
Sesil memegang erat lengan Nathan, keduanya terlihat tergesa-gesa berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Hari ini sudah tepat 9 bulan masa kandungan Imelda, bahkan hari ini Dave memberi kabar kalau istrinya sudah merasakan kontraksi pada perutnya. Alhasil hari ini Imelda sudah berada di rumah sakit tempat dimana dirinya bekerja.
Suara benturan sepatu fantovel milik Nathan menggema di lorong rumah sakit, langkah kaki sepasang suami istri itu terhenti tak jauh dari sebuah ruangan yang di depannya terdapat sepasang suami istri paruh baya yang sedang duduk di bangku tunggu. Raut wajah keduanya terlihat begitu tegang, kedua orang tua tersebut tak lain adalah James dan Dyana.
Meski Imelda hanya anak angkat, tapi keduanya begitu sangat menyayangi Imelda, begitupun sebaliknya.
Perlahan Nathan dan Sesil berjalan mendekat ke arah keduanya dan menyapa dengan suara sedatar mungkin "Halo om, tante. Bagaimana keadaan Imelda?"
"Kalian.." James menjawab dengan sedikit terkejut.
"Duduklah, nak" kali ini Dyana ikut menimpali, dia tak tega melihat Sesil yang sedang hamil besar berdiri mematung di hadapannya.
Nathan membantu istrinya untuk duduk, setelah istrinya duduk, dirinya juga ikut duduk di samping istrinya tepat.
"Om, Tante, bagaimana keadaan Imelda? dan dimana Dave saat ini?" Sesil melihat sekeliling namun tidak mendapati suami dari sahabat baiknya.
"Imelda masih di dalam sayang, dan Dave sedang menemaninya" Dyana mengusap lembut kepala putri mendiang sahabatnya.
Sejenak Dyana menatapi wajah Sesil yang sangat mirip dengan mendiang Ayu, hidungnya, garis wajahnya bahkan senyumannya sama persis dengan mendiang maminya.
Andai saja Ayu masih hidup pasti dia sangat bangga bisa melihat putrinya tumbuh menjadi wanita dewasa yang memiliki banyak sekali bakat, bahkan Dyana begitu bangga melihat perkembangan bisnis perusahaan keluarga setelah dipimpin oleh Sesil dan Nathan.
Perkembangan perusahaan mereka sangat berkembang pesat.
"Tante Dyn" Sesil meraih tangan Imelda dan menggenggamnya dengan erat.
"Imelda pasti akan baik-baik saja tante" imbuh Sesil mencoba menenangkan wanita paruh baya di sampingnya
"Ya sayang" Dyana menganggukkan kepalanya sembari bibirnya menyunggingkan senyuman manisnya.
Suasana terasa sunyi dan tegang, tak ada obrolan di antara mereka berempat. Keempatnya diam seribu bahasa dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga suara tangisan bayi tiba-tiba saja memecah keheningan. Dyana dan James yang mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan tempat dimana Imelda berada saat ini seketika langsing memeluk satu sama lain. Keduanya begitu senang akhirnya cucu mereka lahir dengan selamat.
Namun seketika pandangan mereka berempat tersita ke arah pintu ruangan yang tiba-tiba saja terbuka, dan dari balik pintu tersebut keluarlah Dave dengan wajah yang begitu pucat, bahkan beberapa keringat dingin mengalir di pelipisnya.
James beranjak berdiri mendekati menantunya yang masih terus saja berdiri di ambang pintu, sementara pintu di belakang punggung Dave sudah kembali tertutup.
"Ada apa Nak? istri serta anak kalian baik-baik saja bukan?" tanya James dengan raut wajah yang kawatir, begitupun Dyana yang berdiri di samping suaminya dengan raut wajah yang sama tegangnya
"Dave merasa bersalah Dad.." Ucapan Dave terhenti, tenggorokannya terasa tercekat, semua kata-katanya tertahan tak dapat di keluarkan melalu tenggorokannya.
Bayang wajah Imelda yang menahan sakit saat proses melahirkan, bahkan bisa di bilang istrinya rela mempertaruhkan nyawa demi buah hati mereka.
Tubuh Dave merasa begitu bergetar, hatinya kembali berdesir menahan rasa sakit saat membayangkan wajah Imelda.
"Dad, maafkan Dave.." Dave memeluk tubuh James yang kebetulan berdiri di hadapannya.
James dan Dyana semakin terlihat bingung melihat menantunya bersikap seperti itu.
"Apa yang terjadi sebenarnya Dave, bicaralah" kali ini Dyana angkat bicara.
Namun Dave masih diam saja tak menjawab, bibirnya terkunci rapat.
"Dave katakan!" desak Dyana.
"Dave, Imelda baik-baik saja kan?" Sesil ikut menimpali, wajahnya tak kalah panik dengan kedua orang tua Imelda.
__ADS_1
"Mereka baik-baik saja, tapi..." perkataan Dave kembali terhenti saat pintu ruangan kembali terbuka, dan keluarlah seorang dokter di temani oleh dua orang perawat.
"Dok, bagaimana keadaan putri serta cucu saya?" Dyana langsung mencecar dokter yang sedang sibuk membuka pengait masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Nyonya, Tuan. Putri serta cucu anda baik-baik saja, kalian boleh melihatnya ke dalam" dokter tersebut menepiskan senyumnya kemudian berpamitan dari hadapan Dyana.
Dyana yang sudah tak sabar langsung menerobos masuk ke dalam begitu juga dengan Sesil.
"Nak, tenangkan dirimu. Dady paham kau pasti tak tega melihat proses melahirkan. Duduklah" James mengajak Dave untuk duduk di bangku panjang.
Sementara Nathan mengernyitkan dahinya melihat Dave yang seperti orang linglung.
"Om, masuk saja, biar Dave bersama Nathan di sini"
"Hm, titip Dave ya nak" James kembali berdiri dan menepuk pundak Nathan, lalu langkah kaki James membawa tubuhnya masuk ke dalam ruangan tempat di mana putrinya berada saat ini
Nathan memiringkan wajahnya menatap ke arah Dave yang duduk termenung di sampingnya, bahkan wajahnya masih terlihat pucat " Kau baik-baik saja Dave?"
"Hm.." Dave hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Sunyi..
Sunyi..
Sunyi..
Dave masih terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Nathan merasa penasaran sebenarnya apa yang sudah terjadi saat proses persalinan berlangsung hingga membuat Dave seperti itu.
"Nath, sungguh luar biasa perjuangan seorang wanita saat melahirkan. Aku sampai tak tega melihat istriku menahan rasa sakit" Dave membuka suara.
"Memangnya sesakit itu? apa semenakutkan itu?" tanya Nathan sedikit tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Dave
Tanpa menunggu jawaban Nathan, Dave beranjak berdiri dan kembali masuk ke dalam ruangan untuk melihat istri serta anaknya.
Saat Dave masuk ke dalam ruangan, terlihat ayah mertuanya sedang menggendong anaknya.
Dave melangkahkan kaki mendekat ke arah Imelda yang sedang tersenyum melihat ayahnya menggendong anak yang baru saja di lahirkan olehnya.
"Terimakasih sayang" Dave memberikan usapan lembut di puncak kepala Imelda. Bahkan mata Dave terlihat berkaca-kaca.
"Kau bicara apa" Imelda mengerucutkan bibirnya.
"Cepat gendonglah putra kita" imbuh Imelda menatap ke arah Dave, pasalnya tadi saat anak mereka sudah lahir ke dunia Dave malah memutuskan untuk langsung keluar dari ruangan tanpa sempat menggendong putra mereka.
Dave mengangguk mengerti akan perkataan istrinya, dia kemudian mengambil alih putranya yang di gendong oleh ayah mertuanya.
Dave menatapi wajah mungil bayi yang kini berada dalam dekapannya.
Garis wajahnya sangat mirip dengannya, namun kulit bayi mungil dalam gendongannya mirip sekali dengan kulit Imelda yang putih bersih.
"Dia sangat tampan sepertiku" Dave dengan gemas memberikan putra pertamanya kecupan.
"Iya karena dia laki-laki sudah pasti tampan" ketus Imelda.
"Kemarikan putraku" Imelda mengangkat kedua tangannya di ke udara
__ADS_1
"Hei bukan putramu, tapi putra kita berdua. Kau lupa kalau aku lah yang bekerja keras hingga dia bisa berada dalam rahimmu" Dave tersenyum nakal ke arah istrinya, seketika itu pula Nathan yang baru saja masuk ke dalam ruangan meninju pelan lengan sahabatnya.
"Ah, kenapa kau memukulku" Dave memlototkan matanya ke arah Nathan yang langsung berlalu melewati dirinya.
Nathan hanya mengibaskan tangannya saja tanpa berniat menoleh ke arah sahabatnya, dia benar-benar tidak menyangka kalau Dave bisa mengucapkan kata-kata yang tidak pantas di saat seperti ini.
Dave hanya membrengut dengan kesal melihat tingkah Nathan, tanpa berkata Dave berjalan mendekat ke arah ranjang dan menyerahkan putranya kepada Imelda.
"Kalian ingin memberikan nama siapa untuk putra kalian?" tanya Sesil penasaran.
Imelda dan Dave kompak saling beradu pandang, kemudian bibir keduanya tersenyum lebar.
"Steve Alberic Louis" jawab Imelda dan Dave kompak.
"Nama yang bagus" Dyana menimpali.
Imelda dan Dave memang menyematkan nama kedua keluarga besarnya di belakang nama putranya, Louis adalah nama belakang dari Dady James, sementara Alberic adalah nama keluarga besar Dave.
Kini mereka mengobrol santai di ruangan sambil menunggu kedatangan orang tua Dave yang berdomisili di Jerman.
Suara tangisan Steve membuat Sesil ingin segera melihat anak dalam kandungannya. Sesil sudah tak sabar ingin merasakan indahnya menjadi seorang ibu.
"Sil, bagaimana kalau anak kalian perempuan, kita jodohkan saja anak kita?" Seru Imelda antusias
"Tidak bisa. Aku tidak mau memiliki besan dengan suara cempreng sepertimu" keluh Nathan
"Hei, beraninya kau mengatai istriku" Dave melingkarkan tangannya di leher Nathan
"Lepaskan bodoh" ketus Nathan.
Kini keduanya terlihat adu argumen satu sama lain, sementara Sesil yang sedang duduk di samping pembaringan Imelda hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Vote
Like
__ADS_1
Komentarnya
Jangan hanya jadi pembaca gelapš¤£