Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 86


__ADS_3

Miris bukan?


"Dengan siapa kau akan menikah ?" Tanya Markus, menatap Amara dengan serius.


"Alex, aku akan menikah dengannya!" Jawab Amara, tanpa memberitahu siapa Alex.


"Apa pekerjaannya, apa dia lebih kaya dari Marcell ?" Tanya ayahnya lagi dengan penuh harap bisa lebih atau minimal sejajar dengan Marcell kekayaan Marcell.


"Tidak, dia di bawah Marcell. Alex karyawan di perusahaan Marcell !" Amara yang menutupi Alex sebagai seorang direktur.


Ayah dan ibu tirinya berdecak kesal." Seharusnya kau mencari pria di atas Marcell, agar dia menyesal tidak menerimamu kembali. Alex kekasihmu apa dia akan memberikan harta yang banyak. Dengar Amara kau tahu bukan kau harus mengirimkan uang sebanyak apa kepada kami ?" Ibu tirinya yang mengingatkan Amara agar ia tahu akan kewajibannya membuat Amara tersenyum menyeringai.


Sedangkan ayahnya benar-benar tidak peduli dengan apa yang sudah dilakukan oleh istri nya terhadap anaknya, dengan dia yang memeras uang dan membuatnya merasakan kehidupan mewah, karena dia yang hanya memiliki bisnis kecil yang tidak akan mungkin merasakan kehidupan mewah seperti ini, maka dia kini memang berharap pada Amara agar dia terus merasakan kebahagiaan terutama dengan istri barunya.


Ibu tiri Amara benar-benar kesal pada anak dari suaminya ini, mengapa bisa Amara melepas harta karun


seperti Marcell, dan lebih memilih Alex yang tidak sebanding dengan Marcell.


"Amara, terserah kau menikah dengan siapapun itu, tapi kau harus tetap memberikan aku uang sebanyak 500 jt setiap bulan nya !" Ujar Ibu tiri Amara yang membuatnya kesal dan ayahnya dia hanya mengangguk menyetujui apa yang sudah dikatakan oleh istrinya.


Amara tidak merespon perkataan dari ibu tiri nya, dia sudah sangat jengah karena harus terus memberikannya uang sebanyak itu setiap bulan, karena dia liat ibu tirinya hanya mempercantik dirinya sendiri, bukan untuk ayah atau mungkin adiknya.

__ADS_1


Amara ingat pada saat beberapa hari yang lalu, adiknya menghubunginya. Adiknya yang bernama Raina, meminta sejumlah uang kepadanya untuk membeli keperluan sekolah dan juga membayar ADM sekolahnya yang sudah menunggak dan itu tanda jika ibu tiri dan ayahnya tidak memberikan uang yang ia kirim pada adik nya juga atau kemungkinan besar jika ibu tirinya menghabiskan sebagian besar uang yang dikirim hanya untuk dirinya sendiri, untuk itulah Amara memutuskan untuk mengunjungi mereka saat ini terlebih Amara ingin mengabari pada ayahnya jika dia akan menikah.


Saat ini Amara berpikir, sudah cukup dirinya dimanfaatkan oleh mereka. Amara menatap tajam pada sepasang suami istri di depannya, kini ia akan membawa adiknya pergi bersamanya, agar mereka tidak lagi bisa mengancam dirinya melalui adiknya dan dia berharap adiknya akan setuju untuk tinggal bersama dengannya saat ini.


"Aku kemari selain untuk mengatakan jika aku akan menikah, tapi aku juga ingin membawa Raina bersama ku tinggal jakarta!"


"Untuk apa kau membawanya, Raina akan tetap disini!" Sergah ibu tirinya, karena jika Raina bersama Amara ia tidak ada alasan untuk meminta uang pada Amara lagi.


"Benar Amara, biarkan Raina disini !" Ayahnya yang ikut menyetujui ucapan istrinya.


Amara tersenyum. "Aku akan tetap membawanya, lagi pula dia disini pun percuma karena jika apa-apa keperluannya selalu meminta padaku, lalu kemana uang yang aku kirim pada kalian, aku mengirim uang pada kalian, selain karena ancaman mu, tapi juga itu untuk memenuhi kebutuhan Raina tapi nyatanya kalian tidak memperhatikannya!"


Ibu tiri Amara terlihat mengeraskan rahangnya, ternyata Raina tidak mendengar perkataan nya, untuk tidak meminta uang pada Amara, jika begini dia akan kehilangan sumber uang yang akan dia dapatkan setiap bulannya.


Ayahnya menatap tajam anaknya. "Keperluan di rumah sangat besar, mengapa kau sangat perhitungan, lagipula salahkan Raina tidak mengatakannya pada ayah !" Bela nya dan diiringi senyum seringai istrinya, karena pria yang ia menikahi sudah memiliki anak dua dan yang ia sukai karena Markus lebih memilih dan membela nya.


"Keperluan ?"


"Keperluan apa maksudmu ayah, keperluan untuk memanjakan istrimu?


Ck, aku heran mengapa aku bisa memiliki ayah sepertimu,yang bahkan lebih memilih dan membela istri baru mu daripada anak-anaknya!"

__ADS_1


"JAGA BICARAMU Amara!" Hardik Markus pada Amara, dia kesal karena Amara tidak mendengarkan perkataan nya dan malah menghina dirinya.


Amara mengangkat kedua alisnya. " Apa yang salah dengan ucapan ku, bukankah memang benar seperti apa yang aku katakan?" Mereka terdiam.


Amara berdecak. "Sudahlah aku tidak peduli kalian akan mengatakan apapun lagi, aku akan tetap membawa Raina dengan ku, dan ayah, jika kau tidak ingin menjadi waliku pada saat aku menikah, itu tidak masalah. Aku bisa menggunakan wali hakim !" Ucap Amara dan langsung beranjak dari kursi dan melangkah menuju kamar adiknya yang masih belum pulang dari sekolahnya.


Markus ayahnya Amara memanggil - manggilnya namun tidak dihiraukan oleh Amara, hingga akhirnya ia kesal sendiri dan berbalik menatap tajam istrinya.


"Ini salahmu, mengapa kau tidak memperhatikan Raina, jika begini kita akan kehilangan sumber uang yang kita dapatkan setiap bulannya!"


"Memperhatikan Raina, ch enak saja dia putrimu, seharusnya kau yang memperhatikannya saja, lagi pula salahkan saja Raina mengapa dia dengan berani meminta langsung padanya !"


Markus berdecak kesal." Sudahlah kita sebaiknya memikirkan cara agar Amara tetap akan memberikan uang padaku !"


"Ya pikirkan itu, aku tidak ingin hidup miskin denganmu !" Ucap nya dan langsung beranjak pergi meninggalkan Markus seorang diri.


Amara kini berada di dalam kamar adiknya, melihat ke berbagai sudut ruangan yang tidak terlalu besar.


Amara memandangi satu buah foto yang berada dalam bingkai pigura foto dirinya, adiknya dan juga ibunya. Amara tersenyum namun dalam hatinya ia sangat merindukan ibunya yang meninggalkan dirinya dan juga adik nya ketika dia masih berusia 10 tahun.


Amara melihat jam tangan yang melingkar di lengannya, jika perkiraan nya benar adiknya akan pulang dari sekolah sebentar lagi. Amara berharap kali ini Raina mau ikut dengan nya, dia sudah tidak mau peduli dengan ayahnya lagi, karena melihat dari ekspresi raut wajah ayah nya tidak terlihat senang jika ia datang, bahkan selama ini ayah nya tidak pernah menghubunginya menanyakan kabar atau khawatir terhadapnya. Ayahnya menghubunginya hanya untuk menanyakan uang yang harus dikirim padanya, ayahnya sudah dibutakan cinta oleh ibu tirinya yang selalu memeras nya.

__ADS_1


__ADS_2