
Pagi ini Dave sudah terlihat datang ke kantornya, meskipun belum waktunya jam kerja namun dia sudah sampai di kantornya.
Bahkan saat Dave memasuki kantornya yang masih terlihat begitu sepi karena para staf di kantornya belum datang.
Dave hanya di sambut oleh satpam kantornya ya b sedang berjaga di depan pintu utama kantornya.
Setelah bertegur sapa sebentar dengan satpam tersebut Dave melangkahkan kakinya memasuki ruang kerjanya di lantai lima gedung tersebut.
Dave mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya dan mulai menyalakan laptop tang terletak di atas meja kerjanya. Setelah menekan tombol power Dave mulai membuka berkas pekerjaan yang akan di presentasikan dengan client nya siang ini. Karena semenjak Dave berhasil mendapat kerja sama dengan perusahaan milik Swan, kini perusahaan miliknya lebih banyak mendapat tender kerja sama.
Karena memang jika sudah bekerja sama dengan perusahaan Carnal Group berarti perusahaan tersebut tidak bisa di pandang sebelah mata.
Dave mulai meneliti satu persatu berkas yang harus di proyeksikan siang ini. Karena jadwalnya hari ini begitu padat bahkan hingga malam nanti dia masih harus bertemu dengan Clientnya di salah satu Restoran Chinees food.
Setelah berkutat dengan file yang berada di dalam laptopnya membuat Dave lupa akan waktunya.
Bahkan saat Sekretarisnya Karin memberi tau semua deadline yang harus Dave kerjakan Dia hanya menganggukkan kepalanya saja.
Karena Semenjak Dave memegang anak cabang perusahaan ayahnya yang berada di indonesia dia menjadi super sibuk, bahkan dia hingga lupa kalau ayahnya meminta dirinya untuk segera mencari calon pendamping hidup.
Karena yang menjadi fokus Dave saat ini hanyalah kemajuan perusahaan yang dia pimpin, dia juga sangat ingin seperti Nathan yang mampu membawa perusahaannya sedikit demi sedikit mengalami kemajuan dan dapat di perhitungkan di kanca bisnis di negaranya.
Bahkan saat jam makan siang Dave melupakan rasa lapar di perutnya karena memang dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya. Dua jam ke Depan, Dave harus meeting.
Tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka dan masuklah Nathan dengan wajah yang begitu sumringah.
"Kau??" Dave mengernyit heran saat melihat Nathan masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi bahkan langsung mendudukkan dirinya di sofa tanpa di suruh.
Nathan terlihat melihat seisi ruangan sahabatnya.
"Kau ada apa kemari?" Seru Dave yang tetap fokus menatap laptop di hadapannya.
"Bagaimana keadaanmu dave? Imel bilang kau memaksa untuk pulang" Seru nathan
"Seperti yang kau lihat kan, aku baik-baik saja?"
"Kau sudah makan siang?" Nathan melihat jam yang melingkar dengan sempurna di pergelangan tangannya, Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30pm
"Belum"
"Ya sudah ayo kita makan keluar" Timpal Nathan, namun tiba-tiba saja ponsel di saku jasnya berdering begitu nyaring.
Nathan hanya mengacuhkannya saja tanpa berniat melihatnya. Namun saat dering pertama mati, ponsel miliknya kembali berdering, membuat Nathan berdecak kesal dan merogoh ponsel dari dalam saku jaketnya.
Dia melihat nama sesil tertera di layar ponselnya
Saat mengetahui istrinya yang menghubunginya, nathan dengan segera menggeser icon berwarna hijau
"Halo say..."
"Halo ! Halo ! Dimana sekarang? kenapa tidak ada di kantor dan tidak memberi tahu emilia kau akan pergi kemana hah" Suara sesil terdengar begitu nyaring di balik ponsel milik Nathan.
"Sayang kau di kantor?? Kenapa tidak memberi tau terlebih dahulu?" Nathan tak kalah terkejutnya mengetahui istrinya menyusul ke kantornya.
"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali" Nathan langsung memutuskan panggilan telefonnya dan bergegas beranjak dari sofa untuk kembali ke kantornya.
"Dave, sepertinya aku tidak jadi makan siang denganmu, istriku menyusulku ke kantor" Ucap Nathan sambil berlalu dari hadapan Dave yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
Sejenak Dave mengalihkan pandangannya dari layar laptop untuk menatap punggung Nathan yang menghilang saat pintu ruangannya tertutup.
Dave begitu merasa iri kepada Nathan yang bisa mendapatkan istri sebaik sesil, Tapi Dave segera menepis pikiran itu jauh-jauh dari pikirannya. Karena Dave sudah bertekad akan melupakan sesil dan memilih persahabatannya dengan Nathan. Seperti Yasmine yang sudah bisa menerima kenyataan kalau takdirnya bukan bersama Nathan.
Dave meraih ponselnya untuk memesan makanan online, Sesibuk apapun Dave harus tetap menjaga kondisinya, karena jika dia sakit tidak akan ada yang mengurusnya di sini.
Setelah memesan makanan Dave meletakkan kembali ponsel miliknya di atas meja dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
Setelah hampir dua puluh menit, Akhirnya makanan pesanan Dave di antar oleh seorang kurir, setelah melakukan pembayaran kurirpun segera pergi dan Dave juga langsung menyantap makanan tersebut. Karena memang Dave tak memiliki banyak waktu luang.
****
Sementara itu, Nathan memasuki kantornya dengan tergesa-gesa, karena dia tau pasti istrinya sudah mengambek padanya.
Nathan melirik ke arah meja emilia yang masih kosong, karena memang jam makan siang belum berakhir.
Nathan menyentuh knop pintu dan mendorongnya.
Saat Nathan masuk ke dalam ruangannya, benar saja dia melihat sesil sedang duduk si sofa dengan melipat kedua tangannya di atas perut dan wajahnya terlihat begitu tak bersahabat.
"Sayang..." Nathan melebarkan senyumnya dan berjalan mendekat ke arah istrinya, kemudian nathan mendudukkan dirinya tepat di samping sesil dan hendak memberi kecupan di pipi istrinya tersebut.
Namun dengan cepat Sesil menghindarinya, sembari menatap tajam ke arah Nathan.
"Gadis Nakal" Nathan mengusap puncak kepala istrinya sambil terkekeh pelan.
"Habis makan siang dengan siapa??" Suara sesil begitu terdengar datar dan tanpa ekspresi
"Dengan Elena" Sambung Nathan lagi
__ADS_1
"Elena temanmu saat SMA??? ketua Cheers ???" Sesil memlototkan matanya tidak suka karena sesil tau betul Elena sejak dulu memang menyukai Nathan.
"Hm.." Nathan menganggukkan kepalanya, rasanya dia begitu senang bisa menggoda istrinya.
"Beraninya yaa!!!" Sesil berteriak kepada nathan dan tanpa basa-basi sesil menggigit lengan suaminya dengan begitu kuat, membuat Nathan mendesis kesakitan.
Setelah puas menggigit, sesil memukul dada bidang suaminya, bahkan matanya sudah terlihat berkaca-kaca.
Melihat mata sesil berkaca-kaca membuat Nathan merasa bersalah dan langsung menangkap kedua tangan sesil yang sedang memukul dada bidangnya.
Nathan menarik sesil dan mendekapnya dengan erat.
"Sayang aku hanya bercanda"
"Tadi aku ada meeting dengan client, dan kebetulan letak kantornya tidak jauh dari kantor Dave makanya seusai meeting aku menyempatkan untuk melihat kondisi Dave, kan kau tau sendiri kemarin dia Alergi" Imbuh Nathan lagi.
"Benarkah??" Suara sesil terdengar begitu serak
"Hm, tentu saja ! Apa kau masih meragukanku hm? Kau bisa melihat sendiri di saat aku masih SMA dan di Universitas, apa kau pernah melihatku dengan wanita lain???" Nathan melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata istrinya yang sudah memerah.
Sesil mencerna setiap ucapan suaminya, dan memang benar semua ucapan Nathan.
Nathan hanya melebarkan senyumnya ke arah istri kecilnya.
"Sayang kau bawa apa??" Nathan melirik ke arah kresek yang berisi rantang makanan.
"Apa kau memasak untukku?" Nathan semakin melebarkan senyumnya dan kegirangan mendapat perhatian dari Sesil.
"Ayo kita makan, aku akan menyuapimu" Sesil melepaskan pelukannya dan mulai membuka rantang makanan yang dia bawa. Sesil menyodorkan sendok makanan yang berisi nasi dan lauk ke depan mulut Nathan, dan dengan segera Nathan langsung melahapnya dengan senang hati.
***
Malam ini, Dave berjanji bertemu dengan Client dari papanya di salah satu Restauran di kota Semarang.
Dia ditemani sekretarisnya duduk menunggu client yang berasal dari malaysia.
Namun di tengah menunggunya, pandangan matanya tersita saat melihat segerombolan orang memasuki restauran tersebut.
Salah seorang darinya Dave sangat mengenalnya, dokter yang kemarin menanganinya di rumah sakit masuk bersama beberapa lelaki dan perempuan.
Dan yang membuat Dave lebih menyipitkan matanya dia melihat Imelda juga terlihat memasuki resto tersebut dan ikut duduk bersama mereka. Meskipun imel sedikit terlambat tapi dia juga bergabung dengan yang lainnya.
Perhatian Dave teralihkan tatkala Client yang dia tunggu sudah datang dan langsung mulai membahas urusan kerja sama mereka.
^
Seluruh temannya bercanda ria, dan bergurau satu sama lain, tapi tidak dengan imelda, dia begitu tidak nyaman akan tatapan Lian yang tak henti menatap wajahnya.
Namun pandangan mata Lian teralihkan tatkala makanan dan minuman yang dirinya pesan datang.
"Wait..wait.. kita bersulang dulu" Lian mengangkat gelas berisi anggur ke atas dan semua yang hadirpun juga melakukannya, mereka semua bersulang dan meminum anggur tersebut tak terkecuali imelda.
Imelda hanya meminumnya sedikit kemudian meletakkan kembali gelas tersebut dan berpamitan untuk pergi ke toilet.
Entah mengapa saat meminum anggur, imel mengingat kembali seseorang yang pernah menjadi pengisi hatinya dulu.
Setelah berpamitan kepada yang lain imel berjalan meninggalkan meja, awalnya dia memang berniat ke toilet namun niatnya dia urungkan dan melangkahkan kakinya menuju rooftop resto tersebut.
Imel duduk di salah satu kursi kosong, dia melihat kondisi sekelilingnya, hanya dirinya yang duduk seorang diri, sedangkan yang lain semuanya berpasangan.
Imel menutup wajahnya dengan telapak tangannya, bayang wajah seseorang melintas di kepalanya. Seseorang yang memutuskan kembali ke negaranya saat menyelesaikan study kedokterannya. Namun sebelum dia pulang, dia berjanji akan menemui imelda kembali. Namun setaun berlalu orang yang di tunggu imel tak kunjung datang memenuhi janjinya.
Lama imel merenung hingga tak terasa sudah satu jam dia duduk di sini, imel melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya
"Astaga!" Imel menepuk keningnya dengan telapak tangannya saat melihat dirinya sudah menghabiskan waktu satu jam di sini.
Dengan segera dia beranjak dari duduknya untuk kembali meneumui rekan kerjanya.
Dan saat imelda kembali ke meja, hanya tinggal 3orang di meja tersebut.
Imel tersenyum pelik kepada mereka dan mendudukkan tubuhnya di kursi yang sempat dia tinggalkan.
"Kemana yang lain??"
"Yang lain sudah pulang, kau lama sekali" timpal salah seorang temannya.
Imel mengacuhkan celotehan temannya dan dia meraih gelas yang berisi anggur dan menenggaknya hingga habis.
"Li, bolehkah aku nambah??", mendengar penuturan imel Li pun menganggukkan kepala dan menuangkan minuman ke dalam gelas imel lagi, dan kali ini imel juga langsung meminumnya hingga habis.
Kepala imel terasa mulai pusing, namun rasanya dia belum puas dan meminta minuman lagi.
Kedua teman imel yang lain memutuskan untuk kembali ke rumah, namun tidak dengan imel, dia masih ingin minum. Dan Lian juga menemaninya bahkan hingga imel menghabiskan setengah botol anggur dan dia sudah benar-benar mabuk.
"Mel, kau baik-baik saja?" Lian beranjak dari kursinya dan mendekat ke arah imelda yang sudah menyandarkan kepalanya di meja.
Lian tersenyum penuh makna dan memapah tubuh imel untuk di bawa ke dalam mobilnya, karena memang kebetulan imel tidak membawa mobil hari ini.
__ADS_1
Dave yang kala itu juga baru saja masuk ke dalam mobilnya dan hendak menjalankan mesin tiba-tiba niatnya dia urungkan tatkala melihat imelda di papah oleh Lian dengan keadaan mabuk berat.
Padahal saat tadi Dave selesai meeting, dia sudah tidak melihat imelda lagi dan Dave pikir imelda sudah pulang.
Dave melihat mobil Lian melaju meninggalkan restoran, dan Dave yang merasa tidak tenang dengan kondisi Imel pun memutuskan untuk mengikuti laju mobil milik Lian.
Dave mengernyitkan dahinya saat mobil Lian malah mengarah ke arah apartemen miliknya bukan ke arah apartemen milik Imelda.
Dan betapa terkejutnya saat melihat Lian memasuki apartemen yang sama dengan apartemen yang Dave tempati dan tak lama kemudian Lian memarkirkan mobilnya dan memapah tubuh imel untuk masuk ke dalam Lift.
Dave juga mengikuti Lian dari jarak yang tidak terlalu dekat.
Dave melihat lift meluncur ke lantai 6 dan dengan segera dave pun menyusulnya.
Benar saja dugaan Dave, Lian membawa masuk ke dalam sebuah kamar yang sepertinya adalah tempat tinggal darinya.
"Pasti dia memiliki niat buruk" Ucap dave lirih dengan matanya menatap pintu apartemen yang sudah tertutup rapat.
Lian membaringkan tubuh imel di atas ranjang, kedua mata Lian menatap ke arah wajah imel yang sedang meracau tidak jelas.
Tangan Lian mengusap pipi Imel dengan begitu lembut
"Jiak harus dengan cara ini aku bisa memilikimu, maka dengan senang hati aku akan melakukannya" Lian mulai melepaskan kancing bajunya satu persatu dan menanggalkan bajunya, kemudian dia duduk di tepi ranjang, tangannya terulur menyentuh kancing baju yang imelda kenakan, dan dia juga mulai membukanya, namun sialnya saat menyentuh kancing baju yang ketiga pintu kamar terbuka.
Seketika Lian menoleh ke arah belakang, dan betapa terkejutnya saat melihat Dave berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Sial, aku lupa mengunci pintu depan" Umpat Lian dalam hatinya yang merutuki kecerobohan dirinya sendiri.
Dave melangkahkan kakinya ke arah Lian dan langsung menarik tubuh Li menjauh dari Imelda.
"Apa yang kau lakukan?" Seru Dave dengan suara yang sangat kencang, membuat Lian tak berkutik.
Dan tanpa basa-basi laki Dave mendaratkan satu bogem mentah di pipi Lian, rasanya dia begitu kesal melihat tingkah dokter cabul di hadapannya.
Li sebenarnya ingin membalas perbuatan Dave, namun di urungkan niatnya, karena jika Dave malaporkan kasus ini, karirnya sebagai dokter akan hancur.
Dave mengacuhkan Lian yang jatuh tersungkur ke lantai, dia segera membopong tubuh imel dan membawanya keluar dari kamar milik Lian.
Dave dengan susah payah menekan tombol Lift dan membawa imel ke kamar miliknya.
Setelah meletakkan imel di sofa,Dave mencoba membangunkan Imelda dengan menepuk pipi imelda.
"Bagun dokter gadungan" Ucap dave.
Setelah beberapa kali menepuk pipi imelda, akhirnya imel mengerjapkan matanya dan melihat wajah Jie Sung yang berada di hadapannya.
"Jie sung? jie?? kau kembali?? kau ke sini?" Imel melebarkan senyumnya.
"Jie, aku merindukanmu jie" Imel menghambur ke dalam pelukan Dave.
"Tapi, ini bukan wangi parfum yang biasa kau kenakan Jie??" Imelda melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Dave yang sedang mengernyit keheranan.
"Siapa Jie Sung yang dia maksud?" Gumam dave dalam hatinya.
"Jie soal parfum bukan masalah, yang menjadi masalah adalah hatiku jie!!! kenapa kau tega pulang dan tidak kembali ke sini? tidak menghubungiku lagi jie?" Imel mendekat ke arah Dave dan langsung mengalungkan kedua tangannya di leher milik Dave, imelda mendekatkan wajahnya ke arah Dave dan memejamkan kedua matanya.
"Apa yang kau lakukan??" Dave mencoba menghindari imelda yang sedang mabuk berat, namun imelda tak menghiraukannya.
Dia semakin mendekatkan bibirnya ke arah wajah dave dan saat sudah sangat dekat tiba-tiba saja
Hoek..Hoek..Hoek...
Seketika imel memuntahkan semua isi perutnya ke jas yang Dave kenakan.
Untung saha hanya air yang berisi di dalam perut imelda.
"Menggelikan" Umpat dave yang langsung beranjak berdiri dari sofa dan segera melepaskan jas yang dia kenakan saat itu.
Jas yang tertumpah oleh mutahan imelda.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1