
Waktu terlewat begitu cepat, sudah sembilan bulan usia pernikahan Sesil dan Nathan. Keduanya juga sangat saling mengasihi dan sering menghabiskan waktu bersama di sela kesibukan Nathan yang saat ini sudah resmi mengurus perusahaan milik keluarganya yang sudah melebur menjadi satu dengan perusahaan milik papi mertuanya.
Dan Swan juga sudah memberikan kendali penuh terhadap Nathan untuk memimpin semua kerajaan bisnis miliknya.
Yang Swan inginkan saat ini adalah menikmati sisa.
hidupnya dengan sering melakukan bakti sosial ke berbagai panti asuhan dan panti jompo.
Swan menghabiskan hari-harinya untuk menemani ayahnya yang sakit struk setelah ditinggalkan oleh maminya.
Siang ini Sesil sedang menyiapkan bekal makan siang untuk Nathan. Entah mengapa hari ini dia begitu merindukan Nathan yang beberapa hari belakangan ini selalu pulang larut malam dan pergi pagi-pagi sekali.
Setelah memasukkan nasi dan lauk pauk ke dalam rantang makanan, Sesil meraih kantong kresek dan memasukkan rantang yang berisi makanan tersebut ke dalamnya.
Namun sebelum dia menuju ke kantor Sesil terlebih dahulu menuju kamarnya untuk sedikit memoles wajahnya dengan make up sederhana dan mengganti pakaiannya dengan gaun yang cantik.
Setelah cukup lama mematut diri di depan kaca rias di kamarnya dan memastikan kalau penampilannya sudah cantik, Dia meraih tas jinjing dan keluar kamar untuk menuju meja makan mengambil rantang makanan.
Setelah sampai di meja makan, Sesil meraih kresek yang berisi rantang makanan dan langsung membawanya.
Hari ini Sesil mengemudikan mobilnya secara pribadi menuju kantor suaminya, senyum di bibir Sesil tak hentinya merekah begitu indah.
Setelah mengemudikan mobil hampir empat puluh lima menit, mobil yang di kendarai Sesil sampai di Basement Kantor Carnal Group. Sesil turun dari mobil membawa kresek di tangannya, dia kemudian naik ke lantai 17 menggunakan Lift kusus CEO.
Saat pintu Lift terbuka, Sesil segera membawa langkah kakinya keluar lift dan berjalan menuju Ruangan suaminya.
"Halo Nona, selamat siang" Sapa emilia yang kala itu langsung berdiri saat melihat kedatangan Sesil.
"Nathan ada ??"
"Oh ada Nona, silahkan langsung masuk saja" Jawab emilia sambil tersenyum, dan sesil juga membalas senyum emilia, lalu dia memasuki ruang kerja Nathan.
"Hai..." Sapa sesil saat sudah berhasil membuka pintu dan melihat Nathan yang sedang sibuk menatap layar laptop
"Sesil??? Ada apa???" Nathan begitu terkejut melihat Istrinya sudah berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.
Mendengar pertanyaan dari Nathan, seketika wajah sesil berubah menjadi datar tanpa ekspresi. Rasanya dia begitu tak suka akan pertanyaan yang terlontar dari mulut Nathan.
"Memangnya aku harus mempunyai alasan untuk datang ke kantor ini? terlebih lagi untuk menemui suamimu sendiri?" Gumam sesil dalam hatinya,dengan langkah lesu sesil menutup pintu dan membawa langkah kakinya menuju sofa. Dia meletakkan kresek yang di bawanya ke atas meja kemudian dia mendudukkan diri di sofa.
"Apa kau tidak suka aku kemari???" Ucap sesil lirih
Namun Nathan diam saja tak merespon ucapan sesil, sebenarnya bukan tidak merespon tapi karena dia terlalu fokus bekerja hingga tak mendengar suara istrinya yang begitu lirih.
Lama tak mendapat respon, Sesil menarik nafasnya dengan berat dan beranjak dari sofa hendak keluar ruangan, namun saat tangan sesil hendak membuka knop pintu, tiba-tiba saja dirinya di peluk dari arah belakang. Nathan menyandarkan kepalanya di pundak kanan istrinya. Nathan memejamkan matanya dan mengendus aroma wangi tubuh istrinya yang sudah beberapa hari tak di sentuhnya.
"Aku merindukanmu sayang" Nathan mengecup mesra pipi kanan Sesil, hingga membuat istrinya kembali tersenyum dan langsung berbalik badan menatap ke arah kedua bola mata Nathan, kedua saling memandang dengan begitu dalam dan lama.
"Jangan terlalu lelah bekerja, tubuhmu juga perlu beristirahat" Sesil merapihkan rambut Nathan yang sedikit berantakan, bibirnya tersenyum manis ke arah suami yang teramat di rindukannya.
"Ayo kita makan siang bersama, ini sudah masuk jam makan siang" Ucap sesil, kemudian Dia menarik tangan Nathan berjalan ke arah sofa, keduanya duduk bersebalahan dan dengan telaten Sesil mulai menurunkan rantang makanan yang dia bawa.
Harum masakan sesil begitu menggoda di indera penciuman Nathan, perutnya yang sudah terasa lapar semakin terasa lapar tatkala melihat isi rantang yang berisi makanan.
"Terimakasih sayang sudah repot-repot memasak untukku" Nathan mengusap kepala istrinya dengan begitu mesra dan keduanya mulai makan siang bersama, bahkan Nathan dengan senang hati menghabiskan seluruh makanan yang Sesil bawa untuknya.
Setelah makanannya habis, Nathan meminum Jus apel yang di bawakan oleh Istrinya.
Rasanya begitu nikmat bisa memakan masakan Istrinya, lebih enak dari restoran manapun menurut Nathan.
Nathan menyandarkan tubuhnya dan mengelus perutnya yang terasa begitu kenyang, sedangkan Sesil merapihkan kembali rantang tersebut dan memasukkannya ke dalam kresek.
__ADS_1
"Nath, hmm..." Sesil nampak ragu melanjutkan kata-katanya.
"Ada apa sayang??" Ucap Nathan
"Aku hari ini ingin mengunjungi papi, apa boleh?"
"Tentu saja sayang, tapi aku tidak bisa menemani, karena ada deadline pekerjaan yang harus aku Selesaikan" Nathan begitu merasa tidak enak karena akhir-akhir ini perhatiannya untuk Sesil sudah sangat berkurang, semenjak Nathan di beri kepercayaan oleh Swan untuk mengelola perusahaannya, Nathan banyak menghabiskan tenaga, pikiran dan perhatiannya untuk pekerjaan.
"Nath, apa kau melihat ada yang berubah dari tubuhku?" Sesil beranjak berdiri dan berputar di hadapan Nathan, membuat Nathan menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah Istrinya.
"Duduklah, nanti kau pusing jika terus menerus berputar" Nathan meraih tangan Sesil hingga membuat Sesil jatuh terduduk di atas pangkuan suaminya.
"Aku sepertinya menjadi tambah gemuk" Sesil menepuk pipinya yang di rasa menjadi semakin cuby beberapa hari terakhir ini, namun dengan cepat Nathan meraih kedua tangan Sesil, membuat Sesil menghentikan aksinya
"Mau kau gemuk, kurus atau apapun, aku akan tetap menerima dirimu, sesuai janjiku di hadapan Tuhan, Pastur dan Jemaat yang hadir dalam acara pemberkatan pernikahan kita" Ucap Nathan dengan penuh keseriusan, membuat Sesil membungkam mulutnya rapat-rapat dan tak berani mengucapkan kata-kata selanjutnya.
Setelah puas berbincang-bincang, Sesil berpamitan kepada Nathan untuk mengunjungi papinya dan opahnya. Tidak lupa pula sebelum mengunjungi maminya, dirinya akan terlebih dahulu mengunjungi makam maminya.
***
Malam harinya, selesai makan malam Sesil duduk di ruang tamu melihat siaran Televisi yang banyak memberitakan perihal penyebaran virus Covid 19 yang begitu menggemparkan dunia.
Dan saat sedang serius melihat siaran berita, terdengar deru mesin mobil di bagasi rumahnya. Sepertinya Nathan sudah kembali, sejenak Sesil menoleh ke arah jam dinding,waktu baru saja menunjukkan pukul 07.40pm, biasanya Nathan akan kembali hampir tengah malam.
Dengan begitu girang, Sesil segera menuju pintu untuk menyambut kepulangan suaminya.
"Kau sudah pulang??" Sapa sesil, kemudian dirinya meraih tangan Nathan dan menciumnya. Nathan begitu senang di sambut hangat oleh Sesil.
Dan Sesil mengambil alih untuk membawa tas kerja milik Nathan, kemudian keduanya berjalan menuju kamar.
Sesil meletakkan tas yang di bawanya di sofa kamarnya, kemudian dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mengisi Bath up dengan air hangat, karena kebetulan di luar sedang gerimis dan udara cukup dingin, setelah bath up terisi penuh, Sesil keluar kamar mandi dan melihat Nathan duduk bersandar di sofa dengan kedua matanya yang terpejam.
"Terimakasih sayang, kau pasti lelah mengurusku"
"Kau ini bicara apa? ini kan sudah tugasku sebagai seorang Istri!!" Sesil duduk di sebelah Nathan dan membantu Nathan melepaskan Jas yang masih di kenakan, setelah Jas terlepas kemudian Sesil melepaskan dasi yang melingkar di krah leher suaminya, Nathan hanya bisa tersenyum. Rasanya dia tak percaya kalau Sesil sudah menerima dirinya sepenuh hatinya, meskipun Nathan tau pernikahan keduanya hanya berdasar Sesil terpaksa untuk menghindari mantan kekasihnya. Namun waktu menjawab semua usaha yang Nathan lakukan selama bertahun-tahun. Semua jerih payahnya berbuah manis. Kini Sesil sudah benar-benar bisa membalas cintanya.
"Ya sudah aku mandi dulu sayang" Nathan beranjak berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Sesil menyimpan baju kotor suaminya di keranjang baju kotor yang terletak tepat di samping pintu kamar mandi.
Sambil menunggu Nathan menyelesaikan mandinya, Sesil menuju dapur untuk membuat Teh hangat dan mengambil beberapa potong brownies coklat pemberian tantenya tadi siang.
Setelah membuat teh hangat dan mengambil beberapa potong kue dan meletakkan di atas puring kecil ia pun bergegas kembali ke kamar.
Sesil meletakkan cangkir teh dan kue di atas meja, kemudian dia duduk di sofa sembari memainkan ponselnya dan bertukar kabar dengan Imelda yang saat ini sudah resmi pindah tugas kerja di Semarang.
Bahkan gadis cempreng itu suka menceritakan kerinduannya terhadap kedua orang tua angkatnya yang tinggal berjauhan dengannya serta dirinya hanya bisa pulang ke bandung sebulan sekali.
Tidak lama kemudian Nathan terlihat keluar kamar mandi sudah mengenakan piyama tidur. Namun rambut Nathan terlihat masih basah sepertinya dia habis keramas.
Nathan berjalan menghampiri istrinya dan langsung duduk di sebelah istrinya.
"Teh untukku??"
"Hm"
"Oh iya bagaimana keadaan opah dan papi? Mereka sehat kan?" Ucap nathan sambil melirik ke arah istrinya
"Papi baik-baik saja bahkan terlihat begitu sehat dan menikmati masa pensiunnya, tapi opah" Sesil raut wajah sesil seketika berubah menjadi murung saat mengingat konndisi opahnya yang tak kunjung pulih.
"Opah pasti sembuh sayang" Nathan menggenggam tangan Sesil memberi ketenangan tersendiri untuk Sesil.
"Oh ya, ini ada kue dari tante Rara tadi siang" Ucap Sesil sambil melihat ke arah piring yang berisi beberapa potong kue di atas meja.
__ADS_1
Sebenarnya Nathan sudah kenyang karena tadi saat meeting bersama clientnya dia sudah makan malam. Namun Nathan tak mau membuat istrinya kecewa. Istrinya bahkan sudah menyiapkannya untuknya. Maka dari itu Nathan mengambil sepotong kue dan mulai memakannya.
Namun tiba-tiba saja Nathan menyodorkan sepotong kue ke depan mulut Sesil.
"Buka mulutmu" Ucap Nathan, namun Sesil diam saja, rasanya dia begitu tak berselera memakan kue coklat. Tidak seperti biasanya jika melihat kue coklat rasanya dia tak bisa menahan untuk tidak memakannya, terlebih lagi ini kue berasal dari toko langganan kelurganya yang rasanya begitu sangat
lezat.
"Ayo" imbuh Nathan lagi.
Dan dengan terpaksa Sesil menggigit bagian tepi kue tersebut, dan ketika kue tersebut masuk ke dalam mulutnya tiba-tiba saja perutnya terasa begitu mual, bahkan tubuhnya terasa begitu gemetar.
Sesil menggembungkan mulutnya menahan sesuatu yang hendak keluar dari dalam tenggorokannya. Dan dengan cepat Sesil berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Hoek..Hoek..Hoek..
Mendengar istrinya muntah-muntah di kamar mandi, Nathan segera menyusulnya dan langsung memijat tengkuk leher istrinya.
"Apa kau sakit" Nathan terlihat begitu kuatir dengan kondisi istrinya, pasalnya wajah sesil menjadi begitu pucat dan keringat dingin juga terlihat keluar dari dahinya.
Sesil menyalakan kran washtafel dan membasuh mulutnya dengan air. Kemudian dia meraih selembar tisu dan mengelap mulutnya.
"Sudah tidak mual?"
Mendengar penuturan Nathan, Sesil langsung menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah" Nathan memapah tubuh istrinya dan berjalan keluar kamar mandi menuju ranjang.
Nathan membaringkan tubuh Sesil di atas ranjang, dan tangan Nathan membuka laci meja kecil yang berada tepat di samping tempat tidurnya. Natha. meraih kotak obat dan mengambil minyak kayu putih dari dalam kotak tersebut, kemudian Dia menaikkan baju di bagian perut istrinya, dengan telaten Nathan mulai membalurkan minyak angin tersebut ke perut istrinya yang masih datar.
Rasanya Nathan sangat ingin memiliki keturunan dari untuk melengkapi pernikahan mereka. Namun jika Tuhan belum mempercayakan momongan kepada dirinya, Nathan tidak akan mengatakan hal-hal yang akan membuat istrinya kepikiran.
Setelah membalurkan minyak angin secara rata di perut istrinya, Nathan merapihkan kembali baju Sesil dan menarik selimut untuk menutup tubuh Sesil.
Nathan beranjak dari ranjang untuk mengambil teh hangat. Kemudian dia membawanya dan menyuruh istrinya untuk meminumnya, supaya perut sesil lebih terasa hangat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sepi komentar, jadi males nulis😔
__ADS_1