Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Dalam Masalah


__ADS_3

Terhitung seminggu sudah Sesil kembali bekerja di perusahaan yang papinya miliki.


Hari-harinya di isi dengan bekerja membantu Nathan.


Pagi ini seperti biasa Sesil sedang berkutat dengan pekerjaannya bahkan Nathan sudah memberinya sekretaris pribadi yang membantu pekerjaan istrinya. Meski keduanya bekerja berbeda ruangan, namun keduanya akan selalu menyempatkan waktu makan siang bersama di sela-sela kesibukannya.


Siang ini Sesil ada pertemuan dengan salah satu penanam modal di perusahaannya. Seperti biasa Sesil sedang menyiapkan beberapa berkas yang di butuhkan untuk meeting nanti siang.


Sekretaris barunya yang bernama Siska juga sangat cekatan dalam bekerja. Meskipun dia masih sangat muda dan hanya lulusan D3 manajemen di salah satu Universitas ternama di kota semarang, tapi kemampuannya tidak bisa di remehkan.


Siska sangat banyak membantu Sesil.


Sesil benar-benar menunjukan kemampuannya dalam berbisnis, kemampuannya benar-benar tidak bisa di ragukan.


Tok..Tok..Tok..


Siska langsung menyelonong masuk ke dalam ruang kerja Sesil dengan raut wajah yang kawatir.


"Bu, maaf saya mendapat kabar dari Bram kalau sepuluh menit lagi ada meeting dengan Divisi keuangan sepertinya anak perusahaan kita mendapatkan masalah besar"


"Anak perusahaan kita yang dimana?" Sesil menautkan kedua alisnya menatap sekretarisnya yang berdiri di hadapannya.


"Palembang Bu, kita kan sedang dalam tahap renovasi hotel di sana, tapi sepertinya ada masalah dengan proses pembayaran karyawan di sana, lebih baik ibu segera menuju ruang meeting, karena sudah di tunggu di sana"


Sesil beranjak dari kursinya lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan menuju ruang meeting. Dan saat dia masuk ke dalam ruangan meeting yang kebetulan berada satu lantai di bawah ruangan miliknya, di sana sudah berkumpul Staf dari Divisi keuangan, namun kedua mata Sesil belum melihat Nathan duduk di kursi CEO.


Sesil membungkuk memberi hormat dan duduk di kursi yang biasa di tempati olehnya. Tidak lama kemudian Nathan masuk di temani oleh Bram dan juga Emilia yang nampak membawa setumpuk berkas.


Sesil sejenak melirik wajah suaminya yang terlihat sangat tidak bersahabat, aura dingin begitu terasa bahkan sorot mata Nathan menunjukan kemarahan.


Emilia mulai membagikan selembar kertas kepada semua anggota meeting termasuk Sesil.


Sesil mulai membaca kertas tersebut begitupun dengan anggota meeting yang lain. Saat Sesil membaca kedua bola matanya terbuka lebar, karena semua tagihan pembelian bahan material belum di bayarkan, belum lagi gaji karyawan yang bekerja di sana belum di bayarkan selama tiga bulan lamanya. Membuat kerugian yang cukup besar, padahal semua dana sudah di kucurkan oleh pihak perusahaan tapi tidak sampai di lapangan.


"Apa yang kalian bisa jelaskan kepada saya?" Ucap Nathan dengan suara yang sangat dingin, membuat suasana meeting menjadi tegang.


Tidak ada yang berani membuka mulutnya, begitupun Sesil baru melihat kalau Nathan bisa memiliki wajah mengerikan seperti ini. Selama umur pernikahannya Nathan selalu bersikap manis, bahkan saat mengalami masalah beberapa waktu lalu, Nathan memilih mendiamkannya dari pada berbicara kasar terhadapnya. Tapi hari ini Sesil mengetahui suaminya juga bisa begitu menyeramkan saat marah.


"Bukankah semua dana sudah saya bayarkan? lalu bagaimana mungkin dari divisi keuangan bisa kecolongan seperti ini? kalau sudah seperti ini siapa yang bisa di salahkan hah?" Nathan menggebrak meja meeting dengan begitu keras, membuat semua yang hadir begitu terkejut.


Nathan menyapu sekeliling ruangan, melihat satu persatu peserta meeting yang nampak menundukkan kepalanya karena merasa takut melihat pimpinan mereka mengamuk.


Begitupun Sesil, dia diam saja dan sibuk menganalisa laporan keuangan yang kini berada di tangannya.


"Kalian semua tuli? mengapa diam saja? Tidak ada yang mau menjelaskan kemana dana sebesar itu raib hah?" Suara Nathan semakin meninggi membuat semua orang yang hadir membisu tak berani membuka mulut.


Emilia juga baru pertama kali melihat Nathan semarah ini. Dulu saat memimpin Adigja Group Nathan selalu bersikap sabar dan tenang. Tapi setelah memimpin dua perusahaan sekaligus Bosnya berubah menjadi dingin dan susah di tebak kemauannya.


"Bram.."


Bram maju menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Nathan, dan kembali mundur beberapa langkah lalu berdiri kembali di tempat semula.


"Kalian sudah membuat perusahaanku merugi besar dan dalam masalah, karena pekerja di sana selain mogok bekerja juga merusak peralatan dan bangunan Hotel" Nathan menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, dengan kedua tangannya menaut dengan sempurna.


"Ini adalah bukti penggelapan dana yang sengaja di masukkan kedalam rekening pribadi salah seorang anggota Divisi Keuangan. Bahkan orang tersebut dengan sengaja menggunakan nama orang lain untuk mempermulus rencananya. Tapi jangan pikir saya sebodoh itu" Nathan melempar amplop tersebut ke depan kepala bagian Keuangan.

__ADS_1


Nathan menatap sinis laki-laki yang memiliki umur tidak jauh darinya. Sementara kepala bagian tersebut seketika mendongak dan beradu pandang dengan Nathan. Rasanya dia tak menyangka kalau rencananya sudah terendus. Padahal dia membuka rekening atas nama temannya yang sama-sama bekerja di sini namun berada di divisi pemasaran.


"Kau pikir aku bodoh? Kau memakai nama rekening kepala bagian Humas untuk mengelabuhi kami bukan? supaya kalau ada masalah dia yang tertangkap?" Nathan tersenyum menarik sebelah sudut bibirnya, sementara kepala bagian keuangan masih terlihat begitu tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kalau hanya asumsi tanpa ada bukti yang kuat itu sama saja pencemaran nama baik dan bisa membawa kasus ini ke jalur hukum.


Nathan kembali melemparkan map coklat ke depan kepala keuangan. Di dalamnya berisi beberapa bukti yang membuktikan kalau memang benar kepala bagian telah menggelapkan dana renovasi hotel di Palembang.


Kepala bagian wajahnya terlihat memucat saat membuka amplop tersebut. Rasanya hidupnya pasti sudah berakhir hari ini.


"Gara-gara kebodohanmu, karyawan yang di sana merusak beberapa alat berat dan menuntutku untuk datang ke sana memberi penjelasan perihal masalah keterlambatan pembayaran gaji" Tukas Nathan.


"Bram.." Nathan menggelengkan kepalanya, membuat Bram langsung berjalan mendekat ke arah pintu dan membukanya, nampak beberapa polisi masuk ke dalam ruangan dan langsung menyeret pelaku penggelapan uang.


"CEO, saya minta ampun ! Saya akan mengembalikan uang yang sudah saya ambil. Saya janji" Kepala bagian terlihat memelaskan wajahnya, bahkan dia berusaha lepas dari kedua polisi yang menahan tubuhnya, dan saat berhasil lepas dia langsung bersimpuh di hadapan Nathan dan memegang kedua kaki Bosnya.


Namun seolah tuli dan buta Nathan sama sekali tak memandang orang yang sedang bersimpuh di bawah kakinya. Wajahnya menampakkan aura dingin yang membuat seluruh yang hadir dalam ruangan tersebut tak berani memandang ke arah Nathan.


Namun berbeda dengan Sesil, dia hanya menggelengkan kepalanya melihat suaminya yang memperlihatkan sikap kaku dalam bekerja.


Tak mendapat jawaban dari pimpinan perusahaan, dua polisi tersebut langsung menyeret kembali kepala bagian dan membawanya keluar ruangan.


Saat pintu ruangan kembali tertutup, suasana benar-benar sunyi, tidak ada yang berbicara sepatah katapun.


Nathan terlihat mengatur emosinya dengan cara menarik nafasnya perlahan dan membuangnya perlahan.


Setelah emosinya sedikit stabil, Nathan memberikan evaluasi kinerja divisi keuangan. Setelah hampir satu jam berlangsung Nathan membubarkan peserta meeting untuk kembali bekerja.


Kini di dalam ruang meeting tersisa Sesil, Nathan, Emilia serta Bram.


Kedua asisten Nathan nampak masih setia berdiri di belakang kursi yang di tempati oleh Nathan, menunggu instruksi selanjutnya.


"Kalian bisa kembali ke meja kerja kalian masing-masing"


Saat pintu sudah tertutup sempurna Nathan kembali menghela nafasnya dan merubah raut wajahnya menjadi sedikit tenang dari sebelumnya.


"Maafkan aku" Suara Nathan terdengar begitu lirih di telinga Sesil, tidak seperti sebelumnya yang penuh dengan luapan emosi.


Mendengar ucapan suaminya sudah melunak, Sesil hanya tersenyum lalu beranjak dari kursinya lalu berjalan dan berdiri di belakang kursi kerja suaminya.


Kini Sesil memposisikan dirinya berdiri tepat di belakang kursi yang suaminya tempati.


"Jangan marah lagi" Sesil memutar kursi yang Nathan tempati hingga kini keduanya saling beradu pandang.


"Nanti kau akan cepat keriput dan aku tidak mau lagi jika kau keriput" Sesil mencubit hidung mancung suaminya mencoba meredam emosi suaminya.


"Benarkah?" Nathan menarik tubuh istrinya hingga kini Sesil duduk di pangkuan suaminya.


"Tentu saja, kau memiliki umur dua tahun di atas umur yang aku miliki, jika kau terus menerus marah dan emosi pasti kau akan cepat keriput, sedangkan aku masih cantik begini, tentu saja aku malu" Sesil terkekeh pelan menanggapi celotehan dari suaminya.


Nathan hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya yang mampu meredam emosinya saat ini. Saat seperti ini memang hanya Sesil yang mampu memberinya ketenangan.


"Sayang sepertinya aku akan ke Palembang beberapa hari ke depan untuk mengurus masalah ini"


"Kau tenang saja, biar aku yang mengurus perusahaan di sini, dan lagi lusa papi juga sudah kembali dari Australia. Dia ingin sekali bertemu denganku saat mendengar aku sudah bisa berjalan seperti sedia kala"


"Ya sudah, biar Bram di sini membantumu" imbuh Nathan

__ADS_1


"Apa kau meragukan kemampuanku dalam berbisnis Nath? Bahkan tempo hari aku yang sudah memenangkan Tander besar dengan perusahaan asing" Sesil memiringkan wajahnya hingga bisa melihat ekspresi suaminya.


Flashback off


Tiga hari yang lalu, saat ada pertemuan penting dengan salah satu Brand Property yang sangat penting dari AS, Nathan malah harus mengurus Adigja Group yang mengalami masalah.


Dua keputusan yang sangat sulit untuk Nathan saat itu. Hingga Sesil memaksa Nathan untuk mengurus Adigja, dan soal pertemuan dengan pimpinan Brand Property asing, Sesil yang akan menanganinya.


Karena situasi yang begitu darurat, akhirnya Nathan memutuskan untuk menyetujui usulan dari istrinya.


Dan tidak di sangka Sesil yang hanya seorang wanita dan baru saja mulai bekerja di kantor beberapa hari dapat mempresentasikan proposal yang di susun sendiri oleh Nathan.


Bahkan tak tanggung-tanggung, istrinya langsung menyingkirkan tiga pesaingnya dan mendapatkan kontrak eksklusif.


Meskipun Sesil seorang wanita, tapi kecerdasan dalam berbisnis benar-benar menurun dari Papinya.


Paras cantik kecerdasan intelektualnya tak bisa di ragukan lagi. Nathan yakin jika istrinya terus membantunya pasti mereka berdua akan menjadi penguasa Bisnis di bidangnya.


Flashback On


"Sama sekali tidak meragukan kemampuan nyonya Sesil Adibjo, istriku yang satu ini memang pandai dalam segala hal, termasuk urusan ranjang" Goda Nathan dengan tersenyum nakal.


Sesil mendengus kesal mendengar ucapan Nathan yang mesum di saat seperti ini.


Suaminya ini memang selalu saja bersikap mesum bila berada di dekatnya, tak perduli dimana saja mereka berada.


Dengan mendengus kesal,Sesil menyikut perut sispex suaminya dengan kedua tangannya. Membuat Nathan malah tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Gadis Nakal" Nathan mendaratkan satu kecupan di pipi istrinya. Rasanya Nathan tak rela harus melepaskan pelukannya dari tubuh istrinya.


Tapi karena satu jam lagi dirinya harus pergi ke Palembang, maka rela tidak rela Nathan melepaskan pelukannya dari istrinya.


Sebelum benar-benar berangkat, Nathan terlebih dahulu mencicipi bibir seksi istrinya. Setelah puas Nathan memberi kecupan mesra di kening Sesil baru setelah itu dia berangkat menuju bandara bersama Emilia dan juga Bram.


Setelah kepergian suaminya, Sesil kembali lagi bekerja. Sebenarnya dia ingin mengantar Nathan ke bandara, tapi karena setengah jam lagi ada meeting penting, maka dari itu Sesil hanya bisa berdoa semoga suaminya selalu dalam lindungan Tuhan dan bisa kembali berkumpul bersamanya lagi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Ada komentar?


__ADS_2