
Samar-samar sesil mengigau memanggil oma dan maminya, tangan sesil terus merengkuh udara kosong di atasnya.
"Mi, sesil ikut.." suara jeritan sesil membangunkan tidur pulas nathan.
Perlahan nathan menepuk pipi sesil untuk membangunkanya.
"Mi...." Sesil terbangun dan langsung duduk, bahkan nafasnya terdengar begitu memburu.
"Sayang tenanglah.." Nathan ikut duduk di samping sesil dan tangannya mengambil segelas air putih yang terletak di atas meja kecil samping tempat tidur, kemudian nathan menyuruh sesil untuk meminumnya.
Setelah meminumnya sesil terlihat lebih tenang, lalu nathan meletakkan kembali gelas berisi air itu ke tempat semula.
"Kau mimpi buruk?" Tangan nathan menyeka keringat yang membasahi dahi istrinya, dan sesil nampak diam saja tidak menjawab pertanyaan nathan.
"Sil, ayo berbaringlah.." Nathan membaringkan tubuh sesil dan membalutkan selimut hingga ke atas perutnya.
Nathan membaringkan posisinya dengan miring ke arah sesil, nathan menatapi sesil yang masih membuka matanya sembari melihat dengan pandangan kosong.
"Sayang..." Nathan meraih tangan sesil dan menggenggamnya, sesil yang terkesiap dengan panggilan yang nathan ucapkan, langsung menoleh ke arah nathan yang sedang menatapnya.
"Kau memanggilku apa.?" sesil menaikkan kedua alisnya
"Gadis menyusahkan, tidurlah ini sudah mala, aku sangat lelah.." imbuh nathan sembari alisnya menaut dengan sempurna.
"Gadis menyusahkan?" Sesil mengulangi perkataan nathan
"Ya sudah mulai sekarang kau tidak usah lagi mengurusi hidupku.."! seru sesil, kemudian dengan cepat sesil membalikkan tubuhnya hingga kini sesil tidur memunggungi nathan.
Nathan hanya bisa mengulum senyumnya, setidaknya nathan lebih senang sesil marah-marah kepadanya dari pada harus diam dan melamun seperti tadi.
Nathan menggeserkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di perut sesil, nathan meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya.
"Lepaskan..!" Sesil mencoba menjauhkan tangan nathan dari tubuhnya, namun nathan malah semakin memeluknya dengan erat dan tak memberi sesil ruang untuk bergerak sedikitpun.
Deru nafas nathan membuat bulu kuduk sesil meremang begitu sempurna.
"I Love You.."! nathan berbisik tepat di telinga sesil, membuat bulu kuduk sesil semakin merinding di buatnya.
Sesil melepaskan paksa tangan nathan dan kini sesil tidur menghadap nathan.
Nathan dan sesil saling menatap begitu lama, namun tiba-tiba entah keberanian dari mana, sesil mengecup bibir nathan begitu saja.
Bahkan sesil terlihat memejamkan matanya dan menikmati ciumannya, sedangkan nathan masih tidak meresponnya.
Butuh waktu sepersekian detik untuk nathan baru bisa membalas ciuman sesil.
Kini ciuman mereka semakin panas, dan nathan sudah tidak bisa lagi mengendalikan hasratnya.
Dengan cepat nathan menyudahi ciuman mereka, nathan takut sesil belum siap melakukannya, karena kemarin malam setelah setengah jalan sesil malah menangis karena ketakutan dan menurut nathan ini bukan waktu yang tepat, karena hari ini masih dalam suasana berkabung.
Sesil merasa kecewa saat nathan menyudahi ciuman panas mereka.
Wajah sesil berubah menjadi muram, mungkin saja nathan tidak menginginkannya, atau nathan masih memikirkan dia.
Sesil kembali mengingat ucapan teman nathan di hari pernikahannya tempo hari.
Namun nathan tiba-tiba mengecup kening sesil dan menariknya ke dalam dekapannya.
"Tidurlah, ini sudah menjelang pagi" Nathan mengusap punggung sesil mencoba memberi ketenangan untuk sesil, sedangkan sesil diam saja tidak menjawab apapun yang nathan ucapkan, sesil merasa masih kesal karena merasa di tolak oleh nathan.
__ADS_1
***
Sesil mengerjapkan matanya saat ada sinar natahari menembus dari celah korden di kamarnya.
Sesil menoleh langsung ke arah jam dinding kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul 07.30am
"Ah, kesiangan.." Gumam sesil, sesil langsung menyibakkan selimut yang masih membaluti tubuhnya.
Dia hendak menyusul nathan dan papinya yang pasti sudah sarapan bersama.
Namun tiba-tiba tangan sesil di tahan oleh seseorang. Seketika itu sesil terhenyak dan menoleh ke arah samping. Terlihat nathan masih memejamkan matanya di sana.
"Mau kemana..?" seru nathan
"Kau tidak bekerja hari ini..?" Sesil mengernyitkan dahinya karena nathan masih tidur di atas ranjang lengkap dengan piyama yang membaluti tubuh kekarnya.
"Tidak" jawab nathan.
"Kenapa kau seenaknya sendiri..?" Seru sesil lagi
"Kau lupa aku adalah pemilik perusahaan, aku adalah bos di adigja group?" Nathan membuka matanya dan menatap ke arah sesil yang duduk di tepi ranjang dengan raut wajah kesal.
"Berbaringlah, hari ini aku tidak akan kemana-mana, aku mau menemanimu seharian penuh.." imbuh nathan.
Sebenarnya sesil merasa senang, namun dia tetap mamasang wajah yang tidak ramah kepada nathan.
Akhirnya sesil membaringkan tubuhnya kembali di samping nathan, bahkan nathan membalutkan kembali selimut ke tubuh sesil. Suasana gerimis di kota semarang membuat hawa dingin menelusup ke tulang setiap warga kota ini.
"Apa kau merasa dingin..?" Nathan melihat ke arah sesil yang sedang mengeratkan selimutnya untuk membalut tubuhnya.
"Ehm.." sesil menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kemarilah.." Ucap nathan, namun sesil masih tak bergeming akan posisinya saat ini.
Nathan hanya bisa mengulum senyumnya dan langsung menggeser tubuhnya untuk memeluk istri kecilnya.
"Kau selalu saja keras kepala" Nathan dengan gemas mengacak-acak rambut sesil yang kini sudah diam di dalam pelukannya.
"Dulu, sewaktu aku kecil saat hujan lebat turun, dan papi belum pulang kantor dari kantor, oma yang selalu menemaniku, bahkan ketika suara petir yang menggelegar, oma akan selalu memelukku" ucap sesil pelan, namun masih bisa di dengar oleh nathan.
"Oma sedari dulu, selalu telaten membantu papi mengurusku, bahkan saat mami kembali lagi ke rumah ini pun, oma masih selalu menemaniku, dan saat mami kembali pergi untuk selamanya, oma menggantikan mami untuk membesarkan aku nath.." Sesil berucap sembari sesenggukkan di dalam dekapan nathan.
Sedangkan nathan dengan setia mendengar semua curahan isi hati istrinya.
Setelah sesil mengungkapkan semua isi hatinya, sesil merasa sedikit lega.
"Mulai sekarang, aku yang akan menjagamu, menemanimu, hingga maut memisahkan.." ucap nathan sembari mengecup kepala istri kecilnya.
"Benarkah? tapu kau dulu sangat menyebalkan dan hingga saat ini kau masih saja suka membuatku kesal" ucap sesil sambil memanyunkan bibirnya ke arah nathan yang juga sedang menatapnya.
"Itu semua karena...." nathan tak lagi melanjutkan kata-katanya.
"Karena apa??" sesil menajamkan matanya menatap nathan.
"Karena kau lucu dan menggemaskan" Nathan mencubit kedua pipi sesil dan menggoyangkannya dengan gemas.
"Ahh, sakit.." Sesil mendesis saat nathan mencubit pipinya,bukannya melepaskan nathan beganti dari mencubit kini menakup kedua pipi sesil dan menggerakkan kepala sesil ke kiri dan kanan, membuat sesil menggerutu dengan kesal akan tingkah suaminya itu.
Sesil sedikit bisa melupakan suasana hatinya yang berkabung karena nathan terus saja berada di sampingnya, bahkan hari ini nathan tidak masuk kantor demi dirinya.
__ADS_1
"Lepaskan, dasar menyebalkan" Sesil menjauhkan tangan nathan dari kedua pipinya, dan nathan hanya bisa terkekeh pelan melihat sesil yang memanyunkan bibirnya.
"Sil..." nathan memanggil sesil yang masih menatapnya.
"Hm.." sesil hanya bisa berdehem sebagai jawabannya.
"Suatu saat, jika tuhan memberi kepercayaan kepada kita seorang buah hati, apa kau mau..?"
"Buah hati dari mana, kita saja belum membuatnya.." seru sesil, seketika sesil membekap mulutnya karena kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutnya.
"Membuatnya..?" Nathan terkekeh mengulangi kata-kata sesil barusan.
"Apa kau mau membuatnya sekarang?" Nathan mencolek pipi sesil yang sudah merah merona menahan malu.
"Dasar mesum.." Sesil menutupkan selimut ke seluruh tubuhnya, seketika tawa nathan kembali pecah melihat tingkah menggemaskan dari sesil.
"Diamlah, kenapa kau masih saja tertawa" Suara sesil dari balik selimut menghentikan tawa nathan.
Kemudian sesil dan nathan berbincang-bincang mengobrol kesana-kemari tentang sesuatu hal yang tidak penting, dan cara itu ampuh membuat sesil sedikit melupakan kepergian omanya.
****
Swan juga baru terlihat keluar dari kamarnya menuju lantai satu, bahkan beberapa pelayan yang sedang membersihkan rumah menyapa hangat swan saat melihat swan melintas di hadapan mereka.
"Nona belum bangun..?" Swan bertanya ke salah satu pelayan rumahnya.
"Sepertinya belum tuan" ucap pelayan tersebut
"Tuan muda juga sepertinya hari ini tidak ke kantor, karena sedari pagi kami belum melihat tuan muda" imbuhnya lagi.
"Oh" swan menganggukkan kepala sembari berlalu meninggalkan para pelayan rumahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy weekend guys🤗