Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Menjauhlah


__ADS_3

Sepanjang malam Sesil tidur dengan memeluk tubuh Nathan, meskipun Nathan sepertinya marah dengannya, tapi Sesil bertekad akan menyelesaikannya pagi ini.


Udara dingin kota Semarang membuat siapa saja enggan untuk membuka selimut serta memulai aktifitasnya.


Namun tidak dengan Sesil, dia melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya dan menyibakkan selimut yang membalut tubuhnya.


Sesil duduk menyilangkan kaki di atas tempat tidur, dia terlebih dahulu meregangkan otot tubuhnya yang di rasa pegal.


Setelah di rasa tubuhnya sedikit lebih enak, Sesil beranjak turun dari ranjangnya, dia berencana akan membuatkan Nathan sarapan pagi yang lezat.


Namun tiba-tiba saja, Sesil menoleh ke arah Nathan yang masih tidur terlelap, kemudian dia menutupkan selimut ke tubuh nathan hingga ke bagian dadanya.


Suaminya sepertinya begitu kelelahan karena harus menjalankan dua perusahaan sekaligus.


Sesil dengan penuh semangat turun dari tempat tidur menuju dapur. Namun sebelum memulai aktifitas memasaknya Sesil terlebih dahulu membasuh wajah serta menggosok giginya baru setelah itu dirinya bergegas menuju ke dapur.


Saat Sesil tiba di dapur, terlihat Bi nung yang sedang mengambil beberapa bahan makanan dari dalam kulkas untuk membuat sarapan pagi.


Dan saat mendapati Nyonya rumahnya berdiri di ambang pintu, seketika Bi Nung tersenyum menyapa sang empunya rumah.


"Selamat pagi Nyonya, ada yang bisa saya bantu?"


"Bi, untuk hari ini saya ingin memasak sarapan untuk suami saya, Bibi bisa mengerjakan yang lain" Ucap Sesil sambil melebarkan senyumnya.


Bi nung hanya bisa mengangguk patuh dan pergi dari dapur untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang lainnya.


Sesil berencana akan membuat pancake pandan dan salad kentang yang di sajikan bersama telor rebus setengah matang.


Sesil mulai mencampurkan tepung terigu, margarin, serta susu cair lalu mengaduknya.


Kemudian dia memanaskan teflon berukuran kecil yang sudah di olesi dengan margarin, dengan telaten Sesil memasukan satu demi satu adonan tersebut. Hingga adonan terakhir, kini sudah terhidang beberapa pancake di atas piring.


Lalu Sesil mengambil beberapa kentang lalu mengupasnya. Sambil menunggu selesai mengupas kentang, Sesil merebus beberapa telur.


Setelah semua kentang terkupas dengan baik, Sesil mengukusnya menggunakan panci.


Setelah menunggu beberapa saat, kentang beserta telur yang di kukus olehnya sudah matang.


Sesil menancapkan garpu dan mulai memotong kentang hasil rebusannya dan meletakkan ke atas piring bulat lalu menyiramkan mayones ke atasnya, tak lupa Sesil membelah telor rebus yang sudah di kupas olehnya dan meletakkannya di samping piring.


Sesil begitu puas melihat hasil masakan sederhana kreasi ala dirinya sendiri.


Pandangan matanya teralihkan ke arah pancake yang belum di susun olehnya.


Sesil meraih piring dua piring kosong dan mulai menyusun beberapa lembar pancake buatannya. Setelah tertumpuk beberapa lembar, Sesil menyiramkan madu sebagai sausnya, dan sebagao topingnya Sesil mengambil satu buah pisang Ambon lalu memotongnya dan meletakan irisan pisang tersebut di atas pancke tersebut.


"Yeay, Sudah siap..." Sesil melebarkan senyumnya saat melihat sarapan buatannya sudah terhidang di atas meja.


Tidak lupa pula Sesil membuatkan teh tawar hangat untuk menemani sarapan paginya.


"Lebih baik aku bangunkan Nathan" Sesil pun berlalu dari dapur menuju kamar tidurnya.


Namun saat kembali ke kamar tidurnya, Sesil tak melihat Nathan di atas ranjang.


Sesil menyapu ke seluruh ruang kamar mencari suaminya, dan ketika mendengar suara gemericik air dari kamar mandi Sesil merasa begitu lega, karena sepertinya suaminya sedang membersihkan diri di dalam sana.


Sesil memutuskan untuk menyiapkan pakaian kerja untuk Nathan.


Sesil menggeser pintu lemari kaca dan memilihkan pakaian untuk Nathan. Setelah mendapatkan pakaian yang sekiranya cocok, Sesil kembali menutup lemari tersenut lalu meletakkan pakaiannya di atas ranjang, dia kemudian duduk di sofa kamar menunggu suaminya selesai mandi.


Dan benar saja,tidak berselang lama Nathan terlihat keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.


Rambutnya terlihat basah, bahkan beberapa tetes air dari rambutnya membasahi dada bidangnya. Membuat Nathan terlihat begitu keren di mata Sesil.


"Bajunya sudah ku siapkan" Ucap Sesil sambil tersenyum lalu berjalan mendekat ke arah Nathan.


Nathan yang tidak menyadari kehadiran istrinya seketika terkesiap dan langsung menatap tajam ke arah Sesil.

__ADS_1


Gurat kemarahan begitu tergambar jelas di wajahnya.


"Ini.." Sesil mengambil satu set baju yang sudah di siapkan olehnya dan menyerahkan ke arah Nathan


Nathan hanya melihat sejenak ke arah baju tersebut, dan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Nathan berbalik badan dan mengacuhkan Sesil. Dia mengambil sendiri pakaian dari dalam lemari lalu membawanya masuk kembali ke kamar mandi.


Nathan bahkan dengan sengaja menabrak bahu bagian kanan Sesil dengan begitu kasar bahkan hampir membuat Sesil jatuh tersungkur. Namun untungnya Sesil masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak jatuh tersungkur.


Sesil mengernyitkan dahinya saat melihat Nathan berubah menjadi dingin padanya. Bahkan Sesil sama sekali tidak mengenal sosok Nathan yang seperti saat ini.


"Ada apa dengannya??" Ucap Sesil sambil menggelengkan kepalanya.


Lalu dia kembali duduk di sofa menunggu Nathan yang sedang berganti pakaian.


Tak butuh waktu lama Nathan sudah terlibat keluar kamar mandi.


Tanpa menghiraukan kehadiran istrinya di dalam kamar tesebut, Nathan kembali membuka lemari dan mengambil dasi serta sepatu.


Nathan melingkarkan dasi dan mulai melipatnya. Sesil yang melihat Nathan sedang menggunakan dasi maka dengan cepat dirinya beranjak mendekat ke arah Nathan.


"Aku bantu ya" Tangan Sesil hendak meraih dasi tersebut namun dengan cepat Nathan mencekal tangan istrinya. Dia menatap begitu tajam ke arah Sesil yang saat ini juga sedang menatapnya.


"Menjauh lah" Hanya satu kata yang di ucapkan oleh Nathan, kemudian dia berlalu dari hadapan istrinya dengan menenteng sepatu di tangannya.


Seakan tidak mau menyerah Sesil mengikuti Nathan lagi.


"Nath, apa aku membuat suatu kesalahan? jika iya, maka katakanlah supaya aku bisa memperbaikinya" Ucap Sesil sambil berjongkok di hadapan suaminya, dia berharap Nathan mau mengatakan dimana letak kesalahannya. Namun sayangnya Nathan masih mengacuhkannya dan terus fokus mengenakan sepatu kantornya.


"Nath, bukankah segala sesuatu bisa kita bicarakan dengan baik-baik? jika hanya diam, lalu bagaimana bisa aku tau dimana letak kesalahanku?" Imbuh Sesil lagi, Sesil memiringkan wajahnya menatap ke arah suaminya yang mengacuhkannya.


"Andai saja kau bukan anak penyebab kehancuran keluargaku, aku pasti tidak akan melakukan ini padamu" gumam Nathan dalam batinnya.


"Nath??" Suara Sesil terdengar begitu lirih


Tangan Nathan terangkat dan meraih wajah Sesil. Bahkan dia mencengkram wajah istrinya dengan begitu kasar. Nathan mengapit pipi sesil di antara jari telunjuk dan ibu jarinya.


Sesil mengusap pipinya yang terasa panas, sepertinya tangan Nathan meninggalkan jejak di sana.


Nathan beranjak dari sofa dan hendak berlalu dari kamar, namun seakan tidak merasa kapok, Sesil kembali meraih tangan Nathan dan mencekalnya.


"Nath tunggu, Kau ini kenapa? ada apa sebenarnya? Katakan Nath, Aku benar-benar tidak tau, jika aku membuat kesalahan fatal maafkan aku Nath" Ucap Sesil lagi, bahkan dadanya begitu terasa sesak mendapat perlakuan seperti itu dari lelaki yang kini sudah di cintainya serta ayah dari janin yang berada di dalam kandungannya.


"Lepaskan" Nathan mengibaskan tangan Sesil dengan begitu kasar.


"Jangan pernah menginjakkan kaki di kamar ini lagi" Imbuh Nathan dengan penuh penekanan.


"Tapi Nath, aku sedang..."


"Sedang apa? Aku tidak perduli kau sedang apa atau mau apa !! Mulai sekarang aku tidak mau melihatmu di kamar ini lagi" Tukas Nathan. Lalu dia berbalik badan dan berlalu dari kamar tersebut.


"Nath tunggu.." Sesil mencoba mengikuti langkah kaki suaminya yang berjalan meninggalkan dirinya, namun seakan tak mau mendengar apapun perkataan Sesil, Nathan semakin mempercepat langkah kakinya menuruni anak tangga.


"Nath, aku sudah buatkan sarapan, ayo kita sarapan terlebih dahulu" Ucap Sesil masih terus mencoba mengikuti Nathan.


Nathan berjalan menuju ruang makan, lalu mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas, sejenak dia melirik ke arah meja makan, di atas meja makan sudah terhidang dua menu sarapan pagi yang sepertinya buatan tangan istrinya, namun tidak membuatnya goyah sedikitpun.


Dia berlalu dari sana dan segera menuju ke kantor.


Nathan mengendarai mobilnya meninggalkan rumahnya. Dia hari ini berencana akan ke kantor Adigja group. Perusahaan ayahnya yang masih berada di bawah kendalinya namun jarang sekali Nathan berada di sana. Nathan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor Carnal Group. Karena semenjak Swan memberikan kuasa penuh terhadapnya, Nathan memilih untuk menetap ke di kantor Swan.


Sementara Sesil terduduk lemas di kursi meja makan. Dia tak habis mengerti mengapa Nathan bisa bersikap sedemikan kasar terhadapnya.


Hati Sesil begitu merasa sesak saat mengingat kejadian tersebut.


***


Siang harinya, Nathan sedang duduk melamun di ruang kerja kantor Adigja group, rasanya dia begitu tak bersemangat bekerja. Bahkan sedari pagi yang di lakukan olehnya hanya duduk sambil menatap ke arah layar laptopnya. Dia menatapi foto wanita yang di cintainya sejak lama dan kini sudah menjadi istri sahnya.

__ADS_1


Rasanya Nathan begitu bingung harus bersikap seperti apa saat ini.


Tok..tok..tok..


Terdengar pintu kantornya di ketuk beberapa kali, membuat Nathan sadar dari lamunannya dan menatap ke arah pintu.


"Masuk.."


Pintu terbuka dan nampak wajah Dave berdiri di ambang pintu dengan senyum sumringahnya.


"Ada apa?" Nathan mengernyitkan dahinya saat melihat Dave yang tiba-tiba saja datang menemuinya setelah sekian lama tak memberinya kabar


Dan tanpa sungkan, Dave duduk di kursi yang berhadapan dengan Nathan.


"Nath, aku menghubungi ponselmu tapi tidak aktif, lalu aku datang ke kantor Carnal kau tidak ada di sana. Eh kau malah di sini" Seru Dave


"Bagiamana kabarmu? lama tidak jumpa? semenjak kau mengambil alih memimpin Carnal Group, kau menjadi begitu sibuk" Imbuh Dave lagi, namun Nathan sama sekalu tidak menghiraukan ucapan dari Dave.


"Nath.." Dave mengernyitkan dahinya saat tak mendapat respon dari Nathan.


"Ada masalah?" Ucap Dave sambil mengeryitkan dahi menatap wajah sahabatnya yang di tekuk begitu saja.


Nathan terlihat menarik nafasnya panjang, karena dia begitu kalut saat ini.


"Nath, jika ini masalah dalam dunia bisnis, haruskan kau bisa mengerti di dunia bisnis pasti ada pasang surutnya, bukan suatu hal yang menjadi harus kau pikirkan, aku tau kemampuanmu Nath, bahkan kau mampu mengembangkan kembali perusahaan ayahnya yang mengalami penurunan" Dave melebarkan senyumnya mencoba memberi semangat kepada Sahabatnya itu.


Namun Nathan masih tak merespon apa yang di katakan oleh Dave, dia malah mengusap kasar wajahnya dan menutup laptopnya dengan begitu keras, membuat Dave menjadi kebingungan akan tingkah Nathan.


"Nath kau kenapa???"


"Tenangkan dirimu" Dave menyodorkan segelas air putih yang tersedia di meja kerja Nathan dan menyuruh Nathan meminumnya.


Nathan meneguknya hingga menghabiskan setengah gelas.


"Dave, aku membencinya" Ucap Nathan dengan nada frustasi.


Dave menghela nafas panjang, kini Dave tau mengapa Nathan bisa sefrustasi ini.


Dave mencoba menyusun kata-kata yang pas untuk Nathan, takutnya dia salah berucap dan malah membuat Nathan semakin marah.


"Nath, meskipun aku belum menikah, tapi dari yang ku dengar sih, namanya rumah tangga pasti akan ada masalah. Itu adalah hal yang manusiawi Nath. Seberat apapun masalahnya kau harus bisa berpikir jernih, menilai dari berbagai sudut pandang, hanya jangan dari satu kaca mata saja. Belum tentu apa yang kau lihat itu sama dengan apa yang terjadi sebenarnya"


"Dan jangan sekali-sekali kau mengambil suatu keputusan dalam kondisi kau sedang emosi ! jangan sampai kau kehilangan gadis sebaik dia Nath"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Konfliknya mau srayu bikin panjang kaya sinetron indonesia, kan srayu cinta Indonesia wkwkwkwk


Jangan bertengkar ya sayang-sayangkuh♥️

__ADS_1


Banyakin senyum, senyum kan ibadah yang paling mudah😘😘*


__ADS_2