
Nathan begitu terkejut mendengar penuturan dokter, selama ini dia tak mengetahui kalau Sesil sedang mengandung buah hatinya. Seketika tubuhnya lemas dan meluruh jatuh ke lantai.
Rasanya dia tak menyangka kalau calon anaknya yang belum di ketahui kehadirannya sudah harus pergi dulu tanpa membiarkan Nathan mengetahuinya. Nathan menutup wajahnya dengan telapak tangannya, bahkan tubuhnya terlihat begitu bergetar hebat.
"Tuan kami permisi, Jika ada yang mau masuk harap satu-satu" ucap dokter tersebut sebelum akhirnya dia pergi dengan di ikuti oleh para perawat.
Adibjo berjongkok dan mengusap pundak putra semata wayangnya yang sedang begitu terpukul, Adibjo bisa mengerti bagaimana perasaan Nathan saat ini, dia juga pernah di posisi Nathan saat kehilangan putrinya yang menderita sakit gagal ginjal.
"Nath tenanglah, jangan seperti ini" Adibjo mengusap pundak putra sulungnya dan membantu Nathan bangkit lalu mengajaknya duduk di kursi panjang yang terletak tepat di belakangnya.
"Tenangkan dirimu nak" Adibjo kembali mengusap pundak Nathan
"Nathan membencinya, ayah!!" Nathan mengepalkan kedua tangannya, emosi di wajahnya terpancar begitu jelasnya
"Nath, ini semua musibah nak, kau tidak sepantasnya menyalahkan istrimu atas kejadian ini nak" Adibjo menenangkan putranya, memberi saran kepada putranya agar bisa menerima keadaan saat ini, dia mengira putranya marah akibat anaknya meninggal
"Buah memang tidak jatuh dari pohonnya" imbuh Nathan lagi
"Maksudmu apa?" Adibjo mengernyitkan keningnya mendengar jawaban putranya
"Ayah jangan pura-pura tidak atau atau bahkan pura-pura tidak melihatnya" Nathan beranjak berdiri dan menatap tajam Ayahnya yang juga ikut berdiri menatap dirinya penuh tanda tanya
"Swan Cornelio adalah penyebab perusahaan keluarga kita bangkrut serta otak di balik pembunuhan om Arik, dan saat ini Sesil bahkan tak sanggup menjaga kandungannya sendiri"
"Kau ini bicara apa hah?" Adibjo mulai terpancing emosi mendengar perkataan dari putranya, bukan tanpa alasan dia menyembunyikan kematian adik iparnya sendiri, tapi kematian Arik seperti aib.
"Ayah.. ayah.. ayah.. hahahaha" Nathan tertawa sarkas dan mondar-mandir di depan ayahnya sendiri
"Nathan sudah tau semuanya, ayah ! sepintar-pintarnya orang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga, begitu dengan kasus ini sepintar apapun ayah menyembunyikan dari Nathan tapi pada akhirnya Nathan tau juga ! Tuhan tidak tidur ayah" Nathan menarik sudut bibirnya dan menatap tajam kedua bola mata ayahnya
"Tante Kintani sudah menceritakan semuanya pada Nathan yah, dari penyebab om Arik meninggal hingga perusahaan yang di hancurkan oleh keluarga Cornelio, maka dari itu Nathan akan menuntut balas atas kematian om, Ibu serta Adik Nathan ayah!!"
"Cukup !!!!"
"Tidak ayah, jangan hanya karena om Arik adalah adik ipar ayah, maka ayah tidak merasa sakit hati atas kematian tragis om Arik. Om adalah adik satu-satunya ibu, satu-satunya pula keluarga yang tersisa untuk ibu, ayah!!!"
"Nathan jaga bicaramu, kau tidak tau apa-apa!!!" Suara Adibjo semakin meninggi tapi tidak membuat Nathan takut, bahkan emosinya semakin membuncah hingga ubun-ubun
"Ayah bahkan tidak mengatakan atau melarang Nathan saat Nathan meminta restu, ayah membiarkan Nathan menikah dengan putri orang yang....."
Plakk....
Satu tamparan keras mendarat dengan sempurna di pipi Nathan, Adibjo sudah tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Perkataan putranya sudah di luar batas mampunya mendengarnya, wanita licik itu sudah membuat putranya gelap mata seperti saat ini.
__ADS_1
"Ayah menampar Nathan??"
"Itu pantas kau dapatkan !!! Harusnya Ayah tidak membiarkan Sesil menikah dengan laki-laki sepertimu !!! Laki-laki yang hatinya di penuhi dendam dan hanya melihat permasalahan dari satu sudut pandang saja!!!"
"Ayah membelanya? dia itu...."
Plak....
Tamparan kedua mendarat kembali di pipi Nathan sebelum Nathan sempat menyelesaikan ucapannya
"Sesil istrimu itu sudah menderita sejak dia dalam kandungan !!!! Kau tau dia bahkan di keluarkan secara paksa dari rahim maminya sebelum waktunya dia lahir dan lebih keji dari itu, om beserta Gita juga Tasya memisahkan bayi yang tak berdosa dari ibunya !!! bahkan bertahun-tahun Nath, dan sekarang kau malah membuatnya kembali menderita? di mana otakmu???!!!! Jika tau seperti ini Ayah tidak akan merelakan gadis sebaik dia menikah dengan lelaki brengsek sepertimu!!! jangan hanya karena kau putra ayah, maka ayah akan mendukung kelakuanmu yang tidak waras ini" Adibjo berucap dengan penuh emosi dan mengangkat jari telunjuknya di depan wajah putranya
"Kintani begitu membutakan hatimu hingga kau bersikap seperti ini pada istrimu? Kau tau Kintani itu siapa hah? Dia adalah perebut calon suami orang !!! Dua hari sebelum hari pernikahan om kamu dengan mendiang mami Sesil, Kintani datang ke rumah menuntut pertanggung jawaban atas bayi yang di kandung olehnya, dengan begitu menanggung malu, keluarga kita membatalkan pernikahan Arik dan Ayu. Dan hebatnya Kintani, dia membuat seolah-olah dirinya adalah istri terhianati dan membalikkan kenyataan menjadi Ayu yang merebut suaminya. Bahkan kau harus tau nak, kakek Sesil sampai harus terkena serangan jantung dan meninggal, lebih parah dari itu, mendiang Mami mertuamu bahkan harus pergi keluar dari Solo dengan nama buruk yang melekat di badannya, di Cap perebut suami orang" Adibjo mendudukkan tubuhnya di kursi panjang, dia berkali-kali terlihat mengatur nafasnya yang sesak
Kaki Nathan terasa begitu lemas kembali hingga tak mampu menopang berat tubuhnya, dia kembali jatuh meluruh di lantai, dia tak menyangka tabir rahasia yang selama puluhan tahun di cari olehnya terjawab hari ini, pantas saja ayahnya selalu bilang padanya untuk melupakan kejadian itu, ternyata ini adalah sebuah Aib keluarga.
"Ayah..." ucap Nathan dengan bibir yang bergetar hebat, dia begitu merasa bersalah akan sikapnya selama hampir dua minggu ini mengacuhkan istrinya bahkan berniat menceraikannya
"Ayah belum selesai berbicara Nath, Soal perusahaan yang gulung tikar, itu semua bukan kesalahan Swan, melainkan kesalahan om kamu sendiri, setelah kasus meninggalnya Ayu terbongkar, beberapa pemegang saham mencabut sahamnya karena perusahaan terus mengalami penurunan setiap harinya. Ibu mu meninggal itu karena terus memikirkan adik semata wayangnya yang selalu berbuat semaunya tanpa memikirkan orang lain dan adikmu, dia meninggal memang karena gagal ginjalnya sudah tak bisa di sembuhkan lagi. Semua musibah yang menimpa keluarga kita itu bukan kesalahan Sesil atau keluarganya. Tapi jika ada yang perlu di salahkan di sini adalah Arik, om kamu. Tapi ayah sudah merelakan ini semua Nath, Ayah tidak mau membuat mendiang om kamu tidak tenang di atas sana"
"Ayah... ma-ma-maaf-kan Nathan..." Bulir air mata tak terasa mengalir dari kedua pelupuk matanya, dia tak menyangka istrinya begitu menderita sejak kecil, dan bahkan saat ini dia sebagai suaminya bukannya membuat istrinya bahagia malah harus kembali menderita seperti ini.
"Sedari awal, ayah sudah katakan padamu, Terimalah Dia Apapun Keadaannya, tapi mengapa kau tidak bisa menepati janjimu Nak? Bukankah kau berjanji pada ayah akan menjaganya? Ayah selalu mengajarkan padamu, kalau lelaki baik adalah lelaki yang mampu di pegang perkataannya" Tukas Adibjo
"Nathan tau ayah, Nathan salah, tapi biarkan Nathan menebus kesalahan Nathan pada Sesil yah, Nathan tidak akan membuatnya menderita lagi, bahkan Nathan akan membuat perhitungan dengan tante Kintani ayah" Nathan bersimpuh di hadapan Ayahnya
"Ayah, Nathan mohon ayah, beri Nathan kesempatan untuk memperbaiki ini semua Ayah" Bulir air mata Nathan terus mengalir dari pelupuk matanya.
"Tinggalkan dia Nath, sebelum kau terlalu jauh menyakitinya lagi ! Ayah tidak rela kau menyakiti gadis sebaik dia" Adibjo beranjak dari duduknya dan mendorong tubuh putranya hingga tersungkur, tanpa memperdulikan putranya, Adibjo berlalu dari sana dan masuk ke dalam ruang IGD untuk melihat keadaan dari Sesil.
Adibjo menarik kursi dan duduk di samping ranjang menantunya yang matanya masih terpejam, tidak ada luka serius di bagian kepalanya, namun kaki kanannya terlihat di perban dan lututnya juga terlihat tergores dan membiru.
"Maafkan putra ayah nak" Adibjo meraih tangan menantunya dan menggenggamnya begitu erat, dia benar-benar merasa bersalah akan insiden hari ini. Jika saja dia tau lebih awal pasti kejadian buruk seperti ini tidak akan terjadi.
Sesil mengerjapkan matanya mencoba menyesuaikan dengan bias cahaya lampu yang begitu menyilaukan matanya, dan melihat ayah mertuanya sedang menggenggam tangannya, kedua matanya terpejam seperti sedang memanjatkan doa.
"Ayah...." Suara Sesil terdengar lirih namun membuat Adibjo langsung membuka matanya, dan melihat menantunya sudah sadarkan diri.
"Kau sudah bangun nak??" Adibjo langsung meraih gelas yang berisi air minum kemudian meminta Sesil untuk meminumnya
"Nak apa kau sudah sedikit membaik??" Adibjo mengusap kepala Sesil dengan begitu lembut.
"Sesil baik ayah, anak Sesil juga baik-baik saja kan?" Sesil meraba perutnya karena terakhir kali dia mengingat, perutnya begitu terasa sakit. Adibjo yang mendengar pertanyaan Sesil diam membisu, dia tak tau harus menjawab apa saat ini.
__ADS_1
"Ayah..???" panggil Sesil lagi.
"Sabar ya Nak" Adibjo mengusap bahu Sesil berharap menantunya bisa menerima kenyataan pahit ini
"Maksud ayah?"
"Kami sudah berusaha yang terbaik, tapi sayangnya anakmu tidak bisa di selamatkan nak"
Mendengar jawaban yang terlontar langsung dari mulut ayah mertuanya mampu membuat Sesil seketika beku dan membatu.
Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir mungilnya, hanya air mata yang mampu menjelaskan apa yang sedang di rasakan di hatinya yang paling dalam.
Bulir air mata mengalir semakin deras dari pelupuk matanya. Dia tak menyangka anak dalam kandungannya pergi sebelum sempat merasakan hangatnya sinar mentari pagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Tuh kan, giliran part musibah aja banyak yang komentar
__ADS_1
Eh pas romantis aja nggak ada komen satupun, makannya srayu males deh buat part romantis hehehe
Ada saran**???