Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Menggoda


__ADS_3

Dean mencoba meraih tangan sesil kembali, dean seakan tidak rela bila sesil pergi dari sisinya bersama nathan.


"Lepaskan" sesil kembali meronta saat dean memegang lengan tangannya, bahkan lengan tangannya terasa sedikit perih akibat cengkraman tangan dean.


Nathan memlintir tangan kiri dean "Lepaskan, atau akan aku patahkan tanganmu"


Dean meringis menahan sakit di tangan sebelah kirinya, namun dean masih enggan melepaskan tangan sesil. Nathan semakin mengeraskan plintiran tangannya, sontak saja dean langsung melepas tangan tangan kanannya dari tangan sesil


"Aku sudah katakan, jangan pernah menyentuhnya lagi ! atau akan aku habisi kau saat ini juga" nathan mendorong dean hingga jatuh tersungkur ke lantai. Nathan hendak melayangkan pukulan ke arah dean, namun tangan nathan di cegah oleh sesil, sesil menggelengkan kepalanya ke arah nathan.


Nathan hanya memicingkan matanya dan m


mendengus dengan kesal, Kemudian nathan meraih tangan sesil dan membawa sesil meninggalkan cafe mawar.


Sesil dan nathan berjalan menuruni anak tangga untuk menuju lantai bawah cafe. Wajah sesil terlihat sangat pucat, sesil yang berjalan bersebelahan dengan nathan masih menundukan kepalanya.


Namun di pertengahan anak tangga, nathan mendorong sesil hingga tubuh sesil terhimpit antara dinding dan tangan nathan.


"aa..aaa..apa? ada apa?" sesil sangat terkejut ketika tubuhnya kini di himpit oleh nathan, bahkan jarak antara dirinya dan nathan sangatlah dekat, sesil bisa melihat sorot mata nathan yang penuh kilatan emosi.


Nathan masih menutup mulutnya rapat rapat dan memandang mata sesil dengan dalam, seolah olah ada beribu kata kata yang ingin di sampaikan olehnya.


Jantung sesil berdegup dengan kencang, seolah olah sedang menari di dalam sana, Keringat dingin mulai membasahi dahi sesil, nathan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah sesil, sesil sudah tak bisa berkata kata lagi, sesil hanya bisa menundukan kepala menghindari tatapan mata nathan.


Tangan kanan nathan meraih dagu sesil dan menariknya ke atas, sehingga wajah sesil bisa di lihatnya dengan jelas.


"Benarkah yang kau ucapkan?" Nathan semakin menatap mata sesil dengan penuh eksplorasi


"Ucapan ? ucapan apa?" sesil tampak mengernyitkan dahinya karena sesil benar benar tidak tau arah pembicaraan nathan.


"Soal menikah" nathan menarik sebelah sudut bibirnya membuat senyuman miring ke arah sesil


"Apa jangan jangan, dia mendengar semua yang aku katakan kepada dean? gawat ! dasar sesil bodoh" sesil mengumpat dirinya sendiri dalam hati


Sesil menarik nafasnya panjang dan membuangnya perlahan, sesil sedang berfikir keras mencari alasan yang tepat untuk nathan.


"Maksudmu, aku dan dean yang akan menikah?" sesil berpura pura memasang wajah bodoh


"Oh ya, aku baru tau kau mau menikah dengannya, baiklah harusnya sekarang aku mengucapkan selamat kepada dean" nathan melepaskan himpitannya terhadap sesil, dan berbalik badan hendak menaiki anak tangga untuk kembali ke lantai dua.

__ADS_1


Seketika sesil berubah panik, sesil tak menyangka nathan akan melakukan itu terhadapnya, jika nathan sampai mengucapkan kata selamat, tamatlah riwayatnya.


"no, no, no !!! please come back"! sesil seketika memanggil nathan yang sudah berlalu berjalan dari hadapannya.


Nathan menarik bibirnya, nathan sangat ingin tertawa namun di tahannya, nathan masih tetap berpura pura berjalan menaiki anak tangga.


Melihat nathan semakin menjauh sesil semakin panik di buatnya.


Sesil berlari menaiki anak tangga menyusul nathan, kemudian sesil menarik tangan nathan, seketika itu nathan menghentikan langkah kakinya, senyum di bibirnya semakin mengembang, namun nathan masih dengan posisi yang sama membelakangi sesil.


"Kak nathan, please jangan lakukan itu!" suara sesil terdengar putus asa, sesil benar benar tertekan semenjak pertemuannya dengan dean kemarin di area pemakaman.


Nathan merubah raut wajahnya menjadi sedatar mungkin dan membalikkan diri menghadap sesil, nathan menaikkan kedua alisnya dan menatap sesil dengan tajam.


"Baiklah, aku akan menjelaskan tapi jangan di sini, aku takut dean mendengarnya?" sesil mengatupkan kedua tangannya memohon kepada nathan.


Nathan semakin ingin menggoda sesil, nathan senang sekali melihat ekspresi sesil yang terlihat sangat menggemaskan untuknya.


Nathan hanya diam saja dan berpura pura memikirkan permintaan sesil.


"Please" sesil kembali mengatupkan kedua tangannya di depan wajah nathan.


"Baiklah, ikut aku" nathan berjalan mendahului sesil menuruni anak tangga untuk menuju parkiran mobilnya.


"Gadis itu" nathan membuang nafasnya dengan kesal, kemudian nathan membuka kaca mobilnya "Naiklah, atau mau aku tinggalkan?"


Dengan terpaksa sesil membuka pintu mobil nathan dengan sendiri dan duduk di mobil nathan lagi, sebenarnya sesil sangat malas, namun sesil melakukan ini dengan terpaksa.


Sesil menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya, rasanya pilihan hidupnya sangat berat, antara berbakti kepada papinya, atau kebahagiaan hatinya sendiri.


Sekian lama sesil memejamkan matanya, namun mobil nathan belum berjalan, sesil mencoba membuka matanya sebelah dan mengintip nathan, namun nathan malah memainkan ponselnya.


"Mau jalan atau tidak" sesil berkata dengan masih memejamkan matanya.


Namun nathan masih diam saja mengacuhkan sesil.


"Ayo cepat" sesil mendengus dengan kesal karena nathan tak kunjung menjalankan mobilnya.


"Tunggu sebentar, asistenku sedang membayar tagihan makanan di dalam cafe itu" nathan kembali memainkan ponselnya. Tak lama kemudian, datang asisten dean ingin memasuki mobil namun matanya seketika terbuka lebar ketika melihat sesil ada di dalam mobilnya.

__ADS_1


"Mil, kau kembali ke kantor dengan taxi, dan atur ulang semua jadwal saya hari ini" kemudian nathan menutup kaca mobilnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan area parkiran cafe.


Sesil masih tetap menutup matanya rapat rapat, haru ini cuaca kota semarang cukup mendung, nathan mengarahkan mobilnya menuju tanjung mas. Lalu lintas semarang pada jam segini cenderung ramai padat.


Sekitar 45 menit, mobil nathan sudah berhenti dekat dengan pantai, nathan menatap sesil yang masih memejamkan matanya.


"Sil, are you oke?" nathan mencoba mengajak bicara sesil, namun sesil masih diam tak menjawab.


"Apakah dia tidur"? gumam nathan dalam hatinya.


Nathan mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi sesil, nathan mengusapnya dengan perlahan, pandangan mata nathan beralih ke arah bibir tipis sesil yang terlihat merona menggunakan lipstik berwarna merah muda, cukup menarik perhatian nathan. Pikiran nathan sudah entah kemana, logikanya mengalahkan emosi batinnya yang terus bergejolak dengan hebat.


Nathan mendekatkan wajahnya ke arah sesil, dan menatapnya sesil yang masih terpejam dalam tidurnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Makin kesini yang like dan komentar makin sedikit.


Jadi lemes eh srayu nya😔


__ADS_2