memiliki kemampuan di atas rata-rata anak seusianya. Namun ada rasa kawatir di dalam hati Nathan, karena beberapa kali Nathan melihat Kenzo di datangi oleh teman-teman perempuan ke rumah. Dan sepertinya Kenzo juga terlihat melayani mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.