
Nathan merengkuh tubuh sesil dan mendekapnya dengan erat, ingin memberikan rasa nyaman dan aman untuk sesil, nathan juga ingin sesil bisa memahami isi hatinya, isi hati yang sudah di pendamnya sekian lama. Nathan semakin mengeratkan tangannya, semilir angin pelabuhan sangat kencang di tambah suasana mendung membuat udara terasa dingin.
Sesil masih diam di dalam pelukan nathan, entah perasaan apa itu, sesil merasa sangat nyaman ketika berada dekat dengan nathan, meskipun nathan selalu bersikap menyebalkan tapi kehadiran nathan memberi banyak energi positif dalam hidupnya.
Sesil kembali mengingat saat masih kelas X SMA, sesil pernah di bully oleh beberapa kakak kelasnya saat pulang sekolah, kala itu nathan yang baru selesai eskul basket melihat dan menolong dirinya.
Sesil menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, benar benar tidak bisa mengartikan perasaannya sendiri, karena sebelumnya sesil belum pernah merasakan hal ini.
"Apa pelukanku membuatmu nyaman?" nathan kembali menggoda sesil, bibirnya melengkung membuat sebuah senyuman.
"Mana ada" sesil mendorong tubuh nathan menjauh dari dirinya.
"Masa" nathan mencolek dagu sesil menggunakan jari telunjuknya.
Sesil hanya menundukan kepalanya menghindari kontak mata dengan nathan, wajah sesil terasa semakin panas, sepertinya wajahnya sudah memerah.
Beberapa tetes hujan mulai berjatuhan, sesil dengan segera berlari hendak masuk ke dalam mobil, namun tangannya di tarik oleh nathan.
"Mau kemana?" nathan menaikkan kedua alisnya
"Ayo masuk, nanti kehujanan" sesil berusaha menarik nathan namun rasanya percuma, nathan masih diam tak bergeming di tempatnya.
Sedangkan hujan turun semakin deras. Hujan turun dengan derasnya membasahi tubuh nathan dan sesil yang masih berdiri di depan mobil.
"Sil, ayo kita main hujan hujanan" nathan meloncat loncat kegirangan ketika derasnya hujan membasahi sekujur tubuhnya.
Sesil melihat dengan sangat keheranan, sesil tidak menyangka nathan memiliki sisi kekanakan seperti.
"Sil, ayo!" nathan merentangkan tangannya dan menghadapkan wajahnya ke atas. Seakan air hujan mampu membuat hatinya sejenak melupakan beratnya menanggung beban yang saat ini sedang dia pikul.
Sesil ikut merentangkan kedua tangannya, wajah sesil di angkat ke atas, seketika sesil kembali mengingat wajah mendiang maminya, sesil sangat merindukan sosok mami di dalam hidupnya.
Sesil memejamkan kedua matanya dan berteriak di tengah derasnya air hujan
"Mi, sesil sangat merindukan mami ! sesil ingin memutar waktu kembali dimana masa itu bisa berdekatan dengan mami ! sesil benar benar merindukan mami" sesil menarik nafasnya panjang, tak di sadari bulir air mata mulai mengalir dari sudut matanya berbaur dengan derasnya air hujan, sesil selama ini sangat pantang untuk menangis di depan orang, sesil selalu berusaha menjadi gadis yang kuat seperti papinya.
__ADS_1
Sementara nathan melihat ke arah sesil yang masih dengan posisi menghadap langit dan matanya terpejam, di tengah derasnya hujan nathan bisa merasakan bahwa hati sesil sangat merindukan maminya saat ini.
"Mi, bolehkah sesil dan papi menyusul mami ke syurga" tiba tiba terdengar petir yang menggelegar di langit sana, bahkan kilatannya terlihat begitu dengan dengan tanah, seketika sesil membuka matanya dan menghambur ke pelukan nathan.
"Nath, aku takut petir" sesil memeluk nathan dengan erat, karena memang sesil sedari kecil sangat takut terhadap petir.
"Makannya jangan ngomong sembarangan" nathan menjitak kepala sesil dengan pelan dan kedua tangannya terangkat untuk memeluk sesil.
"Sil, bisakah aku meminta secuil dari hatimu" Nathan nampak ragu ketika mengatakannya, ada perasaan takut yang mendera hatinya, perasaan takut di tolak oleh sesil.
Seketika sesil melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata nathan dengan seksama, seolah olah sesil sedang mencari jawaban dari mata nathan, benarkah nathan tulus kepadanya atau ada tujuan lain dari setiap kata kata dan sikap manis ya selama beberapa hari ini.
"Sil?" nathan menakup pipi sesil dengan kedua tangannya.
"Hanya secuil?"gumamnya dalam hati, dan seketika sesil menyipitkan matanya.
"Kau kenapa melihatku seperti itu?" nathan meyyipitkan kedua matanya, kemudian nathan menarik kedua tangan sesil dan mengajaknya berputar putar layaknya anak kecil yang sangat senang menikmati air hujan tanpa takut terkena marah oleh orang tuanya.
"Stop it, stop it" sesil berteriak di tengah derasnya air hujan, berharap nathan menghentikan putarannya.
"Nathan aku pusing" suara sesil berhasil menghentikan putarannya, dan seketika sesil memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Iyalah ! semua gara gara kau ! kalau sampai aku sakit, kau akan aku lempar ke laut untuk makanan hiu" sesil berteriak dengan kesal ke arah nathan
"Kalau kau sakit, mana bisa kau melakukan itu hm? mungkin sebaliknya, aku akan mengangkatmu dari tempat tidur dan melemparkan ke kandang macan" seketika nathan tertawa terbahak bahak.
"Tau ah" sesil mengerucutkan bibirnya, entah mengapa kerinduan kepada mendiang maminya sedikit terobati dan hatinya lebih merasa lega setelah mengungkapkan isi hatinya tadi.
"Nath, ayo pulang ! aku merasa kedinginan"! sesil memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Ayo" nathan berbalik badan dan menuju mobilnya, sesil yang mulai merasa kedinginan langsung mengikuti nathan di belakangnya.
Kini nathan dan sesil berada dalam mobil menuju kediaman rumah sesil, bahkan sesil beberapa kali bersin-bersin, Dan menggosokkan kedua telapak tangannya untuk sedikit mengurangi rasa dingin di tubuhnya.
Nathan sekilas melihat sesil dari kaca spion mobilnya, nathan merasa sangat bersalah sudah mengajak sesil bermain air hujan tadi, nathan mematikan ac di dalam mobilnya dan meraih jaket cadangan yang terletak di jok belakang mobilnya.
__ADS_1
"Pakailah" nathan memberikan jaketnya ke arah sesil.
"Tidak perlu" sesil mendorong uluran tangan nathan
Nathan hanya memlototkan matanya ke arah sesil, sesil yang di tatap seperti itu seketika menciut nyalinya, dan mengambil jaket nathan lalu mengenakannya.
Mobil nathan terus melaju menuju rumah sesil, dan hujan sudah mereda, waktu sudah menunjukan pukul 04.00pm.
Mobil nathan memasuki halaman rumah sesil, rumah sesil nampak sepi. Hanya ada beberapa penjaga yang duduk di teras rumah sesil.
Nathan menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama sesil.
Nathan berlari keluar mobil dan mengitarinya kemudian membuka pintu untuk sesil.
"Ayo masuk" sesil mengajak nathan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Nathan masih ragu dan diam saja di tempatnya, nathan takut sean memergokinya lalu menolak kehadiran dirinya.
Seketika pintu rumah terbuka, nathan dan sesil kompak melihat ke arah pintu rumah, seketika jantung nathan berdetak kencang menantikan siapa orang yang membuka pintu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Kira kira siapa yang keluar dari pintu rumahnya ya pems