
Hari ini adalah hari perdana dimana Sesi, Nathan dan Yasmine menikmati sarapan pagi bersama.
Yasmine dengan telaten mengolesi roti milik Nathan dengan selai kacang, bahkan senyum di bibir Yasmine tak hentinya mengembang saat saling beradu pandang dengan Nathan.
Sesil yang menyaksikannya hanya bisa berusaha menguatkan hatinya karena ini semua juga kemauan dari dirinya.
"Sayang, hari ini aku mau mengunjungi cabang usaha toko kue di luar kota, mungkin akan pulang sedikit sore" Seru Yasmine sambil meletakkan dua lembar roti yang sudah di olesi selai kacang dengan merata
"Pergilah, hati-hati" Nathan menepiskan senyumnya.
Sedangkan Sesil hanya bisa diam mendengarkan wanita selain dirinya menyebut suaminya dengan kata sayang.
Sesil kembali mengalihkan pandangan matanya menatap Nathan yang sedang menikmati sarapan pagi.
Mungkin hubungan Nathan dengan Yasmine sudah lebih jauh dari apa yang Sesil pikirkan saat ini, awalnya Sesil berfikir kalau Nathan tidak mungkin menyentuh Yasmine semalam tapi kenyataan sepertinya tidak seperti itu, apalagi melihat Yasmine memanggil Nathan dengan sebutan Sayang.
Setelah menyelesaikan santap paginya, Sesil dan Nathan pergi ke kantor bersama dalam satu mobil.
Sepanjang perjalanan Sesil membungkam mulutnya rapat-rapat.
Sejenak Nathan melirik ke arah istrinya yang duduk tepat di sampingnya, terlihat kantung mata Sesil begitu jelas. Sepertinya istrinya yang satu ini tidak tidur semalaman.
"Apa tidurmu nyenyak?"
"Tentu saja nyenyak sekali, apalagi tidak ada dirimu yang suka berisik mengorok" Timpal Sesil
"Dasar gadis nakal" Nathan mengusap puncak kepala istrinya dengan gemas.
"Bagaimana denganmu?" Imbuh Sesil lagi.
"Nyenyak sekali, ternyata Yasmine lebih dari yang aku bayangkan" Nathan tersenyum mesum, sedangkan Sesil hanya bisa mendengus dengan kesal namun sekuat tenaga dia tidak terpancing dengan perkataan dari Nathan.
"Syukurlah, jadi kau tidak perlu menggangguku lagi"
"Mana bisa seperti itu?kau juga istriku, jadi nanti aku juga akan meminta jatah kepadamu" Goda Nathan
"Dasar serakah" Ketus Sesil.
Nathan hanya terkekeh melihat istrinya memasang wajah yang cemberut seperti itu. Sesil semakin terlihat menggemaskan.
Nathan melajukan mobilnya mengarah ke arah kantornya, hingga kurang dari satu jam mobil yang Nathan kendarai sudah terparkir di area bassement kantornya.
Sepasang suami istri itu berjalan beriringan memasuki kantor mereka berdua dan memulai pekerjaan mereka.
^
Sementara Adibjo mengepalkan tangannya saat mendapat laporan dari anak buahnya kalau kemarin siang putra satu-satunya sudah menikah lagi untuk kedua kalinya.
Dengan amarah yang membuncah, Adibjo meminta supir pribadinya mengantarnya ke kantor putranya.
Dignal Property Group..
__ADS_1
Mobil yang membawa adibjo terparkir tepat di depan loby kantor, dia dengan raut wajah yang tidak bersahabat masuk ke dalamnya. Tanpa menunggu lama Adibjo langsung menerobos masuk ke dalam lift.
Setelah sampai di lantai paling atas gedung, tempat dimana ruangan putranya berada.
"Tuan Adibjo, selamat pagi" Sapa Emilia ramah, namun seolah tak mendengar Emilia, adibjo langsung masuk ke dalam ruang kerja Nathan tanpa menutup pintu kembali.
"Ayah?" Nathan terkejut melihat kedatangan ayahnya sepagi ini berkunjung ke tempat kerjanya.
Plak..
Tanpa basa-basi dan menunggu lama, Adibjo melayangkan satu tamparan keras di pipi Nathan, hingga terlihat lima sidik jari Adibjo di pipi putih Nathan.
"Ayah sudah memberimu kesempatan, tapi kau menyia-nyiakan hal itu ! Bukankah dulu Ayah pernah katakan jika kau menyakiti Sesil sekali lagi, dengan tangan Ayah sendiri yang akan memisahkan kalian!" Seru Adibjo dengan suara menggelegar.
Namun Nathan hanya diam saja dengan raut wajah yang datar tak memperdulikan kemarahan Ayahnya.
"Ayah tau ini semua Sesil yang menginginkannya, tapi seharusnya sebagai seorang lelaki kau harus bisa memiliki prinsip yang kuat, pertahankan jika kau benar-benar mencintainya bukan malah seperti ini ! Kau menikah lagi dengan wanita lain" Imbuh Adibjo
Namun Nathan masih diam saja tak menjawab Ayahnya, wajahnya terlihat semakin tenang seolah-olah dirinya memang sudah memprediksi kalau ini pasti akan terjadi.
"Jawab Ayah" Adibjo meraih krah baju kemeja Nathan dan mengcengkramnya begitu kuat.
Adibjo tidak menyangka putranya akan bertidak bodoh seperti sekarang ini.
Awalnya Adibjo pikir Nathan akan berpegang teguh pada pendiriannya kalau hanya Sesil yang akan menjadi istrinya, tapi saat ini Adibjo merasa kalau semua perkataan anaknya hanya isapan jempol semata.
"Ayah.." Suara lembut seseorang mengalihkan pandangan Adibjo, dan saat melihat Sesil berdiri di belakangnya seketika itu pula Adibjo menjauhkan tangannya dari kerah baju Nathan.
"Ayah tenanglah" Sesil mengusap pundak Adibjo dan mengajak pria paruh baya itu untuk duduk di sofa.
"Ayah dengarkan Sesil, ini semua kesepakatan kita bertiga, aku mengijinkan Nathan menikah lagi dan aku sudah rela Ayah, bahkan kamu bertiga hidup sangat baik dan rukun" Sesil menepiskan senyumnya.
"Tapi ini tidak di benarkan nak" Adibjo menatap lekat-lekat wajah menantunya, sedangkan Sesil diam saja tidak menjawab pertanyaan dari Ayah mertuanya.
"Ini semua karena Nathan mencintai Sesil Yah, Nathan tidak mau kehilangan istri Nathan. Semua ini memang berat, tapi tahukah ayah kenapa Nathan sampai menuruti kemauan Sesil?" Kali ini Nathan angkat bicara.
Sesil terlihat menundukkan kepalanya, bahkan meremas jari jemarinya, Sesil benar-benar merasa serba salah di sini.
"Sesil mengajukan gugatan cerai kalau Nathan menolak kemauannya" Nathan menghela nafasnya dan kembali mengingat kejadian dua hari yang lalu.
Seketika Adibjo membuka matanya lebar, dia tak percaya menantunya bisa melakukan hal senekat itu. Meskipun Adibjo paham kalau Sesil ingin melakukan yang terbaik, tapi membuat putranya menikah lagi sama saja menyakiti hatinya sendiri.
"Ayah, percaya sama Sesil" ucap Sesil lirih, dia takut ayah mertuanya akan marah.
Adibjo memijat pelipisnya, kepalanya begitu terasa pusing, kehidupan putranya saat ini sedang kacau berantakan, sementara dirinya tidak bisa melalukan apa-apa.
Tanpa menjawab perkataan dari menantu serta putranya, Adibjo beranjak dari duduknya lalu pergi keluar ruang kerja Nathan.
Awalnya Sesil ingin mengejar Ayah mertuanya, tapi karena tangannya di cekal oleh Nathan,dia mengurungkan niatnya dan kembali duduk di sebelah Nathan.
"Ini baru Ayah, bagaimana kalau sampai papi tau ?" Nathan menatap kedua bola mata istrinya, dia yakin kalau Sesil pasti sangat tertekan kali.
__ADS_1
Sesil menghela nafasnya, kemudian menceritakan kepada Nathan kalau dirinya sudah memberi tahu perihal ini pada papinya, awalnya Swan tidak setuju dan marah, tapi karena Sesil terus berusaha menyakinkan papinya, akhirnya Swan menyerahkan semua keputusannya di tangan Sesil.
"Semua akan baik-baik saja Nath, aku harap Yasmine akan segera mendapatkan momongan" Sesil menepiskan senyuman manisnya, membuat Nathan merasa kesal karena istrinya sepertu batu dan masih terus bertahan dengan keputusan yang menyakitinya sendiri.
"Kau sungguh wanita tangguh sayang" Nathan membelai mesra pipi istrinya, rasanya baru semalam saja tidak tidur bersama Sesil dia sudah sangat merindukan pelukan istrinya.
"Apa jika Yasmine sudah memiliki anak dariku, kau akan memintanya berpisah denganku?"
"Mana mungkin, aku tidak segila itu. Tentu saja Yasmine akan tetap menjadi istrimu sayang" Balas Sesil dengan suara lembut.
Nathan menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan istrinya, dia semakin membelai lembut pipi istrinya, Nathan paham betul saat ini pasti Sesil sangat merasa menderita, tapi Nathan ingin tau sejauh mana Sesil bisa bertahan dengan sakit hatinya.
Sesil merasa tubuhnya semakin panas akibat belaian mesra tangan Nathan di area pipinya, tatapan Nathan membuat Sesil semakin tersipu malu, wajahnya memerah menahan pikiran liarnya.
Nathan menarik sudut bibirnya, dia tau betul istrinya menginginkan hal yang sama dengannya, perlahan Nathan memiringkan kepalanya dan menempelkan bibirnya di bibir istrinya.
Keduanya kembali berciuman menyalurkan kerinduan yang terpendam, meski baru satu malam tidur berbeda kamar tapi rasanya sangat lama untuk Sesil.
Sesil memejamkan matanya menikmati ciuman dari suaminya di pagi hari, tapi tiba-tiba Sesil merasa hidung mancungnya basah, seketika Sesil membuka matanya dan melihat Nathan yang masih menikmati bibirnya dengan penuh cinta matanya masih terpejam tapi sudut mata Nathan terlihat berair.
Sesil yang menyadari suaminya menangis untuk kedua kalinya, langsung melepaskan ciumannya.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Sesil langsung menghapus air mata suaminya menggunakan jari-jemarinya. Sedangkan Nathan diam saja, wajahnya terlihat tanpa ekspresi.
Nathan begitu merasa menyesal selalu membuat istrinya menderita sejak kecil bahkan sejak dalam kandungan Sesil sudah mendapatkan ketidak adillan dari mendiang omnya, dan saat ini dirinya pula tidak bisa membahagiakan wanita yang sangat di cintainya.
"Sayang ada apa?" Tanya Sesil lembut.
Nathan langsung memeluk tubuh istrinya dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya "Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu" Ucap Nathan dengan suara yang sangat lirih.
"Aku sangat mencintaimu, apapun caranya aku akan tetap mempertahan rumah tangga kita, sekalipun caranya membuat dirimu sakit, dan membuatku tersiksa" Imbuh Nathan lagi, semakin mengeratkan pelukannya kepada istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
Sedih banyak yang UnFavorit😭 Tapi ini jalan yang Srayu pilih💪
Padahal belum tau kelanjutannya, tapi udah pada Unfavorit duluan😑
Semoga masih ada yang mau baca karya receh srayu ya🙏
__ADS_1
Jangan lupa Vote dan komentar♥️
Kemarahan kalian, kebahagiaan buat srayu😁 tandanya cerita Srayu hidup dan kena di hati readers♥️