Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Gara-Gara Jarum Suntik


__ADS_3

Hari ini adalah hari kedua Sesil di rawat di rumah sakit, kebosanan sudah melanda dirinya, sudah beberapa kali sedari pagi tadi sesil merengek minta pulang kepada Nathan, namun Nathan mengacuhkan permintaan istrinya.


Sesil mendengus dengan kesal saat Nathan memilih memboyong semua pekerjaannya dan di bawa ke rumah sakit.


Nathan tak mau meninggalkan barang sedetik saja istrinya yang sedang di rawat.


Meskipun luka-luka di tubuh sesil sudah cukup membaik, namun nathan menginginkan kalau istrinya benar-benar di rawat hingga sembuh seperti sedia kala.


Nathan sedang melihat deretan angka di layar laptopnya, sedangkan sesil nampak melihat layar ponselnya.


Namun kejenuhan membuat sesil meletakkan kembali ponsel di meja kecil yang terletak tepat di samping tempat tidurnya.


"Nath..." Ucap sesil lirih.


"Kenapa sayang? Kau mau apa hm?" Ucap nathan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Aku mau...."


"Kalau mau pulang, aku tidak akan mengijinkan ya" Imbuh nathan lagi yang tetap fokus di layar laptopnya.


Mendengar penuturan nathan, sesil menutup mulutnya rapat-rapat, pasalnya percuma saja jika dirinya meminta pulang kepada nathan yang keras kepala seperti papinya.


"Sil, aku mendapat undangan acara reuni dua minggu lagi dari SMA kita, kau sudah terima undangannya?" Kali ini nathan mengalihkan pandangannya dari laptop yang sedari tadi di pandangnya, Sesil hanya menggelengkan kepalanya, karena memang dia belum mendapatkan undangan tersebut.


Meskipun Sesil termasuk siswa terkaya di sekolahnya, namun karena sikap pendiam sesil dan selalu hidup sederhana membuat sesil bukan salah satu siswa popular di sekolahnya.


Berbeda dengan Suaminya, Nathan adalah Bintang di sekolahnya, selain wajahnya tampan dan tergolong anak orang berada, Nathan juga jago sekali dalam bermain bola basket, bahkan dia beberapa kali mengharumkan nama sekolah dari cabang olah raga Bola Basket.


Bahkan sesil tau betul, Para siswi dari mulai adik tingkat hingga seangkatan dengan nathan semua menggilai Nathan, meskipun yang sesil tau Nathan selalu mengacuhkan mereka semua, namun tidak dengan mereka, mereka bahkan rela menukar urat malunya demi mendapat perhatian dari Nathan.


Sesil bergidik ngeri jika semua teman-teman maupun kakak tingkatnya di SMA tau kalau dirinya sekarang menikah dengan Nathan bisa saja sesil pulang tinggal nama saja.


"Mungkin undangan mu di kirim ke rumah papi?" Imbuh nathan lagi, namun sesil nampak acuh saja tidak memperdulikan perihal undangan tersebut. Meskipun sesil mendapat undangan tersebut,sesil juga tak berniat hadir dalam acara reuni tersebut.


"Kau datang kan?" Seru Nathan.


"No..!" Tukas sesil


"Why??" Nathan mengernyitkan dahinya, namun sesil diam saja tidak menjawab pertanyaan Nathan sama sekali.


Namun tiba-tiba saja pintu ruang rawat sesil terbuka dan masuklah Dave dengan wajah yang begitu memerah, tangan kanannya memegang sebuah map dan tangan kirinya memegang pantat bagian belakang, Dave terlihat berjalan dengan begitu aneh di mata sesil dan nathan.


"Dave, kau di sini? Ada apa?" Seru Nathan yang merasa heran karena melihat kehadiran Dave


"Kau menyusahkan aku saja, aku tadi ke kantormu, tapi sekretarismu bilang kau berada di rumah sakit ini menemani istrimu yang habis kecelakaan" Seru Dave dengan nada yang sedikit kesal.


"Aku hanya mau meminta tanda tanganmu saja, ini untuk proses pengajuan dana proyek berikutnya" Dave mendudukkan dirinya dengan perlahan di samping Nathan, bahkan wajah Dave terlihat meringis seperti menahan rasa sakit.


"Kau ini kenapa?" Seru nathan yang merasa heran melihat Dave seperti menahan rasa sakit.


"Kau tau nath? Tadi ada seorang dokter yang tak sengaja menabrakku hingga aku jatuh tersungkur ke lantai, dan sialnya peralatan yang dokter itu bawa juga jatuh berantakan di lantai, dan tak sengaja aku jatuh menduduki jarum suntik, alhasil ini pantatku terkena jarum suntik!" Dave menarik nafasnya dengan berat.


"Untung saja jarum suntik tersebut hanya berisi cairan vitamin, kau bisa bayangkan kan kalau itu obat keras atau obat apa gitu" Imbuh Dave lagi


"Hahaha" Seketika tawa sesil dan nathan pecah, menggema begitu nyaring di ruangan tersebut.


Rasanya Dave begitu lucu saat menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.

__ADS_1


"Nath..!" Seru Dave lagi, dia rasanya begitu kesal karena di tertawakan.


"Kau harus tau, dia yang sudah bersalah menabrakku, malah dia yang marah-marah terhadapku dan suara cemprengnya itu loh membuat gendang telingaku terasa mau pecah" Dave menggosokkan jari jemarinya di daun telinganya. Dave kembali mengingat saat dokter cempreng itu memaki dirinya. Meskipun menurut Dave wajahnya terlihat Lumayan, namun suara cempreng dan wajah galaknya membuat Dave ilfeel di buatnya.


Nathan dan Sesil semakin kencang tertawa, bahkan kedua mata sesil terlihat berair karena terus tertawa.


"Kau sungguh menyebalkan" Dave meninju lengan Nathan, membuat nathan menghentikan tawanya dan menatap Dave, rasanya Nathan kembali melihat Dave sahabatnya, bukan lelaki yang mengincar istrinya seperti saat liburan kemarin. Entah apa yang membuat Dave berubah, namun nathan setidaknya merasa sedikit lega bila Dave bisa mengikhlaskan takdir.


"Gadis bodoh, sesil sayang" Suara cempreng yang terasa begitu familiar di telinga Dave terdengar dari balik pintu ruang rawat sesil. Dan betapa terkejutnya Dave saat pintu terbuka, muncullah wajah dokter yang tak sengaja membuatnya tersuntik jarum suntik.


"Berisik sekali kau ini" Seru sesil dengan kesal saat melihat imel memasuki ruang kamarnya. Imel tak menyadari Dave yang sedang duduk di sofa bersama Nathan.


"Biar aku cek kondisimu oke? dan setelah itu aku akan menyuntikkan vitamin di infus yang kau gunakan" Imel terlihat menempelkan stetoskop di dada sesil dan mulai memeriksa kondisi sahabatnya itu.


"Dokter gadungan" Seru Dave ke arah imel, membuat imel mengalihkan pandangan ke arah sumber suara, dan seketika itu pula imelda melebarkan matanya saat melihat Dave duduk bersebalahan dengan Nathan.


"Hei kau ! Sedang apa kau di sini hah? Cepat keluar ! Kehadiranmu tidak di harapkan!" Imel berkacak pinggang dan menatap sengit ke arah Dave yang juga menatapnya dengan tajam.


"Kalian saling mengenal?" sesil terlihat memandang Dave dan Imelda secara bergantian.


"Tidak" Jawan Imel dan Dave kompak.


"Kok kompak gitu?" Nathan menyenggol lengan Dave sembari melebarkan senyumnya.


"Diam!!!" Ucap Dave dan Imelda kembali bersamaan.


"Kau juga diam!!" Seru Dave lagi kepada imelda.


"Semua ini karena kau, gadis cempreng menyebalkan" imbuh dave lagi.


"Dia dokter yang sudah menabrakku dan bukannya meminta maaf malah memaki-maki orang yang sudah dia tabrak"


"Bohong ! Dia yang jalan tidak pakai mata makanya menabrakku hingga semua obat yang aku bawa jatuh, dan kau tau sil? aku harus mengganti obat-obat yang jatuh tersebut dengan gajiku" seru imelda


"Jalan pakai kaki, mana ada jalan pakai mata!!! Kau ini bisa menjadi dokter pasti ijazahmu kau dapat dari menyogok rektor ya?" Kali ini suara Dave terdengar penuh dengan Nada ejekan, membuat Imel menggeram dan berjalan mendekat ke arah Dave yang juga beranjak berdiri dan melipat kedua tangannya di atas perut.


"Kau jangan berani macam-macam, atau aku patahkan lehermu" Imelda nampak menarik krah baju krah baju kemeja yang Dave kenakan saat itu


Dave terlihat menarik satu sudut bibirnya dan tersenyum sinis ke arah Imelda.


Perlahan Dave malah mendekatkan wajahnya ke arah wajah imelda yang memiliki postur tubuh lebih pendek dari dirinya.


Bahkan kini jarak wajah Dave dan Imelda hanya tinggal beberapa centi saja. Deru hangat nafas Dave menerpa wajah Imelda dan tiba-tiba saja Imelda merasa detak jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.


Sedangkan Dave benar-benar merasa tertantang, karena bari kali ini ada seorang wanita yang berani mengancam dirinya akan mematahkan lehernya.


Dave meraih tangan imelda yang mencengkram krah baju miliknya, dan menjauhkan tangan imelda dari bajunya.


"Kau menantangku hm?" Dave menaikkan kedua alisnya serta memiringkan kepalanya sembari tersenyum.


Membuat imelda berjalan mundur beberapa langkah menjauh dari Dave, karena Imel takut jika detak jantungnya bisa di dengar oleh laki-laki yang berdiri begitu dekat dengannya.


Namun sialnya, heels yang dia kenakan malah tersandung kaki meja dan membuat imelda hilang keseimbangan dan hampir saja terjatuh, namun dengan sigap Dave merengkuh pinggang imel dan membuat imel kini dalam posisi di peluk oleh dave, bahkan keduanya terlibat saling adu pandang cukup lama.


"Ehem" Natha. berdehem sembari terkekeh pelan


"Lepaskan!!! Kau cari kesempatan hah?" Seketika Dave melepaskan tangannya dari tubuh imel hingga membuat imelda jatuh ke lantai

__ADS_1


"Ahhh, kau ini bagaimana? kau sengaja membuatku jatuh hah?" Imel mencoba beranjak berdiri sedangkan Dave kembali mendudukkan dirinya di samping Nathan


"Dasar bodoh ! kau yang menyuruhku melepaskanmu dan sekarang kau marah denganku?"


Imelda menggertakkan giginya dan berjalan berlalu dari hadapan Dave dan Nathan.


Imelda kembali memeriksa kondisi sesil, setelah melakukan pemeriksaan, imelda menyuntikkan vitamin ke dalam infus sesil.


Kemudian Imelda berpamitan kepada Nathan dan Sesil, karena dia setelah ini ada jadwal operasi.


Saat berpamitan dengan nathan, Imelda terlihat menajamkan matanya menatap Dave, lelaki yang di anggapnya sangat menyebalkan itu.


***


Sementara itu di salah satu sudut restauran di kota semarang, Swan sedang duduk berhadapan dengan wanita yang sudah berani secara terang-terangan mengirim pembunuh bayaran untuk menantunya.


Swan meneguk segelas bir yang tersedia di hadapannya. Kemudian dia menatap wanita yang duduk di hadapannya dengan begitu tajam.


Rasanya Swan ingin membunuhnya saat ini, namun jika dia menghabisinya saat ini itu terlalu mudah baginya, Swan ingin melihatnya hidup menderita terlebih dahulu. Karena selama berpuluh tahun, wanita itu pula yang sudah membuat putrinya besar tanpa kasih sayang seorang ibu.


"Apa yang kau mau?" Suara swan terdengar begitu datar dan dingin seperti dulu.


"Sederhana, aku ingin kita menikah dan menghabiskan sisa umur kita bersama" Tasya meraih gelas yang berisi bir dan meminumnya sedikit.


"Hm" Swan tersenyum sinis ke arah tasya yang di rasa tak punya malu sama sekali


"Kau membunuh istriku, dan mencelakai putriku? Lalu kau pikir aku akan dengan mudah melepaskanmu hah?


"Jangan bodoh, aku tau semua kartumu ! kau adalah dalang di balik kematian putra Wiradja, dan kau masih ingat Angkasa Intertaiment yang kau hilangkan dari industri bisnis hiburan hah?" Tasya tersenyum sini ke arah Swan.


"Semua bukti sudah berada di tanganku, jika kau berani meleyapkanku, akan aku pastikan semua bukti itu akan sampai pada orang yang selama beberapa tahun terakhir ini mencari kabar tersebut" imbuh tasya


"Pikirkan baik-baik apa yang aku katakan, jangan terlalu terburu-buru mengambil keputusan, aku masih setia menunggumu" Tasya beranjak dari duduknya dan mengenakan kaca mata berwarna coklat di kedua matanya, tak lupa pula tasya mengenakan masker untuk menutupi wajahnya.


Tasya berlalu dari hadapan Swan dan meninggalkan restauran tersebut.


Sedangkan Swan mengepalkan kedua tangannya menahan emosi di jiwanya.


Bahkan urat di tangan Swan tergambar dengan jelas.


.


.


.


.


.


.


.


.


happy weekend pems♥️

__ADS_1


__ADS_2