Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 63


__ADS_3

Marcell menyadari ketertarikan Nara pada satu set perhiasan itu pun langsung membelinya dan meminta karyawan itu membungkusnya.


"Sayang, sepertinya itu sangat mahal, lebih baik kita pilih yang ini saja !" Nara yang terkejut karena Marcell tanpa pikir panjang membelikan satu set perhiasan tersebut untuk nya.


"Tidak apa aku ingin memberikannya untukmu !" Ucap Marcell sambil memberikan black Cardnya pada pegawai di toko perhiasan tersebut, bahkan Marcell meminta agar mereka tidak menyebutkan harga perhiasan yang ia beli.


Marcell pun meminta agar mereka memberikan cincin agar memakaikannya langsung pada istrinya.


"Terima Kasih!" Ucap Nara tulus bahkan mata nya terlihat berkaca-kaca.


"Ini bukti cinta dan keseriusanku Ara, maka jangan pernah meragukanku, begitu pun denganmu jangan pernah mengkhianatiku !"


Nara mengangguk dan tersenyum dan memeluk Marcell yang tidak sadar jika sudah sejak tadi mereka menjadi pusat perhatian, bahkan mereka sempat ada yang memfoto dan mengupload nya di media sosial.


Karena mereka tahu siapa pria yang membelikan perhiasan yang sangat mahal itu pada wanita yang dipilihnya, dia adalah CEO dari perusahaan Admaja Company.


"ini bukti cinta dan keseriusanku Ara, maka jangan pernah meragukanku, begitu pun denganmu jangan pernah mengkhianatiku dan meninggalkanku!"Ucap Marcell sambil memakaikan cincin di jari manis Nara.


Nara mengangguk dan tersenyum dan lalu ia memeluk Marcell yang tidak sadar jika mereka sudah sejak tadi menjadi pusat perhatian, bahkan mereka sempat ada yang memfoto dan mengupload nya di media sosial. Karena mereka tahu siapa pria yang membelikan perhiasan yang sangat mahal itu pada wanita yang dipilihnya, dia adalah CEO dari perusahaan Admaja Company.

__ADS_1


Marcell yang lalu sadar jika kini ia menjadi pusat perhatian, ia segera mengirim pesan pada Gio agar berita tentang dirinya tidak tersebar di media.


Setelah selesai dengan urusan perhiasan, Marcell kembali mengajak Nara untuk berbelanja, Marcell saat ini ia benar-benar ingin memanjakan istrinya.


Marcell merasa beruntung Nara bukan tipe wanita yang gila dalam berbelanja, Nara, dia akan membeli barang apapun itu hanya untuk kebutuhannya. Jika wanita lain mungkin setelah Marcell memberikan Black Card padanya, wanita itu sudah bolak balik berbelanja ke mall atau secara online. Nara sangat berbeda bahkan uang yang Marcell berikan padanya masih utuh dan belum ia pakai, alasannya karena semua kebutuhan sudah Marcell berikan untuk dirinya.


"Sayang sudah cukup, ini sudah terlalu banyak, bahkan yang di penthouse juga belum aku pakai semuanya !" Ucap Nara yang kesal karena Marcell membelikan banyak barang tanpa persetujuannya.


Marcell tersenyum "Itu di penthouse dan ini untuk di mansion, karena di mansion kau belum ada apapun untuk keperluanmu, maka, ini bisa di simpan di mansion untuk kau gunakan" Ujarnya sambil terkekeh melihat kekesalan istrinya.


Nara mengangguk pasrah "Sudah ya, ini sudah banyak Marcell, kau sudah banyak mengeluarkan uang untuk ku !" Pintanya pada suaminya, karena dia pun sudah lelah mengikuti suaminya berpindah-pindah toko, membelikan pakaian, tas dan sepatu untuk nya perhiasan.


Entah lah, Nara tidak mengerti dengan suaminya, karena dia yang sangat antusias berbelanja membelikan apapun untuknya. Bahkan Marcell entah sudah mengeluarkan berapa banyak uang hanya untuk dirinya. Karena Marcell benar-benar berpesan pada pegawai toko untuk tidak memberitahukan harga total semua belanjaannya, karena baginya berapapun jumlahnya itu tidak penting, yang terpenting adalah kebahagian istrinya.


"Kita makan malam di mansion saja, aku sudah lelah ingin segera kembali ke rumah !" Jawabnya, dan Marcell mengangguk. Mereka akhirnya kembali pulang ke mansionnya.


Di mansion keluarga Admaja, Amara terlihat berdecak kesal, pasalnya Marcell belum saja kembali padahal ini sudah waktunya makan malam dan dia di tinggal seorang diri di ruang tengah, karena Safira pamit untuk memasak di dapur.


"Ck, kemana Marcell, ini sudah waktunya makan malam, mengapa dia masih saja belum kembali !" Decak kesal Amara, sambil terus melihat ke arah depan pekarangan mansion berharap Marcell segera pulang.

__ADS_1


Sementara di ruang makan, Arya yang menemani Safira yang sedang memasak sambil menunggu selesai dan akan makan malam.


"Wanita itu, dia Amara mantan pacarnya Marcell ?" Tanya Arya pada Safira.


Safira yang tengah mempersiapkan makan malam, mengangguk pada Arya.


"Ya, dia mantan Marcell, dan ingin bertemu dengannya !" Jawabnya singkat, karena Safira benar-benar malas jika harus membahasnya.


"Untuk apa dia ingin bertemu Marcell !" Tanya Arya heran.


Safira mengedikkan bahu tidak tahu, karena dia memang tidak tahu, meski dia sudah bertanya namun Amara enggan mengatakan padanya.


"Beritahu Marcell, agar dia segera selesaikan urusannya dengan Amara, agar dia tidak lagi mengejar Marcell, dia sudah menikah tidak pantas jika ada wanita lain yang masih mengejarnya !" Ujar Arya pada istrinya untuk memberitahukan pada Marcell pesan darinya.


Safira mengangguk. "Sebenarnya Marcell memang sudah selesai dengan nya pada saat sebelum Marcell diangkat menjadi CEO, bahkan Amara yang memutuskan hubungannya dengan Marcell, namun sepertinya setelah dia tahu jika Marcell adalah seorang CEO, Amara ingin kembali padanya !" Paparnya pada Arya.


Mendengar itu Arya menghela nafasnya. Untungnya bukan dia yang menjadi jodohnya Marcell !" Ucapnya yang membuat Safira terkekeh geli, namun ia pun membenarkan, jika mungkin Amara yang akan menjadi istrinya Marcell, Safira tidak akan sepenuhnya merestui, karena walau bagaimana pun dia memang memasrahkan kehidupan Marcell pada anaknya, jika Marcell bahagia, Safira sebagai ibunya hanya akan mendukung apapun keputusan anaknya, begitupun dengan Arya.


Tak lama mobil Marcell pun kembali dan berhenti tepat di depan mansion. Amara yang menyadari Marcell telah kembali pun terlihat antusias, di sangat senang bisa melihat Marcell kembali, namun kesenangannya itu berubah menjadi kesal, ketika ia melihat Marcell keluar dari mobil bersamaan dengan istrinya, yang di bukakan oleh pengawal mereka. Kekesalan nya pun bertambah ketika di belakangnya ada sebuah mobil yang mengeluarkan banyak kantong belanjaan bermerk.

__ADS_1


"Sialan, aku sudah menunggu nya sekian lama, namun rupanya wanita itu malah menyita waktu Marcell dengan menghabiskan uang nya!" Geram Amara, namun kemudian ia seperti memiliki sebuah ide, setelah melihat kedatangan Safira yang akan menyambut Marcell dan Nara dan untuk mengajak nya makan malam. Dia pun terlihat tersenyum miring dan berjalan kedepan untuk menyambut pasangan pengantin yang masih terbilang baru itu bersamaan dengan Safira.


Amara berjalan mendekat ke arah Safira, ia seperti ingin memperlihatkan dirinya pada Marcell atau pun Nara, seolah menunjukkan jika dirinya dekat dengan Safira, ibu dari Marcell.


__ADS_2