Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Lezat


__ADS_3

Swan masih berbincang hangat dengan putri serta menantunya. Ketiga orang yang berkumpul dalam satu ruangan serta memiliki tingkatan umur yang berbeda itu terus saja berbincang bahkan sesekali ketiganya tertawa renyah.


Sesil tak hentinya tertawa melihat suaminya yang menirukan suara layaknya anak kecil saat Swan mengajak calon cucu yang masih di dalam kandungan putrinya berbicara.


Malam semakin larut, Swan memutuskan untuk kembali ke rumahnya.


Meski sebenarnya Nathan dan Sesil meminta papinya untuk tinggal bersama namun Papinya tetap menolak permintaan anak serta mertuanya.


Bukan Swan tidak ingin menghabiskan sisa umurnya bersama putri semata wayangnya, tapi Swan takut menganggu keharmonisan keluarga putrinya, terlebih lagi rumah yang selama ini di tinggali oleh Swan sangat memiliki banyak kenangan yang luar biasa, rumah tersebut adalah saksi bisu tumbuhnya benih-benih cinta antara dirinya dengan mendiang istrinya (Ayu) belum lagi di rumah tersebut Swan membesarkan Sesil hingga dewasa. Rasanya tak akan sanggup Swan meninggalkan kenangannya di sana.


Di rumah itu pula bayang istrinya sering kali datang menemuinya, bahkan Swan sering kali bisa merasakan belaian lembut tangan istrinya.


Setelah berpamitan kepada anak serta menantunya, Swan segera kembali ke rumahnya menggunakan mobil pribadi yang baru saja datang menjemputnya.


Sesil dan Nathan berdiri di depan halaman rumahnya mengantarkan kepergian mobil papinya, baru setelah yakin mobil papinya tidak lagi terlihat, Nathan segera mengajak istrinya untuk masuk ke dalam rumah, karena kebetulan udara di luar cukup bertiup dengan kencang.


Nathan seperti biasa merangkul pinggang istrinya yang tak lagi ramping seperti dulu, meskipun istrinya tak seseksi dulu tapi Nathan malah semakin mencintai istrinya.


Nathan mengantarkan istrinya masuk ke dalam kamar, baru setelah itu Nathan kembali turun ke bawah menuju dapur untuk membuatkan susu untuk istrinya, serta mengambil beberapa vitamin yang akan di berikan untuk istrinya.


Natha. terlebih dahulu memanaskan segelas air menggunakan panci, sambil menunggu air tersebut mendidih Nathan mulai menyiapkan gelas kosong lalu memasukkan dua sendok bubuk susu ibu hamil dengan varian rasa cokelat. Istrinya memang salah satu penggemar cokelat, maka tidak heran apapun jenis minumannya asalkan memiliki varian rasa cokelat pasti Sesil akan langsung meminumnya.


Setelah di rasa air yang di rebus olehnya sudah mendidih, Nathan langsung menuangkan ke dalam gelas yang sudah di isi dengan serbuk susu,baru setelah itu Nathan mengaduknya menggunakan sendok, setelah di rasa bubuk susu sudah larut dan merata, Nathan segera membawa segelas susu cokelat tersebut menuju kamarnya.


Saat tiba di kamar, Nathan melihat Sesil sudah duduk menyandarkan dirinya di sandaran ranjang, sambil tangannya sibuk memainkan kamera yang biasa di gunakan olehnya untuk memotret.


"Sayang minumlah" Nathan meletakkan segelas susu panas di atas nakas, kemudian dirinya pergi berlalu untuk berganti pakaian.


Sesil masih terus saja sibuk melihat hasil jepretan yang beberapa hari lalu di ambil, kecintaannya terhadap dunia fotografi ternyata membawa keuntungan untuknya, darah fotografi dalam dirinya memang menurun dari mendiang maminya yang memang dulu berkuliah di jurusan fotografi, belum lagi opahnya (Kinos) adalah fotografer ternama di negri sebrang, kemampuan serta namanya begitu tersohor di negara asalnya, jadi tidak heran kalau kini Sesil juga menuruni bakat dalam bidang fotografi, meski Sesil sadari kalau kemampuan berbisnisnya tak bisa di ragukan bahkan pola pikirnya mengenai dunia usaha sangatlah mumpuni seperti papinya.


Meski begitu Sesil tetap memilih berbisnis, sedangkan fotografi serta berkebun di jadikan hobi semata olehnya, hobi yang pada akhirnya membawa rejeki untuknya serta mampu membuang rasa jenuh selama di rumah saja.


Nathan yang baru saja keluar dari kamar mandi, sedikit memicingkan matanya saat melihat istrinya masih terus saja sibuk melihat layar kamera miliknya.


Sebenarnya Nathan ingin melarang istrinya bekerja, dia tidak mau istrinya sampai kelelahan, tapi jika dirinya melarang Sesil bekerja, Sesil pasti akan sangat merasa bosan.


Nathan mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang, kedua matanya menatap istrinya yang masih terus menatap layar kameranya.


"Sayang minumlah" Nathan meraih gelas berisi susu cokelat panas yang kini sudah berubah menjadi susu cokelat hangat.


"Sebentar sayang" jari-jemari Sesil masih terus saja sibuk menggeser layar kamera.


"Sayang..." Telapak tangan Nathan menutup layar kamera milik istrinya.


"Minumlah, ini sudah larut malam. Cepatlah beristirahat" bujuk Nathan lembut.


Sesil menghela nafasnya kemudian dia mematikan kamera miliknya dan meletakkannya di atas meja kecil di samping ranjang tidurnya. Tangannya mengambil alih segelas susu yang di pegang oleh suaminya, kemudian Sesil langsung meneguk susu tersebut hingga tandas tak bersisa.


"Hm, lezat sekali. Aku menyukainya" Sesil menyapu sekitar bibirnya menggunakan lidahnya, masih tersisa beberapa teteh susu di area bibirnya.


"Sayang, aku mau lagi" Sesil mengedipkan matanya beberapa kali ke arah suaminya dengan begitu genit, berharap suaminya bersedia membuatkan segelas susu hangat untuknya lagi.


'Astaga' gumam Nathan dalam batinnya.

__ADS_1


"Sayang?" panggil Sesil lagi.


"Hm baiklah, akan aku buatkan. Kau tunggu saja di sini ya" Nathan mengambil alih gelas kosong dari tangan istrinya dan kembali keluar kamar menuju dapur untuk membuatkan susu kembali.


Seperti sebelumnya, Nathan memanaskan air terlebih dahulu dan memasukkan dua sendok susu bubuk ke dalam gelas kosong.


Nathan begitu merasa penasaran akan rasa susu tersebut, karena bisa di bilang susu ini baru saja di bawakan oleh papinya tadi. Memang merk susu tersebut berbeda dengan susu yang biasa Sesil konsumsi.


Nathan mencoba menuangkan sepucuk sendok susu bubuk ke atas telapak tangannya lalu menjilat susu tersebut "Hm lezat sekali, pantas saja Sesil menyukainya" Nathan berbicara pada dirinya sendiri.


Karena merasa airnya sudah mendidih, Nathan kembali menuangkan air hangat ke dalam gelas tersebut. Tapi entah mengapa tiba-tiba saja Nathan menginginkan juga susu tersebut, hingga kemudian Nathan membuat kembali satu gelas untuknya.


Sambil menunggu air kembali mendidih, Nathan meniup susu yang sudah di buatnya, lalu perlahan mendekatkan permukaan gelas ke depan bibirnya "Hm lezatnya" Nathan mengusap bibirnya menggunakan punggung tangannya.


"Kenapa kau menghabiskan susu milikku" Teriak Sesil dari arah pintu. Bahkan kini Sesil berjalan cepat mendekat ke arah suaminya.


Awalnya Sesil menunggu Nathan di dalam kamar, tapi karena Nathan tak kunjung datang, akhirnya Sesil memutuskan untuk menyusul suaminya di dapur.


"Kenapa kau meminumnya?" ketus Sesil sambil mengangkat gelas kosong lalu membalikkan posisi gelas tersebut, namun karena gelas tersebut sudah kosong alhasil tidak ada satu tetes pun air susu yang jatuh ke lantai.


Nathan yang merasa sudah ketahuan hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, bahkan senyuman tidak jelas tergambar di wajahnya.


"Kenapa kau menyebalkan?" teriak Sesil dengan begitu kesal, bahkan kini Sesil memalingkan wajahnya ke sembarang arah dan tak mau menatap suaminya.


"Aku akan membuatkan satu lagi untukmu" Nathan beranjak dari duduknya lalu mematikan kompor. Baru setelah itu Nathan menuangkan setengah gelas air panas ke dalam gelas. Setelah itu Nathan mencampurkannya dengan air biasa supaya hangat dan bisa langsung di minum.


"Kemarikan" Sesil mengambil alih segelas susu cokelat yang sedang di aduk oleh Nathan.


Tanpa menunggu lama Sesil langsung meneguk habis susu tersebut hingga tandas tak bersisa, lalu tanpa permisi Sesil meletakkan kembali gelas tersebut dan meninggalkan dapur untuk kembali ke kamar terlebih dahulu.


Bahkan setelah Sesil masuk kembali ke dalam kamar, Sesil langsung mengubur diri di bawah selimut kamarnya.


"Sayang.." Nathan juga ikut mengubur diri di dalam selimut, namun tangannya langsung memeluk tubuh istrinya yang kini tidur memunggunginya.


"Kau marah padaku? aku kan hanya meminum satu gelas saja, aku hanya merasa penasaran dengan rasanya, karena tidak biasanya kau meminta di buatkan susu kembali" bujuk Nathan, namun Sesil masih diam tak bergeming di posisinya.


Nathan menghela nafasnya, kemudian dia memutar otaknya mencari cara supaya istrinya tak lagi marah terhadapnya.


"Sayang, aku kan sudah lama tidak meminum ini" Nathan meremas buah dada istrinya, bahkan kedua sudut bibirnya melengkung ke atas, pikiran mesumnya kembali menari-nari di dalam kepalanya, karena memang sudah lama mereka tidak melakukannya bersama.


Sesil menggeliat dengan geli saat Nathan terus saja meremas buah dadanya "Geli.." rintih Sesil


Nathan yang mendengar rintihan manja istrinya semakin merasa gejolaknya berkobar "Aku menginginkanmu sayang" Bisik Nathan tepat di telinga istrinya.


Seketika Sesil membuka selimut yang menutupi wajahnya, bahkan kini Sesil langsung tidur menghadap suaminya, dengan Seksama Sesil menatap kedua bola mata suaminya, ada kilatan hasrat terpendam di sorot mata itu. Sesil paham betul Nathan sudah berusaha dengan keras menahan keinginannya selama ini. Karena semenjak Nathan mengetahui istrinya mengandung, mereka melakukan kegiatan panas itu bisa di hitung dengan jari, padahal usia kandungan Sesil sudah menginjak dua puluh satu minggu.


Meski masih sedikit kesal karena Nathan menghabiskan segelas susu miliknya, Namun Sesil tak bisa membiarkan suaminya menderita.


Tanpa aba-aba Sesil langsung mengecup bibir suaminya dan memberi rangsangan di area sensitif milik suaminya. Malam ini keduanya kembali melakukan kegiatan yang mereka rindukan. Meski begitu Nathan sangat berhati-hati menyentuh istrinya, dia tidak mau membuat istri serta calon anaknya terluka.


^


"Mas, Aku merindukanmu" Ayu mengusap lembut pipi suaminya yang kini tidur tepat di sampingnya.

__ADS_1


Sementara Swan hanya tersenyum menatap wajah istrinya yang masih terlihat cantik meski beberapa keriputan sudah menghiasi pipinya.


"Aku juga merindukanmu sayang" Swan membalas belaian istrinya dengan cara mengusap lembut pipi istrinya.


"Putri kita sudah besar Mas, dia memiliki suami yang sangat baik, bahkan sebentar lagi putri kecil kita akan menjadi ibu" Ayu melebarkan senyumnya


"Aku selama puluhan tahun merasa kesepian Mas, aku selalu menunggu Mas datang menemuiku. Aku ingin kita bersama seperti dulu mas" imbuh Ayu dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang aku juga merasakan hal yang sama, aku juga ingin bersamamu, tapi..." Swan tak melanjutkan kata-katanya lagi.


Meninggalkan Sesil adalah hal yang sulit untuknya, tapi di satu sisi Swan sangat merindukan istrinya, dia ingin kembali mengulang kebersamaan mereka yang hanya sebentar.


"Datanglah mas, aku menunggumu" Ayu menepiskan senyumnya, namun sayangnya perlahan bayang wajah Ayu menghilang dari pandangan mata Swan.


"Sayang, kembalilah" Teriak Swan histeris.


"Astaga ya Tuhan, ini hanya mimpi" Swan terbangun dari tidurnya, nafasnya terdengar begitu memburu, bahkan tak sedikit keringat dingin membasahi dahinya.


Swan berusaha mengatur nafasnya yang masih naik turun, dia kembali teringat mimpi yang baru saja di alami olehnya. Mimpi yang di rasa begitu sangat nyata olehnya. Apa mungkin mendiang istrinya menginginkan dirinya segera menyusulnya ke surga? Semua pertanyaan berputar di dalam benaknya.


Perasaannya begitu gelisah, Swan mengambil segelas air putih yang tersedia di atas nakas lalu dengan cepat dia meminumnya hingga menyisakan setengahnya saja, kemudian Nathan meletakkan kembali gelas tersebut ke tempat semula.


Sejenak Swan melihat foto mendiang istrinya yang di bingkai rapih dan di letakkan di atas nakas, kemudian dia mengambil bingkai tersebut dan perlahan memberi usapan di wajah mendiang istrinya.


"Sayang aku juga merindukanmu, aku ingin segera bertemu denganmu. Tapi Sesil masih membutuhkan aku di sini. Aku harap kau mau tetap setia menungguku hingga waktunya tiba" Swan kemudian mengecup gambar istrinya lantas memeluk bingkai tersebut. Swan mendekapnya begitu erat.


Rasa rindu yang dia tahan selama puluhan tahun rasanya sudah hampir pada batas waktunya. Tak terasa sudut mata Swan mengeluarkan cairan bening hingga cairan tersebut jatuh menimpa bingkai yang sedang di peluk olehnya.


Hatinya merasa begitu hampa semenjak kepergian istrinya, meski putri semata wayangnya juga telah memberikan pelangi setelah badai.


Jika bukan karena ada Sesil, pasti Swan juga sudah mengakhiri hidupnya dan lebih memilih ikut bersama mendiang istrinya menuju kehidupan yang abadi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Vote, Like dan Komentar yang buanyakk😁


Jadilah pembaca yang menyenangkan hati Srayu, biar Srayu juga semangat nulisnya😍😍

__ADS_1


Srayu baru ganti cover Kasih Terakhir 2, gimana nih menurut kalian?


__ADS_2