
Sesil dan Nathan masih menikmati makan malam di meja makan. Rumah mereka terasa begitu hening, karena hanya ada mereka berdua, dua bodyguard, satu asisten rumah tangga, dan satu satpam yang berjaga di depan sana bersama dua bodyguard yang Nathan sewa untuk menjaga istrinya selama nathan tak ada di samping Sesil.
Nathan terlihat sibuk mengunyah makanan yang memenuhi rongga mulutnya, sedangkan sesil merasa begitu tak bernafsu makan. Perutnya terasa begitu tak nyaman.
Bahkan saat kemasukan nasi sesil begitu merasa enek dan ingin memuntahkannya kembali.
Kedua tangan sesil yang memegang garpu dan sendok hanya sibuk mengacak-acak makanan tanpa sesil berniat memakannya.
Nathan menyeka mulutnya dengan selembar tisu yang baru saja dia ambil dari tempatnya.
Kedua alisnya menaut sempurna ketika melihat makanan istrinya masih penuh di piringnya.
"Sayang, Ada apa? kenapa makananmu masih utuh?" Seru Nathan, sesil hanya mengerucutkan bibirnya dan menggelengkan kepala. Rasanya dia sangat enggan menjawab pertanyaan Nathan.
"Keandra lama tidak terlihat ya? apa dia pernah menghubungimu?" Seru sesil
"Keandra sedang sibuk mengurus berkas pendaftaran untuk masuk universitas, yang aku dengar Keandra akan melanjutkan study di kampus yang sama seperti kita" Imbuh Nathan.
Sesil nampak menyipitkan matanya dan nampak memikirkan sesuatu, rasanya dia tak ingin tinggal berjauhan dengan adik sepupunya itu, Sesil begitu menyayangi Keandra, meskipun Kean sering bersikap manja dan menyebalkan, tapi kean selalu bisa di andalkan dan bisa di ajak bercerita oleh sesil.
"Kau kenapa? Apa kau merindukan kean?" Nathan meraih tangan istrinya dan menggenggamnya, kedua mata Nathan memandang ke kedua bola mata istrinya.
"Aku ingin...." Sesil diam sejenak tak melanjutkan lagi kata-katanya, karena dia tiba-tiba ingin Wedang Jahe serta makanan yang biasa dirinya dan kean beli di angkringan langganan mereka.
"Ingin apa sayang? Katakanlah?" Nathan melebarkan senyumnya, namun tidak dengan Sesil, dia terlihat begitu malas, dan tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Sesil menjauhkan tangan Nathan dari tangannya dan segera beranjak dari kursi meja makan dan meninggalkan Nathan seorang diri di sana.
Nathan menatap heran punggung sesil yang terlihat menjauh darinya.
"Kambuh lagi sikap menyebalkannya" Nathan mendengus dengan begitu kesal akan sikap istrinya, tapi Nathan mencoba sabar menghadapi sikap manja Sesil, sikapnya yang seperti itu menunjukkan kalau di antara hubungan mereka sudah tidak ada jarak lagi. Tidak seperti saat awal pernikahan, sesil selalu bersikap datar dan jarang berbicara padanya.
Nathan meraih ponsel yang di selipkan di saku celananya, kemudian dia menyalakan ponselnya dan mencari nomor Keandra, setelah menemukan nomor keandra, nathan lantas langsung menghubunginya.
tut...tut...tut...
"Halo kak..." Suara keandra terdengar dari dalam ponsel milik Nathan yang di tempelkan di daun telinganya
"Maaf kakak mengganggu ndra, begini loh jadi kak sesil itu tadi tidak mau makan, dan dia tiba-tiba menanyakanmu" Nathan menarik nafasnya
"Lalu kakak mu bilang, dia ingin..." Nathan menghentikan lagi ucapannya.
"Ingin apa kak?" jawab keandra
"Nah itu ndra, kakak juga tidak tau, karena saat kakak tanya dia malah menekuk wajahnya dan kembali masuk ke kamar, tapi dia belum makan malam" Ucap Nathan terdengar kebingungan.
"Oh.., keandra tau kak, kakak sekarang hibur kak sesil dulu, sebentar lagi kean akan datang ke sana" Tanpa menunggu jawaban dari Nathan, keandra langsung mematikan panggilan suaranya.
"Kakak beradik sama saja ! sama-sama menyebalkan" Nathan mengumpat ponsel yang di genggamnya, lantas dia segera menyusul sesil ke kamarnya.
Nathan membuka pintu kamar perlahan dan masuk ke dalamnya lalu menutup pintu kamar tersebut kembali.
Nathan menyoroti tubuh sesil yang tidur memunggunginya, bahkan sesil membalutkan selimut hingga lehernya.
Bahkan lampu kamar juga sudah di matikan dan hanya menyalakan lampu meja saja.
Tanpa menyalakan lampu, nathan mendudukkan serta menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
Tangan Nathan terulur mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Sayang, sedari siang kau belum makan? Ingat kau baru saja sembuh, makanlah yang teratur" Ucap Nathan lirih, namun sesil masih tak bergeming akan posisinya.
"Kau mau makan apa? biar aku belikan hm?" Ucap Nathan lagi, ucapan Nathan kali ini berhasil menarik perhatian sesil, sesil membalikkan badannya dan menatap ke arah nathan yang kini duduk tepat di sampingnya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sesil mengangkat kepalanya dan meletakkan di pangkuan suaminya.
Nathan hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.
"Aku merindukan Papi dan Kean" Ucap sesil lirih
"Ayo kita ke rumah papi, jika kau mau menginap di sana juga boleh" Nathan melebarkan senyumnya sembari tangannya terus sibuk mengusap kepala istrinya.
Nathan paham betul kalau sesil pasti menghawatirkan papinya, karena yang seperti nathan ketahui papi mertuanya memilih menduda dan menghabiskan sisa hidupnya tanpa pasangan lagi.
Papi mertuanya begitu mencintai mendiang Mami sesil hingga beliau tidak mau menikah lagi dan bahkan beliau selalu menyempatkan waktunya untuk mengunjungi makam mendiang istrinya di tengah kesibukannya.
Namun tiba-tiba saja terdengar suara deru mesin motor di bagasi rumah mereka, seketika Sesil mengernyit heran karena yang biasanya menggunakan motor hanya keandra saja.
"Nath kean kemari???" Sesil mendongakkan kepalanya menatap suaminya, dan sebagai jawabannya Nathan menganggukkan kepalanya.
Sesil langsung melompat turun dari ranjang dan berlari untuk menghampiri adik sepupunya.
"Sayang hati-hati" Nathan menyusul istrinya yang sedang berlari menuruni anak tangga.
Tanpa permisi, Keandra ternyata sudah memasuki rumah mereka dengan membawa kresek hitam di kedua tangannya.
__ADS_1
"Kakak??? Lihat kean bawa apa!!" Kean melebarkan senyumnya sembari menunjukkan kresek yang di bawanya.
"Wedang jahe(Air jahe), nasi ikan asin, sate telor puyuh, dan gorengan" Seru kean dengan penuh semangat.
Seketika wajah sesil begitu berbinar saat mendengar ucapan adiknya itu, dengan segera sesil menarik keandra untuk duduk di ruang makan.
Dengan segera Sesil mencuci tangannya dan mengambil makanan yang kean bawa.
Sesil dengan lahap memakan nasi angkringan yang adiknya bawa, kean juga tak mau kalah,dia segera mencuci tangan dan ikut makan bersama Sesil. Keduanya makan begitu lahap hingga tak menyadari kehadiran nathan yang memasuki ruang makan sembari menatap aneh ke arah dua kakak beradik yang makan dengan begitu rakus.
Makanan yang terlihat begitu asing di mata Nathan.
"Kean kau bawa apa?" Seru Nathan
Sedangkan kean yang kala itu sedang menggigit sate usus dan mulutnya penuh dengan nasi hanya bisa menanggapi pertanyaan Nathan dengan tersenyum.
"Cobalah nath, ini enak sekali !!! Nasi angkringan di dekat pasar Johar" Seru sesil dengan penuh semangat, bahkan Nathan melihat sendiri istrinya makan begitu rakusnya.
"Nasi angkringan? dekat Pasar Johar? Maksudmu makanan pinggir jalan?" Nathan menyipitkan matanya menatap kean dan sesil secara bergantian, Namun kedua kakak beradik itu menggunggukkan kepala dengan begitu kompaknya, membuat nathan membuka mulutnya lebar saking terkejutnya.
Nathan tak menyangkan ternyata di balik nama Cornelio yang melekat di belakang nama kedua kakak beradik ini, mereka hidup sederhana dan mau makan makanan pinggir jalan. Nathan begitu mengagumi cara mendidik dari keluarga istrinya.
Nathan menarik kursi dan duduk bersebelahan dengan sesil.
"Aku sudah kenyang sayang, pelan-pelan makannya" Nathan mengusap sisa nasi di bibir tipis istrinya.
"Tapi lain kali, kalian harus mengajakku makan di sana ya" Imbuh nathan lagi sembari tersenyum dan menatap Kean dan Sesil secara bergantian.
Sesil dan Kean menikmati makanan mereka, sedangkan Nathan menikmati wedang jahe yang di bawa oleh keandra.
***
Sementara itu, di dalam Ruang rawat Dave baru saja menutup laptopnya dan mengemasi semua dokumen yang baru saja dia bereskan. Sejenak dia melirik ke arah imelda yang masih terlelap di atas ranjang, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07.35pm.
Perut Dave beberapa kali berbunyi, karena dia memang merasa lapar.
Bentol di tubuhnya juga sudah berangsur membaik, meskipun masih ada sedikit bercak merah namun Dave merasa kondisinya sudah benar-benar membaik.
Dave meraih ponselnya dan meng order makanan via online.
Rasanya Dave ingin pulang, namun dia tidak tega meninggalkan dokter cempreng itu sendirian di sini.
"Kalau satu jam lagi dia belum bangun, aku akan menyiramkan seember air padanya" Gerutu Dave sembari menyandarkan punggungnya yang terasa pegal karena lelah bekerja.
Setelah hampir menunggu 20menit, akhirnya makanan yang Dave pesan sudah datang, dan sang kurir meminta Nathan untuk mengambil makanannya di lobi rumah sakit.
Setelah memberikan beberapa lembar uang dan mengambil box makanannya, Dave segera kembali ke dalam ruang rawatnya kembali.
^
Dokter Li membawa selembar surat keterangan sehat untuk Dave, namun saat Li mengetuk pintu dan tidak mendapat jawaban, dia pun membuka pintu perlahan dan seketika matanya terbuka lebar saat melihat Imel yang berbaring di atas ranjang, bahkan di tangannya terdapat slang infus.
Dengan segera Li berjalan mendekat menuju ranjang.
Li menatap wajah imel yang sedang terlelap, begitu manis dan menenangkan jiwa.
Tangan Li perlahan terangkat dan mengusap pipi imel dengan begitu lembut.
Pandangan mata Li tersita saat melihat bibir tipis milik Imel, dengan perlahan Li mengusap bibir imel dan ibu jarinya, dia dengan susah payah menelan air liurnya.
Dan entah imel sedang bermimpi apa, tiba-tiba saja imelda tersenyum begitu manis. Membuat Li kehilangan kontrol dan mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Imel.
Semakin dekat dan semakin dekat, bahkan nafas hangat Li begitu terasa panas di wajah Imel, membuat gadis itu tersadar dari tidurnya dan perlahan membuka matanya.
Namun betapa terkejutnya saat melihat wajah Li yang sudah sangat dekat dengannya dengan mata terpejam
"Ahhhhh" Imel mendorong tubuh Li menjauh darinya, seketika Li membuka matanya dan mundur beberapa langkah menjauh dari imelda.
Dave yang baru saja kembali dari mengambil makanan seketika panik saat mendengar suara jeritan imelda yang begitu terdengar jelas dari luar ruangan.
"Dokter Li !!!!! Apa yang hendak anda lakukan??" Suara Imelda sangat memekikkan telinga siapa saja yang mendengarnya.
Imel terlihat begitu emosi, pasalnya jika dia tidak bangun tepat pada waktunya pasti Li sudah melecehkannya saat dirinya terlelap.
"Tapi tunggu dulu? Mengapa aku bisa berbaring di sini? Dan ini apa??" gumam imel dalam hatinya, kedua matanya menatap ke arah slang infus yang tertempel begitu rapih di punggung telapak tangannya.
"Kalau aku di sini, lalu dimana dia?" Batin imel lagi, kedua mata imel menyoroti sekitar ruangan namun tidak ada Dave di dalamnya.
"Ada apa???" Suara bariton milik Dave yang baru saja memasuki ruangan tersebut berhasil mengalihkan perhatian dari Imel dan Li.
"Dokter???" Dave mengernyitkan dahi saat melihat Wajah Li yang kebingungan.
"Dokter Li kemari hanya mah mengantar surat keterangan sehat untukmu!! Iya kan dok??" Imel menatap sinis ke arah Li, mendapat tatapan tersebut, Li menganggukkan kepala dan segera memberikan surat tersebut kepada Dave, setelah memberikannya Li segera berpamitan keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Dave sebenarnya curiga, namun dia tak mau ambil pusing dan hanya mengangkat kedua bahunya saja.
"Kau ini koma atau tidur sih??" Seru Dave yang kini baru saja mendaratkan tubuhnya di atas sofa.
"Dari siang kau tidur dan baru bangun jam segini? menggelikan sekali perempuan macam kau" Suara Dave terdengar begitu sinis, dan tangannya asik mulai membuka box makanan yang baru saja dia order.
Sedangkan sesil hanya menggertakkan giginya karena merasa geram. Dia ingin menjawab namun rasanya begitu malas.
Dia segera menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan melepaskan plester yang menempel ri tangannya.
"Kau memindahkan aku hah?" Seru imel menatap ke arah Dave yang sedang asik menikmati makanan.
"Aneh!!!" Seru Dave
"Siapa hah? aku???" Seru imelda sembari menunjuk dirinya sendiri
"Iya, kau pikir siapa hah? kau ini mengigau dan berjalan menuju ranjang, bahkan kau memaksaku turun dari ranjang dan melepaskan dengan paksa slang infus dari tanganku!!" Ucap Dave dengan begit santainya
Imel terlihat melongo mendengar penuturan dari Dave, pasalnya memang dulu saat kecil Imel memiliki kebiasaan suka berjalan saat tidur.
Namun kebiasaan tersebut sudah jarang sekali di lakukan semenjak dia di angkat anak oleh Mama Dyana dan Papa james.
Imel hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum kecut, rasanya dia begitu malu jika memang yang di katakan Dave benar adanya.
Imel rasanya begitu malu hingga rasanya sudah tak memiliki muka di hadapan Dave. Padahal baru saja Imelda bermimpi bersama Dave, namun mimpinya terganggu saat merasakan pipinya panas akibat nafas Li yang hampir saja melecehkannya.
Imel berjalan mendekat ke arah Dave yang sedang asik menikmati makanannya dan mengacuhkan kehadiran imel. Dengan mengerucutkan bibirnya, Imel mengambil tas jinjing dan membawa barang milik sesil.
"Mau kemana???" Ucap Dave tanpa mengalihkan pandangannya dari box makanan di hadapannya.
"Bukan urusanmu" Tukas Imelda, imel membawa tasnya dan segera berlalu dari hadapan Dave.
"Makanlah, ini aku sudah membelikannya untukmu" Seru Dave
"Oh kau mau balas dendam hah? kau pasti menaruh obat pencuci perut ke dalam makanan itu kan? kau ini sungguh menyebalkan" Seru Sesil sambil berjalan meninggalkan Dave.
"Kau yang menyebalkan !!! Aku berniat baik padamu malah kau menuduhku seperti itu !!!"
"Pergilah !!! Aku juga tidak perduli denganmu!" Tukas Dave. Mendengar penuturan Dave imelda merasa begitu dongkol sehingga dia menghentakkan kakinya berjalan dengan cepat keluar ruangan.
"Dasar menyebalkan" Gerutu dave lagi, dia kembali melanjutkan makannya. Namun perasaannya menjadi tidak tenang.
Dia takut terjadi sesuatu dengan imelda.
Maka dari itu, Dave segera merapihkan berkasnya dan membawanya keluar menyusul imelda.
Dave berjalan dengan tergesa-gesa menyusul imelda ke parkiran rumah sakit.
Dan benar saja Mobol milik imelda terlihat mulai melaju meninggalkan parkiran rumah sakit.
Dave juga dengan segera masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti mobil imel yang sudah terlebih dahulu melaju.
Dave mengikuti dari jarak yang tidak terlalu dekat karena Dave tak mau Imelda tau kalau dirinya mengikutinya dari belakang.
Meskipun baru beberapa kali bertemu dengan imelda, namun Dave merasa imelda membuatnya sedikit melupakan perasaannya pada Sesil.
Setelah hampir tiga puluh menit mengikuti mobil milik Imelda, Dave berhenti tak jauh dari pintu masuk Apartemen.
Dave melihat mobil milik imel masuk ke dalam sana, Dave menarik nafasnya lega dan kembali melajukan mobilnya menuju ke apartemennya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Ayo komentar dong, yang lucu-lucu, nanti srayu post di IG srayu @novisetyaw