Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Bekal Makan Siang


__ADS_3

Dering jam weker yang berada di atas meja kecil samping tempat tidurnya membuat tidur pulas nathan terganggu, tangan nathan meraba-raba benda kecil yang menggangu paginya itu, setelah mematikan jam weker, nathan mengerjapkan matanya dan mengumpulkan kesadarannya.


"Astaga, dimana aku" seketika nathan menepuk jidatnya ketika melihat cat kamar sesil yang berwarna biru muda, karena memang kamar nathan memiliki tema monokrom.


Mata nathan beralih ke arah samping dan seketika dia terkikik pelan, nathan lupa kalau dirinya kini tinggal di rumah istrinya.


Nathan melihat sesil masih tertidur pulas, bahkan selimutnya hanya menutupi kakinya saja.


Nathan menatapi wajah istrinya yang begitu menenangkan paginya itu, kali ini sesil berada di sampingnya itu nyata adanya, biasanya sesil hanya akan ada dalam mimpinya saja.


Nathan menyibakkan rambut sesil yang menutupi wajah mungilnya, kemudian nathan menarik selimut untuk menutupi tubuh sesil kembali, dan nathan mengecilkan suhu ac di kamar tidur sesil, karena udara semarang pagi ini cukup dingin.


Setelah itu nathan beranjak bangun dan membersihkan diri di dalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi, nathan keluar menggunakam handuk kimononya, berjalan menuju lemari kamar sesil, Nathan seketika menepuk jidatnya, nathan lupa dia kemari tidak membawa pakaian kantornya.


Nathan mengurungkan niatnya untuk berganti pakaian, namun tiba-tiba langkah kakinya terhenti, timbul sikap usil dari diri nathan, nathan ingin sekali mengetahui apa isi dari lemari kamar gadis kecilnya.


Tangan nathan menggeser pintu lemari hingga lemari itu terbuka lebar, dan seketika matanya terkesiap melihat deretan kemeja kantor lengkap dengan jas dan dasi tertata rapih berdampingan dengan semua pakaian milik sesil di dalam lemari tersebut.


Nathan tidak menduga sesil sudah mempersiapkan semuanya. Nathan menarik kedua sudut bibirnya dan mengambil satu set pakaian kemudian dia mengenakannya.


Setelah mengenakannya, nathan menutup kembali lemari tersebut dan keluar dari kamar menuju lantai satu.


Saat berada di ujung tangga, nathan melihat swan sedang duduk di sofa ruang tamu memangku laptopnya.


Nathan dengan langkah canggung berjalan mendekat ke arah mertuanya tersebut.


"Sudah bangun?" swan menyapa nathan, tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar laptop yang di pangkunya.


"Sudah om.." jawab nathan.


"Apa? om?" swan mengalihkan pandangan matanya dari layar laptopnya, kedua alisnya menyatu dan keningnya terlihat lipatan-lipatan di sana.


Swan menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Kau ini sudah menikah dengan putriku, jadi sekarang kau juga sudah menjadi putraku, di dalam kamusku, tidak ada istitah "Menantu" , aku tidak membedakan kau dan sesil, kalian berdua adalah anakku sekarang, tanggung jawabku, jangan sungkan" seru swan, suara swan terdengar begitu datar, wajahnya juga tidak menunjukkan garis emosi apapun, terlihat begitu tenang dan dingin.


Nathan tersenyum pelik, sejujurnya nathan masih sangat canggung dengan swan, ada rasa minder tersendiri ketika berdekatan dengan swan.


"Panggil aku papi" imbuh swan lagi, kemudian swan menutup laptopnya dan beranjak dari duduknya, sekilas swan melihat ke arah kemeja yang di kenakan oleh nathan terlihat begitu pas di badannya, membuat swan menaruh rasa curiga terhadap menantunya tersebut.


"Bagaimana mungkin baju yang di belikan oleh sesil bisa pas di tubuhmu?" Seketika swan melontarkan pertanyaan ke arah nathan yang berdiri tak jauh darinya


"Apa kalian jangan-jangan pernah....."


"Tidak, tidak seperti yang papi pikirkan, sesil bisa mengetahui ukuran baju saya, karena tempo hari saya dan sesil pernah kehujanan dan sesil meminjamkan baju anda kepada saya, sepertinya baju anda semasa muda" Seru nathan, untuk kali pertama nathan berlaku tidak sopan dengan memotong ucapan orang yang lebih tua darinya.


Karena nathan tau arah pembicaraan swan, maka dari itu nathan buru-buru menjelaskan, nathan takut swan akan salah paham dan berpikiran buruk terhadapanya.


"Oh" Swan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian mengajak nathan untuk sarapan bersama.


Kini di meja makan nathan dan swan duduk berhadapan.


Swan mengernyitkan dahinya karena putrinya tidak kunjung menyusul bergabung dengan mereka.


"Kemana sesil?" swan melirik ke arah nathan yang duduk diam di hadapannya.


"Masih tertidur pi, sepertinya sesil kelelahan karena acara kemarin.." jawab nathan


"Bagaimana anak itu, sudah memiliki suami tapi masih saja bangun siang, sudah kewajibannya seorang istri melayani suami, tapi anak itu.." swan menghela nafasnya berat dan memijat pelipisnya.


"Maafkan sesil, saya sudah sering mengajarinya tentang bagaimana menjadi seorang wanita yang baik, tapi karena memang tidak ada yang mencontohkan jadi sesil sedikit bandel, jika saja mami sesil masih ada, pasti sesil akan bisa mencontoh maminya yang selalu melayani suaminya dengan baik" Mata swan menatap ke arah depan, rasanya swan ingin kembali ke masa itu, masa di mana ayu akan sibuk menyiapkan menu sarapan, meski hanya menu sederhana yaitu nasi goreng, tapi kelezatan nasi goreng ayu mengalahkan nasi goreng kepala koki di rumah ini.


"Biarkan saja pi, kasian sesil pasti kelelahan, nathan benar-benar tidak mempermasalahkannya, sesil adalah istri nathan, ratu dalam hidup nathan, bukan pelayan yang harus setiap saat melayani nathan" imbuh nathan.


Swan tercengang mendengar penuturan nathan, swan tak menyangka nathan akan mengatakan hal seperti itu, hati swan sangat lega mendengarnya, setidaknya nathan pasti akan menerima kekurangan sesil dan bisa menyayanginya.


"Biar papi yang akan membangunkannya" Swan hendak beranjak dari duduknya namun di cegah oleh nathan.


Dan akhirnya mereka berdua sarapan bersama tanpa adanya kehadiran sesil.


"Apa kau hari ini akan ke kantor? bukannya lebih baik kau di rumah?" swan menyeka mulutnya dengan tisue dan bertanya ke arah nathan yang masih mengunyah makanan di mulutnya. Karena mulutnya penuh dengan makanan, nathan hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Seusai sarapan mereka berdua pergi melakukan aktifitasnya masing-masing.


🌷🌷🌷


Sesil menggeliat dari tidurnya ketika sinar matahari menembus dari celah tirai tebal di kamarnya, Sesil mengerjapkan matanya dan mengumpulkan kesadarannya, sesil duduk di atas kasur dan menggerakkan tangannya, mereganggkan ototnya yang terasa pegal.


Kemudian sesil melirik ke arah ranjang sampingnya, sudah kosong, sepertinya nathan sudah bangun terlebih dahulu, sesil melihat ke arah jam dinding kamarnya, sudah menunjukan pukul 10.00am.


Dengan masih malas,Sesil kemudian beranjak dari kasur dan berjalan menuruni anak tangga, terlihat beberapa pelayan sedang membersihkan rumah.


"Papi di mana mba?" sesil bertanya kepada salah satu pelayan yang sedang mengelap guci keramik di rumahnya.


"Tuan Besar, dan Tuan muda sudah pergi ke kantor sedari pagi nona" jawab pelayan tersebut.


Seketika sesil menggelengkan kepalanya, sesil tidak menyangka suaminya juga sama gila kerja seperti papinya, dengan malas sesil melanjutkan kembali langkah kakinya, namun tiba-tiba ada beberapa pelayan membawa banyak bungkusan kado dan meletakan di dekat tangga.


"Ini semua kado pernikahan nona kemarin"


"Dan ini, ini spesial dari nona imelda untuk anda" Pelayan tersebut menyerahkan sebuah kotak berwarna biru kepada sesil, dan mengatakan bahwa imelda sudah kembali lagi ke bandung tadi pagi jam delapan.


Sesil menerima kado tersebut dan membawanya masuk ke dalam kamarnya kembali.


Sesil meletakkan kado tersebut di meja sofa yang terletak tak jauh dari ranjangnya.


Sesil kembali menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, dan memejamkan kembali matanya, tubuh sesil benar-benar merasa sangat pegal efek acara kemarin.


Namun tiba-tiba dia mengingat nathan, sesil meraih ponsel yang terletak di atas meja kecil kamarnya, kemudian mengirim pesan singkat kepada nathan.


Kenapa kau tidak membangunkan aku? Dan pergi bekerja tanpa memberitahuku ~Sesil


Setelah mengirim pesan, sesil meletakkan ponselnya di sampingnya, cukup lama menunggu, sesil melihat kembali layar ponselnya, namun belum ada balasan dari nathan.


Akhirnya sesil memutuskan untuk mandi, setelah beberapa lama sesil mandi dan berendam busa di dalam bath up kamar mandinya, sesil kini sudah berganti pakaian santainya, dan sedang menyisir rambutnya. Tiba-tiba terdengar dering ponselnya.


Sesil buru-buru mendekat ke ranjang dan meraih ponselnya, tertera satu pesan masuk dari nathan di layar ponsel sesil.


Aku tidak tega membangunkanmu, sepertinya kau sangat kelelahan, di tambah semalam aku melakukan itu saja kau tidak terasa ~Nathan


"Melakukan?" Sesil mengedipkan matanya dan seketika kedua tangan sesil menyentuh dadanya, sesil mencoba mengingat tapi tidak ada yang di ingat satu pun, terlebih lagi saat sesil mandi rasanya semuanya masih sama.


Akhirnya nathan memutuskan untuk melakukan panggilan video call, beberapa kali berdering, baru di jawab oleh sesil.


Nampak wajah sesil yang merah merona di layar ponsel nathan.


Nathan menahan tawanya dan mencoba menetralkan wajahnya.


"Ada apa?" Seru sesil ketus


"Sudah bangun?" Nathan menarik kedua alisnya ke atas, namun sesil hanya diam saja tidak meyaut pertanyaan nathan.


"Kau kenapa? Apa terasa sakit?" Goda nathan, sembari nathan memiringkan kepalanya


"Sakit apa? Memang kau melakukan apa semalam?" seru sesil lagi


"Apa perlu aku jelaskan secara mendetail apa yang aku lakukan hm ? oh oke baiklah, pertama-tama aku membuka..."


"Cukup, dasar mesum" seketika sesil berteriak ke arah nathan, dan tanpa menunggu jawaban nathan, sesil langsung mematikan panggilan ponselnya.


Sedangkan nathan tertawa terbahak-bahak di dalam ruangan kantornya, nathan senang sekali bisa menggoda sesil.


Kemudian nathan mengetik pesan singkat untuk sesil.


Bawakan aku bekal makan siang ~Nathan


Setelah mengirim pesan singkat kepada sesil, nathan kembali bekerja.


Sesil yang membaca pesan dari nathan mendengus dengan kesal, tapi walau bagaimanapun dia harus tunduk kepada nathan yang kini sudah sah menjadi suaminya, seperti janji yang sudah dia ucapkan kemarin.


Sesil kemudian berjalan menuju lantai bawah untuk ke dapur memasak bekal makan siang untuk nathan.


Kini sesil sedang berkutat dengan spatula dan beberapa peralatan masak lainnya, karena sesil tidak jago memasak, sesil hanya membuatkan menu makan siang makanan rumahan biasa.


Setelah semuanya siap, sesil kemudian meminta supir mengantar dirinya ke kantor suaminya.

__ADS_1


Karena waktu juga sudah mendekati makan siang.


Ini kali kedua sesil menginjakkan kaki di kantor nathan, namun kali ini suasana begitu terasa berbeda, setiap karyawan menyapa hangat kedatangan sesil.


Sesil berjalan menuju ruang kerja nathan, nampak emilia sedang duduk di meja kerjanya, dan saat melihat kehadiran sesil, emilia bangkit dan memberi hormat kepada istri dari bosnya itu.


Sesil membalas sapaan emilia kemudian sesil masuk ke dalam ruang kerja nathan tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Melihat pintu ruangannya di buka tanpa di ketuk, nathan sudah bisa menebak siapa yang datang.


Dan benar saja, saat nathan menatap ke arah pintu, masuklah sesil dengan menenteng kotak makanan bercorak kartun ke sukaannya.


Kemudian sesil meletakkan kotak tersebut di meja depan sofa, dan sesil menghempaskan tubuhnya duduk di sofa.


Nathan tersenyum dan berdiri dari duduknya dan kini ikut duduk di samping sesil.


"Apa kau lelah?" Nathan menyelipkan rambut sesil di balik telinga sesil.


"Memang kau semalam melakukan apa?" bukannya menjawab malah sesil bertanya balik kepada nathan.


"Melakukan yang seharusnya aku lakukan?"imbuh nathan


"Ya apa?" Sesil kembali memegang dadanya dengan kedua tangannya.


Seketika nathan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol sesil. Bahkan matanya terlihat basah karena terus-terusan tertawa.


"Apa yang lucu?" Seru sesil, sesil mengeryitkan dahinya dan mengerucutkan bibirnya.


"Kau" Nathan mencubit pipi sesil dengan begitu gemasnya


"Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, yaitu tidur, aku juga sangat lelah" Imbuh nathan kembali.


"Huh" sesil membuang nafasnya dengan begitu lega.


"Tenang saja, meskipun itu kewajibanmu, tapi aku tidak akan memaksa kau melakukannya, aku tidak mau menjadi dean kedua yang selalu memaksakan kehendaknya padamu" Nathan mengacak-acak rambut sesil dengan begitu gemas.


"Ayo kita makan, aku sangat lapar" Kemudian nathan mulai membuka kotak makan yang di bawa sesil, namun tiba-tiba sesil merebut kotak makan tersebut, seketika nathan menatap tajam ke arah sesil, namun nathan tak menduga sesil malah menyiapkan makanannya untuk nathan.


Kemudian mereka berdua sama-sama menikmati makan siang di dalam ruang kerja nathan.


Beberapa kaki nathan melirik ke arah sesil yang sedang menikmati makan siang di sampingnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan cuma like dong, kasih komentar dan saran buat srayu ya🙏 terimakasih🙏😘


__ADS_2