Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Spesial part (Imel Dave)


__ADS_3

Imelda berjalan begitu tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit dengan masih membawa sebuah koper di tangannya. Wajah cantiknya terlihat begitu panik, bahkan suara sepatu heels yang di kenakan olehnya begitu terdengar jelas akibat berbenturan dengan keramik rumah sakit.


Karena saat tiba di bandara tadi, Imelda baru sempat membuka ponselnya dan ternyata ada puluhan panggilan dari Nathan, bahkan ada satu pesan masuk dari Nathan yang berisi share lock.


Imelda takut sesuatu buruk terjadi kepada sahabatnya, Sesil.


Sepanjang perjalanan kemari Imelda sudah berusaha menghubungi Nathan namun sialnya suami dari sahabatnya itu tak kunjung menjawab panggilan telefonnya, membuat Imel kembali mengumpat Nathan berkali-kali.


Imelda menuju kamar sesuai dengan yang Nathan beritahukan di pesan singkatnya.


Saat berdiri di ujung lorong, Imel menghentikan langkah kakinya saat melihgat Nathan duduk menyandarkan kepalanya di dinding rumah sakit dengan kedua mata yang terpejam. Hati Imel tiba-tiba begitu kerasa ngilu, pasti sesuatu yang buruk telah terjadi pada sahabatnya.


Imelda kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arah Nathan dan saat berhenti tepat di hadapannya dengan tak sungkan Imelda menarik jas kerja yang di kenakan saat itu. Nathan yang terkejut langsung membuka matanya dengan raut wajah tanpa ekspresi.


"Apa yang terjadi dengan Sesil? Katakan!" Imelda memlototkan matanya, nada suaranya bahkan terdengar begitu tak bersahabat, gurat wajahnya menunjukkan kemarahan yang luar biasa.


Pasalnya suami dari sahabatnya ini di nilai begitu bodoh olehnya, membiarkan istrinya sendiri menderita hingga kini duduk di kursi roda, bahkan kejadian itu belum lama terjadi dan malah sekarang sudah terjadi sesuatu hal yang buruk.


Nathan hanya diam saja tak mau merespon apa yang Imelda katakan. Raut wajahnya begitu terlihat muram penuh penyesalan.


Melihat Nathan tak menjawabnya, Imelda semakin naik pitam dan kesal


"Kau tuli? cepat katakan !" Imelda semakin mencengkram krah jas Nathan, namun sepertinya usahanya sia-sia, Nathan masih tak mau membuka mulutnya sedikitpun.


"Percuma berbicara denganmu, membuang waktu" Nathan melepaskan cengkramannya lalu mendorong Nathan hingga jatuh terduduk di kursi tunggu yang berada tepat di belakangnya.


Tanpa menghiraukan siapapun, Imelda langsung menerobos masuk ke dalam ruangan. Dan saat pintu terbuka Imelda begitu lega karena melihat Sesil duduk di kursi roda.


"Kau baik-baik saja" Imelda langsung merengkuh tubuh sahabatnya dan memeluknya dengan begitu erat. Hatinya begitu merasa lega saat melihat Sesil masih sehat dan baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja, tapi...." Sesil tak melanjutkan kata-katanya dan pandangan matanya beralih melihat ke arah pembaringan.


Imelda mengikuti arah mata Sesil dan begitu terkejut melihat kondisi Dave yang penuh luka di wajahnya, bahkan wajahnya terlihat membiru seperti habis berkelahi.


Pandangan mata Imelda teralihkan melihat kondisi kaki kanan Dave yang di penuhi dengan perban.


"Kenapa dia?" Imelda mencoba sebisa mungkin tidak menunjukkan rasa kawatirnya


"Dia...." Sesil menghela nafasnya dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya, kemudian dia mengambil sebuah kotak berwarna merah muda dan menyodorkannya kepada Imelda


"Apa ini?" Imelda mengernyitkan dahinya menerima kotak pemberian dari Sesil, dan dengan rasa penasaran dia membuka kotak tersebut dan menampakkan satu set perhiasan yang begitu indah.


"Itu hadiah dari Dave yang di persiapkan untukmu, tadinya aku bertemu dengannya tak sengaja di toko perhiasan. Dan karena ada insiden kecil, lebih tepatnya aku hampir di rampok dan Dave adalah orang yang membantuku, dia babak belur seperti ini karena di pukuli oleh para perampok. Bahkan saat berkelahi, dia di dorong hingga jatuh ke tengah jalan raya dan tertabrak oleh motor lalu kakinya mengalami luka serius" Raut penyesalan tergambar dengan jelas di wajah Sesil.


Namun Imel tidak percaya begitu saja, kedua matanya menyipit melihat luka di wajah Dave, karena dia merasa ada yang tidak beres di sini.


Kacamatanya sebagai seorang Dokter mulai menelisik setiap inci wajah Dave yang terlihat membiru.


Bahkan Imelda menyentuh luka tersebut dan berusaha mengusapnya dengan jari-jemarinya, takut-takut kalau ini hanya make up semata. Namun sialnya ternyata luka tersebut benar adanya.


"Kau mengira ini prank? Mel, Dave sebenarnya ingin memberikan kado ini untukmu, bahkan seminggu ini dia mencari dirimu terus menerus. Kasian dia Mel. Aku yakin ada sesuatu yang ingin dia katakan padamu Mel" Sesil meraih tangan Imelda dan menggenggamnya, sedangkan Imel hanya dia membisu menatap wajah Dave yang sudah memar-memar.


Tiba-tiba Nathan membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Nathan berdiri tepat di belakang kursi roda Sesil.


"Aku kenal siapa Dave, dia bukan orang yang mudah menaruh hati pada wanita. Bahkan pernah sekali dia menyukai seseorang namun nasib baik tidak berpihak padanya karena wanita itu malah berjodoh dengan pria lain dan menikah terlebih dahulu" Nathan mengusap puncak kepala istrinya, karena memang wanita yang di maksud olehnya adalah istrinya sendiri.


Imelda masih terdiam tak bergeming dengan kedua tangannya memegang kotak perhiasan dengan begitu eratnya.


"Dan untuk kedua kalinya pula Dave harus menelan pil pahit saat mengetahui gadis yang di sukai olehnya menyukai pria lain. Bahkan Dave bilang gadis itu hingga mabuk berat karena memikirkan pria yang di tunggunya tak kunjung kembali"


Mendengar perkataan Nathan, seketika Imel mengarahkan pandangan matanya. Dia mencari kebenaran dari sorot mata Nathan yang berdiri tepat di belakangnya.


Imel paham betul kalau yang di maksud dari suami sahabatnya adalah dirinya, tapi apa betul Dave menaruh hati padanya? tapi mengapa Dave selalu bersikap menyebalkan ketika bertemu? semua pertanyaan berputar-putar di kepala Imel


"Tapi dia tak pernah mengatakannya padaku Nath?" Imel kembali mengalihkan pandangan matanya melihat Dave yang masih setia menutup matanya.

__ADS_1


"Karena kau tidak memberinya kesempatan berbicara, bahkan saat terakhir dia mau menjelaskan siapa Yasmine, kau malah mengusirnya bukan?" Imbuh Nathan lagi semakin memojokkan Imelda.


Imelda terdiam tak menjawab perkataan Nathan, memang apa yang di katakan suami sahabatnya benar adanya.


Bahkan setelah malam itu, dirinya langsung pulang ke Bandung dan hari ini dia kemari juga berencana akan mengundurkan diri dari tempatnya bekerja dan berencana akan melanjutkan studynya lagi.


"Maafkan aku Dave" Air mata Imel lolos begitu saja, hatinya merasa perih melihat kondisi Dave yang seperti ini, Imelda takut Dave tak bisa bangun lagi dan mendengarkan pengakuannya.


"Dave bangun!" Imelda menyentuh lengan tangan Dave dan menggoyangkannya berharap pria yang sudah mencuri hatinya itu bisa membuka matanya kembali.


"Yasmine gadis yang kau lihat itu adalah sahabat Nathan dan Dave, bahkan aku mengenalnya dan kami pernah berlibur bersama" Seru Sesil


Imelda yang mendengar perkataan dari Sesil semakin merasa bersalah, mengapa dia begitu bodoh tidak memberikan Dave kesempatan berbicara tempo hari.


"Dave bangun" Imelda menyandarkan kepalanya di dada bidang Dave, air matanya mengalir membasahi baju yang rumah sakit yang Dave kenakan.


"Dave bangun, jangan seperti ini!! Aku tidak mau di tinggalkan olehmu" Imelda berbicara dengan sesenggukkan di sela tangisnya


"Dave, aku yang begitu bodoh tidak memberimu kesempatan berbicara, dan aku juga bodoh karena membohongi perasaanku sendiri Dave ! aku terlambat menyadari perasaanku padamu Dave, aku menyayangimu Dave, bangunlah" Imelda menggoyangkan tubuh Dave namun usahanya masih sia-sia tidak membuahkan hasil, Dave masih memejamkan matanya.


"Dave bahkan aku rela tidak mencuci wajahku saat kau mengecup pipiku tempo hari, jadi sekarang bangunlah Dave, katakan apa yang kau ingin katakan padaku, aku janji Dave akan mendengarkan semuanya"


"Benarkan??" Tiba-tiba saja terdengar suara Dave bahkan tangannya mengusap lembut kepala Imel yang menyandar di dadanya


Seketika Imelda mengangkat kepalanya dan menatap Dave yang sudah membuka matanya.


"Benarkan semua yang kau katakan?" Dave tersenyum lebar ke arah Imelda.


Imelda mengeryit heran kemudian melihat ke arah belakang tempat dimana Sesil dan Nathan berdiri.


Sepasang suami istri itu juga tersenyum ke arahnya.


Membuat Imelda menyadari kalau ini semua hanyalah prank semata.


"Kalian selesaikan urusan kalian, kami keluar dulu" Nathan mendorong kursi roda istrinya dan berlalu keluar dari ruangan tersebut.


Kini di ruangan tersebut hanya tersisa Imelda dan Dave.


"Kau, tidak usah berpura-pura lagi, kenapa kau menyebalkan sekali hah!" Imelda memlototkan matanya dan memukul kaki Dave yang di balut dengan perban


"Ini, ini apa pula hah? ini pasti cuma make up" Imel menekan luka lebam di pipi Dave, membuat Dave mendesis kesakitan


"Ah, sakit" Dave mendesis kesakitan saat pipinya di sentuh oleh Imel, kerena memang luka itu benar adanya.


**Flashback Off


"Kau yang benar saja? apa harus kau memukulku hah?" Dave berdecak kesal saat mendengar ide konyol dari Nathan


"Kau jangan bodoh, Imel seorang dokter, jika hanya menggunakan make up semata, aku yakin dia akan tau ! Jadi supaya rencana kita lancar terkendali, maka kita harus membuat luka di wajahmu asli. Kalau di kaki kan tertutup perban, jadi tidak akan curiga" Seru Nathan


"Ini pasti akal-akalanmu saja kan Natha? kau pasti hanya ingin berolah raga dengan menggunakan wajahku" Dengus Dave dengan kesal


"Ah banyak bicara" Nathan melayangkan satu bogem mentah di wajah Dave, hingga terlihat membiru


"Kenapa kau memukulku? sakit bodoh" Dave memegang pipinya yang terasa sakit


"Diam, kita sudah tidak punya banyak waktu" Nathan kembali memukul wajah Dave hingga beberapa kali, membuat Dave mendesis kesakitan karena ulah dari sahabatnya.


"Sudah, begini kan bagus" Nathan tertawa puas melihat wajah sahabatnya yang sudah babak belur karenanya


Dave hanya mendengus kesal menahan rasa sakit, hingga kemudian masuk Sesil dengan salah seorang perawat yang akan membantu memasang perban di pergelangan kaki Dave.


Flashback On**


"Jadi begitu ceritanya Mel, bahkan aku rela melakukan ini semua demi kau" Dave beranjak duduk dan menatap lekat-lekat kedua bola mata Imelda yang juga duduk di tepian ranjang.

__ADS_1


"Aku bukan pria romantis, aku juga bukan pria yang pandai menjelaskan isi hatiku. Tapi inilah yang aku rasakan Mel, aku merasa begitu kehilanganmu. Aku merindukan senyumanmu Mel" Dave mengambil kotak merah muda yang sudah di letakkan Imel di atas meja kecil di samping ranjang.


"Will You Mary me?" Dave membuka kotak tersebut, sedangkan Imelda masih diam tak bergeming di posisinya.


Sunyi..


Sunyi..


Lama Imelda masih tak bergeming di posisinya, membuat Dave meletakkan kotak tersebut dan meraih kedua tangan Imelda dan menggenggamnya dengan begitu erat.


"Mel..?" Panggil Dave lembut


"Dave, kau bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dari aku. Aku tidak pantas dengan pria sepertimu. Terimakasih karena sudah mencintaiku Dave" Ucap Imelda lirih dan berusaha melepaskan tangan Dave yang menggenggam tangannya, namun Dave tidak mau melepaskan tangan Imelda dan menautkan kedua alisnya dengan tajam.


"Kenapa Mel? apa kau masih mencintai pria Korea itu?"


"Bukan Dave, tidak seperti itu!" Sanggah Imel


"Lalu? katakan apa alasannya? baru aku akan melepaskanmu jika alasanmu bisa aku terima" Tukas Dave


Imelda menarik nafasnya dan berusaha membuat hatinya tenang saat ini.


"Dave, aku ini hanya anak angkat dari keluarga Louis. Meskipun kedua orang tuaku menganggap aku seperti putri mereka, tapi darahku tetap mengalir darah anak panti yang tidak jelas asal usulnya, orang tuanya. Bahkan bisa saja orang tuaku tak menginginkan aku hingga mereka membuangku" Air mata Imelda kembali memenuhi sekitar matanya dan siap tumpah kapan saja.


"Aku berbeda denganmu Dave, aku yakin kedua orang tuamu pasti tidak sudi memiliki menantu yang tidak jelas latar belakang kelurganya seperti apa, aku tidak mau merasakan penolakan lagi Dave, itu sangat menyedihkan, dulu kedua orang tuaku menolak kelahiranku, dan aku tidak mau di tolak orang tuamu karena kondisi latar belakangku" Kali ini air mata Imelda lolos begitu saja dari sudut matanya


"Tidak, aku tidak akan membiarkan penolakan terjadi dalam hidupmu lagi. Aku janji Mel" Dave merengkuh tubuh Imelda dan memeluknya begitu erat. Hatinya terasa tak nyaman melihat gadis yang di cintainya menangis


"Aku akan membuat orang tuaku menerima semua yang ada dalam dirimu Mel, aku janji itu ! Dan apapun yang terjadi nantinya, aku akan tetap berada di sampingmu" Dave membelai lembut rambut Imelda, berusaha menenangkan gadis yang menangis dalam pelukannya saat ini.


"Kau bisa memegang janjiku Mel" Imbuh Dave lagi mencoba meyakinkan Imelda. Gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya dalam pelukan Dave.


"Seminggu lagi, orang tuaku akan datang kemari, aku akan memperkenalkanmu pada mereka"


"Kenapa cepat sekali Dave, aku takut" Seru Imel melepaskan pelukannya dan menatap kedua bola mata Dave.


"Mematahkan leherku saja tidak takut, kenapa sekarang hanya bertemu dengan orang tuaku kau takut?" Goda Dave tersenyum jahil, membuat Imel tersenyum malu-malu dan mencubit pinggang Dave. Imel kembali teringat pertemuan pertama mereka dulu


"Aku tidak mau menunggu lama, karena orang tuaku memintaku cepat menikah, jika aku tak kunjung menikah orang tuaku berencana akan menjodohkan aku dengan salah satu putri rekan bisnis ayahku" Timpal Dave lagi.


"Jadi aku harap kau tidak menolakku ya?" Dave menarik dagu Imelda lalu menatapnya dengan begitu intens, membuat jantung Imelda berdetak lebih kencang lagi bahkan Imelda merasa wajahnya terasa begitu panas, dia yakin wajahnya pasti sudah sangat merah saat ini.


Dave mendekatkan wajahnya semakin dekat, membuat Imelda memejamkan matanya. Dan tiba-tiba saja Imel merasa keningnya di kecup begitu lembut dan lama oleh Dave.


"Terimakasih Mel" Dave melepaskan kecupannya dan mengambil sebuah kalung dan memasangkan di leher jenjang Imelda.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Marhaban Ya Ramadhan, selamat menyambut datangnya bulan suci Ramadhan bagi semua pembaca muslim karya receh srayy,Semoga ibadah puasa kita semua di terima Allah, amiin🙏

__ADS_1


__ADS_2