Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Adik Bayi, mana?


__ADS_3

Nathan terkulai lemas di atas tubuh polos istrinya, dia baru saja sampai pada puncak permainan mereka berdua. Pergulatan selama hampir dua jam lamanya membuat energi Nathan benar-benar terkuras, keringat bercucuran di dahinya, sementara Sesil malah tersenyum menatap suaminya yang ki ni berada di tubuhnya.


"Kau lelah sayang?" tanya Sesil sambil menyeka keringat suaminya menggunakan jari-jemarinya.


"Tentu saja, kau semakin tangguh saja sayang" Nathan terkekeh sambil memindahkan posisinya dan kini tidur di samping istrinya. Tangan Nathan meraba-raba mencari remote AC untuk membesarkan volume AC.


"Kau juga Hot Dady sayang" bisik Sesil tepat di daun telinga suaminya, karena kini Sesil menggunakan tangan Nathan sebagai alas bantal kepalanya.


"Kau ini suka sekali menggodaku" Nathan mencubit pipi istrinya dengan gemas, tangan Nathan kembali meraba-raba dada istrinya dan menekannya dengan gemas.


"Ah..." Sesil mendesis karena geli akan tingkah nakal suaminya.


Kini keduanya saling mengatur nafas yang masih naik-turun, Sesil mengubah posisi tidurnya dan kini menghadap ke arah suaminya, tangannya melingkar dengan sempurna di perut suaminya yang sispex, meski kini usia Nathan sudah menginjak kepala tiga, tapi wajah serta tubuh suaminya masih begitu terlihat enak di pandang, pesona yang di miliki Nathan mampu menghipnotis wanita mana saja yang melihatnya.


Tangan kiri Nathan terlihat membelai lembut rambut istrinya, hidungnya mencium aroma wangi dari rambut istrinya, namun tiba-tiba Nathan kembali mengingat pria asing saat membeli mainan Kenzo tadi siang.


"Sayang apa pria itu menggodamu?" Tanya Nathan penuh selidik


"Pria mana?" Sesil mengernyitkan dahinya


"Pria di toko mainan?"


"Oh. Kalo iya memangnya kenapa?" Sesil menatap kedua bola mata Nathan dengan seksama.


"Dia menyentuhmu?" suara Nathan semakin terdengar memberat


"Tidak sayang, jangan kawatir" Sesil mengecup pipi suaminya dengan gemas


"Aku hanya pernah di sentuh oleh suamiku" imbuh Sesil


Seketika Nathan melebarkan senyumannya,hatinya begitu lega. Dia yakin istrinya selalu bisa menjaga diri sejak dulu hingga saat ini. Pantas saja semenjak dewasa banyak pria yang menggilai Sesil, tapi sayangnya Sesil selalu saja bersikap acuh pada mereka, bahkan saat awal pernikahan mereka Sesil juga selalu acuh terhadapnya, bahkan hingga menginjak usia pernikahan mereka dua bulan, Nathan baru saja bisa menyentuh istrinya.


Tubuh keduanya terasa begitu lelahnya, dengan posisi saling memeluk, keduanya memejamkan mata mereka. Rasa kantuk tak bisa di tahan lagi hingga akhirnya keduanya terlelap ke alam mimpi.


^

__ADS_1


Sang mentari terlihat sudah menampakkan sinarnya di atas bumi, namun Sesil masih betah tidur di dalam dekapan suaminya begitupula dengan Nathan yang masih menikmati kebersamaan mereka berdua, jarang sekali memiliki waktu seperti ini, karena semenjak kelahiran Kenzo membuat waktu Sesil tersita, kasih sayang serta perhatian Sesil begitu tercurah untuk putra mereka. Namun tidur pulas keduanya terganggu saat pintu kamar tiba-tiba terbuka dan terdengar langkah kaki yang berlari menghampiri mereka.


"Papi, Mami.." suara Kenzo langsung membuat Sesil dan Nathan membuka matanya. Bahkan Sesil langsung merapatkan selimut hingga ke lehernya, karena Sesil tidur hanya mengenakan pakaian dalam saja.


"Papi, Mami. Mana adik bayi untuk Kenzo" tanya Kenzo dengan wajah berbinar, sedari semalam Kenzo sudah tidak sabar ingin segera pagi dan bertemu dengan adik bayi


"Adik bayi?" Sesil melebarkan matanya mendengar ucapan Kenzo.


"Mami jangan pura-pura lupa, bukannya Papi dan Mami itu semalam membuat adik bayi, lalu mana sekarang?" Kenzo melihat sekeliling tempat tidur kedua orang tuanya, sementara Nathan malah terlihat terkekeh mendengar pertanyaan putranya.


"Sayang siapa yang mengajarimu? apa papi?" tanya Sesil sambil melirik tajam ke arah Nathan yang sudah duduk di tepian ranjang dengan bertelanjang dada


"Opah mam, opah bilang Mami dan Papi semalam membuat adik bayi untuk Kenzo" jawab Kenzo dengan wajah polosnya


"Astaga papi" Sesil menghela nafasnya dengan di akhiri dengusan kecil


"Papi juga kenapa tidak memakai baju? udaranya masih cukup dingin" kata Kenzo sambil menatap aneh Papinya yang tidak mengenakan baju


"Papi kepanasan sayang"


"Sayang, adik bayinya belum ada. Membuat adik bayi tidak semudah membuat kue sayang. Suatu saat setelah kau tumbuh dewasa pasti akan mengerti"


"Sekarang Kenzo keluar sebentar ya, Mami dan Papi ada sesuatu yang harus di selesaikan" bujuk Sesil lembut.


Wajah Kenzo terlihat kecewa, padahal dia ingin sekali memiliki adik bayi supaya bisa di ajaknya bermain bersama. Tapi harapannya pupus pagi ini saat adik bayi yang di harapkan olehnya belum ada. Dengan raut wajah yang di tekuk Kenzo menuruni ranjang maminya, mulut mungilnya terkunci dan dengan langkah kaki yang lesu Kenzo berjalan keluar dari kamar kedua orang tuanya.


"Ken.." panggil Nathan, namun putranya terus saja berjalan dengan menundukkan kepalanya tanpa mau menoleh ke arah papinya.


Sesil dan Nathan mengambil nafas perlahan lalu menghembuskan nafasnya dengan berat, putranya terlihat begitu sedih, karena memang sudah sejak lama Kenzo meminta adik, tapi sayangnya hingga saat ini Sesil belum di beri kepercayaan kembali untuk mengandung. Setelah kepergian Kenzo, Sesil dan Nathan segera bergegas untuk mandi karena pasti sudah di tunggu untuk sarapan pagi bersama.


Setelah hampir satu jam lamanya, Sesil dan Nathan terlihat keluar dari kamar mandi bersama, Sesil mendengus kesal sementara wajah Nathan terlihat begitu sumringah, bagaimana tidak berseri, sepagi ini Nathan kembali mendapatkan jatah dari istrinya, meski tidak bisa lama seperti semalam, tapi setidaknya itu sudah membuatnya puas.


^


Kini Sesil, Nathan, Kenzo serta Swan terlihat sedang memakan sarapan pagi. Seperti biasanya tidak ada yang berbicara saat di meja makan, tapi raut wajah sedih Kenzo masih terlihat begitu jelas, membuat Swan mengeryitkan dahinya saat melihat wajah cucunya yang bersedih.

__ADS_1


Swan terlebih dulu menyeka mulutnya dengan tisu, lalu meletakkan garpu serta sendok di atas piring makan. Pandangan matanya melirik ke arah Kenzo yang masih sibuk mengunyah roti di dalam mulut mungilnya.


"Ken, hari ini Opah ingin memancing. Apa Kenzo mau ikut bersama opah?" tanya Swan, sementara Kenzo hanya menggelengkan kepalanya dengan lesu


"Kenapa? Nanti kita memancing bersama, opah mempunyai pancing kecil untuk Kenzo" bujuk Swan


"Benarkan opah?"


"Tentu saja sayang, nanti setelah selesai memancing, kita langsung bisa membakar ikannya di tepi kolam. Di sana sangat menyenangkan sayang"


"Boleh opah, Kenzo mau" jawab Kenzo mulai bersemangat.


"Kalian mau ikut?" tanya Swan menatap ke arah putri serta menantunya secara bergantian. Sebenarnya Sesil sangat malas ikut memancing karena membutuhkan kesabaran ekstra, tapi demi membuat putranya terhibur akhirnya Sesil menganggukkan kepalanya, sementara Nathan sudah menyetujuinya terlebih dahulu. Nathan memang sering melakukan aktivitas memancing bersama ayah serta papi mertuanya.


Setelah semua sepakat, kini mereka mulai menyiapkan peralatan pancing yang akan di bawa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Vote, Vote, Vote🙏

__ADS_1


__ADS_2