Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Cemburu


__ADS_3

Hari ini nathan sudah di perbolehkan pulang, karena memang luka di perutnya tidak terlalu serius.


Sasha sudah terlebih dahulu datang dan sedang membantu mengemas barang-barang milik nathan.


Sedangkan nathan masih memainkan ponselnya mencoba mengirim pesan untuk sesil, karena sesil belum datang juga padahal sesil sudah tau kalau hari ini nathan sudah di perbolehkan pulang ke rumah.


Nathan masih mencoba menelfon sesil namun tak kunjung mendapat jawaban dari sesil.


Tiba-tiba pintu ruang kamar tersebut terbuka, muncullah sesil dari balik pintu mengenakan swetter di padukan dengan rok denim di atas lutut, terlihat sangat cantik dan seperti ajak kecil.


"Hallo" sesil menyunggingkan senyum ke arah nathan dan sasha yang kala itu menghentikan aktifitasnya mengemas barang nathan, sasha menatap tak suka melihat kedatangan sesil.


Sesil melangkahkan kaki memasuki ruangan tersebut.


"Kemarilah!" nathan melambaikan tangan menyuruh sesil datang mendekat ke arah dirinya.


Sesil dengan patuh melangkahkan kakinya mendekat ke arah nathan yang sedang duduk di sofa sembari memainkan ponsel.


Setelah sesil sudah mendekat, nathan menarik tangan sesil hingga sesil kini duduk di pangkuannya.


"Nathan, lepasin ! malu ana nona natasha!" suara sesil sengaja di buat semanja mungkin, sesil ingin membalas perlakuan sasha kemarin saat di parkiran mobil.


"Memangnya kenapa? Sebentar lagi kita akan menikah, jadi tidak apa apa kan" Nathan mengeratkan pelukan tangannya yang melingkar di pinggang sesil.


"Malu, lepasin!" sesil melepas tangan nathan dan mendudukkan dirinya tepat di samping nathan.


Nathan melihat tampilan sesil yang sangat santai, jauh dari seperti biasanya, membuat sesil terlihat lebih muda di bandingkan dengan umurnya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Sesil memlototkan matanya ke arah nathan


"Kau cantik sekali" imbuh nathan


"Memang biasanya tidak cantik?" sesil melipat tangannya di atas perut dan memalingkan wajahnya.


"Cantik, tapi hari ini kau terlihat seperti anak ABG" Nathan terkikik pelan, nathan senang sekali menggoda sesil.


Mendengar ucapan nathan, hati sesil menjadi menciut, apa benar dirinya seperti anak kecil? sasha juga mengatakan hal yang sama seperti ucapan nathan barusan.


Sesil menundukkan wajahnya ke bawah, rasanya dia benar-benar kecewa dengan ucapan nathan barusan.


Nathan yang melihat ekspresi perubahan wajah sesil seketika membungkam.


Tangan nathan terulur mengusap puncak kepala sesil.


"Sil? jangan marah, aku hanya bercanda saja, maksudku kau terlihat cantik dan lebih muda dari umurmu?" imbuh nathan mencoba menenangkan sesil


"Jadi biasanya aku tua?" suara sesil terdengar begitu lirih namun masih bisa di dengar oleh nathan.


Sasha yang melihat adegan di depannya tersenyum senang, setidaknya dia punya senjata untuk mempengaruhi sesil supaya menjauh dari nathan.

__ADS_1


"Astaga ya tuhan, bukan seperti itu sil, bukan maksudku seperti itu, maksudku adalah...." belum selesai nathan mengucapkan kata-katanya, sesil sudah berlalu bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


"Sil, tunggu..." nathan mencoba mengejar sesil namun tangan nathan di cekal oleh sasha.


"Biarkan saja nath, wanita kalau sedang ngambek butuh waktu sendiri, nanti saja kau menemuinya"


Nathan akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengejar sesil, sedangkan sesil berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruang rawat nathan.


Bahkan saat melintasi lorong rumah sakit, sesil bertemu dengan emilia sekretaris nathan, dan emilia menyapa sesil namun sesil mengacuhkannya dan mempercepat langkah kakinya.


Setelah sampai di parkiran, sesil memasuki mobilnya dan melajukan dengan kecepatan penuh meninggalkan area rumah sakit, sesil tidak berniat untuk pulang ke rumahnya, sesil mengarahkan mobilnya ke area pemakaman Bergota.


Sesil memarkirkan mobilnya dan terlebih dahulu membeli sebucket bunga lili, bunga tabur dan air mawar, sesil berjalan menyusuri jalan untuk menuju makam maminya.


Sesil berjongkok tepat di samping nisan maminya.


Sesil membersihkan daun-daun kering yang bertebaran di atas makam maminya.


Mata sesil kembali berkaca-kaca mengingat kata-kata sasha saat di parkiran yang menyebut dirinya seperti anak kecil, dan barusan nathan juga mengatakan hal yang sama.


"Mi sesil datang" sesil mengusap nisan ayu dengan telapak tangannya, kemudian sesil meletakkan subucket bunga lili segar kesukaan maminya.


Sesil hanya diam saja tidak melanjutkan kata-katanya lagi, rasanya hatinya begitu merasa tidak suka melihat kehadiran sasha di tengah-tengah dirinya dan nathan, sesil juga tidak bisa mengerti mengapa bisa seperti itu.


Sesil hanya diam saja berjongkok sembari menatap nisan yang bertuliskan nama maminya.


Sunyi, hanya terdengar deru kendaraan yang melintas, karena memang makam maminya terletak di bagian cukup atas, Hampir satu jam lamanya sesil hanya diam saja, akhirnya sesil menaburkan bunga dan menyiramkan air mawar.


"Ah mungkin aku salah lihat" Gumam sesil, sesil masuk ke dalam mobil dan mengarahkan mobilnya meninggalkan area pemakaman tersebut.


Mobil yang sesil kendarai memasuki area halaman rumahnya, sesil menyipitkan mata melihat mobil yang rasanya tidak asing di penglihatannya. Sesil mengangkat bahunya dan memasuki rumahnya.


Saat tiba di ruang tamu, sesil melihat nathan sedang duduk di sofa mengobrol dengan papinya, karena hari ini memang weekend jadi papinya berada di rumah.


"Sayang, dari mana saja?" Swan melihat ke arah putrinya yang baru saja memasuki rumah.


"Dari makam mami"


"Kemarilah" Swan melambaikan tangan ke arah putrinya, sesil dengan malas melangkahkan kakinya dan mendudukkan dirinya tepat di samping papinya, sesil melirik ke arah nathan yang sedang menatapnya, kemudian sesil mengalihkan pandangannya kembali.


"Jadi, seminggu lagi saya dan ayah saya akan datang kemari untuk melamar putri tuan, dan untuk acara pertunangan mau di buat seperti apa saya ikut saja, silahkan sesil pikirkan dan kirim konsep kepada saya, saya yang akan mengurusnya" Nathan kembali melanjutkan obrolan yang sempat tertunda karena kehadiran sesil. Awalnya nathan ingin pulang ke rumah, namun hatinya merasa tidak tenang karena gadis kecilnya ngambek, jadi setelah sampai rumah, nathan memutuskan untuk mengunjungi sesil, nathan tidak mau jika sesil marah lama-lama terhadap dirinya.


"Biarkan saya saja yang mengurusnya" tukas swan


"Tidak tuan, saya ini laki-laki, jadi sudah sewajarnya saya yang mengurus biayanya, bukan bermaksud menyinggung atau merendahkan tuan swan, tapi memang ini sudah menjadi kewajiban saya" seru nathan.


Swan terdiam sejenak menatap ke arah nathan, nathan memang benar-benar lelaku yang bertanggung jawab, akhirnya swan menganggukkan kepala menyetujui usulan dari nathan.


Setelah berbasa-basi sebentar, Swan pamit untuk menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


Kini tinggal nathan dan sesil di ruangan tersebut, sesil melipat tangannya di atas perut, wajahnya juga terlihat tidak bersahabat.


"Sil?" nathan mencoba memanggil sesil, namun sesil masih diam saja.


"Sil, apa kau marah padaku?", nathan kembali melayangkan pertanyaannya, namun sesil masih membungkam seribu bahasa. Nathan yang merasa gemas akhirnya bangkit dari duduknya dan bejalan mendekat ke arah sesil, nathan mendudukkan dirinya tepat di samping sesil. Nathan menatap wajah sesil yang masih terlihat begitu muram.


"Jangan dekat-dekat, nanti kekasihmu marah" imbuh sesil, kemudian sesil menggeser duduknya menjauh dari nathan.


"Kekasih?" Nathan menaikkan kedua alisnya ketika mendengar ucapan sesil.


"Iya kekasihmu, bukannya kalian saling menyukai? dan bukannya aku ini hanya anak kecil yang bisa di mainkan di mata kalian?" sesil kini menatap mata nathan, rasanya dia sudah tidak bisa mengendalikan emosinya lagi.


"Siapa bilang? jangan dengarkan omongan Natasha, dia memang sudah lama mengejarku, tapi aku sama sekali tidak pernah tertarik padanya sil !" Nathan menghela nafasnya dengan berat.


"Kau memang gadis kecilku sil, selamanya akan tetap menjadi gadis kecil yang ingin aku lindungi" lanjut nathan kembali, nathan menatap dalam ke kedua bola mata sesil.


"Gadis kecil yang suka lupa makan saat libur kuliah, dan selalu girang saat tiba-tiba ada yang mengirim makanan seafood ke tempat tinggalnya, gadis kecil yang sering di bully oleh kakak kelas saat SMA tapi selalu berpura-pura kuat"


Sesil yang tadinya merasa marah menjadi mengeryit keheranan, dari mana nathan tau kalau dirinya suka lupa makan saat libur kuliah.


Atau jangan-jangan orang misterius yang mengirim makanan ke tempat tinggalnya saat di sidney adalah nathan?


Semua pertanyaan itu berputar di kepala sesil.


"Sil, jangan dengarkan omongan orang-orang yang ingin membuat kita jauh" nathan menggenggam tangan sesil dan menatapnya begitu dalam.


"Tapi sasha?"


"Sssttt" nathan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir tipis sesil.


"Aku katakan padamu, aku tidak pernah memiliki perasaan selain dengan dirimu" Nathan menyakinkan sesil kembali.


Dan sesil yang sudah merasa lega dia pun menganggukkan kepalanya, dan tersenyum.


"Jadi boleh aku artikan kau tadi merasa cemburu terhadap sasha?" nathan menaikkan kedua alisnya dan tersenyum ke arah sesil.


Sesil hanya tersenyum pelik ke arah nathan, rasanya dia sungguh malu karena sudah marah-marah tidak jelas terhadap nathan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2