
Sesil masih duduk di sofa ruang kerja kantor papinya, sedari tadi dia sudah merasa jenuh menunggu nathan yang sedang membantu memeriksa keuangan bulanan kantornya.
Sesil sudah beberapa kali bermain sosial media juga game online, bahkan hingga game online nya over, kedua lelaki yang duduk tak jauh darinya masih tak bergeming dari posisi mereka, mereka tetap berkutat dengan beberapa berkas yang berada di hadapannya.
"Pi, sesil pulang ya..?" sesil beranjak dari kursinya dan meraih kresek yang berisi kotak makanan dan memegangnya di telapak tangannya.
"Biar ku antar" seketika nathan menutup map sedang dia baca dan meletakkannya di meja.
"Tidak usah, aku pulang sendiri saja" saut sesil
"Biar di antar suamimu" swan ikut menimpali, dan sesil yang mendengar kata suami terasa begitu asing di telinganya.
Nathan meraih kunci mobil yang di letakkan tak jauh darinya dan hendak beranjak berdiri.
"Tidak usah ya tidak usah, kau di sini saja membantu papi" sesil memlototkan matanya dan berjalan ke arah swan dan nathan.
Sedangkan nathan menaikkan kedua alisnya ke arah sesil.
Sesil berjalan melewati nathan yang duduk berhadapan dengan swan, lalu sesil mendekat ke arah papinya dan mengecup pipi kanan swan.
"Pi sesil mau ke rumah tante rara, kangen sama oma" sesil menyunggingkan senyum manisnya.
Dan di balas anggukkan oleh swan sebagai jawaban, setelah mendapat anggukkan dari papinya, sesil beralih menatap nathan yang juga sudah kembali mendudukkan dirinya di kursi yang sempat dia duduki.
"Nath, aku ke rumah tante rara boleh?" Meskipun sesil belum yakin dengan perasaannya, tapi setidaknya dia harus menghargai posisi nathan.
"Hati-hati, biar di antar sopirku" seru nathan, seketika sesil tersenyum lebar dan berjalan meninggalkan kedua lelaki yang sedang sibuk dengan filenya,namun ketika tangan sesil menyentuh knop pintu, tiba-tiba saja, papinya memanggil namanya, seketika sesil menghentikkan niatnya untuk membuka pintu dan menoleh kembali ke belakang.
"Kenapa pi.?"
"Kau mencium papi, tapi tidak mencium suamimu?" swan menatap usil ke arah putrinya.
Sesil mendengus kesal mendengar ucapan papinya.
""Nathan sudah puas semalam pi" kali ini nathan ikut menimpalinya bahkan nathan menahan senyumnya.
"Oh ya ? baguslah ! Cepat beri papi cucu yang lucu" swan menepuk bahu menantunya yang duduk tepat di hadapannya, sedangkan sesil melebarkan matanya serta wajahnya terasa sangat panas karena merona menahan malu, sesil merasa geli dengan sikap mesum nathan dan omongannya yang selalu saja fulgar.
"Diamlah" sesil memlototkan matanya ke arah nathan yang juga sedang menatapnya dan tersenyum menggoda.
"Aku pamit" imbuh sesil lagi, dengan tergesa-gesa sesil membuka pintu dan berlalu dari ruang kerja papinya.
"Pasti dia malu" imbuh swan lagi, kemudian nathan dan swan sama-sama tertawa melihat ekspresi sesil.
Kemudian swan dan nathan kembali sibuk melihat ke arah map yang berisi deretan angka itu.
***
"Oma, sesil datang" sesil berteriak memanggil omanya saat dirinya membuka pintu rumah rara yang kebetulan tidak di kunci, kemudian Sesil melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
"Opah" sesil berlari kecil ke arah kinos yang sedang duduk sambil membaca koran.
"Cucu opah datang?" kinos menyambut kedatangan cucu pertamanya dengan merentangkan kedua tangannya, dan sesil langsung menghambur ke dalam pelukan opahnya.
Setelah cukup lama berpelukan dengan kinos, sesil melepaskan pelukannya dan mencari ke keliling ruangan, sesil tidak melihat oma nya.
"Oma dimana, opah?" pandangan mata sesil kini beralih ke arah opahnya.
"Sedang istirahat di kamar sepertinya oma kelelahan akibat acara kemarin" saut kinos, mendengar penuturan opahnya, seketika sesil menjadi khawatir karena memang omanya memiliki penyakit jantung yang sudah lumayan kronis.
Sesil meminta ijin kepada kinos untuk menemui anne, setelah mendapat ijin sesil langsung menuju kamar omanya yang terletak tak jauh dari ruang tamu, karena memang tantenya sengaja memilih kamar kedua orang tuanya di lantai satu, supaya kedua orang tuanya tidak harus lelah naik-turun tangga.
Sesil perlahan membuka pintu kamar anne, kepala sesil masuk terlebih dahulu dan melihat kondisi di dalam sana.
"Sesil..?" suara anne begitu terdengar lirih, sesil yang mendengar panggilan dari omanya langsung melebarkan senyumnya dan masuk ke dalam kamar, Anne memang tidak tidur, dia hanya merebahkan tubuhnya yang terasa lelah saja.
Sesil kini duduk di samping ranjang omanya, sedangkan anne terlihat menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan oma?" sesil meraih tangan anne yang sudah terlihat beberapa keriputan di sana.
"Hanya mengantuk saja" anne tersenyum ke arah cucunya, rasanya ada kelegaan tersendiri bisa melihat cucu perempuannya menikah kemarin, padahal anne sudah takut jika tuhan terlebih dahulu memanggil dirinya sebelum sesil menikah, tapu nyatanya tuhan memberi waktu dirinya untuk menyaksikan pernikahan cucunya.
Bukan anne membedakan antara sesil dan keandra, tapi sesil berbeda dengan keandra.
Keandra tumbuh dan di besarkan dengan kedua orang tua yang lengkap serta keluarga yang begitu hangat, sedangkan sesil, dia di besarkan seorang diri oleh papinya, dan sedari kecil sesil sudah mendapat ketidak adilan dengan di di lahirkan secara paksa oleh opahnya sendiri, bahkan opahnya sudah tega memisahkan sesil dengan maminya.
Dan saat tuhan mengembalikkan maminya dan keutuhan keluarganya, ternyata takdir indah tidak bertahan lama, sesil harus melihat di depan mata kecilnya maminya tewas mengenaskan di pangkuan papinya.
Anne menarik panjang nafasnya, dan mencoba tersenyum ke arah cucunya, kemudian tangan kiri anne terulur mengusap kepala sesil.
"Cucu oma sudah menikah ya, semoga apapun cobaan yang datang kelak, kalian tetap bisa memegang janji suci kalian, dan kau harus selalu melayani suamimu dengan baik"
"Hmmm, oma" sesil memeluk tubuh renta anne.
"Setidaknya oma sudah lega, sudah bisa menyaksikan kau menikah sebelum oma di panggil tuhan"
"Oma bicara apa, sesil selalu mendoakan oma sehat terus, biar bisa menemani sesil" sesil semakin mengeratkan pelukannya.
Kemudian mereka berdua berbincang-bincang hingga sore hari, saat di rasa sesil sudah puas berbincang, sesil kemudian meminta izin untuk pulang ke rumahnya.
*****
Sesil sedang memanjakan dirinya di dalam rendaman busa di dalam bath up kamar mandinya, karena memang sesil sangat suka berlama-lama mandi busa, rasanya sangat begitu menenangkan dan menyenangkan.
Setelah hampir satu setengah jam, sesil akhirnya memutuskan menyudahi acara rendamannya, dan mengeringkan badannya dengan handuk berwarna putih. Setelah di rasa tubuhnya kering, sesil kemudian mengenakan handuk kimononya dan keluar dari kamar mandi.
Sesil mematut dirinya di depan cermin rias kamarnya dan mengeringkan rambutnya menggunakan hair driyyer setelah di rasa rambutnya kering, sesil kemudian menuju lemari pakaian dan menggeser pintu lemari. Kemudian sesil memilih sebuah gaun rumahan berwarna hitam tanpa dengan panjang di atas lutut dan mengenakannya.
Gaun tersebut membuat kaki jenjang sesil terekspos begitu sempurna, bahkan warna gelap dari gaun tersebut membuat kulit putihnya semakin terlihat terang.
Saat sesil baru saja selesai mengenakan pakaian, terdengar deru mobil memasuki garasi rumahnya, sesil segera berlari kecil menuju tepi jendela untuk melihat mobil siapa yang datang, dan saat melihat mobil papinya yang datang, sesil sedikit merasa kecewa.
Sesil kemudian keluar untuk menyambut papinya dan menanyakan keberadaan nathan, karena terakhir kali nathan itu bersama papinya dan seharusnya juga nathan kembali bersama papinya.
"Pi, sudah pulang?" pertanyaan sesil seketika menghentikan langkah kaki swan yang hendak memasuki kamar tidurnya.
"ehm... maksud sesil..." sesil ragu mengucapkan kata-katanya, dan sejenak dia menutup mulutnya rapat-rapat.
"Ya sudah papi mandi dulu" swan hendak melangkahkan kakinya masuk, tapi tiba-tiba sesil memanggilnya lagi.
"Pi tunggu, ehmm kok papi tidak pulang bersama nathan?" Sesil akhirnya tak kuasa lagi menahan rasa keingintahuannya yang sudah berkecamuk di dalam otaknya.
"Suamimu belum pulang? tadi setelah membantu papi, suamimu kembali lagi ke kantornya, mungkin ada pekerjaan yang harus di selesaikan makannya dia belum pulang" jelas swan panjang lebar, kemudian sesil hanya menganggukkan kepalanya saja, kemudian sesil dan swan mengakhiri percakapan mereka dan masuk ke kamar masing masing.
Waktu terus berputar, sekarang sudah menunjukkan pukul 09.00pm, sesil masih berguling ke sana kemari di atas ranjangnya karena merasa gelisah menunggu kepulangan nathan.
Sesil meraih ponselnya hendak mengirim pesan kepada nathan untuk menanyakan keberadaannya tapi niat itu sesil urungkan saat mendengar deru mobil memasuki garasi rumahnya, sesil beranjak dari ranjangnya dan berlari ke arah jendela melihat siapa yang datang, dan ketika melihat nathan baru saja turun dari mobil hati sesil menjadi lega.
Kemudian sesil kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan berpura-pura memainkan ponselnya.
Ceklek...
Sesil mendengar pintu kamarnya di buka, tapi sesil masih terus berpura-pura tidak menghiraukan kedatangan nathan.
"Belum tidur?" Nathan meletakkan tas kantornya di atas sofa, dan melepas sepasang sepatu yang melekat di kedua kakinya.
"Menurutmu?" saut sesil, sesil merasa kesal karena nathan pulang larut malam tidak memberi kabar padanya, bahkan sesil hingga menolak ajakan makan malam papinya tadi, dan kini perutnya terasa keroncongan karena belum makan dari siang.
Nathan kini mendudukkan dirinya di samping sesil yang sedang berbaring, mata nathan terpesona melihat kecantikan sesil malam ini yang mengenakan, hormon lelakinya kembali bangkit.
Tapi tiba-tiba nathan terkejut karena sesil beranjak duduk dan menarik dasi yang masih melingkar di kerah baju kerja nathan.
"Kenapa kau membuatku menunggu lama?" sesil menatap kedua bola mata nathan yang kini berjarak sangat dekat dengannya, rasa kesal sesil mengalahkan detak jantungnya yang sudah menari-nari di dalam dadanya.
"Menunggu lama?" gumam nathan dalam hatinya, seketika hormon lelaki yang tadi sempat muncul kini tambah bergejolak dengan hebatnya, pikiran liar nathan sebagai lelaki normal sudah entah kemana.
__ADS_1
Nathan dan Sesil dalam diam saling memandang, sedangkan tangan sesil masih memegang dasi yang nathan kenakan.
Perlahan nathan mendekatkan bibirnya dan mulai mencium bibir sesil perlahan, sesil yang mendapat ciuman tiba-tiba dari nathan seketika melebarkan matanya karena terkejut, sedangkan nathan sudah memejamkan matanya dan mulai menikmati bibir sesil yang terasa begitu manis seperti permen gulali.
Sesil mencoba membuang jauh-jauh perasaan takutnya, karena sesil juga ingin memenuhi apa yang seharusnya di penuhi.
Sesil memejamkan matanya dan mulai mengikuti ciuman nathan yang terasa begitu lembut.
Ini sama-sama ciuman pertama untuk nathan dan sesil.
Sesil nampak kaku membalas ciuman nathan, tapi berbeda dengan nathan, meskipun ini yang pertama tapi naluri sebagai laki-laki membuat nathan begitu lihai.
Ciuman yang awalnya lembut kini berubah menjadi ganas, nathan mulai menggigit bibir sesil dan perlahan merebahkan tubuh sesil ke atas ranjang dan mulai menindihnya.
Tangan nathan mengikuti arah ciuman mereka yang semakin memanas, tangan nathan mulai melepaskan resleting gaun yang sesil kenakan, seketika tubuh sesil bergetar hebat, kejadian penculikan yang di lakukan oleh dean kembali berputar di memori otaknya, rasa takut mulai menguasai diri sesil, dan karena rasa takut serta trauma yang begitu hebat akibat pelecehan yang dean lakukan, bulir air mata tiba-tiba menetes begitu saja dari sudut mata sesil.
Air mata sesil mengalir hingga ke bibirnya, nathan yang merasakan rasa air mata sesil seketika melepaskan ciumannya dan membuka matanya, nathan terkejut melihat sesil yang masih memejamkan matanya dengan tubuh gemetar dan air matanya mengalir di kedua surut matanya.
"Maaf.." nathan mengusap air mata sesil dengan kedua ibu jarinya dan seketika itu pula dengan perlahan sesil membuka matanya dan melihat ke arah nathan yang duduk menatap dirinya yang masih berbaring.
Sesil menarik nafasnya dengan begitu berat, dan beranjak duduk lalu memeluk nathan.
"Maafkan aku" seru sesil lirih, sesil mengeratkan pelukannya kepada nathan, dan nathan pun membalas pelukan sesil dan mengusap punggung sesil, memberi ketenangan kepada sesil.
"Sudah jangan menangis" nathan melepaskan pelukan sesil dan tersenyum manis ke arah sesil yang masih terlihat menangis
"Cup..cup.." nathan mencubit pipi sesil dengan gemas
"Aku yang harusnya meminta maaf sudah memaksamu, seharusnya aku tidak melakukan itu, aku akan menunggumu sampai siap" nathan kemudian mengecup mesra kening sesil.
Setelah cukup lama mengecup kening sesil, nathan memutuskan untuk pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang sudah lengket akibat keringatnya.
Sedangkan sesil menenangkan pikirannya dan merebahan kembali dirinya di atas ranjangnya sembari menunggu nathan menyelesaikan mandinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ehm, srayu itu suka baca komentar kalian yang unik dan lucu.
Buat hiburan sama srayu, soalnya kalo pulang kerja kegiatannya cuma nulis aja😁
Bahkan srayu suka post komentar kalian yang unik di sosial media srayu loh😁
__ADS_1
walaupun srayu nggak bales satu persatu, tapi srayu baca kok saran dan masukkan dari kalian😘
makasi sayang-sayangkuh😘😘😘