Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Indah Sekali


__ADS_3

Nathan dan Sesil masih duduk di atas pasir, Nathan terlihat memejamkan matanya serta kepalanya menyandar di atas pundak istrinya, sementara Sesil terlihat sedang memijat kepala suaminya menggunakan tangan kanannya. Sesil menatap kawatir kondisi Nathan saat ini, keringat dingin cukup banyak di keningnya, bahkan tidak biasanya Nathan seperti ini. Rasa kawatir mulai menyelimuti hati Sesil, dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya, padahal mereka baru saja sampai.


"Nanti lebih baik setelah kau baikan, kita kembali ke Semarang saja ya sayang?" Ucap Sesil


"Aku baik-baik saja sayang, hanya sedikit pusing. Mungkin efek kelelahan saja, kita kan baru saja melakukan perjalanan yang jauh" Nathan mencoba mengangkat kepalanya menatap wajah istrinya yang terlihat begitu menghawatirkan dirinya.


"Aku baik-baik saja sayang" Nathan mengusap kepala istrinya dengan lembut.


"Ya sudah ayo kita lanjutkan makanan kita? Kan sayang makanan yang sudah tersedia, terlebih lagi kau kan sangat suka seafood?"


Sesil terdiam sejenak memikirkan perkataan suaminya, dia kawatir suaminya akan kembali muntah jika melihat makanan seafood.


"Tidak perlu, kita makan saja di resort. Lebih baik kita segera kembali, hari sudah menjelang sore" Sesil membantu Nathan untuk bangkit dari duduknya.


Nathan juga merasa kondisinya sudah kembali membaik. Pusing di kepalanya sudah tidak terasa, di tambah rasa lemas di tubuhnya juga sudah lenyap begitu saja.


"Ayo" Sesil mengandeng lengan tangan suaminya kemudian keduanya kembali menyusuri bibir pantai untuk kembali ke resort.


Sepanjang perjalanan keduanya kembali saling menautkan jari-jemari mereka, Sesil tak hentinya melebarkan senyuman di bibirnya melihat hamparan pasir putih serta hamparan pantai yang sangat indah, pulau yang masih sangat asri serta suasana yang sangat private membuat Sesil ingin lebih lama lagi tinggal di pulau ini.


Pulau yang cantik di temani oleh orang terkasih membuat kebahagiaan yang di rasakan oleh Sesil lengkap sudah, andaikan saja dirinya bisa memiliki momongan tentu saja kebahagiaan itu akan lebih sempurna di rasakan olehnya.


Sejenak Sesil melirik ke arah samping tempat dimana suaminya sedang berdiri mengikuti langkah kakinya. Nathan mengenakan kaca mata hitam dan terlihat fokus menatap ke depan. Hidung mancung Nathan serta ketampanan suaminya mampu membuat Sesil selalu merasa terpana.


Sesil menghentikan langkah kakinya, seketika itu Nathan juga menghentikan langkahnya dan langsung menatap Sesil yang ternyata juga sedang menatapnya.


"Ada apa?" Nathan menaikkan kedua alisnya saat mendapat tatapan dari istrinya yang begitu tajam.


Namun bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Sesil malah langsung melepaskan genggaman tangan Nathan. Seketika itu pula Nathan merasakan tangannya kosong, Nathan mengernyitkan dahinya menatap istrinya dengan penuh tanda tanya.


Sesil terlihat mendekatkan wajahnya dan menyentuh dada suaminya menggunakan jari telunjuknya.


Sesil terlihat menggambar sesuatu di atas dada suaminya menggunakan jari telunjuknya.


Nathan menarik kedua bibirnya saat istrinya menggambar tanda Love di dada bidangnya.


Setelah menyelesaikan gambarnya, Sesil kemudian mengalungkan kedua tangannya di tengkuk leher suaminya.


"Kenapa kau sangat tampan? andai saja aku bisa, aku tak ingin membiarkan mata wanita lain menikmati ketampananmu. Andai aku bisa, aku ingin mengurungmu di dalam rumah supaya hanya aku yang bisa menikmati setiap keindahan yang Tuhan berikan untukmu" Sesil berjinjit dan menempelkan hidungnya dengan hidung milik suaminya.


"Apa aku setampan itu sayang?" Nathan tersenyum tidak jelas, karena ini kali pertama dirinya mendapat pujian dari istrinya.


"Kalau tidak tampan aku tidak akan mau denganmu" balas Sesil.

__ADS_1


"Jadi mulai sekarang, kemanapun kau pergi aku ingin ikut" imbuh Sesil lagi. Bahkan tanpa menunggu lama, Sesil langsung mengecup bibir suaminya. Nathan melebarkan matanya saat istrinya mengajaknya berciuman di tempat umum.


Meskipun Nathan telah menyewa pulau ini hanya untuknya, tapi Nathan tidak menyangka kalau Sesil akan seagresif ini di tempat umum.


Sesil semakin memperdalam ciumannya, bahkan Nathan dengan senang hati melayani istrinya. Keduanya berciuman cukup lama, di saksikan oleh hamparan pasir putih serta lautan yang begitu luas di tambah dengan suara kicauan burung membuat keduanya hanyut terbawa suasana hati mereka.


Setelah keduanya kehabisan nafas, akhirnya keduanya menyudahi ciuman mereka dan kembali melanjutkan perjalan menuju resort.


Kini langkah kaki keduanya sudah sampai di pintu masuk resort. Keduanya di sambut oleh dua orang pelayan.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya" kedua pelayan tersebut membungkuk memberi salam atas kedatang Sesil dan Nathan.


Nathan langsung mengajak Sesil masuk ke dalamnya. Dan saat pintu terbuka seketika mata Sesil terbuka lebar melihat ke arah lantai yang penuh dengan kelopak bunga lili serta terdapat lilin yang di bentuk hati. Harum semerbak aroma lili membuat Sesil memejamkan matanya dan menghirup aroma tersebut dalam-dalam.


Sesil benar-benar merasakan honey month untuk kedua kalinya. Bahkan honey month kali ini rasanya lebih indah dari sebelumnya. Nathan banyak membuat suprise romantik untuknya.


"Indah sekali sayang" Sesil memutar badannya melihat Nathan yang berdiri di balik punggungnya.


"Kau lebih cantik dari segalanya sayang"


Sesil tersipu malu mendapat pujian dari suaminya, bahkan rona merah muda menyembul di kedua pipinya. Dengan sedikit malu-malu Sesil mencubit pinggang suaminya. Nathan hanya terkekeh melihat tingkah istrinya yang seperti itu.


Kemudian Nathan kembali mengajak Sesil menuju kamar utama tempat mereka beristirahat nantinya, sepanjang menuju kamar tidur banyak sekali kelopak lili serta lilin yang di susun begitu cantiknya.


Sesil kegirangan dan langsung berjongkok mengambil kelopak bunga mawar dan menaburkannya ke udara hingga kelopak bunga tersebut berterbangan mengotori seluruh ruangan bahkan mengenai tubuh Nathan.


"Aaaaaa" Sesil menari-nari kegirangan dan kembali berputar-putar menerbangkan ribuan kelopak mawar.


"Indah sekali, terimakasih sayang" Seru Sesil kembali.


Nathan hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah istrinya yang kegirangan layaknya anak kecil.


Nathan mengambil sebucket bunga mawar merah dari atas meja kecil dan menyerahkannya pada Sesil.


Seketika Sesil langsung menghentikan putaran tubuhnya dan menatap suaminya.


"Ini untukku?" Tanya Sesil polos


"Untuk pelayan di depan" ketus Nathan.


"Lalu kau menyuruhku memberikan bunga ini pada mereka? lebih baik kau berikan saja sendiri" Seru Sesil. Kemudian dia kembali melakukan aktivitasnya bermain kelopak mawar merah.


Nathan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kadang kepekaan istrinya perlu di uji supaya bisa lebih mengerti situasi. Jika masalah bisnis kemampuan istrinya sudah bisa di buktikan ketangguhannya, tapi soal hati dan perasaan kadang peka kadang pula tidak peka.

__ADS_1


Nathan meletakkan kembali bucket bunga mawar merah di tempat semua kemudian Nathan melepaskan kaca mata yang sedari tadi di kenakannya dan meletakkannya di atas meja kemudian Nathan terlihat membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Nath, ngomong-ngomong ya, kenapa hiasan kelopak bunga mawar ini malah terletak di atas lantai, bukannya pada umumnya hiasan seperti ini terletak di atas ranjang?" Sesil mengernyitkan dahinya dan mendekat ke tepian ranjang bahkan keningnya terlihat membentuk lipatan-lipatan.


Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Nathan malah tersenyum nakal ke arah istrinya.


"Kenapa kau tersenyum?" Sesil mengerucutkan bibirnya saat melihat suaminya malah tersenyum ke arahnya.


Tanpa menunggu lama, Nathan menarik tangan istrinya hingga kini tubuh Sesil jatuh di atas tubuh kekarnya.


Nathan menatap intens kedua bola mata istrinya, lalu pandangan matanya beralih melihat ke arah bibir tipis Sesil yang selalu memiliki magnet, Nathan langsung merubah posisi hingga kini tubuh Sesil berada di bawah kungkungan tubuhnya.


"Aku tidak ingin kelopak bunga mawar itu mengganggu acara kita" Nathan mulai mengusap pipi istrinya dengan lembut


"Aku menginginkanmu sayang" Bisik Nathan lembut di telinga Sesil, bahkan Nathan sengaja meniup telinga istrinya perlahan. Membuat Sesil langsung menggelijang.


Tanpa menunggu lama, Nathan mulai melakukan apa yang ingin dia lakukan, tangannya mulai melucuti satu persatu pakaian yang istrinya kenakan. Setelah tubuh istrinya tak mengenakan pakaian, Nathan dengan kalap dan tak memberi jeda sedikitpun langsung menikmati setiap inci tubuh polos istrinya dengan rakus.


Keduanya kembali melakukan kegiatan panas tersebut, hanya suara dernyitan ranjang yang menjadi saksi betapa panasanya kegiatan mereka berdua.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tinggalkan Vote, Like dan komentarnya.

__ADS_1


Jangan pas Part sedih aja banyak komentarnya, Part romantis mah selalu sepi komentar☹️


__ADS_2