
Sesil mengerjapkan beberapa kali matanya dan menyesuaikan dengan bias cahaya lampu yang menyinari kamarnya. Tubuhnya terasa begitu lelah, bahkan lebih tepatnya sangat pegal-pegal, saat dirinya hendak menggerakkan tubuhnya, pinggangnya terasa begitu sakit.
Sesil sebenarnya merasa kesal, tubuhnya terasa sesakit ini akibat ulah suaminya yang seperti singa liar yang kelaparan bahkan tak memberinya jeda sedikitpun untuknya meraup udara, suaminya terus menggarap tubuhnya hingga hasratnya terpuaskan.
Namun di sisi lain, Sesil juga sangat menikmati permainan mereka tadi meskipun cuaca terik membuat aktivitas keduanya semakin panas saja.
Sesil meraba tempat tidur di sampingnya, namun suaminya sudah tidak ada, kemudian kedua matanya menyapu sekeliling kamar tersebut tapi tak mendapati suaminya, bahkan pintu kamar mandi saja terlihat terbuka lebar menandakan kalau Nathan pasti tidak ada di kamar ini.
"Kemana dia" Sesil berdecak kesal karena tidak mendapati suaminya. Kemudian dia beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri karena waktu sudah menunjukan pukul 06.08pm.
Sesil memungut satu demi satu pakaian miliknya yang tercecer di lantai lalu memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor yang terletak tak jauh dari kamar mandi, setelah memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang, Sesil memutuskan untuk mandi membersihkan dirinya. Dia menyalakan kran kamar mandi untuk mengisi bath up lalu dia menuangkan sabun cair dalamnya hingga bath up tersebut penuh dengan busa, Sesil merasa begitu senang dan langsung masuk ke dalam bath up berendam dengan air busa. Rasanya sungguh menyenangkan sekali bisa memanjakan diri seperti ini, bahkan kedua telapak tangannya tak hentinya terus bermain busa dan membalurkan ke seluruh tubuhnya.
Sedangkan Nathan baru saja masuk ke dalam kamar dan mendapati ranjang tidurnya sudah kosong, dia yakin kalau istrinya pasti sedang mandi.
"Sil, kau di dalam?" Nathan mendorong pintu kamar mandi namun sialnya ternyata di kunci
"Iya, aku sedang mandi" Jawab Sesil dari dalam kamar mandi
"Buka aku ingin ikut" Seru Nathan terkekeh pelan sembari tangannya terus memutar knop pintu, membuat istrinya kesal bukan main akan tingkah suaminya yang selalu saja bersikap mesum terhadapnya.
"Ayo, bukalah" Imbuh Nathan lagi
"Dasar mesum" Seru Sesil dengan nada yang begitu ketus, membuat Nathan tertawa puas sudah bisa menggoda istrinya itu.
Puas menggoda istrinya, Nathan segera berganti pakaian dengan satu set pakaian rumahan dan langsung memangku laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini yang sudah tertunda akibat insiden siang tadi.
Entah sudah berapa lama Nathan bekerja, akhirnya Sesil keluar hanya dengan menggunakan selembar kain handuk yang membalut tubuhnya. Aroma wangi sabun membuat Nathan mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Sesil berjalan melewati suaminya dan memilih satu set pakaian rumahan dari dalam lemari.
"Apa kau menggodaku sayang" Tiba-tiba saja Nathan memeluk tubuh istrinya dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak istrinya, hidungnya mengendus aroma wangi dari tubuh Sesil.
Sesil mendengus kesal, tubuhnya saja masih terasa begitu sakit, tapi sekarang Nathan sudah kembali berulah.
"Jangan menggangguku" Sesil menginjak kaki Nathan hingga suaminya mendesis kesakitan dan langsung melepaskan pelukannya.
"Dasar pelit" Nathan mengusap ujung kakinya yang terasa perih akibat di injak oleh istrinya.
"Kita sudah melakukannya tadi, apa sekarang kau mau lagi" Sesil berkacak pinggang sambil memlototkan matanya menatap Nathan yang menggaruk tengkuk lehernya sambil terkekeh pelan.
Tanpa menunggu jawaban suaminya, Sesil mengenakan pakaiannya satu demi satu di hadapan Nathan dengan tidak sungkan.
Sedangkan Nathan hanya berdiri mematung sambil menelan salivanya susah payah. Jika dia tidak mempertimbangkan kondisi istrinya sudah pasti dia akan kembali memakan Sesil saat ini.
"Tidak usah melihatku seperti itu, kau sudah sering melihatku seperti ini bukan" Seru Sesil sambil mengenakan kaos polos di tubuhnya. Setelah semua pakaian lengkap di tubuhnya, Sesil berlalu dari hadapan Nathan yang masih berdiri mematung di posisinya.
"Aku akan membantu Bi nung menyiapkan makan malam" Sesil berlalu keluar dari kamar tersebut
"Shit.." Nathan mengusap kasar wajahnya karena kesal tak bisa mengendalikan gejolak batinnya.
Kemudian dia kembali lagi melanjutkan pekerjaan yang belum selesai di kerjakan.
One Later A go
"Nath, makan malam sudah siap" Sesil menyembulkan kepalanya saja dari pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
__ADS_1
Namun suaminya masih tak bergeming menatap deretan angka yang terdapat pada layar laptop miliknya.
"Nath.." Sesil mengulangi lagi memanggil suaminya.
"Iya sayang, tunggu sebentar" Imbuh Nathan sambil menutup layar laptopnya dan berjalan mendekat ke arah istrinya yang berdiri menunggunya di ambang pintu. Kemudian keduanya berjalan beriiringan menuju meja makan untuk menikmati makan malam bersama.
Sunyi..
Sunyi..
Sunyi..
Keduanya sibuk menikmati menu makan malam hingga semua makanan yang tersaji di piring keduanya habis tak bersisa.
Nathan menyeka mulutnya dengan tisu dan meminum segelas air putih untuk melarutkan sisa-sisa makanan yang terdapat dalam rongga mulutnya.
Setelah berbincang sebentar dengan istrinya, Nathan kembali masuk ke dalam kamar untuk bekerja, sementara itu Sesil memutuskan untuk menonton televisi di ruang tengah.
Sesil menikmati siaran televisi dengan berbalas pesan singkat dengan sahabatnya Imelda. Bahkan sesekali Sesil tersenyum ketika Imelda menceritakan pertengkarannya dengan Dave karena masalah sepele, meskipun sahabatnya itu sudah memutuskan menjalin hubungan serius dengan Dave tapi pasangan itu akan terus bertengkar hanya karena masalah kecil.
Setelah Imelda tak membalas pesannya lagi karena harus dinas malam, kebosanan mulai melanda dirinya, akhirnya dia memutuskan untuk membuatkan Nathan segelas susu hangat dan membawakan makanan ringan untuk menemani suaminya bekerja.
Sesil menuju dapur, mengambil gelas lalu mengisinya dengan susu dan menuangkan air panas ke dalamnya lalu mengaduknya hingga merata.
Kemudian dia mengambil beberapa biskuit kacang dan menatanya di atas piring. Setelah semua siap, Sesil membawa susu hangat dan biskuit itu masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang aku buatkan susu hangat" Sesil meletakkan nampan berisi segelas susu dan sepiring biskuit di atas meja kerja Nathan.
"Terimakasih sayang" Nathan menoleh menatap istrinya dan menyunggingkan senyum termanisnya kemudian kembali fokus menatap layar laptop miliknya.
"Kau pasti lelah" Imbuh Sesil
Nathan hanya diam saja mendengar perkataan istrinya, dia paham betul di balik sikap baik istrinya pasti memiliki tujuan. Tak biasanya istrinya bisa bersikap manis terhadapnya.
"Nath aku bosan" Sesil memijit pundak Nathan dengan sedikit memakai tenaga membuat Nathan meringis kesakitan namun dia menahannya.
"Apa aku kata pasti ada maunya" Gumam Nathan dalam batinnya.
Sesil masih terus memijit pundak suaminya, setelah di rasa puas, kedua tangan mungilnya berpindah menuju kepala suaminya dan memberikan pinjatan-pijatan kecil, membuat Nathan memejamkan matanya karena menikmati pijatan istrinya yang dirasa sangat enak.
"Nath aku bosan ! Kau mendengarkan aku atau tidak?" Seru Sesil dengan kesal, bahkan tangannya menarik rambut Nathan dengan kesal
"Ah !" Nathan mendesis merasakan pegal di kulit kepalanya
"Jika kau bosan mau apa? Berlibur?" Seru Nathan memutar kepalanya melihat ke arah istrinya yang menunjukkan wajah yang begitu kesal.
"Aku belum memiliki waktu untuk berlibur sayang, kau tau kan aku saat ini memegang dua perusahaan. Pekerjaanku sungguh banyak, aku harap kau mengerti" Nathan menarik kedua tangan istrinya namun dengan cepat Sesil menepis tangan suaminya.
"Aku bosan di rumah setiap hari, aku ingin kembali bekerja seperti dulu saat belum menikah denganmu. Dulu aku membantu papi di kantor"
Nathan menghela nafasnya, dia bukan tak mau istrinya membantunya, tapi dia tidak mau istrinya kelelahan bekerja mengurus perusahaan.
Karena tugas istri bukan untuk mencari uang.
"Apa kau tidak percaya kalau aku mengelola perusahaan papi?" Nathan merubah raut wajahnya menjadi datar tanpa ekspresi, berharap jawabannya ini bisa meredam keinginan istrinya.
__ADS_1
"Bukan seperti itu sayang" Sesil memutar kursi kerja suaminya dan langsung mengalungkan kedua tangannya melingkar di leher Nathan, bahkan Sesil menempelkan keningnya di kening suaminya serta hidung mancung keduanya saling bertemu.
"Aku hanya merasa bosan di rumah sayang, dan lagi aku merasa kasihan melihatmu lelah bekerja sendirian, aku hanya ingin membantu suamiku" Suara Sesil terdengar melunak di telinga Nathan.
"Aku mempercayaimu sayang, tapi biarkan ilmu yang sudah aku pelajari di bangku universitas sedikit bisa bermanfaat, kau kan tau aku mengambil fakultas bisnis dengan tujuan meringankan beban suamiku kelak karena harus lelah mengurus perusahaan milik papiku" Imbuh Sesil lagi
Nathan tersenyum mendengar perkataan istrinya, bahkan kini tangannya juga melingkar sempurna di tengkuk leher istrinya.
"Sayang, aku tidak ingin kau kelelahan bekerja membantuku" Nathan menarik istrinya hingga kini jatuh di pangkuannya
"Aku ingin di dalam sini cepat ada Nathan junior sayang" Nathan mengusap perut rata istrinya dan memberikan kecupan di pipi istrinya.
Sesil paham betul keinginan suaminya, karena memang usia pernikahan mereka juga sudah setahun lebih, wajar saja jika Nathan menginginkan hadirnya buah hati untuk melengkapi rumah tangganya.
"Aku janji sayang tidak akan terlalu lelah bekerja, aku hanya ingin membantumu saja. Dan nanti kalau aku sudah hamil, aku janji tidak akan bekerja lagi" Sesil meraih tangan Nathan untuk mengusap kembali perutnya yang masih rata.
Nathan terdiam sejenak mencerna apa yang istrinya katakan, tidak ada salahnya membiarkan istrinya bekerja di kantor, dia akan lebih leluasa mengawasi istrinya. Karena Nathan tidak mau kecolongan lagi seperti kemarin.
"Baiklah, kau boleh bekerja di kantor tapi jangan terlalu lelah" Tukas Nathan.
"Yeay" Sesil beranjak dari pangkuan suaminya dan meloncat-loncat layaknya anak kecil yang mendapatkan angpao saat hari raya.
"Terimakasih suamiku" Sesil mencubit pipi suaminya dengan kedua telapak tangannya bahkan menggoyangkan pipi suaminya ke kanan dan ke kiri layaknya mencubit pipi anak kecil.
"Baiklah ! untuk permulaan aku akan membantumu mengerjakan ini" Sesil dengan begitu antusias mengambil beberapa map dan memboyongnya menuju sofa kemudian dia mengambil laptop miliknya dari dalam lemari dan mulai mengerjakan file-file tersebut.
Nathan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya. Jika istri rekan bisnisnya akan sibuk memanjakan diri di salon dan spa maka lain dengan Sesil yang malah memilih membatu pekerjaan suaminya.
Meskipun istrinya di besarkan di keluarga yang serba kecukupan tapi tidak membuat Sesil menjadi manja dengan menghabur-hamburkan kekayaan orang tuanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Untuk yang menanyakan par Imelda dan Dave ,sabar ya😁
pasti Srayu bahas, tapi nanti oke😘
Terus dukung srayu dengan cara Like, komen and Vote ya😘
Biar Srayu semangat nulisnya😘
jangan pedit komen ah, nanti srayu ikutan pedit up hehhehe✌️
__ADS_1