Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 104


__ADS_3

Nara mencari keberadaan Citra, dia berharap Citra akan berdansa dengan Reno, seperti halnya Gio dan Sisca, namun sepertinya itu tidak mungkin, Citra terlihat asik menyendiri menyaksikkan dirinya dan yang lainya berdansa.


Lalu dimana Reno ? Pikir Nara.


Reno dia sedang berbincang dengan seorang wanita, teman masa lalunya.


"Aku tidak menyangka kau menajdi asisten pribadi CEO, dia sahabatmu itu ?"


"Hmm aku juga tidak menyangka ternyata kau kini menerima keputusan ayahmu untuk meneruskan bisnis nya, Aletta ?"


"Ya, mau bagaimana lagi aku adalah anak satu satunya mereka. !" Balasnya.


Aletta teman masa lalu Reno saat dia masih SMA, meski tidak satu sekolah, namun mereka cukup dekat.


Reno sempat menyukai Aletta namun ia kubur dalam - dalam perasaanya, karena perbedaanya yang terlalu jauh dengan dirinya yang hanya orang biasa, sedangkan keluarga Aletta memiliki bisnis yang cukup kuat di negara ini, lagi pula yang ia dengar jika Aletta sudah memiliki tunangan dan mungkin sudah menikah saat ini.


Beruntung perasaan suka Reno pada Aletta tidak terlalu dalam, hingga ia dengan mudah melupakan nya.


Reno yang tidak terlalu fokus berbicara dengan Aletta karena pandangannya yang terus memperhatikan Citra yang seorang diri.


Merasa tidak tega membiarkan Citra seorang diri, Reno pun memutuskan untuk menemaninya.


"Maaf Letta, aku harus menemani temanku!" Pamit Reno pada Aletta.


"Tunggu, bisakah kita bertukar no ponsel ?" Tanya Aletta dengan penuh harap.


Reno pun mengangguk dan memberikan kartu namanya pada Aletta dan Aletta cukup senang akan hal ini.


Aletta memperhatikan arah kemana Reno pergi dan ternyata Reno menghampiri seorang wanita.


Siapa dia, Reno berkata menemani teman nya, apa itu teman Reno? Pikir Aletta heran.


"Kau mau berdansa dengan ku ?" Tawar Reno pada Citra.


Citra tersenyum." Tidak terimakasih, aku tidak bisa berdansa." Tolaknya Halus.


Reno tersenyum. "Ayo, aku ajarkan, meski aku pun tidak terlalu mahir untuk berdansa,"

__ADS_1


Citra pun tersenyum. " Baiklah jika kau memaksa, aku harap kau tidak akan menyesal jika nantinya aku akan mempermalukanmu." Ucapnya dan Reno mengangguk tersenyum sambil mengulurkan tangannya pada Citra.


"Aku tidak akan menyesal. " Balas Reno dan Citra menerima tangan Reno dan mereka ikut bergabung berdansa dengan yang lainnya.


Setelah acara dansa selesai, kini mereka berada di penghujung acara, Nara dan Marcell yang akan melemparkan satu buah buket bunga untuk mereka yang sudah menunggunya, para pasangan yang yang belum menikah, dengan harapan mereka yang menerim buket bunga yang di lempar oleh Nara dan Marcell secara bersamaan akan mereka dapatkan, agar mereka bisa mendapatkan keberuntungan.


Reno, Citra, Gio dan Sisca pun turut serta untuk bisa mendapatkan bunga itu, meski mereka tidak benar- benar percaya akan mitos namun mereka ikut memeriahkan acara ini.


Nara dan Marcell pun mulai membelakangi mereka dan mulai melemparkannya ke belakang.


Hap dan ternyata Sisca dan Citra mereka sama-sama memegang buket bunga yang di lempar sepasang pangantin, mereka


pun saling tersenyum dan bukan saling merebutnya.


Nara pun senang, karena ternyata yang memegang buket bunga miliknya di dapatkan oleh Sisca dan Citra, dia berharap mereka bisa bahagia seperti dirinya atau bahkan bisa secepatnya menyusul nya untuk menikah.


"Selamat bagi yang mendapatkan buket bunga dari pengantin kita, Semoga kabahagian menyertai kalian berdua." Sang MC yang memberikan selamat pada Citra dan Sisca Serta doa agar mereka berdua terus berbahagia.


Disisi lain, Wilona yang memutuskan pulang setelah berbicara pada Nara di atas pelminan. Wilona mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak terima jika Nara malah berbalik menyerang nya.


Wilona semakin karena Nara yang ia kenal wanita lemah ternyata kini telah berubah dan tentu ia tahu karena Nara kinj memiliki pendukung yang kuat.


"Aku tidak bisa menunggu ayah terlalu lama bertindak, lihat saja dia akan habis di tanganku !" Ucap Wilona dengan sorot maya yang tajam seolah seolah ia tidak akan bermain - main lagi saat ini.


Segala cara akan dia coba, untuk melukai Nara, dendam dalam dirinya semakin besar, karena kebahagiaan yang dia idamkan ternyata malah di miliki oleh Nara, wanita yang menurut nya sangat tidak berhak memiliki semua itu.


Wilona sudah sampai di apartemennya, dia melempar tas kecil nya ke arah ranjang, rasa kesal nya masih tercetak jelas di raut wajah nya.


"Ck, sialan, mengapa semua yang aku rencanakan selalu gagal ?" Decak kesal Wilona.


"Apa seketat itu pengawalan disana, ch menyebalkan, aku harus memikirkan cara lain agar bisa menjatuhkan Nara !"


"Seharusnya aku yang berada di posisi itu !" Lirihnya dia sangat iri dengan apa yang di miliki Rafsya. Wilona yang kemudian duduk di kursi ranjang.


"Samuel, aku harus bisa cepat lepas dari darinya !"


Tekad Wilona kemudian.

__ADS_1


Sementara di kediaman Wijaya.


Erick Wijaya yang mendapatkan sebuah surat dan langsung membukanya, di kertas itu tidak ada catatan layak nya sebuah surat namun seperti sebuah peringatan atau mengingatkan dirinya akan sesutu.


Jaga anakmu, jangan sampai dia bertindak ceroboh dengan melukainya, jika belum waktunya, karena itu akan mengagalkan semuanya !


Kau tahu bukan jika dia tidak boleh terluka ?


Ingat, kita masih ada waktu 3 bulan, biarkan dia hidup tenang untuk saat ini, sebagai balasan kelak di tiga bulan kemudian dengan memulai penderitaan nya.


Dan satu lagi, berhati-hati lah mereka kini sedang mengawasimu dan juga anakmu!


Setelah selesai membaca, Erick menyobek kertas itu, lalu membakarnya, agar tidak ada orang yang akan melihat isi dari surat itu.


"Apa yang sudah kau lakukan Wilona? Anak itu benar- benar kerasa kepala!"


"Mengawasi kami, heh kalian kira akan mudah mencari informasi dari ku ?" Ucap Erick dengan senyuman seringainya dengan mata yang menatap surat yang terbakar di dalam asbak Roko.


Semua hal sudah Erick perhitungkan mengenai bukti- bukti dan berkas yang bisa di temukan oleh siapapun, Erick menyimpan dan menyembunyikan nya dengan sangat aman.


"Apa aku harus mengatakan kepadanya rahasia ini pada Wilona?" Pikir Erick agar Wilona mengerti jika dia tidak boleh melukai Nara.


Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, karena itu adalah hal yang sangat beresiko karena Wilona anak yang tidak sabaran dan akan selalu melakukan apapun demi keinginan nya, dalam artian Wilona masih labil dan tidak bisa mengontrol emosinya dan dia takut jika suatu saat Wilona sendiri lah yang akan membongkar dan menggagalkan semuanya dengan rencana yang belum sepenuhnya berjalan.


Saat ini Erick harus benar-benar membuat Wilona mengerti agar jangan sampai melukai Nara, jika perlu dia akan menghalangi


semua cara Wilona untuk melukai Nara.


Resepsi pernikahan telah usai, kini Marcell dan Nara sudah berada di dalam Penthouse nya dan juga kedua orang tua Marcell, Reno, Citra serta Sisca. Gio tidak ikut karena ada yang mesti di bahas bersama Drax dan juga Kendrik.


Marcell dan Nara berada di dalam kamar dan Nara yang tengah membersihkan make up yang menempel di wajahnya, sedangkan Marcell ia merebahkan dirinya di ranjang besar miliknya dengan kedua tangan yang memainkan ponselnya.


Nara melirik Marcell dengan kesal. "Hubby, bersihkan dirimu lebih dulu!" Ujar Nara pada Marcell yang kesal karena langsung merebahkan dirinya di ranjang bahkan dengan sepatu yang masih terpakai di kakinya.


Marcell bangkit dan berjalan mendekati istrinya. Marcell mengecup sekilas pipi di wajah cantik istrinya yang sudah bersih dari make up.


"Lain kali, aku tidak ingin ku berdandan cantik dan di lihat oleh semua orang!" Ucap Marcell dan malah duduk di kursi rias Nara sedangkan Nara sudah berdiri dan menatap Marcell.

__ADS_1


__ADS_2