Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Macaron


__ADS_3

Dua hari setelah acara reuni kemarin, Nathan sedang di sibukkan mengurus tander yang di menangkan dari clientnya di jepang.


Semua kerja keras dan usahanya selalu berbuah manis seolah-olah keberuntungan yang baik selalu berpihak padanya.


Selama usia pernikahannya dengan Sesil yang hampir menginjak satu tahun rumah tangga mereka bisa di bilang selalu harmonis dan bahagia.


Meskipun Sesil semakin hari semakin bersikap manja terhadapnya dan kadang meminta sesuatu yang aneh di saat waktu yang tidak tepat, namun Nathan sama sekali tidak mempermasalahkannya, selagi dia mampu dia akan melakukannya untuk Sesil.


Dan entah mengapa, sudah beberapa hari ini Sesil gemar sekali meminum lemon tea yang rasanya sangat asam menurut Nathan.


Siang ini seperti biasanya, Nathan sedang berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya.


Namun tiba-tiba saja pintu kantornya terbuka dan menampakkan wajah istrinya yang tersenyum lebar meskipun dahinya penuh dengan keringat karena cuaca di luar memang sedang terik.


"Sayang.." Nathan begitu terkejut melihat istrinya yang sedang berjalan mendekat padanya. Biasanya jika istrinya menyusul ke kantor pasti ada sesuatu yang di inginkan olehnya.


Tanpa menjawab pertanyaan Nathan, Sesil berjalan mendekat ke arah suaminya dan ketika sudah berdiri di hadapan Nathan, dia memutar kursi yang Nathan duduki dan langsung duduk di pangkuan Nathan.


Sesil mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya dan tersenyum begitu manis.


"Pasti ada maunya" Gumam Nathan dalam hati


"Sayang Aku mau kue macaron yang Ada di Jalan Jenderal S.Parman" Ucap Sesil dengan begitu manjanya,karena tak tau mengapa tiba-tiba saja dia begitu menginginkan kue bulat dengan begitu banyak warna yang cantik itu. Membayangkannya saja sudah membuat Sesil menelan air liurnya.


"Benar kan dugaanku" Gumam Nathan lagi, rasanya dia begitu heran melihat istrinya yang belakangan ini menjadi sedikit aneh menurutnya.


"Sayang, di depan kantor juga ada toko kue yang menyediakan macaron, kita beli di sana saja ya?" Seru Nathan. Dan seketika itu pula Sesil melepaskan kedua tangannya yang melingkar di leher suaminya.


Dan kini wajahnya berubah menjadi begitu cemberut bahkan kedua tangannya melipat sempurna di atas perut.


"Aku mau yang di jl.Jenderal S.parman titik" Tukas Sesil.


Entah mengapa rasanya dia begitu kesal saat Nathan membantahnya.


"Sayang, jaraknya cukup jauh dari kantor kota dan lagi setengah jam lagi aku ada meeting dengan client" Nathan sejenak melihat ke arah jam dinding yang tergantung di ruang kerja kantornya tersebut.


"Kue macaron di sana dan di depan kantor kita rasanya sama saja sayang" Nathan melebarkan senyumnya, dan tangan kanannya terulur hendak menghapus bulir keringat yang berada di kening istrinya, namun dengan cepat Sesil menjauhkan kepalanya dari jangkauan tangan Nathan.


Bahkan wajah Sesil terlihat semakin tidak bersahabat.


"Ya Tuhan" Nathan menggelengkan kepalanya, rasanya istrinya menjadi menyebalkan akhir-akhir ini


"Baiklah, ayo kita ke sana" Ucap Nathan


Kemudian Nathan menghubungi Emilia untuk mengatur ulang jadwal meetingnya hari ini.


Setelah mematikan panggilan telefonnya, Nathan kembali melihat ke arah istrinya yang masih menampakkan wajah tidak bersahabat.


"Sayang ayo, katanya mau kue macaron?" Nathan kembali mengulurkan tangannya dan mengusap keringat yang berada di kening istrinya dan kali ini Sesil tidak menghindarinya


"Ayo kita beli, jangan ngambek lagi" Nathan mencubit pipi istrinya yang di rasa menjadi sedikit cuby itu.


"Ikhlas tidak?"


"Ya ampun, bahkan aku sudah mengcancel meetingku hanya demi menemani istri tercinta membeli macaron, kau masih bertanya ikhlas atau tidak?" Nathan mendengus dengan kesal dan membuang nafasnya dengan begitu kesal


"Ya sudah kalau tidak ikhlas, aku pergi saja" Sesil beranjak dari pangkuan Nathan, namun belum sempat dia melangkahkan kakinya Nathan kembali menarik istrinya hingga kini istrinya duduk kembali di pangkuannya.


"Kau ini gampang sekali marah sih? Sedang PMS ya?" Nathan menggelengkan kepalanya


"PMS? aku lupa kapan terakhir datang bulan" Gumam Sesil dalam hatinya


"Apa jangan-jangan aku....?" Imbuhnya lagi dalam hati, Namun sesil tidak berani melanjutkan kata-kata dalam batinnya. Rasanya dia tidak mau berharap lebih.


"Sayang..?" Nathan mencubit hidung mancung istrinya dengan begitu gemasnya, membuat Sesil mengerucutkan bibirnya.


"Ya sudah ayo" Sesil bangun dari pangkuan suaminya dan lantas menarik tangan Nathan untuk segera pergi ke toko kue yang di maksud olehnya.


Setelah menempuh perjalanan yang begitu macet, kini mobil yang Nathan kemudikan sudah sampai di sebuah toko yang di maksud oleh istrinya. Nathan terlebih dahulu memarkirkan mobilnya, setelah mobilnya terparkir dengan sempurna, Nathan mengajak Sesil untuk turun.


The Harvest Patissier and Chocolatier


Nathan mendorong pintu masuk Toko tersebut dan mempersilahkan istrinya untuk masuk. Saat memasuki toko mata Sesil begitu di manjakan dengan jajaran kue berwarna-warni begitu cantik di tata di dalam sebuah lemari etalase kaca yang begitu besar.


Sesil berulang kali menelan air liurnya saat melibat deretan kue yang seakan-akan menanti untuk masuk ke dalam mulutnya.


"Selamat datang Nona" Sapa seorang pelayan toko kue tersebut

__ADS_1


"Mbak, saya mau yang ini" Sesil menunjuk beberapa kue macaron dengan berbagai jenis warna.


Belum puas dengan hanya membeli satu jenis kue, Sesil kembali bergeser ke etalase yang menyajikan kue sponcake yang begitu menggoda di mata Sesil.


Sesil memilih rasa Lemon yang menurutnya enak.


Rasanya Sesil begitu puas bisa memilih sendiri kue yang dia inginkan.


Nathan mengajak Sesil menuju kasir untuk membayar sekaligus mengambil kue yang mereka beli.


"Terimakasih" ucap Nathan kepada kasir yang melayaninya.


Nathan sedikit heran melihat dua box kue yang kini berada di tangannya.


"Sayang kau tidak membeli rasa cokelat?" Nathan mengernyitkan dahi ketika melihat box kue yang tidak satupun berisi kue rasa cokelat.


Mendengar kata cokelat saja membuat Sesil merasa begitu mual, bahkan kini Sesil menggembungkan pipinya dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Tiba-tiba saja Sesil merasa sesuatu akan keluar dari dalam perutnya.


Tanpa permisi Sesil langsung berlari menuju toilet yang kebetulan terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Setelah sampai di washtafel toilet Sesil langsung muntah, namun hanya cairan saja yang keluar dari dalam perutnya.


Entah mengapa ketika mendengar atau memakan cokelat rasanya begitu mual, padahal cokelat adalah salah satu makanan yang Sesil sukai.


Setelah menyeka mulutnya dengan air yang mengalir dari kran washtafel dan mengelap mulutnya dengan tisu, Sesil segera keluar dari toilet.


"Kau baik-baik saja?" Ucap Nathan dengan nada yang begitu kuatir


"Aku mau memakan kuenya, apa kau mau menemaniku?"


"Ya sudah ayo kita duduk" Nathan mengajak Sesil untuk mencari meja kosong, setelah mendapatkan meja kosong dan mereka duduk di sana, Sesil tanpa ragu lagi langsung membuka box kue macaron yang sangat dia ingin makan itu.


Sedangkan Nathan melambai ke arah pelayan untuk memesan minuman.


"Sudah kenyang" Sesil menutup box kue macaron dan menyodorkan ke hadapan Nathan.


"Kenyang?" Nathan mengernyitkan dahinya dan membuka kembali box kue tersebut, dan betapa terkejutnya Nathan saat melihat kue macaron tersebut hanya di makan satu biji oleh istrinya.


"Yang benar saja? Kita jauh-jauh datang kemari dan kau hanya memakan kuenya satu??" Nathan menyipitkan matanya menatap wanita yang kini duduk di depannya.


"Aku mau pulang" Sesil beranjak dari kursi dan berlalu dari hadapan Nathan yang masih mematung di posisinya.


Nathan menarik nafasnya dengan berat dan menghembuskannya perlahan


"Jika bukan karena aku mencintainya, sudah aku lempar dia ke kandang macan" Gerutu Nathan


"Bicara apa kau??" Seketika Sesil membalikkan badannya dan kembali menatap Nathan


"Tidak..tidak" Nathan tersenyum pelik ke arah Sesil


"Kau pikir aku tuli? atau kau kira pendengaranku sudah rusak? Jelas-jelas aku mendengar kau mengatakan sesuatu?" Sesil menyatukan alisnya menatap ke arah suaminya


"Ayo kita pulang" Nathan meletakkan beberapa lembar uang kertas dan meletakkan di atas meja untuk membayar minuman yang sempat dia pesan tadi.


Lantas Nathan mengajak Sesil untuk kembali ke rumah.


Saat di pertengahan jalan, Sesil meminta Nathan untuk mengantarnya ke rumah sakit dimana Imelda berdinas.


Sebenarnya Nathan tidak tenang jika harus meninggalkan Sesil sendirian, namun karena Sesil terus memaksa, akhirnya Nathan memutarkan arah laju mobilnya menuju tempat bekerja Imelda.


Setelah mengantar istrinya hingga lobi rumah sakit, Nathan melajukan mobilnya kembali ke kantornya.


Sementara Sesil dengan langkah yang begitu riang menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang kerja sahabatnya.


Selain merindukan sahabatnya yang sudah beberapa minggu tidak bertemu, Sesil juga berniat ingin melakukan tes kehamilan.


Mengingat dia sudah lama tidak datang bulan, Sesil berharap Tuhan mempercayakan momongan padanya dan Nathan.


Sesil menyentuh knop pintu ruang kerja Imelda dan mendorongnya. Nampak Imelda sepertinya sedang menganalisa sesuatu.


"Gadis bodoh, kau datang kemari?" Imelda menutup map yang berada di tangannya dan beranjak dari kursi untuk menyambut sahabatnya yang baru saja datang.


"Kemana saja kau" Sesil menoyor kepala Imelda dan terkekeh pelan, kemudian keduanya sejenak berpelukan dan melepaskan rasa rindu mereka.


"Duduklah" Imelda mengajak Sesil duduk di sofa yang tersedia di ruang kerjanya.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja kan?" tanya Imel penuh selidik


"Tentu saja"


"Hmm, tapi..." Sesil sejenak menghentikan ucapannya, dan membuat Imelda menjadi sedikit cemas


"Tapi apa???"


"Tapi, aku ingin meminta tolong padamu?" Ucap Sesil lirih


"Minta tolong apa??" Imelda semakin penasaran tidak karuan melihat tingkah sahabatnya yang wajahnya sudah memerah itu


"Aku ingin..." Sesil rasanya malu melanjutkan kata-katanya, namun gerakan reflek tangan Sesil yang meraba perutnya sudah membuat Imelda paham dan langsung memeluk Sesil.


"Kau hamil??? Selamat sil, Aku turut berbahagia" Imelda melepaskan pelukannya dan mencium kedua pipi sahabatnya dengan begitu girangnya.


"Belum tentu bodoh" Sesil memukul kepala Imelda pelan


"Aku harus belum memeriksanya, tapi aku sudah lama tidak datang bulan"


"Dan akhir-akhir ini aku suka sekali meminum minuman yang asam, di tambah aku suka menginginkan makanan yang menurutku aneh" Sesil menjelaskan panjang lebar kepada Imelda.


"Apa kau mual?"


Mendengar pertanyaan Imelda, Sesil langsung menggelengkan kepalanya, karena dia sama sekali tidak merasa mual, kecuali mengingat cokelat atau memakan cokelat.


"Kau tunggu disini, aku akan segera kembali" Imelda beranjak dari duduknya dan berlalu keluar dari ruang kerjanya.


"Mau kemana??" Teriak Sesil kepada Imel, namun bayang tubuh Imel sudah melesat jauh keluar dari ruang kerjanya.


"Seenaknya saja gadis bodoh itu" Umpat Sesil


Namun tidak berselang lama Imelda kembali lagi masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Cepat tes sana" Imel menyodorkan testpack yang baru saja dia beli dari apotik rumah sakit ke arah Sesil.


Sesil begitu terkejut melihat alat tes kehamilan yang di sodorkan oleh imelda, Dia takut jika hasilnya akan negatif dan membuatnya kecewa untuk kesekian kalinya.


Namun jika tidak mencoba alat tersebut, mana bisa Sesil tau sedang hamil atau tidak.


Dengan sedikit ragu, Sesil mengambil alat tes kehamilan tersebut.


"Sudah sana cepat" Ucap imelda lagi


Dengan rasa yang begitu bercampur aduk, Sesil beranjak dari kursi dan berjalan menuju toilet di ruang kerja Imelda.


Sesil mengunci pintu rapat-rapat dan membuka kemasan testpack tersebut.


Kemudian dia mengambil cawan yang terbuat dari kaca untuk menyimpan urine miliknya.


Setelah mendapatkan urine yang di inginkan, Sesil memasukkan ujung alat testpack tersebut ke dalam urine.


Sesil menunggu beberapa saat hasilnya. Dan saat melihat hasil yang tertera di testpack tersebut, wajahnya seketika berubah menjadi datar.


Sesil melangkahkan kakinya dengan begitu gontai dan tangannya membuka pintu toilet.


Imelda yang sedari tadi ternyata menunggu di depan pintu begitu senang saat pintu toilet terbuka.


Namun senyum di wajah Imelda seketika sirna saat melihat ekspresi di wajah Sesil.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2