Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Salah Mengerti


__ADS_3

Nathan memutar laju mobilnya kembali ke resort, berharap saat dirinya sampai nanti sesil sudah berada di sana.


Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, karena jalanan sudah sangat sepi, nathan melihat ke arah jam tangan di pergelangan tangannya waktu sudah pukul 01.00 dini hari.


Pikiran nathan semakin kalut, rasanya dia merasa bersalah karena sudah meninggalkan sesil untuk meminum kopi.


Andai saja dia bisa mengendalikan perasaan dan menekan egonya untuk menginginkan hal itu, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi.


Bukankah sudah sebulan ini nathan sanggup menahannya, tapi mengapa malam ini dia benar-benar menginginkannya.


Nathan memukul kemudi mobilnya merutuki kebodohannya sendiri.


Setelah sampai di resort, dengan asal nathan memarkirkan mobilnya dengan asal di garasi mobil.


Dengan langkah tergesa-gesa nathan memasuki resort dan menuju lantai dua dimana kamarnya berada.


Dengan tidak sabar nathan membuka kamarnya, berharap sesil sudah ada di sana menunggunya.


Namun saat pintu terbuka kamarnya masih kosong.


Perasaan nathan semakin tidak tenang, dia dengan kasar duduk di ujung ranjang, kedua telapak tangannya menutup wajahnya.


"Kemana dia Tuhan?" Ucap nathan pada dirinya sendiri


"Sayang, sudah cukup membuatku kawatir, kembalilah sayang" imbuh nathan lirih, gurat wajahnya menunjukkan rasa kawatir yang luar biasa.


Nathan sudah melalaikan tugasnya menjadi seorang suami yang baik. Nathan menarik rambutnya dengan kedua telapak tangannya dengan kasar, dadanya terasa begitu sesak, rasa kawatirnya sudah sampai di titik paling atas.


Nathan kembali menoleh ke arah jam dinding kamarnya, waktu terus berjalan, bahkan saat ini sudah tengah malam.


"Aku harus mencarinya kemana tuhan??" Nathan berdiri dan mondar-mandir tidak jelas.


Pandangan nathan tersita ke arah jaket yang menggantung di balik pintu kamarnya


"Bahkan dia tidak mengunakan jaket, padahal udara di dekat pantai sangat dingin" Nathan semakin panik di buatnya.


****


Sementara itu sesil masih duduk di atas pasir, hanya ada suara deburan ombak yang dia dengar, suasana begitu sunyi bahkan lalu lalang kendaraan juga sudah sangat jarang.


Sesil tidak membawa ponsel maupun mengenakan jam tangan.


Sesil tidak mengetahui sudah pukul berapa saat ini.


Sesil kembali menatap kosong ke depan, dia bingung dengan perasaannya sendiri, mengapa bisa merasa begitu sakit ketika melihat nathan dengan gadis lain, apalagi gadis tersebut membuat nathan bisa tertawa, rasanya sesil benar-benar tidak rela.


"Perasaan macam apa ini?" Gumam sesil, Sejujurnya sesil tak bisa mengartikannya, karena sesil baru pertama kali merasakannya.


Bayang wajah nathan yang selalu bersikap manis dengannya berputar kembali di memori otaknya, sesil merasa tidak ingin berbagi perhatian barang secuil saja dengan gadis lain.


Sesil kembali menenggelamkan wajahnya di antara lutut dan dada, serta kedua tangan sesil memeluk lututnya dengan erat, karena udara malam semakin dingin menusuk tulang sesil.


Namun tiba-tiba saja ada yang menutupi tubuh sesil dengan jaket, seketika hati sesil merasa senang, sesil pikir nathan lah yang sudah datang menjemputnya.


Sesil dengan semangat menoleh ke arah belakang, dan tak di sangka, orang yang berdiri di hadapannya bukanlah nathan, melainkan temannya yang tempo hari sempat datang berkunjung ke rumah papinya.


"Nona sesil, sedang apa tengah malam di sini?" Ucap dave, seolah-olah dia sangat terkejut melihat sesil berada disini, padahal kedatangan yasmine kemari semua adalah dia sutradara utamanya.


"Kau?" Sesil melepaskan jaket milik dave dan mengembalikannya ke dave lagi.


"Pakailah, udara malam sangat dingin, apalagi ini sudah menjelang pagi" Imbuh dave lagi, Dengan tidak sungkan dave langsung duduk di samping sesil dan ikut memandang ke depan, sesil diam saja tidak mengucapkan sepatah katapun.


Rasanya dia benar-benar kecewa yang datang bukanlah nathan melainkan dave.


"Apa mungkin dia sedang menghabiskan malam dengan gadis itu? sehingga tak tau kalau aku pergi?" Gumam sesil dalam hatinya, pertanyaannya itu membuat hatinya semakin sakit. Dengan sekuat tenaga sesil menahan air matanya, karena dia tidak mau di lihat cengeng di depan teman suaminya itu.

__ADS_1


"Mungkin saja" Saut dave, dan seketika sesil menoleh ke arah dave yang masih memandang ke depan, sesil tak menyangka kalau dave bisa membaca isi hatinya.


"Mungkin saja, karena yang aku tau, mereka sangat dekat, nathan bilang mereka hanya bersahabat, tapi kami semua , kami teman lelaki nathan, bisa mengartikan ada sesuatu yang lebih di antara mereka" Imbuh dave lagi.


"Aku tidak sengaja melihat yasmine sedang minum kopi bersama tadi, saat itu aku baru saja sampai di sini, karena besok aku ada urusan pekerjaan di sini, setelah aku kembali ke kamar, aku tak bisa tidur, makannya aku memutuskan untuk berjalan-jalan keluar mencari angin" ucap dave lagi.


Sesil hanya mendengarkan saja semua ucapan yang di lontarkan oleh dave tanpa berniat untuk menjawabnya, karena sesil tidak mau mengumbar masalah rumah tangganya kepada orang lain.


Melihat sesil yang tak merespon, dave sekilas menoleh ke arah sesil, wajah sesil begitu datar seolah-olah tidak memperdulikan semua kata-katanya, membuat dave geram di buatnya.


"Oh ya mengapa nona ada di sini tengah malam sendirian? kenapa nathan tidak menemani? Ucap dave, dave memang sengaja melontarkan pertanyaan yang memancing emosi sesil.


"Aku tidak bisa tidur makannya aku datang kemari, kebetulan juga resort tempatku menginap jaraknya sangat dekat, jadi tidak ada salahnya aku berjalan-jalan, dan nathan dia sedang beristirahat karena kelelahan, karena tadi saat baru sampai di sini dia langsung melihat kondisi hotel milik papiku, di tambah tadi sore dia menemaniku bermain pasir" Jelas sesil panjang lebar, suaranya terdengar begitu datar seolah-olah dia sedang baik-baik saja, padahal sesil sedang menahan gejolak hatinya.


"Oh ya? berarti nona tau kalau nathan bertemu dengan yasmine tadi di resto?" Seru dave.


"Hm.." sesil menganggukkan kepalanya.


"Kami sudah berkenalan" Imbuh sesil lagi, kemudian sesil beranjak dari duduknya, rasanya dia sudah tidak tahan mendengar semua pertanyaan yang di lontarkan oleh dave.


Jika terlalu lama dekat dengan dave, bisa saja sesil tak kuat lagi menahan air matanya, makannya sesil memutuskan untuk kembali ke resort.


"Sepertinya ini sudah menjelang pagi, aku permisi kembali ke penginapan" Imbuh sesil sambil berlalu dari hadapan dave yang juga ikut berdiri.


"Biar ku antar" Dave meraih tangan sesil, dan seketika sesil langsung menoleh ke arah dave menatap dave dengan sinis.


"Lepaskan tangan Tuan, aku tidak mau suamiku salah paham" Ucap sesil dengan nada sinisnya, mendengar penuturan sesil, dave melepaskan tangan sesil dan membiarkan sesil kembali ke resort seorang diri.


"Kita lihat, sejauh mana kau akan bertahan" Dave mengangkat bibir sebelahnya dan tersenyum sinis menatap kepergian sesil.


Sesil berjalan dengan lesu kembali lagi ke resort, jika saja dave tidak datang, mungkin sesil tidak akan kembali ke resort malam ini, sesil rasanya masih ingin menenangkan pikirannya.


Sepanjang perjalanan, semua perkataan dave berputar mengisi kepalanya, bulir air mata kembali menetes dari pelupuk mata sesil.


Tak terasa sesil kini sudah berdiri di depan pintu gerbang resort, tangannya menyentuh bel pintu gerbang, tak lama kemudian pintu di buka oleh satpam penjaga, dan betapa terkejutnya sang satpam kalau nona mudanya yang memencet bel.


Sesil berlalu pergi dari hadapan satpam tersebut dengan wajah lesu dan tak bersahabat.


Sesil memasukkan beberapa digit pass code pintu utama, setelah pintu terbuka sesil menyeret kakinya menaikki anak tangga menuju lantai dua, sekilas sesil melirik ke arah jam dinding yang terletak di ruang tamu, waktu sudah menunjukkan pukul 02.13am.


"Sudah menjelang pagi" Gumam sesil.


Sesil melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dan perlahan sesil membuka pintu kamar. Sesil sangka kalau nathan pasti tidak ada di dalam.


Saat mendengar pintu terbuka nathan membuka kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya. Dan saat melihat wajah sesil seketika nathan langsung beranjak dari duduknya dan berlari menghampiri istrinya.


"Sayang..." Suara panik terdengar dari ucapan nathan, bahkan dengan tidak ragu nathan langsung menarik tubuh sesil ke dalam dekapannya.


"Sayang, darimana saja? aku mencarimu? kenapa pergi tidak memberitahuku?" Nathan memeluk tubuh sesil dengan erat, namun sesil berusaha mendorong tubuh nathan menjauh darinya, membuat nathan melepaskan pelukannya dan menatap ke arah mata istrinya yang terlihat sembab seperti habis menangis, membuat nathan bertanya-tanya mengapa istrinya bersikap demikian.


"Hm, aku hanya mengikutimu saja, bukankah kau juga pergi tanpa pamit?" Ucap sesil dengan nada sinisnya.


"Bahkan kau saja bisa mengacuhkan pesanku tadi sore, jadi mengapa aku tidak boleh mengacuhkanmu juga?" Sesil berjalan menjauh dari nathan dan mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


Nathan mengernyit keheranan dengan mendengar semua penuturan dari istrinya, pasalnya nathan tak merasa mendapat satu pesan pun dari sesil, dan untuk dia pergi tanpa pamit itu memang benar adanya, tapi itu bukan tanpa alasan, nathan hanya tidak mau menganggu tidur istrinya.


"Pesan apa? bahkan tadi sore aku menunggumu di resto hotel hampir satu jam lamanya, tapi kau tak kunjung kembali, dan bukankah kau yang kembali ke resort dan meninggalkan aku?" seru nathan, bahkan nathan ikut mendudukkan tubuhnya di samping sesil.


"Hm, mungkin kau lupa karena kau terlalu asik mengobrol dengannya" imbuh sesil.


"Dengannya?" Nathan mengulangi perkataan sesil.


"Yasmine maksudmu? dia temanku semasa kuliah, dan kami bertemu juga tidak sengaja" Imbuh nathan.


"Oh, tapi sepertinya kalian sengaja berjanji meminum kopi bersama!" Tukas sesil, rasanya emosinya sudah sampai puncaknya karena nathan masih saja berkelit.

__ADS_1


"Bahkan aku mendengar sendiri ponselmu beberapa kali berdering sebelum akhirnya kau keluar kamar dan menuju resto hotel untuk meminum kopi? apa kau pikir aku tidak tau?Kau pasti berbalas pesan dengannya kan?" Tukas sesil


"Astaga sayang, jadi kau salah paham? dan kau melihat kami minum kopi bersama? aku tak sengaja bertemu dengannya tadi dan itu hanya minum kopi biasa, dan untuk berbalas pesan itu aku membalas pesan dari emilia yang menanyakan saol pekerjaan, kau bisa mengeceknya di ponselku, dan setelah kopiku habis aku juga segera kembali ke sini, dan betapa terkejutnya saat aku kembali kau sudah tidak ada, bahkan kau tidak membawa ponsel"


"Sudahlah kau tidak perlu banyak berkelit nath, aku sudah melihat semuanya dengan mataku, kau berpegangan tangan dengannya bahkan kau tak hentinya tertawa saat mengobrol dengannya" suara sesil terlihat semakin memberat dan air matanya pun mulai menetes, rasanya sesil sudah tak tahan lagi menahan rasa sesak di dalam hatinya.


"Kalau kau sudah tak menginginkan aku lagi untuk apa kita masih bersama, lebih baik kita..."


"Cukup, kau bicara apa hah? apa kau tau aku hampir mati karena takut tak mendapatimu di dalam kamar? apa kau tau butuh waktu hampir enam tahun untuk aku bisa memilikimu seperti ini? selama enam tahun aku terus berusaha memantaskan diri untuk bersanding denganmu, jika aku menyukai gadis lain, untuk apa aku bersusah payah menunggumu hingga selama ini? bahkan aku tidak pernah dekat dengan gadis manapun kecuali yasmine, karena aku tau yasmine tulus berteman denganku !" Nathan memotong ucapan yang belum sempat sesil lanjutkan.


"Bahkan kau tidak *** bagaimana rasanya melihat gadis yang kita cintai menjadi kekasih orang lain? diam-diam memberi perhatian tanpa gadis itu tau? bahkan aku menghabiskan banyak waktu untuk mencari tau semua tentangmu"


Nathan beranjak dari sofa dan berjalan mengambil laptop yang tersimpan di laci meja kecil, nathan membawa laptop tersebut mendekat ke arah sesil dan meletakkan di atas meja, kemudian nathan menyalakan laptopnya, dan saat laptop menyala, tampilan walpaper laptopnya adalah foto mereka berdua yang sesil ambil saat nathan di rawat di rumah sakit.


Air mata sesil semakin deras mengalir, rasa sesak semakin menyiksa batinnya.


Nathan membuka salah satu folder di laptopnya yang di beri pass code, dan saat folder tersebut terbuka, betapa terkejutnya sesil karena folder tersebut berisi semua foto-foto dirinya, dari masih mengenakan baju putih biru hingga saat ospek di kampusnya dulu.


Semua potret foto sesil tersimpan rapih di sana, dan


"Selama sembilan tahun aku hanya bisa mengambil fotomu secara diam diam, dan selama itu pula aku hanya bisa melihat fotomu saja tanpa bisa menyentuhmu" Nathan beranjak berdiri meninggalkan sesil yang masih terlihat shock.


"Aku sangat mencintaimu" Imbuh nathan, kemudian nathan terlihat memasuki kamar mandi dan menyalakan air shower.


Rasanya nathan ingin meredam emosinya dengan mandi air dingin.


Sesil meraih ponsel nathan yang tergelatak di atas meja, dengan rasa penasaran sesil membuka kotak pesan nathan, dan benar saja memang ada beberapa pesan masuk dari emilia.


Sesil menarik nafasnya panjang, dan menghembuskan perlahan, sesil benar-benar merasa bersalah karena sudah salah mengartikan situasi ini, harusnya dia bisa lebih berpikir jernih menyikapi segala persoalan dan tidak asal mengambil kesimpulan hanya dengan apa yang dia lihat, tanpa bertanya terlebih dahulu kepada nathan.


Sesil menarik nafasnya dan beranjak dari sofa, dia dengan ragu-ragu berjalan mendekat ke arah kamar mandi dan mendorong pintu kamar mandi, benar saja pintunya tidak di kunci oleh nathan, dengan menekan rasa malunya sesil menghampiri nathan yang kala itu berdiri di bawah guyuran air shower dengan pakaian lengkapnya, sepertinya nathan benar-benar merasa marah.


Sesil mendekat ke arah nathan dan memeluk tubub kekar suaminya dari belakang.


"Maafkan aku" Ucap sesil lirih.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Loh, kok pada berantem sih? sabar ya sayang-sayangkuh, jangan pada berantem ngomelin nathan, kan kasian hehehhe😁


__ADS_2