Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Suara dering ponsel yang berasal dari ponsel milik sesil begitu menganggu pagi ini, tangan sesil meraba-raba meja kecil di samping tempat tidurnya mencari benda pipih yang terus saja mengeluarkan suara.


Setelah mendapatkannya, tanpa melihat siapa yang menelfon sepagi ini, sesil langsung menggeser tombol hijau dan meletakkan ponsel di atas daun telinganya.


"Halo.." Suara sesil masih terdengar begitu malasnya menjawab panggilan di ponsel miliknya.


"Gadis busuk, kenapa kau lama sekali mengangkat telefonku hah? aku baru saja tiba di semarang" Suara cempreng milik imelda terdengar begitu nyaring di telinga sesil, membuat sesil menjauhkan ponsel dari daun telinganya.


Sesil mendengus dengan kesal karena imel menganggu paginya.


"Kau ke rumah papi saja, aku sedang honey month" Tanpa menunggu jawaban dari imelda, sesil menekan icon berwarna merah di layar ponselnya.


Rasanya dia begitu kesal dengan sahabatnya yang satu itu, dia terus saja menganggu dan memberi celotehan yang tidak penting.


Rasa kantuk sesil lenyap sudah, dia hendak beranjak dari tempat tidur, namun tangan nathan melingkar dengan sempurna di atas perutnya, membuat sesil susah untuk bergerak.


Sesil melihat ke arah nathan yang masih pulas tertidur, sepertinya nathan begitu kelelahan bahkan dia tak mendengar sesil mengangkat telefon dari imelda.


Perlahan sesil memindahkan tangan nathan yang melingkar di perutnya ke atas guling.


Setelah tangan nathan teralihkan, sesil perlahan turun dari ranjang, dia terlebih dahulu memungut pakaian yang tercecer di lantai, seketika wajah sesil menjadi bersemu merah, dia kembali teringat adegan panasnya semalam bersama nathan, bahkan sesil malam tadi begitu menikmati permainan nathan, dan dirinya bahkan dengan senang hati mengimbangi nathan yang selalu saja ganas di atas ranjang.


Setelah semua pakaiannya berada di tangannya,sesil bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Setelah selesai mandi, sesil berganti pakaian di dalam kamar mandi, dan saat dia mengenakan pakaian, sesil melihat banyak sekali bercak merah di bagian leher dan dadanya.


Sesil mendengus dengan kesal, dia bingung harus menutupinya dengan apa, karena bercak merah tersebut lebih dari satu di lehernya.


Terpaksa sesil keluar kamar mandi dan mencari syal yang di simpan di dalam lemari kamar ini.


Karena memang sesil meninggalkan beberapa pakaian miliknya di dalam lemari resort.


Setelah membalutkan syal di lehernya, sesil bergegas turun ke bawah, karena pagi ini Dave dan Yasmine akan segera mengakhiri acara liburan mereka.


Sesil menuruni anak tangga untuk menuju lantai satu, saat berada di pertengahan tangga, sesil melibat Yasmine baru saja keluar dari kamarnya dengan menarik sebuah koper berwarna biru di tangannya.


"Yas.." Sesil berteriak memanggil yasmine, membuat gadis itu menoleh ke arah sumber suara dan langsung melebarkan senyumnya saat melihat sesil menuruni anak tangga dan menghampirinya.


"Kau sudah bangun?" Sapa yasmine


"Hm, kau sudah mau kembali? Bagaimana kalau kita sarapan bersama terlebih dahulu?" Tanpa menunggu jawaban yasmine, sesil menarik tangan yasmine menuju ruang makan,di ruang makan terlihat penjaga resort sedang menyiapkan beberapa menu sarapan pagi.


Sesil mengajak Yasmine duduk untuk menikmati sarapan pagi.


"Nathan sepertinya kelelahan karena dia pulang menjelang pagi, jadi dia tidak bisa ikut sarapan bersama kit, oh ya dave dimana?" Sesil mencari keberadaan teman dari suaminya yang tak kunjung menampakkan dirinya.


"Dia pasti akan segera menyusul" Tukas yasmine.


Sesil dan Yasmine menikmati sarapan pagi mereka, dan benar saja Tak lama kemudian Dave terlihat berjalan memasuki ruang makan dan ikut bergabung dengan mereka.


Yasmine dan Sesil tak hentinya bercanda ria di sela-sela sarapan paginya, sedangkan Dave terlihat diam saja sembari mulutnya terus mengunyah sandwich.


Seusai sarapan pagi, Dave dan Yasmine berpamitan kepada sesil dan keduanya juga menitip salam untuk nathan.


Sesil mengantar Dave dan Yasmine ke depan pintu utama karena sudah ada mobil travel yang menjemput mereka berdua.


Setelah mobil travel yang di naikki oleh Dave dan Yasmine tak terlihat, sesil kembali masuk ke dalam resort.


Dia menuju ruang makan untuk mengambil sarapan.


Sesil mengoles selembar roti dengan selai kacang, setelah terolesi dengan sempurna sesil menutup kembali dengan selembar roti.


Kemudian sesil menuang susu cokelat panas ke dalam gelas, setelah semuanya siap sesil membawa sepiring roti dan segelas susu cokelat dia tas nampan.


Sesil berjalan perlahan menaikki anak tangga untuk kembali ke kamarnya, setelah sampai di depan pintu, sesil menempelkan kelima jarinya untuk membuka pintu kamar, sementara tangan sebelah kirinya memegang nampan yang berisi menu sarapan pagi.


Sesil berjalan memasuki kamarnya dan meletakkan nampan berisi makanan di atas meja kecil yang terletak tepat di samping ranjang.


Sesil menatap ke arah nathan yang masih tertidur begitu pulasnya, ada kebahagiaan menelusup ke dalam hati sesil, dia tak menyangka nathan yang dulu membuatnya selalu merasa kesal kini sudah menjadi suami yang begitu pengertian terhadapnya.


Perlahan sesil mengusap pipi nathan dengan begitu lembut, dan memanggil namanya.


"Nath.." Sesil mengusap kembali pipi nathan dan berusaha membangunkan suaminya.


"Hm.." Nathan hanya bergumam saja tanpa membuka kedua kelopak matanya.

__ADS_1


"Sayang, ayo bangunlah.." Ucap sesil lagi, kali ini ucapan sesil ampuh membuat nathan membuka kedua matanya.


"Ulangi sekali lagi?" Nathan melebarkan senyumnya ke arah sesil yang seketika itu memalingkan wajahnya


"Nathan, bangunlah jangan jadi pemalas, ini sudah siang" Sesil menggalakkan wajahnya menjadi seseram mungkin.


Nathan yang melihat ekspresi wajah istrinya menjadi tersenyum, kemudian dia beranjak dari tidurnya dan menyandarkan dirinya di ranjang.


Sedangkan sesil mengambil segelas susu dan menyodorkan ke arah nathan.


"Minumlah" imbuh sesil


"Tunggu sebentar, aku akan menggosok gigi terlebih dahulu" Nathan menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, sontak saja membuat sesil langsung menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.


"Kau ini kenapa? lihatlah aku memakai celana pendek" Nathan terkekeh sambil mengusap puncak kepala istrinya


"Aku bukan dirimu yang bisa tidur dengan bertelanjang tubuh" Imbuh nathan lagi.


Nathan turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk menggosok gigi.


Sesil perlahan membuka kedua telapak tangannya yang menutupi matanya.


Rasanya dia benar-benar malu, meskipun sesil sudah melakukan dan melihat semuanya.


Pintu kamar mandi terbuka kembali,dan nathan keluar dari dalam sana dengan bertenjang dada.


membuat perutnya yang sispex itu terlihat jelas di kedua bola mata sesil.


Nathan menyandarkan kembali tubuhnya di ranjang, dan tangan kanannya meraih gelas yang berisi susu cokelat panas di atas meja.


"Terimakasih sayang" Nathan terlebih dulu mengecup pipi sesil baru setelah itu dia perlahan meminum susu cokelatnya.


Sesil jadi tersipu malu mendapat perlakuan seperti itu dari nathan.


"Sayang, apa kau sedang tidak enak badan?" Kedua mata nathan melihat ke arah syal yang melingkar di leher sesil, sedangkan tangan kanan nathan meletakkan kembali gelas berisi susu cokelat panas di tempat semula.


Setelah meletakkan gelas tersebut, tangan nathan terulur menyentuh dahi sesil.


"Kau demam?" Wajah nathan seketika menjadi panik saat merasakan suhu panas di dahi sesil.


"Siapa yang demam? aku baik-baik saja, bukan aku yang demam tapi tanganmu yang panas akibat memegang gelas itu" Sesil melirik ke arah gelas yang masih terisi setengah susu panas.


"Kau benar.." Nathan terkekeh karena merasa begitu bodoh.


"Kau ini" Sesil menggelengkan kepalanya akan tingkah suaminya.


"Oh ya, Yasmine dan Dave menitip salam buatmu, mereka sudah kembali" Imbuh sesil lagi.


"Lalu kau ini kenapa memakai syal?" Bukannya menjawab ucapan sesil, nathan malah mengalihkan pembicaraan.


"Ini semua karena ulahmu" Sesil melepaskan syal yang melingkar di lehernya, dan menyibakkan rambutnya ke belakang, menunjukkan leher jenjang miliknya yang penuh dengan jejak-jejak kepemilikan yang di buat oleh nathan semalam.


Melihat leher sesil yang di penuhi dengan bercak merah membuat nathan menjadi menggaruk tengkuk lehernya, nathan begitu malu akan ulahnya, dia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri jika berdekatan dengan sesil.


"Maaf sayang" Ucap nathan lirih, membuat sesil tersenyum samar.


"Sudahlah, cepat makan ini" Sesil menyerahkan dua lembar roti yang sudah di olesi dengan selai kacang kepada nathan.


"Makanlah, kita juga harus kembali ke semarang hari ini, pekerjaanmu pasti sudah menumpuk bukan? tapi sebelum kembali ke semarang, kita ke rumah sakit dulu, aku ingin berjumpa dengan korban kebakaran semalam" Imbuh sesil, kemudian dia beranjak dari ranjang untuk mengemas barang-barang mereka, sedangkan nathan terlihat menghabiskan makanan yang di buatkan sesil untuk nya.


Setelah sarapan nathan habis, dia bergegas mandi dan bersiap-siap untuk kembali lagi ke semarang.


Sementara nathan mandi, sesil memanggil pelayan untuk membantu membawa koper-koper untuk di masukkan ke dalam bagasi mobilnya.


Setelah semua koper masuk ke dalam bagasi mobil, sesil masuk kembali ke dalam resort dan menunggu nathan di sofa ruang tamu.


Sesil membuka ponselnya dan melihat ada beberapa pesan masuk dari imelda sahabatnya, jari jemari sesil asik mengetik pesan balasan untuk imelda hingga tak menyadari kehadiran nathan yang sudah berdiri di belakang sofa yang sesil duduki saat ini.


"Sayang ayo" Seru nathan yang merasa di acuhkan oleh sesil.


Mendengar ucapan nathan, sesil menoleh dan tersenyum lebar.


Kemudian keduanya berjalan beriringan meninggalkan resort.


Nathan terlebih dahulu memanaskan mesin mobilnya, setelah di rasa cukup, nathan mulai melajukan mobilnya meninggalkan resort.

__ADS_1


Sedangkan sesil terlihat asik berbalas pesan dengan imelda.


Sebelum kembali ke semarang, nathan terlebih dahulu menjenguk korban kebakaran resto hotel milik mertuanya, setelah memastikan kondisinya semakin membaik, nathan meninggalkan beberapa jumlah uang sebagai santunan untuk keluarganya.


Sesil juga terlibat lega karena karyawan di tempat hotel papinya tidak terluka parah.


Setelah berbincang sebentar, sesil dan nathan berpamitan untuk melanjutkan perjalanan mereka ke semarang.


Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, kini mobil yang nathan kendarai sudah memasuki halaman rumahnya.


Nathan memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, dan mulai menurunkan satu persatu koper dari dalam bagasi mobilnya.


Awalnya sesil ingin membantu, namun nathan melarangnya dan malah menyuruh sesil untuk masuk ke dalam rumah dan berisitirahat.


Alhasil nathan harus membawa kedua koper di kedua tangannya.


Perlahan nathan membawa satu persatu kopernya ke kamarnya di lantai dua, dan saat koper terakhir, nathan melihat sesil keluar dari kamar mandi sehabis berganti pakaian, sesil mengenakan kaos rumahan dan celana hot pen yang memamerkan paha mulusnya, sesil melewati nathan yang memandangnya dengan penuh makna, sesil menuju cermin dan menyisir rambutnya yang di rasa kurang rapih.


Nathan melangkahkan kakinya hendak mendekat ke arah sesil, namun langkah kakinya seketika terhenti saat mendengar deru mobil memasuki pelataran rumahnya.


Dan tak berselang lama bel rumahnya pun berbunyi


"Biar aku saja yang membukanya" Sesil berlalu meninggalkan nathan yang mendengus dengan kesal karena niatnya tidak terwujudkan.


Saat sesil membuka pintu rumahnya, dia melihat lelaki paruh baya yang berdiri di ambang pintu rumahnya dengan stelan jas berwarna putih. Lelaki itu tak lain tak bukan adalah papinya.


"Papi.." Sesil langsung menghambur memeluk papinya, beberapa hari tidak bertemu rasanya sesil begitu merindukan lelaki yang sudah mengorbankan sisa hidupnya untuk merawat serta membesarkan sesil seorang diri.


"Sesil Rindu" Sesil semakin memeluk erat Swan dan menghirup aroma khas tubuh papinya.


"Papi juga merindukanmu" Swan mengecup puncak kepala putri semata wayangnya.


"Bagaimana apakah liburanmu menyenangkan?" Swan melepaskan pelukan sesil dan menatap kedua bola mata putrinya, namun swan terkesiap melihat ada beberapa bercak merah di leher putrinya.


Membuat swan seketika tersenyum lebar, sepertinya sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang kakek.


"Papi kenapa tersenyum?" Sesil mengernyitkan dahinya ketika melihat papinya tiba-tiba tersenyum ke arah dirinya.


"Papi hanya senang saja bisa berjumpa dengan putri papi yang manja" Imbuh swan lagi sambil mengacak-acak puncak kepala sesil, membuat sesil mengerucutkan bibirnya.


Kemudian sesil mengajak papinya memasuki rumah baru pemberian nathan, swan melihat rumah yang nathan persiapkan untuk putrinya, begitu di tata dengan rapih, meski tak sebesar rumah miliknya, tapi swan menghargai kerja keras dari nathan.


Sesil mempersilahkan swan duduk di ruang tamu, sementara dirinya membuatkan minuman untuk papinya ke dapur.


"Papi" Sapa Nathan yang baru saja sampai di ruang tamu, nathan tidak tau kalau swan akan datang berkunjung kemari.


"Papi hanya rindu sesil saja, kebetulan sesil bilang dia sudah berada di rumah, maka dari itu papi bergegas kemari"


"Papi tidak menganggu kalian kan?" Imbuh swan lagi sambil tersenyum penuh arti, membuat nathan mengernyit keheranan.


"Duduklah" Swan menyuruh nathan untuk duduk karena nathan sedari tadi berdiri saja di hadapannya, dengan segera nathan duduk bersebelahan dengan Swan. Nathan memang masih canggung bila bertatap muka dengan swan.


"Sepertinya kau lebih ganas dari papi ya" Swan berbisik pelan bahkan dia tak bisa menyembunyikan tawanya


"Semoga kalian cepat memberi papi cucu yang lucu" Imbuh swan lagi sambil menyenggol lengan menantunya, membuat nathan teringat akan tanda merah di leher sesil akibat ulahnya semalam.


Nathan hanya tersenyum pelik, sedangkan swan tertawa dengan begitu senangnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2