
"Tu.. Tuan Marcell Bagaimana Anda tahu" Wilona terkejut, karena dia tidak menyangka jika pernikahan nya dengan Samuel diketahui oleh Tuan Marcell, pria yang ingin ia kejar dan dapatkan.
Apakah Nara yang mengatakannya, pikirnya. Wilona mengira jika Nara tidak akan tahu jika dia yang menggantikannya menikahi Samuel, bahkan mengatakan nya pada Marcell.
Wilona kembali tersenyum berbalik menatap Nara santai. "Ch, itu karena istri anda yang berani melarikan diri dari nya, jika tidak dia lah yang harus menikah dengannya, dan aku lah yang lebih pantas dengan anda, Tuan Marcell."
"Omong kosong!" Sanggah Marcell kesal, namun Wilona mengabaikannya, karena ia yakin jika Marcell akan mudah didapatkan, mengingat jika Nara bisa menikah dengan Marcell karena memberikan tubuhnya.
"Tuan Marcell, sepertinya anda juga tahu, jika istri anda ini anda dapatkan hanya bekasnya saja, aku benar bukan?" Sindir Wilona kembali, karena ia menebak saat malam itu mungkin Nara sudah disentuh oleh Samuel walau belum tuntas.
Mendengar itu hati Marcell kembali bergemuruh, Wilona menghina istrinya.
Marcell, dia yang sangat tahu akan istrinya, dan 'bekas 'Wilona bilang, Tidak justru dia adalah lelaki i yang pertama menyentuhnya.
Marcell kembali meradang menatap Wilona nyalang, sudah banyak kata-kata kasar di benaknya, yang akan dia keluarkan pada wanita tidak tahu malu di sampingnya, namun Nara mencegahnya, karena tidak ingin suaminya berlaku kasar pada wanita, dan membiarkan dirinya yang menghadapi Wilona.
"Bekas, Benarkah?" Sarkas Nara dengan tertawa renyah.
"Kurasa kau lebih tahu saat malam itu, Wilona? kau bodoh jika kini kau mau menjelek-jelekkan ku di depan suamiku !"
"Suami! Ck, aku tidak yakin jika Tuan Marcell benar- benar menikahimu tulus, aku tebak, jika kau hanya dikontrak oleh nya, benar kan tuan Marcell?" Sanggah Wilona yang tidak sama sekali percaya jika Nara akan benar-benar menjadi nyonya muda Admaja.
"Tidak! semua yang dikatakan istriku adalah kebenaran, aku tidak pernah bermain main dengan pernikahan" Sanggah Marcell yang membuat Wilona semakin kesal, tidak percaya dengan apa yang dia dengar, bahkan Marcell sendiri yang mengatakannya.
Wilona, dia terus berpikir jika Nara akan menikah dengan Marcell hanya satu tahun, sama dengan dirinya yang menikah dengan Samuel hanya dalam waktu satu tahun, lagipula menurutnya, pria kaya seperti Marcell tidak mungkin menikahi wanita miskin seperti Nara. Karena dia tahu sifat orang kaya hanya melihat pasangan dengan bibit bebet dan bobot yang mesti selevel dengan mereka.
Sedangkan Nara, dia tertawa mendengar perkataan Wilona. " Pernikahan kontrak, kau bercanda, ah apa mungkin kau lah yang dikontrak oleh Samuel?" Nara berdecih.
__ADS_1
Nara pun kembali melanjutkan ucapannya. Wilona, aku harap kau tidak lagi menggangguku dengan kedua orang tuamu. Aku sudah menghilangkan marga Wijaya di namaku, jadi aku harap kita hidup masing- masing sekarang!
Oh jika kau masih tidak percaya dengan pernikahanku, aku akan mengundangmu di acara resepsiku nanti!"
Marcell mengangguk dan setuju dengan usul dari istrinya. "Jadi nona Wilona, aku minta kau pergi dari sini, jangan mengganggu waktu kita berdua, aku dan istriku, jika tidak aku bisa memecatmu dari agency ku, karena anda sudah sangat tidak sopan padaku bahkan istriku!" Usir Marcell pada Wilona yang menatap tajam pada Nara.
Wilona semakin menggeram marah, bahkan kesal dan malu, Wilona menatap Marcell, ia berpikir akan mendekatinya jika tidak ada Nara bersamanya.
Wilona lantas meninggalkan sepasang suami dan istri di meja makan, keluar dari restoran dan melupakan niatnya akan makan siang.
Kepergian Wilona membuat Nara menghela nafasnya panjang. "Aku tebak dia tidak akan berhenti mendekatimu!"
"Kau kesal, sayang?"
"Ck, lalu jika kau berada di sisiku, dan ada lelaki mendekatiku terang-terangan, apa kau tidak akan kesal ?" Ucap Nara berdecak kesal.
"Tentu aku akan memukulnya hingga dia tidak berdaya, dan kau akan ku kurung di rumah dan tidak diizinkan keluar jika tidak bersamaku"
Nara mengangguk. "Begitupun denganku, maka sekarang kau pergilah ke toilet dan cuci tanganmu hingga bersih, aku tidak ingin kuman itu terus menempel padamu, jika tidak aku tidak ingin kau sentuh" Ujar Nara yang membuat Marcell tergelak mendengar perkataan Nara, dan dengan segera ia beranjak dari duduknya dan pergi ke toilet.
Telepon yang terus bergetar dan berdering di abaikan begitu daja oleh Wilona.
Drrt drrt drrt...
Suara HP bergetar, Wilona hanya menatap HP nya yang berada di atas ranjang tanpa ingin mengambil dan menjawab telepon yang entah dari siapa.
Wilona mencoba berdiri dia ingin berbaring di atas ranjangnya, seluruh badannya terasa sakit, namun ia sedikit beruntung tidak ada luka yang parah, hanya beberapa lebam akibat pukulan dan tamparan keras di pipi Wilona.
__ADS_1
Wilona benar benar mengabaikan telepon dari seseorang yang sudah beberapa kali menghubunginya.
KEDIAMAN KELUARGA Wijaya.
Anaya nampak gelisah dengan terus memegang ponselnya, karena sejak pagi ia terus menghubungi anaknya, dan Wilona yang tidak menjawabnya.
"Ada apa denganmu sayang, angkatlah telepon ibu !" Lirih Anaya sambil terus mencoba menelpon Wilona.
Anaya akhirnya pasrah, ia duduk di kursi ranjang, menatap nanar HPnya.
"Apa kau marah pada ibumu ini nak, maafkan ibu sayang,"
"Ibu janji, akan membalas penderitaanmu!"
Pandangan menjadi tajam, ia mengingat Nara, dan masih saja menyalahkannya atas penderitaan anaknya,
"Lihat saja Nara, aku akan membuatmu merasakan lebih dari penderitaan Wilona !" Gumamnya dengan tangan terkepal kuat, ia tidak peduli dengan perkataan suaminya, baginya ia hanya akan mengikuti kemauan anaknya, untuk membuat Nara lebih merasakan penderitaan.
Anaya bingung, ia ingin sekali mendatangi Wilona ke apartemennya, namun ia takut jika Wilona sedang bersama Samuel, Anaya pun melirih jam dinding yang masih menunjuk pukul 07:25 malam.
"Apa aku kesana saja, ku rasa Samuel tidak akan marah bukan"
Karena kekhawatirannya Anaya pun memutuskan untuk pergi ke apartemen Wilona, lagi pula pikirnya, tidak ada yang akan marah jika seorang ibu yang akan menjenguk anaknya, Anaya pun bergegas pergi setelah ia siap, tanpa memberitahu suaminya lebih dulu.
Sedangkan Erick di ruang kerjanya, ia terlihat panik, karena mendapati sistemnya telah dibobol boleh seseorang, meski ia masih beruntung karena orang itu tidak menemukan satu hal sangat rahasia, rahasia yang ia tutupi.
"Sial, siapa dia" Geram Erick, namun ia masih bersyukur karena semua terkendali lagi.
__ADS_1
Feri pun menatap sebuah brankas yang tertutupi oleh lemari kecil, "Apa yang mereka cari, mungkinkah itu ?"
"Ck, tidak mungkin, karena tidak ada yang tahu akan hal ini !" Erick pun mendesah pelan, ia memijat pangkal