Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Mengingat


__ADS_3

Sesil berbaring di samping tubuh nathan, kepala sesil menyandar pada tangan nathan yang di gunakan sebagai bantal oleh nya, Keduanya sama-sama sedang mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat aktivitas panas yang mereka lakukan hampir dua jam.


Nathan tersenyum puas saat bisa melampiaskan kerinduannya pada istrinya yang selama seminggu ini di rawat di rumah sakit. Kesunyian begitu terasa, hanya terdengar deru nafas keduanya yang berpadu dengan detak jam dinding kamar yang mereka tempati saat ini.


"Lusa ada reuni sayang, kau tidak lupa kan?" Nathan mengusap keringat uang tersisa di dahi istrinya dengan begitu lembut dan penuh perasaan.


"Tapi aku tidak menerima undangannya, jadi aku sepertinya tidak akan datang" Imbuh sesil dengan suara yang begitu malas di dengar di telinga nathan.


Nathan hanya menggelengkan kepalanya saja, rasanya dia tau alasan istrinya enggan datang ke acara reuni sekolah mereka. Bukan perihal Undangan melainkan teman-teman dari istrinya yang tidak pernah tulus menjadi temannya. Semua teman wanita di sekolah Sesil baik padanya hanya karena melihat status yang papinya miliki.


Bahkan pernah sekali kala itu,sesil datang ke sekolahnya menaiki angkutan umum karena sesil memang sangat senang bila hidup dengan kesederhanaan. Karena semua kekayaan yang keluarganya miliki hanya titipan Tuhan, jadi sewaktu-waktu Tuhan bisa mengambilnya. Maka dari itu papinya selalu mendidik putri semata wayangnya untuk law profil dan hidup dalam kesederhanaan di tengah berlimpahnya harta mereka.


Saat itu,nathan melihat sendiri dengan matanya, beberapa teman sesil mencibir sesil dengan cemooh kata-kata yang tidak pantas. Namun sayangnya bukannya membalas perbuatan mereka,sesil lebih memilih diam dan acuh


Sikap sesil yang seperti itu membuat rasa kagum di hati nathan tumbuh semakin berkembang.


Jadi wajar saja jika sekarang Sesil menolak datang ke acara reuni tersebut.


Tapi kondisi saat ini sudah berbeda, sekarang Sesil sudah menjadi istrinya maka nathan tidak akan membiarkan siapapun menyakiti maupun menghujat Sesil.


"Temani aku, apa kau tega aku datang ke sana sendirian? lalu bagaimana kalau para gadis menggodaku? apa kau tidak cemburu?" Ucap nathan lagi.


Sesil hanya terdiam saja tidak merespon, karena dia benar-benar enggan untuk datang ke acara tersebut.


Dan meskipun para gadis menggoda Nathan pada acara tersebut, Sesil yakin Nathan tidak akan tergoda, pasalnya sesil tau betul Nathan selalu bersikap dingin terhadap para gadis yang mendekatinya.


"Pergilah bersama teman-temanmu, aku tidak akan cemburu" Sesil melebarkan senyumnya dengan wajah yang begitu polos, dan Rasanya Nathan begitu kesal mendengar perkataan istrinya. Jika istri lain akan mati-matian menjaga suaminya dari para penggoda tapi sesil? dia terlihat begitu tenang saja.


Akhirnya Nathan pun mengalah dan memilih diam, karena dia tau istrinya tidak bisa di paksa dalam hal yang tidak dia sukai.


"Nath, bagaimana tander dari tuan Tanaka, apakah kau berhasil mendapatkannya? Beliau adalah client lama papi nath,sudah sejak saat papi masih merintis bisnisnya dulu"


"Hm..." Wajah Nathan nampak berubah menjadi datar tanpa ekspresi, dan sesil pun memahami ekspresi suaminya.


"Tidak apa-apa, pasti papi tidak akan marah, karena papi tau betul Tuan Tanaka akan sangat selektif memilih calon rekan bisnisnya" Imbuh sesil lagi sembari mengusap lembut pipi Nathan.


"Kau meragukan kemampuanku hm?" Nathan menatap kedua bola mata istrinya dengan begitu tajam


"Tuan Tanaka bahkan langsung menandatangi kontrak kerja sama setelah aku mempresentasikan proposalku" Nathan tersenyum lebar sembari mencubit pipi sesil dengan begitu gemasnya.


"Sakit..." Sesil berucap dengan begitu manja sembari mengusap pipinya.


"Mana yang sakit sayang?" Nathan memberikan kecupan di pipi kanan sesil yang tadi di cubit olehnya.


Seketika sesil tersenyum lebar karena mendapat perlakuan begitu manis dari Nathan.


Namun tiba-tiba saja Nathan mengingat perkataan imel perihal Rasa.


Seketika Nathan tersenyum sendiri menatap langit-langit kamarnya, membuat sesil mengernyit keheranan akan tingkah dari nathan yang tiba-tiba saja tersenyum tanpa sebab.


"Halo? ini siapa ? cepat katakan!!" Sesil menekan kening nathan dengan telapak tangannya dan mempraktekkan gaya paranormal yang sedang mengobati orang kerasukan, sesil sering sekali melihatnya di tayangan YouTube.


"Cepat keluar jangan ganggu suamiku" Imbuh sesil lagi sembari lebih menekan telapak tangannya ke arah kening nathan, membuat nathan menggelengkan kepalanya akan tingkah konyol sesil.


Sedangkan Sesil seketika tertawa dengan begitu renyah. Bahkan tawanya terdengar begitu mengisi ruang kamar yang saat ini mereka tempati.


"Sayang, kau menyimpannya dimana?" Seru nathan

__ADS_1


"Apa??" Sesil menjawab sembari terus tertawa


"Balon dari imelda?" Imbuh nathan lagi


"Balon? Balon apa?" Sesil mengernyit heran akan pertanyaan nathan, bahkan sekarang keningnya terlibat membentuk beberapa lipatan yang menandakan dirinya sedang berpikir keras.


Namun seketika sesil mengingat satu kado pemberian imelda yang dia sembunyikan di salah satu koper yang terdapat di dalam lemari pakaian.


Wajah sesil berubah menjadi merona saat mengingat barang tersebut. Meskipun kini sesil sudah beberapa kali melakukan hal tersebut dengan nathan, namun mereka melakukannya dengan alami tanpa pengaman.


Karena memang sesil ingin segera mempunyai anak dari Nathan dan memberi papinya cucu yang lucu supaya Papinya tidak merasa kesepian dan setidaknya jika sudah ada Cucu, papinya akan sedikit mengurangi jam kerjanya di usianya yang sudah terbilang tidak muda.


"Sayang..." Nathan menepuk pipi sesil perlahan, mencoba membangunkan sesil dari lamunannya.


"Ah sial, gadis busuk itu mulutnya seperti ember bocor !!! Sungguh memalukan!!!" Umpat sesil dalam hatinya, dia begitu kesal karena imel malah memberitahu nathan kado tersebut.


"Kado imel kan sudah aku kenakan saat kita honey month kemarin" Kilah Sesil, dia mencoba berpura-pura bodoh.


"Sayang, jika kau belum siap memiliki momongan karena usiamu masih terlalu muda, maka kita bisa menundanya, kita bisa menggunakan pengaman untuk mencegah kehamilanmu, Aku tidak akan memaksamu memiliki momongan jika kau belum siap" Nathan melebarkan senyumnya dan kembali mengusap kepala sesil dengan begitu lembut, sedangkan sesil seketika melingkarkan tangannya di dada bidang suaminya yang tak mengenakan pakaian. Sesil begitu merasa bahagia karena nathan selalu bersikap pengertian terhadapnya. Selalu memikirkan kebahagiaan sesil.


"Biarkan semua berjalan secara alami, jika Tuhan mempercayakan kita memiliki momongan saat ini, maka aku akan dengan senang hati mengandung, melahirkan dan membesarkannya bersamamu" Imbuh sesil lirih. Dan betapa bahagianya Nathan mendengar penuturan dari Istrinya tersebut. Dia begitu lega karena ternyata sesil juga menginginkan kehadiran seorang anak untuk melengkapi rumah tangga mereka. Seketika nathan langsung mengecup kepala sesil dan memberikan ciuman begitu banyak di wajah istrinya bahkan nathan memeluk sesil dengan begitu eratnya.


"Aku susah bernafas !!!! Apa kau mau membunuhku hah???" Sesil mendorong tubuh nathan supaya menjauh dari dirinya, namun rasanya tenaga sesil tak cukup kuat untuk mendorong tubuh Nathan, karena tubuh suaminya sama sekali tidak bergerak dari posisinya, malah Nathan semakin erat memeluk Tubuh sesil. Nathan mengendus aroma harum yang di timbulkan dari bau shampo di rambut sesil.


"Lalu dimana kau menyembunyikannya?" Nathan kembali melontarkan pertanyaan yang sama kepada sesil


Sesil mendengus dengan kesal, pasalnya Nathan Masih mengingat hal tersebut.


"Di dalam koper di lemari? Kenapa kau mau mengenakannya?" Seru sesil


"Bisa jadi, jika aku jajan di luar" Nathan mengangkat satu sudut bibirnya membentuk senyuman miring


"Kau ini manusia atau harimau hah? kenapa doyan sekali menggigit aku??"


"Setauku kau vegetarian tapi tak ku sangka kau doyan daging manusia" Nathan terkekeh pelan, membuat sesil mengerucutkan bibirnya dan melepaskan tangan nathan yang melingkar di perutnya. Sesil segera beranjak dari tidurnya dan membalutkan selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya


"Sayang, mau kemana?"Seru Nathan yang melihat istrinya berjalan menjauh dari tempat tidur.


"Mandi, lalu seusai mandi aku akan membantu Bi nung untuk menyiapkan makan malam" Tukas sesil, bahkan tubuhnya kini sudah hilang di balik pintu kamar mandi.


Nathan sejenak melirik ke arah jam dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.


Nathan pun beranjak dari pembaringan dan memungut pakaian yang tercecer di lantai berbaur dengan beberapa bunga lili yang memang nathan sengaja menyebarnya di lantai.


Setelah nathan mengenakan kembali pakaiannya, dia meraih ponsel dan membukanya, terdapat beberapa pesan dari papi Swan yang menanyakan kondisi putrinya saat ini.


Natha mulai menyentuh alfabet yang tertera di layar ponselnya. Kemudian dia mengetik beberapa kata dan kemudian mengirimkan kepada papi Swan.


Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya sesil keluar juga dari dalam kamar mandi. Terlihat rambutnya basah sepertinya sesil habis keramas.


Setelah melihat sesil keluar, nathan segera bergantian memakai kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket akibat keringat.


Sedangkan sesil setelah mengenakan pakaiannya dan menyisir rambutnya, dia segera pergi menuju dapur untuk membantu Bi nung menyiapkan menu makan malam hari ini.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ada saran?


Komentarnya mana?


Pedit komentar ya😔 srayu jadi tambah lemes aja😔


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Ini Visual dari Dave dan imelda


Dave Alberic*



Sarizha Imelda Louis

__ADS_1



__ADS_2