
Nathan duduk sambil membaca majalah di tangannya, bahkan entah sudah berapa kali Nathan membolak-balik majalah yang saat ini sedang di pegangnya.
Hampir empat jam lamanya dia menunggu istrinya perawatan di sebuah salon terbaik di kota Semarang.
Jika Sesil bukan istrinya pasti Nathan sudah tidak sudi duduk di sofa ruang tunggu menjadi pusat perhatian wanita-wanita yang kebetulan mempunyai tujuan yang sama seperti istrinya yaitu perawatan.
Nathan kembali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, rasanya dia sudah di ujung kata mampu untuk menunggu.
Nathan meletakkan kembali majalah yang di pegangnya ke tempat semula, dan hendak beranjak berdiri, namun tiba-tiba saja Sesil sudah berjalan menghampiri ke arahnya dengan wajah yang begitu sumringah.
Nathan melebarkan senyumnya menyambut kedatangan istrinya yang sedang mendekat ke arahnya.
Sejenak Sesil melihat sekeliling, banyak pengunjung yang di dominasi oleh kaum hawa memperhatikan suaminya, ada rasa tidak suka di dalam hatinya, bahkan ingin rasanya Sesil mencongkel mata wanita yang memperhatikan suaminya.
"Sudah sayang?" Nathan mengusap puncak kepala istrinya dengan begitu lembut, membuat semua wanita yang berada di sana iri melihatnya
"Sudah" Sesil berucap dengan manjanya bahkan langsung memeluk tubuh tegap suaminya yang di balut dengan setelan kaos casual di padukan dengan celana pendek berwarna cokelat serta sepasang sepatu sneakers berwarna putih yang membalut kedua kakinya, begitu terlihat tampan dan muda.
"Dasar gadis manja" Nathan mengacak-acak rambut istrinya yang baru saja di stylist dan di beri efek girly
"Ah .." Sesil melepaskan pelukannya lalu mencoba merapihkan kembali rambutnya, bahkan bibirnya mengerucut dengan sempurna, membuat Nathan hanya terkekeh dan semakin gemas melihat tingkah istrinya yang di rasa semakin manja setiap harinya.
"Mau kemana lagi?" Nathan mencubit pipi Sesil dan menggoyangkannya dengan gemas, membuat Sesil membalas perlakuan suaminya dan melakukan hal yang sama.
"Belanja" Seru Sesil antusias bahkan kedua matanya terlihat begitu berbinar.
Nathan hanya bisa tersenyum dan langsung mengandeng tangan istrinya keluar dari salon tersebut.
Setelah kembali masuk kedalam mobil, Nathan mengarahkan laju mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota Semarang.
Kini keduanya sudah masuk ke dalam mall dengan kedua tangan mereka saling menaut layaknya anak remaja yang sedang kasmaran bahkan sepanjang berjalan-jalan Sesil tak hentinya berceloteh dengan riang.
Sesil berencana akan membeli beberapa baju serta keperluan wanita karena lusa adalah hari pernikahan sahabatnya Imelda.
Jadi hari ini dia sengaja memanjakan diri di salon lalu berbelanja segala keperluannya untuk acara pesta sahabat baiknya.
Sesil sudah membeli beberapa barang di antaranya gaun, sepatu, serta perhiasan tak luput dari barang yang di belinya. Bahkan tangan Nathan sudah terlihat penuh membawa paper bag yang berisi barang belanjaan istrinya.
Nathan sama sekali tidak malu membawa barang belanjaan istrinya, bahkan dia terlihat bahagia bisa menemani istrinya berbelanja seperti ini, rutinitas yang sangat jarang di lakukan olehnya karena kesibukannya mengurus perusahaan.
"Sayang..." Tiba-tiba Sesil menghentikan langkah kakinya dan mengendus aroma yang sangat membuatnya ngiler
Nathan menautkan kedua alisnya melihat tingkah istrinya yang mengendus layaknya kucing yang mengendus bau ikan.
"Sayang kita ke sana" Tangan Sesil menunjuk ke arah Food Court yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri.
Nathan hanya bisa menganggukkan kepalanya dan menemani istrinya masuk ke dalam sana. Saat Sesil masuk matanya langsung terfokus pada sebuah kedai es cream yang menjual es cream porsi jumbo.
Sesil berlari kegirangan mendekat ke arah kedai dan langsung memesan dua gelas es cream yang berukuran jumbo.
Sedangkan Nathan hanya menunggu di balik punggung istrinya.
Setelah mendapat apa yang di inginkan, Sesil mengajak Nathan membeli beberapa camilan untuk menemaninya memakan es cream.
Setelah tangan Sesil penuh dengan beberapa macam makanan ringan dan minuman, Sesil mengajak Nathan duduk di salah satu meja yang kosong untuk menikmati es cream.
Keduanya mengambil meja yang terletak di pojokan food court tersebut, Sesil dengan begitu lahap memakan es cream, bahkan terlihat ada es cream yang tercecer di area bibirnya.
Membuat Nathan harus berulang kali menghapusnya dengan ibu jarinya.
Kini es cream milik Sesil sudah tandas habis tak bersisa. Namun rasanya masih kurang dan ingin memakannya lagi, sejenak Sesil melihat ke arah gelas es cream Nathan yang terlihat masih penuh.
__ADS_1
Nathan yang melihat istrinya memperhatikan gelas es cream miliknya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, lalu dia mendorong gelas es cream ke hadapan istrinya.
"Makanlah"
Sesil yang mendengar ucapan suaminya tersenyum senang dan langsung mengambil alih gelas tersebut dan kembali memakan es cream dengan begitu lahap.
Hingga tak butuh waktu lama, gelas tersebut sudah kembali kosong seperti sedia kala.
"Ah, enak" Sesil tersenyum senang sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.
"Tuan Nathan..?" Tiba-tiba saja ada yang memanggil Nathan dari balik punggungnya, membuat Nathan memutar kepalanya dan melihat ke belakang.
"Tuan Geordan, apa kabar?" Nathan beranjak berdiri dan menjabat tangan Geordan yang memang menjadi mitra bisnisnya baru-baru ini.
"Baik"
"Nyonya Nathan apa kabar?" Imbuh Geordan sembari melihat ke arah Sesil yang masih duduk di tempatnya.
"Baik" Sesil memaksakan senyuman di wajahnya.
"Tuan sedang apa di sini?" tanya Nathan
"Mencari yang aku suka" Jawab Geordan penuh makna, tapi Nathan tidak tau apa yang di suka oleh pria bule yang ternyata sangat mengagumi istrinya.
Sejenak Nathan melihat ke arah Geordan yang curi-curi pandang melihat ke arah istrinya yang masih duduk di tempatnya. Nathan mengernyit keheranan, tapi itu tidak lama. Nathan kini sudah bisa mengerti apa yang sebenarnya Geordan cari di mall ini.
"Tuan, maaf sekali. Saya dan istri saya harus melanjutkan kembali berbelanja, karena ada barang yang belum terbeli"
"Sayang ayo" Nathan mengambil paper bag yang berisi barang belanjaan istrinya. Sesil juga terlihat mengambil tas jinjing dan beranjak dari kursinya.
"Ayo sayang" Nathan merengkuh pinggang ramping istrinya dan langsung memeluknya, bahkan dengan tidak sungkan Nathan langsung mengecup pipi Sesil di depan Geordan yang juga sedang menatap penuh arti kepada Sesil.
"Tuan Geordan, kami permisi" Nathan mengajak Sesil pergi dari hadapan Geordan, sedangkan Geordan terlihat masih menatap punggung wanita yang di kagumi olehnyanya.
Hanya keperluan untuk menghadiri pesta Imelda yang Sesil beli, sisanya dia hanya berjalan-jalan saja melihat-lihat saja.
Setelah puas berjalan-jalan dan kakinya terasa lelah, Sesil merajuk minta makan malam di restoran seafood yang pernah mereka kunjungi di awal pertemuan mereka.
Rasanya membayangkan udang bakar saja membuatnya menelan air liurnya susah payah.
Meskipun letaknya cukup jauh dari mall yang mereka kunjungi sekarang, Nathan tetap tidak mengeluh. Apa saja selagi dia mampu, istrinya minta apa saja dia akan berusaha mengabulkannya.
Nathan melajukan mobilnya menuju restoran yang istrinya inginkan.
Nathan berhenti di area parkir restoran yang banyak menyajikan hidangan seafood terutama terkenal dengan udang bakar yang mampu membuat siapa saja merasa ingin nambah.
Sesil dengan begitu riang membuka seat bealt miliknya dan membuka pintu tanpa menunggu suaminya membuka pintu mobil untuknya.
Kini keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam restoran dengan tangan Sesil menggandeng tangan Nathan begitu mesra, karena dimana saja mereka berada pasti banyak kaum hawa yang melirik ke arah Nathan, selain usianya masih muda, sukses dalam berbisnis, serta memiliki wajah yang tampan membuat siapa saja ingin bersanding dengan Nathan Adibjo.
Kali ini Nathan tidak duduk di ruang VVIP melainkan dia memilih meja yang pernah dia tempati dulu saat pertama kali bertemu dengan Sesil.
Setelah memesan beberapa menu makanan, Sesil menyandarkan pundaknya di bahu suaminya, sedangkan Nathan hanya bisa tersenyum saja melihat tingkah manja istrinya yang sepertinya sengaja mengumbar kemesraan di depan mata umum.
"Sayang aku tidak suka" Ucap Sesil dengan posisi kepalanya masih menyandar di bahu suaminya
"Kenapa? mau pindah restoran?" Nathan menautkan kedua alisnya, jika saja pertanyaannya benar, ingin rasanya Nathan memarahi istrinya. Setelah seharian harus menunggu di salon, memutari mall yang memiliki delapan lantai, dan saat ini harus makan di resto yang memiliki jarak cukup jauh dari tempat mereka berbelanja, membuat Nathan benar-benar terkuras energinya.
"Dengan mereka yang melihatmu, ingin rasanya aku congkel bola mata mereka supaya tidak melihatmu" Sesil mendongak melihat wajah suaminya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ya Tuhan" Nathan seketika terkekeh saat mendapat jawaban dari istrinya. Ternyata istrinya cemburu dengan para pengagumnya.
__ADS_1
"Kenapa tertawa?" Sesil semakin memanyunkan bibirnya ke arah Nathan.
"Sayang, biarkan saja. Intinya istriku tetap hanya kau seorang" Nathan menarik dagu istrinya dengan gemas.
Tiba-tiba terdengar alunan musik biola yang membawakan satu buah lagu yang sangat memiliki kesan untuk Sesil maupun Nathan. Lagu yang pernah Nathan bawakan saat hari resepsi pernikahannya dulu, Janji Suci ~ Yovie&Nuno
Nathan dan Sesil kompak menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum melihat pemain biola yang berada di atas panggung. Keduanya saling berpegangan tangan, hari ini benar-benar keduanya bernonstalgia menikmati masa-masa kebersamaan mereka.
Bahkan setelah makanan terhidang di atas meja, keduanya menikmati makan malam dengan mengenang masa-masa di sekolah dulu, dimana keduanya selalu saja bertengkar karena Nathan selalu bersikap usil dan menyebalkan. Bahkan saat awal pertemuan keduanya setelah lulus dari bangku universitas Nathan masih saja bersikap menyebalkan. Tidak di sangka keduanya malah di jodohkan Tuhan bahkan saat ini keduanya sama-sama saling mencintai satu sama lainnya.
Setelah menikmati makan malam bersama. Keduanya sepakat untuk kembali ke rumah karena tubuhnya terasa lelah.
^
Nathan sudah terlebih dahulu mandi dan berganti pakaian, kini dirinya menyandar di sandaran ranjang sambil memainkan ponselnya menunggu istrinya yang sedang mandi dan berganti pakaian.
Ada beberapa pesan masuk dari Dave yang menanyakan seputar pernikahan. Wajar saja sahabatnya yang satu ini akan menggelar acara pemberkatan pernikahan lusa, jadi banyak pertanyaan yang di tanyakan oleh Dave kepada Nathan. Teruma cara menghilangkan nervous saat berdiri di depan pastur nanti saat pengucapan janji suci.
Saking asiknya berbalas pesan dengan Dave, Nathan tak menyadari kalau istrinya sudah berdiri di tepi ranjang dan menatapnya dengan penuh selidik.
"Hm" Sesil berdehem, membuat Nathan seketika mengalihkan pandangan matanya.
"Dave sayangku" Nathan menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Sesil, membuat Sesil kembali tersenyum dan langsung naik keatas ranjang dan meletakkan kepalanya di pangkuan suaminya.
Nathan masih tetap berbalas pesan dengan Dave, namun sebelah tangannya mengusap kepala istrinya yang setia menatap wajahnya.
"Sayang?" Panggil Nathan dengan sebelah tangannya menyimpan ponsel di atas meja kecil samping tempat tidur.
"Hm" Sesil hanya berdehem sebagai jawabannya.
"Kau lelah?" Nathan menarik kedua alisnya ke atas
"Tidak? Apa kau mau mengajakku bermain permainan? bagaimana kalau kita bermain ular tangga?" Seketika mata Sesil menjadi berbinar, bahkan dia menjadi sangat antusias
"Aku juga ingin kita main ular" Nathan menarik sebelah sudutnya dan tersenyum penuh makna, tapi sayangnya Sesil tidak memahami arah pembicaraan suaminya.
"Ayo" Sesil beranjak dan hendak turun dari atas ranjang, namun dengan cepat Nathan menarik tangan istrinya hingga kini tubuh Sesil jatuh di atas ranjang, dan Nathan langsung menindihnya.
Tangan Nathan membimbing tangan Sesil menyentuh bagian sensitif milik suaminya yang sepertinya sudah sangat haus minta di mainkan.
Seketika Sesil membulatkan matanya karena terkejut, tak menunggu lama Nathan melampiaskan keinginannya kepada istrinya. Dia mencium bibir Sesil dengan begitu rakus dan tak memberi jeda sedikitpun untuk Sesil bernafas.
Keduanya terlibat pergulatan panas di atas ranjang hingga keduanya sama-sama merasa puas dan tubuhnya sudah tak mampu lagi melakukannya.
Hanya keringat dan suara dernyitan ranjang yang sebagai saksi betapa panasnya kegiatan mereka berdua malam ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*Males Up, soalnya pedit komentar.
Slow up aja lah besok😑*