Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Bermain-main


__ADS_3

Nathan diam mencoba mencerna apa yang di katakan oleh Kintani, memang ada benarnya juga.


Sedangkan Kintani tersenyum samar seolah dirinya sudah berhasil mempengaruhi keponakannya itu.


Jika matipun Kintani akan tenang karena Sesil juga pasti akan menderita akibat kebodohan yang sebentar lagi akan membawa suaminya ke jurang kematian.


Swan terlihat duduk dengan tenang, pandangan matanya seperti biasa tak bisa di tebak, sedangkan Sean sudah bisa menebak apa jawaban Nathan. Suami dari keponakannya itu sepertinya akan menuruni sikap mertuanya yang suka bermain-main sebelum menghabisi seseorang.


"Nathan, kau harus ingat kau adalah satu-satunya penerus keluarga Adibjo, ingat itu ! Jangan sampai kau membela manusia setengah iblis itu" Kintani menatap sinis ke arah Swan yang nampak santai sekali seolah-olah tidak mendengar semua perdebatannya bersama Nathan.


"Benar yang anda katakan" Tukas Nathan


"Aku adalah satu-satunya penerus keluarga Adibjo yang tersisa, dan semua yang anda katakan memang benar adanya kalau saya adalah keponakan dari Arik Prakasa" Nathan tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Kintani yang duduk di depan Sean pas, Kintani begitu senang melihat Nathan mendekat, sebentar lagi pertunjukan akan di mulai, pertumpahan darah sudah pasti akan terjadi, Kintani paham betul kalau Swan bukan orang yang suka memberi kesempatan ketiga.


Nathan kini berdiri tepat di hadapan Kintani, wanita yang mengaku sebagai tantenya itu begitu senang melihat Nathan. Sean masih tak bergeming di posisinya. Menantikan apa yang akan Nathan lakukan padanya.


Sedetik berlalu, tiba-tiba saja Nathan mencengkram wajah Kintani menggunakan telapak tangannya.


"Aku sudah muak mendengar semua omong kosongmu ! Jadi, selagi aku masih memiliki sedikit kesabaran, cepat katakan apa yang sudah kau lakukan terhadap istriku !!" Tukas Nathan menatap tajam Kintani.


"Nathan, kau harus tau aku tidak..."


Nathan yang merasa kalap langsung melepaskan wajah Kintani lalu memberikan satu tamparan keras di wajah tuanya, bahkan hingga sudut bibirnya terlihat sedikit mengeluarkan darah segar.


"Aku beri satu kesempatan lagi, apa yang sudah kau lakukan kepada istriku?"


Kintani diam menutup mulutnya, rasanya harapan hidupnya sudah tak ada lagi. Bahkan dia begitu takut melihat wajah Nathan yang sedang marah. Kintani melirik ke arah Swan yang masih duduk di tempat yang sama dengan wajah yang ekspresi yang tak bisa di tebak sedikitpun.


Melihat Kintani diam saja, Nathan tiba-tiba mengeluarkan belati kecil dari dalam saku jas yang dia kenakan saat itu.


"Mungkin jika menggunakan ini, anda akan bisa mengatakan hal sebenarnya" Nathan nampak membuka belati dan mendekatkan ke wajah Kintani. Nathan memainkan belati tersebut di pipi Kintani namun tidak melukai wanita itu.


Kintani membulatkan matanya menahan rasa takut yang menderanya saat ini. Bahkan keringat dingin mulai membasahi dahinya.


"Katakan, atau..."


"Baik-baik" Kintani menganggukkan kepalanya dengan takut


Nathan berbalik badan dan kembali mendudukkan tubuhnya di tempat yang sama, di samping papi mertuanya.


"Cepat!!" Bentak Nathan sambil memasukan belati yang telah di lipatnya ke dalam saku jas yang di kenakan olehnya


"Aku hanya mencengkram lengan tangan istrimu, menariknya keluar menuju balkon kamar lalu mendorongnya hingga terbentur ke pembatas besi balkon kamar" Seru Kintani menjelaskan


Nathan mengepalkan kedua tangannya, hatinya begitu panas tak terkendali lagi, dia bisa merasakan pasti saat itu istrinya begitu takut. Apalagi sebelum kejadian, malamnya Nathan mengatakan akan menggugat cerai. Hati istrinya pasti sangat hancur saat itu di tambah lagi pasti wanita iblis itu menceritakan yang tidak-tidak kepadanya.


Nathan menatap Kintani yang terdiam di kursi eksekusi dengan raut wajah penuh amarah.


"Lalu?"


"Lalu apa? aku sudah menceritakan semuanya" Sanggah Kintani seolah-olah tak bersalah


Swan menautkan kedua alisnya, dia juga sama menahan gejolak emosi mendengar putrinya di perlakukan seperti itu. Bahkan ingin rasanya Swan menghilangkan Kintani dari permukaan bumi, tapi jika dia melakukan itu akan sangat mudah untuk Kintani. Swan ingin membuat Kintani merasakan apa yang putrinya rasakan saat ini. Membuat Kintani menderita hingga akhirnya dia sendiri yang akan menghabisi nyawanya dengan tragis.


"Oh ! Jadi kau lebih memilih.."Nathan beranjak berdiri dari duduknya


"Baik-baik ! Aku akan katakan semuanya, tapi setelah itu kau harus melepaskan aku" Kintani memelaskan wajahnya sedangkan Nathan kembali mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Setelah aku mendorong istrimu hingga membentur besi pembatas, aku kembali mencengkram lengan tangan istrimu dan mendorongnya hingga jatuh dari tangga"


Nathan menggertakkan giginya, dia beranjak berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Kintani, tanpa memperdulikan apapun lagi, Nathan dengan kasar membuka tali pengikat yang di tangan dan kaki Kintani.


Kintani begitu bernafas lega saat Nathan membuka tali yang begitu menyiksa dirinya sedari beberapa hari yang lalu.


Setelah semua tali terlepas, tanpa menunggu lama Nathan mencengkram lengan tangan Kintani bahkan kuku Nathan menancap di kulit Kintani kemudian dia menyeret tubuh Kintani keluar menuju balkon gedung tersebut.


"Lepaskan Nath ! kau mau apa" Kintani memberontak dan berusaha lepas dari cengkraman tangan Nathan namun sayangnya usahanya sia-sia.


Nathan dengan tidak berperasaan mendorong tubuh Kintani hingga membentur pagar balkon yang terbuat dari tembok yang tingginya sekitar satu meter.


Kintani memegang perutnya yang terasa sakit akibat terbentur dinding pembatas.


"Bagaimana rasanya" Nathan tersenyum sinis menatap Kintani yang sedang memegang perutnya dengan wajah yang pucat pasi

__ADS_1


"Kau sudah gila Nath ! kau sama tidak warasanya seperti mertuamu" Teriak Kintani


"Harusnya Ana tau ! anda paham !! Begitu besar cinta saya terhadap istri saya, bahkan jika saya harus membalas dendam saya tidak akan membiarkan istri saya terlunta-lunta di jalan ! Maka dari itu kemarin saya mengambil keputusan untuk berpisah dengan istri saya, tujuan saya adalah setidaknya dia tidak akan tersakiti terlalu jauh dan dia masih berhak atas rumah yang saat ini kami tempati ! meskipun nantinya perusahaan keluarga saya ambil alih, tapi setidaknya dia masih memiliki rumah untuk berteduh dari hujan dan panas" Nafas Nathan terdengar begitu memburu


Swan berdiri di ambang pintu melihat adegan yang membuatnya senang, melihat seberapa jauh Nathan bisa membuktikan perkataannya, Sean juga nampak setia berdiri di samping bos sekaligus kakak iparnya.


"Tapi anda malah melukainya ! membunuh janin yang tidak berdosa ! membuat istri saya lumpuh selamanya" bentak Nathan


"Itu tidaklah cukup membalas rasa sakitku terhadap Ayu yang sudah merebut kebahagiaanku ! aku ingin membalasnya namun sayangnya Bicth itu sudah mati"


Swan mengepalkan tangannya mendengar Kintani menghina mendiang istrinya, dia melangkahkan satu kakinya namun dengan cepat Sean menahannya,membuat Swan seketika menghentikan niatnya.


"Jika aku tidak bisa membalas Ayu, makan aku harus membalas perbuatan Ayu lewat keturunannya"


Nathan sudah sampai pada titik dimana dia tak sanggup lagi bersabar, dia menarik tangan Kintani dan mengcengkramnya dengan begitu erat kemudian dia menarik tangan Kintani dan membawanya ke dekat tangga yang sepertinya baru saja di buat. Nathan tidak memperdulikan kondisi tangga yang terlihat masih baru.


"Wanita jahanam" Nathan mendorong tubuh Kintani hingga Kintani tak bisa menjaga keseimbangan dan jatuh terguling-guling ke bawah.


Nathan melihat Kintani yang masih membuka matanya dan tidak mendapat luka serius.


Dengan menggebu-gebu Nathan menuruni tangga mendekat ke arah Kintani yang sudah terkulai tak berdaya di atas rumput.


Swan dan Sean juga mengikuti Nathan kebawah.


Nathan yang merasa kalap mencari balok kayu di sekeliling area tersebut dan saat melihat ada sebuah balok kayu tak jauh darinya dia segera mengambilnya dan kembali mendekat ke arah Kintani.


"Kau mau apa?" Kali ini Swan angkat bicara melihat menantunya mengambil balok kayu yang memiliki ukuran cukup besar di tangannya.


"Jika dia tidak lumpuh, mala biarkan setidaknya kakinya patah" Seru Nathan dengan mengangkat balok kayu dengan kedua tangannya


"Kau mau mematahkan kakinya?" Sean tak kalah terkejut


"Memangnya kenapa? itu tidak sebanding dengan apa yang di api oleh istriku" Seru Nathan dengan penuh emosi


"Ahhh" Nathan mengarahkan kedua tangannya yang memegang balok kayu ke arah kaki Kintani, namun dengan tangkas Swan menendang tangan Nathan hingga balok tersebut terpental dari tangan menantunya.


"Cukup" Tukas Swan


"Belum pi, belum ! Nathan akan puas bila melihat wanita ini menderita" Seru Nathan yang hendak mengambil kembali balok kayu, namun dengan sigap Swan menahan tubuh Nathan.


"Urus dia" Swan menarik Nathan menaikki tangga dan kembali ke atas. Sedangkan Sean hanya tersenyum melihat Kintani yang terkulai lemas di hadapannya.


Tanpa menolongnya, Sean menekan beberapa digit nomor.


"Halaman belakang, urus dengan benar" Tanpa menunggu jawaban Sean mematikan panggilan telefonnya, Kemudian Sean meninggalkan Kinanti begitu saja.


Swan mendudukkan menantunya di sofa dengan tersenyum puas. Rasanya memang Nathan benar-benar sudah mengembalikan kepercayaan yang sempat hilang. Hari ini Nathan membuktikan semua ucapannya.


Nathan masih terlihat mengatur nafasnya yang naik turun menahan emosi, rasanya dia begitu geram saat ini.


"Bagus, Carnal Group akan maju bila di pegang olehmu ! Papi yakin kau akan menjadi Raja bisnis selanjutnya" Swan menepuk pundak menantunya.


Nathan mengalihkan pandangannya menatap pria paruh baya yang kini duduk tepat di sampingnya.


Tanpa aba-aba Nathan langsung memeluk tubuh Swan.


"Papi maafkan Nathan, dan Nathan harap papi terus membimbing Nathan kelak hingga Nathan bisa seperti papi saat ini" Swan tersenyum mendengar ucapan menantunya dan kembali menepuk pelan punggung menantunya


"Papi yakin kau akan melampaui papi ! Kau hanya perlu di ajarkan sedikit menjadi orang yang kejam" Swan terkekeh dan melepaskan pelukan menantunya.


Untuk pertama kalinya, Nathan merasa begitu dekat dengan Swan tanpa merasa canggung seperti sebelumnya. Dinding pembatas yang ada seakan runtuh sudah.


"Tapi kau kejam hanya terhadap rival bisnismu ! jika kau berani kejam terhadap putri papi, kau akan tau sendiri akibatnya" Swan kembali menampakkan wajah garangnya. Bahkan aura dingin kembali di rasa oleh Nathan.


"Kak, Sean akan kembali ke Australia, kasihan Rara pasti sendirian"


"Penerbangan dua jam lagi" imbuh Sean sambil melihat jam yang melingkar di tangannya


"Kenapa buru-buru sekali om?" Timpal Nathan


"Kau harus menjaga Sesil dengan baik dan jangan membuatku harus mengurus tikus-tikus yang menjijikkan" Sean tersenyum ke arah Nathan


"Kau yang menjijikkan ! Sejak kapan kau mulai memanggilku kakak hah?" Swan memlototkan matanya ke arah Sean, sedangkan Sean menanggapi dengan tertawa ringan.

__ADS_1


"Apa aku sudah setua itu? kita ini kan teman" Imbuh Swan lagi seolah dia tak terima Sean memanggilnya kakak, karena memang Sean adalah sahabat karibnya yang berjodoh dengan adiknya sendiri.


"Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu" Swan mengibaskan tangannya dan berlalu dari ruangan tersebut.


Nathan yang masih penasaran dengan keadaan Kinanti beranjak dari sofa keluar menuju balkon, dan saat sampai balkon Nathan tak melihat Kinanti di bawah tangga.


"Orang papi sudah mengurusnya" Swan kembali menepuk pundak Nathan lalu mengajaknya untuk kembali ke rumah.


^^


Mobil yang di kendarai oleh supir Swan baru saja berhenti di depan pintu utama rumah yang di tempati oleh Nathan. Kedua pria itu turun dari mobil dan berjalan beriringan masuk ke dalam rumah yang kebetulan memang tidak di kunci.


Hari sudah menjelang malam, bahkan mentari saja sudah hampir tenggelam.


Sesil sedang duduk menunggu kepulangan suaminya yang pergi ke kantor. Bahkan karena merasa cemas Sesil sedari tadi mencoba menghubungi suaminya namun tak mendapat jawaban.


Saat mendengar ada langkah kaki mendekat, Sesil menoleh ke arah sumber suara dan melihat dua pria yang di cintainya datang secara bersamaan.


"Papi, Nathan" Sapa Sesil dengan begitu senangnya melihat papi dan suaminya akur kembali


"Papi lelah, mau menumpang mandi" Seru Swan lagi yang hendak masuk ke dalam kamar yang terletak di samping tangga yang saat ini di tempati Sesil dan Nathan


"Papi mandi di atas saja" Sesil mencoba menghentikan langkah kaki papinya


"Kamar atas kosong, sekarang Sesil sudah pindah kamar pi"


"Oh baiklah" Swan berganti haluan dan berjalan menaikki anak tangga


Setelah memastikan Swan tak terlihat, Nathan langsung berjongkok di hadapan kursi roda istrinya.


"Aku sangat merindukanmu sayang" Nathan mengusap lembut pipi istrinya, meskipun baru sebentar berpisah tapi rasanya Nathan merindukan istrinya ini.


Sedangkan Sesil merona mendengar ucapan suaminya, pipinya bersemu layaknya ABG yang baru saja jatuh cinta.


Nathan kemudian beranjak berdiri dan mendorong kursi roda Sesil masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat bahkan menguncinya.


Nathan mendudukkan tubuh istrinya di sofa bersebelahan dengannya.


Tanpa menunggu lama, Nathan langsung menarik dagu istrinya dan mencium istrinya dengan begitu lembutnya, bibir istrinya begitu memiliki candu yang membuatnya selalu merasa ketagihan.


Keduanya berciuman begitu lama, entah berapa lama hingga terdengar suara ketukan pintu dari luar sana.


"Kalian melupakan pria tua kesepian di sini" Suara yang begitu familiar membuat Nathan melepaskan cumbuannya dari istrinya.


"Sepertinya ayah datang" Seru Sesil.


"Biarkan saja" Jawab Nathan acuh dan kembali meraih tengkuk leher istrinya dan mencium bibir istrinya lagi. Tidak akan puas bila hanya sebentar.


"Nath sudah, ada ayah" Sesil mencoba melepaskan pelukan suaminya.


"Biarkan saja" Nathan tak memperdulikan apapun, dan kembali melahap bibir istrinya, bahkan seakan tak puas Nathan juga mulai membuka kancing baju istrinya dan melahap isi di balik kemeja atas istrinya dengan begitu rakus.


Nathan begitu menikmatinya hingga saat dirasa puas, Nathan melepaskan Sesil yang bajunya sudah berantakan akibat ulahnya.


Tidak ingin melakukan terlalu jauh dan hanya akan menyakiti Sesil, Nathan memberikan jejak-jejak kepemilikan di dada istrinya dan mengancingkan kembali baju yang Sesil kenakan saat itu.


"Tunggu sebentar, aku akan membersihkan diri" Nathan mengusap lembut kepala istrinya dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket akibat keringatnya.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Ada Ide untuk part romantis?


__ADS_2