Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Demam


__ADS_3

Keesokan paginya, sesil masih nampak membalut tubuhnya dengan selimut, padahal waktu sudah menunjukan pukul 07.00am, Kinos, anne dan rara sudah berkumpul di meja makan untuk melakukan sarapan pagi.


Rara beberapa kali melihat ke arah tangga menunggu kedatangan dari keponakannya, setau rara hari ini sesil akan kembali ke kantor kakaknya untuk belajar bisnis dan manejemen di kantor kakaknya tersebut. Karena menunggu cukup lama namun sesil tidak kunjung datang, akhirnya kinos menyuruh Rara untuk memanggil sesil ke kamarnya.


Rara bangkit dari kursinya dan berjalan menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar sesil yang memang terletak di lantai dua berdekatan dengan kamar papinya.


Rara mencoba mengetuk pintu kamar sesil, namun cukup lama menunggu tidak ada jawaban dari dalam sana.


Akhirnya rara mengulurkan tangannya untuk menyentuh knop pintu dan perlahan membukanya, kamar sesil masih terlihat gelap, karena memang kebiasaan sesil ketika tidur lampunya di matikan, di tambah tirai kamar sesil masih tertutup begitu rapat.


Rara mendekat ke arah ranjang, dan hanya bisa tersenyum serta menggelengkan kepalanya melihat keponakannya yang masih terbalut selimut begitu tebal.


Rara mencoba menggoyangkan kaki sesil untuk membangunkan keponakannya tersebut, namun sesil tidak menjawab.


Akhirnya Rara mencoba menepuk pipi rara, seketika rara terkejut karena badan sesil sangatlah panas, sepertinya sesil demam parah.


"Sayang, sesil , bangun nak" Rara mencoba menepuk pipi sesil perlahan namun sesil sama sekali tidak merespon.


"Astaga, jangan-jangan dia pingsan" Rara keluar kamar dengan panik dan menuju ruang makan.


Setelah sampai ruang makan, kinos dan anne yang sedang meminum teh secangkir teh panas menjadi sangat terkejut mendengar penuturan dari putrinya, kalau sesil sedang demam dan tak sadarkan diri.


Kinos dan anne segera berdiri dari kursi dan berjalan beriringan menuju kamar cucunya, sedangkan rara meraih ponselnya yang sempat dia simpan di meja makan dan langsung menghubungi dokter keluarga.


Setelah melakukan panggilan telefon, Rara langsung menuju kamar sesil, terlihat di sana kedua orang tuanya nampak sangat kawatir dengan keadaan sesil, banyak keringat dingin yang keluar dari tubuh sesil, belum lagi sesil nampak menggigil.


Tidak lama kemudian, dokter keluarga yang sempat di panggil oleh rara datang ke kediaman mereka, salah seorang pelayan mengantar dokter tersebut menuju kamar sesil.


Lalu dokter tersebut melakukan pemeriksaan intens terhadap sesil. Setelah melakukan pemeriksaan intens, dokter tersebut memasang infus di tangan kanan sesil.

__ADS_1


Dan memberikan suntikan obat ke dalam cairan infus tersebut.


"Demamnya tidak terlalu parah, ini saya tinggalkan obatnya, mudah mudahan sebentar lagi nona akan segera sadar" dokter leo memberikan beberapa bungkus obat kepada rara.


Rara menerima obat tersebut kemudian mengantar dokter leo hingga ke bawah, setelah mengucapkan terimakasih dan dokter leo juga sudah pamit pulang, rara kembali menuju kamar sesil.


Awalnya rara ingin memberitahu keadaan sesil kepada kakaknya, namun kinos dan anne tidak menyetujuinya, mereka kuatir swan akan panik dan malah terjadi sesuatu yang fatal.


Keadaan sesil juga tidak parah, maka mereka memutuskan untuk tidak memberitahu kepada swan.


"Ra, bukannya hari ini kamu ada sidang?" anne melirik ke arah putrinya yang sudah menjadi pengacara handal.


"Iya bu, tapi biar teman rara yang gantikan saja, rara ingin menjaga sesil" Rara seolah tak ingin meniggalkan sesil yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidurnya.


"Pergilah nak, biar kami yang menjaga sesil" kinos ikut menimpali ucapan istrinya, dan dengan terpaksa rara menuruti keinginan kedua orang tuanya.


Namun kecemasan mereka seketika hilang saat sesil perlahan membuka matanya. Wajahnya terlihat begitu pucat.


Anne segera mengambil segelas air putih dan meminumkannya ke mulut sesil.


"Kenapa tidak memanggil kami sayang saat kau merasa demam" anne mengusap kepala sesil dengan lembut.


"Maafkan sesil, oma, opah! sesil sudah merepotkan kalian semua" sesil menundukan pandangan matanya.


"Tidak sayang, tidak sama sekali" kali ini kinos juga ikut berbicara.


"Ya sudah, makan dulu ya, lalu minum obat supaya lekas sehat" Anne mengambil bubur dan sup sayuran yang baru saja di buat oleh kepala pelayan di rumah ini. Anne dengan telaten menyuapkan bubur dan sup sayuran kedalam mulut sesil. Hanya beberapa suap saja sesil sudah tidak mau memakannya lagi.


Kemudian anne mengambilkan obat dan meminumkannya ke sesil.

__ADS_1


Setelah minum obat, sesil kembali berbaring ke ranjang kamarnya, sementara itu kinos dan anne keluar dari kamar sesil untuk membiarkan sesil berisitirahat lagi.


Sesil menatap langit langit kamarnya, sesil kembali terbayang wajah maminya, sesil ingin sekali ketika sakit ada maminya di sampingnya, merawatnya dan mengecup keningnya sebelum tidur.


Namun rasanya itu tidak mungkin, sejak kecil ketika sesil sedang sakit, satu satunya orang yang akan begadang tidak tidur adalah papinya, papinya akan dengan telaten mengganti air kompressan untuk mengurangi demam di tubuh sesil.


"Mi, sesil rindu" sesil mengusap bulir air mata yang mulai turun dari pelupuk matanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2