
Marcell mengangguk puas. "Reno, apa kau perlu asisten atau sekretaris ?"
Reno menggelengkan kepalanya. " Tidak, untuk asisten, jika sekretaris mungkin iya, untuk membantuku!"
"Jika begitu kau beritahu pihak HRD, Reno kedepannya jika menyangkut pekerjaan kau tidak perlu mendapat izin ku, selagi itu baik kau bisa memutuskan apapun, aku percaya padamu!"
Reno tersenyum dan mengangguk. " Terima kasih, untuk sekretaris ku, aku memang sudah bicara pada mereka, namun masih butuh waktu, karena mereka lebih fokus untuk sekertarismu dulu, dan bagi mereka yang tidak terpilih mereka juga sudah memasukkannya ke beberapa bagian divisi yang kosong!"
Marcell mengangguk puas. "Baiklah mereka sudah bekerja bagus, aku tidak akan ikut campur, kau yang urus saja, sekarang kita selesaikan ini, aku sudah merindukan istriku !"
"Ck, kau rindu padahal pagi juga sudah bertemu !"
"Kau belum mengerti dengan perasaan jatuh cinta bagaimana rasanya, jika sudah tahu kau akan tahu apa yang aku rasakan, untuk itu, cobalah untuk mencari wanita, apa kau tidak ingin menikah?"tanya Marcell.
"Ck, aku tidak seberuntung kau, bisa mendapatkan wanita baik dalam waktu yang sangat singkat hingga akhirnya menikah. Sudahlah aku akan kembali ke ruanganku saja !"
Marcell mengangguk dan menatap kepergian Reno untuk keluar ruangannya. "Benar aku beruntung."
Marcell tersenyum, sambil melihat foto Nara yang ada di sebuah bingkai, yang ia letakan di atas mejanya.
Nara dan Citra yang sudah cukup lama berbincang, hingga akhirnya Citra pun pamit pada Nara karena hari sudah sore.
"Pulang? Kau tidak ingin menunggu mertuaku, bukankah kau ingin bertemu mereka?" Goda Nara pada Citra.
Citra tersenyum geli pada sahabatnya."Saat resepsi pun aku pasti bertemu dengan mereka, oh ya apa kau akan mengundang teman kampus?"
Nara menggelengkan kepalanya. "Awalnya aku ingin walau tidak banyak, tapi saat kejadian kemarin, Marcell melarangku!"
Citra mengangguk mengerti. "Ya sudah, aku pamit ya." Nara pun mengangguk dan mengantar Citra hingga ke halaman mansion, yang sudah ada taxi yang menunggu Citra, yang sebelumnya sudah di hubungi, dan Nara pun melihat kepergian Citra..
Nara pun kembali kedalam dan melirik jam yang melingkar di tangannya menunjukkan pukul 16:20.
"Apa Marcell akan pulang telat, sepertinya pekerjaannya banyak." Gumam Nara..
Setelah kepergian Citra, Nara pun berjalan ke arah kamarnya, kamar yang dimana biasa ditempati Marcell, dan kini kamar itu ditempati olehnya juga.
Nara memang sudah pernah menginap sebelumnya disini, maka tak heran jika ia sudah cukup hafal dengan letak mansion yang luas ini.
__ADS_1
Nara membaringkan tubuhnya di pembaringan, ranjang yang empuk dan berukuran besar itu, dia ingin memejamkan matanya lebih dulu, karena merasa lelah.
Di luar mansion kedua mertua Nara sudah kembali, dan disambut oleh para penjaga di sekitar mansion, dibukakan pintu mobilnya yang berkesan seorang yang sangat mereka hormati.
"Terima kasih." Ucap Safira tulus yang lebih dulu turun dari mobil dan kemudian Arya.
"Ferdi, dimana menantuku, apa temannya masih ada ?" Tanya Safira sambil melangkah masuk ke dalam mansion bersamaan dengan suaminya.
"Teman nya sudah pulang nyonya, dan nona sedang berada di kamarnya, mungkin sedang beristirahat!" Jawab Ferdi dan Safira mengangguk.
Safira pun tidak bertanya lagi, dia dan suaminya melangkah memasuki kamarnya.
"Sepertinya aku akan pulang telat hari ini." Ucap Marcell bermonolog, karena melihat pekerjaannya masih banyak, dan ingin selesai di hari ini, agar ia bisa cuti untuk beberapa hari kedepan, dan pekerjaannya tidak akan menumpuk seperti ini.
Marcell meraih HP nya dan berniat menghubungi Nara, istrinya.
Setelah menemukan nomor istrinya Marcell dengan segera memencet tombol hijau.
Tut tut tut...
Telepon pun tersambung dan tak lama, Nara mengangkat teleponnya.
Nara: "Wa'alaikum salam Marcell, kau masih belum belum pulang?" Tebak Nara.
Marcell: "Hmm.. pekerjaan masih banyak, mungkin aku akan pulang larut malam !"
Nara: "Begitu, baiklah, kau tidak lupa makan bukan,?" Tanya Nara khawatir pada suaminya.
Marcell: "Tidak sayang, aku sudah makan, begitupun kau, kau juga jangan sampai telat makan, ok?"
Nara: "Hmm... kau tidak perlu khawatir.!"
Marcell: "Baiklah, aku hanya ingin mengabarimu, aku tutup teleponnya!"
Nara :" Ya, dan jangan pulang terlalu larut, jangan lupa mengabariku !"
Marcell: "Baik sayang, assalamualaikum ?"
__ADS_1
Nara: "Waalaikumsalam!"
Marcell meletakkan kembali ponselnya, ia terlihat menghela nafasnya.
"Reno, apa dia juga masih bekerja, ah jika pulang dia pasti mengabariku!" Tebaknya..
Marcell dia yang ingin segera menyelesaikan pekerjaan yang sudah menumpuk, mengingat ia akan melangsungkan resepsi pernikahan dan akan mengambil cutinya, yang awalnya tidak, karena sekretarisnya tidak ada, dan kini sekretarisnya sudah ada yang menggantikan dan dia tidak akan memberitahukan lebih dulu pada Nara, dia ingin memberikan kejutan untuk istri cantiknya itu, membawanya bulan muda ke tempat yang romantis.
"Bukankah, kau ingin cepat pulang ?" Tanya Reno membuyarkan lamunannya.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu ?" Kesal Marcell mengabaikan pertanyaan Reno.
"Tidak bisa, tangan ku nanti sakit jika harus mengetuk pintu yang keras itu !" jawab Reno sekenannya, membuat Marcell mendengus kesal.
Marcell menggelengkan kepalanya tidak mengerti mengapa teman nya kini menjadi pria yang berlebihan atau bisa disebut Lebay.
Marcell kembali fokus pada berkasnya - berkas di mejanya. "Kau sudah selesai dengan pekerjaanmu. Apa kau akan pulang?" Tanyanya dan tanpa mengalihkan pandangannya pada semua berkas di mejanya.
"Belum, aku lapar, jadi otakku tidak bisa bekerja, aku akan keluar lebih dulu untuk membeli makanan, kah mau ?" Tawar Reno pada atasan sekaligus sahabatnya.
Marcell mengerutkan keningnya, mengapa Reno mau repot - repot keluar jika dia bisa menyuruh salah satu OB di kantornya.
"Mengapa kau tidak menyuruh OB?" Tanya Marcell.
"Tidak, ini sudah waktunya mereka pulang, lagi pula aku ingin berjalan-jalan sebentar, bokongku lelah jika harus duduk di kursi terus !" Jawab Reno.
Marcell mengangguk mengerti, dan kini ia tahu jika Reno pun akan lembur bersama dengannya. "Pergilah, belikan aku juga!" Ujar Marcell dan Reno pun mengangguk dan segera pergi dari ruangan Marcell dan keluar perusahaan.
Reno yang sudah di luar gedung perusahaan, ia memilih berjalan kaki, karena di dekat gedung perusahaan pun banyak cafe - cafe dan yang menjual makanan, terlebih ini sudah sore.
Reno pun memilih memasuki cafe yang cukup dekat dengan nya saat ini, tanpa ragu di melangkah masuk ke dalam cafe dan memesan makanan untuk take away.
Reno pun sambil menunggu pesanannya, ia duduk di salah satu meja sambil memainkan ponselnya.
"Kau Reno ?" Tanya seorang pria pada Reno.
Reno mendongkak, ketika ada yang menghampirinya. "Ya!" Jawabnya singkat.
__ADS_1
"Ch, sedang apa kau disini? Oh aku tebak kau lelah setelah mencari pekerjaan kantor yang tak kunjung ada yang menerimamu?" tanya pria yang tersenyum remeh pada Reno.