Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 151


__ADS_3

"Aku tidak bisa menceritakan semuanya pada mu saat ini, karena semuanya belum benar-benar jelas, masih banyak hal yang harus kita selidiki, sayang aku mohon, jangan bersedih lagi, aku berat meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini." Lirih Marcel membuat Nara mendongkak dan menatap Marcel.


"Maaf hubby, maaf kan aku. " Ucap Nara yang malah meminta maaf.


"Jangan meminta maaf, aku mengerti sayang, hanya saja, tolong berikan aku senyuman, agar suamimu ini akan semakin bersemangat, untuk bekerja mencari rupiah yang banyak." Ucap Marcel membuat Nara tersenyum paksa.


Sejak saat kejadian siang tadi, Nara yang sangat shock, dan terus kepikiran, dia sangat takut itu akan terjadi kembali, terlebih ia tahu jika yang melakukan semua ini adalah karena ulah keluarga Wijaya.


"Sayang, dengarkan aku, aku mohon untuk tidak lagi bersedih, kau ingat bukan, jika di dalam sini ada anak kita ?" Tanya Marcel membuat Nara reflek memegang perut nya.


"Aku tidak akan lupa hubby, hanya saja, aku .. Aku sangat takut, terlebih ada anak ku disini, anak kita. " Lirih nya membuat Marcel tersenyum.


"Jangan takut, percayakan semuanya pada ku, jangan pikirkan apapun, selagi kau mau menuruti semua peraturan ku, peraturan yang ku buat, bukan untuk mengekang mu, tapi ini semua demi keselamatan mu, aku janji kau tidak akan terluka sedikit pun terutama anak kita, dia akan aman bersama ibunya."


"Kau benar Hubby, sudah sangat banyak bodyguard yang menjaga ku, lalu mengapa aku harus takut lagi bukan, sekarang pergilah, atau mau aku antar ke luar?" Tanya Nara.


"Tidak, kau diam lah disini, oh tidak dia luar ada Citra yang akan menemani mu, juga dia akan ikut kau ke bogor, kau sudah tahu kan sayang ?" Ucap Marcel membuat Nara mengangguk.


"Dia kesini makam ini, ku kira besok hubby. " Balas Nara seketika tersenyum karena Citra datang malam ini ke mansion untuk menemaninya.


"Iya, aku menyuruhnya datang malam ini untuk menemanimu, kau senang bukan?" Tanya Marcel.


Nara mengangguk. "Terimakasih hubby, sudah mengerti aku."


Marcel mengacak lembut rambut Nara, membuat Nara mengeluh karena menjadi berantakan.


"Aku sudah jelek, jangan di buat jelek lagi hubby!" kesal Nara membuat Marcel terkekeh.

__ADS_1


"Tidak ada yang jelek padamu, semuanya cantik, aku suka, sekarang ayo kita keluar, sahabat mu itu pasti sudah menunggumu di luar." Ajak Marcel pada Nara.


Nara mengangguk dan mengikuti langkah Marcel keluar kamar.


Syukurlah Kau bisa tersenyum lagi sayang, jika tidak aku akan berat untuk meninggalkan mu.


"Aku senang kau disini Cit, ku kira besok kau akan datang?" Girang nya Nara karena ada nya Citra di mansion. Setidak nya dia tidak akan kesepian dan sendiri, hingga membuatnya selalu memikirkan apa yang sedang dia hadapi.


"Hmm, itu karena suamimu." Jawab Citra membuat Nara tersenyum pada suaminya.


"Ya sudah, sayang aku pergi dulu ya. Citra aku titip istriku !" Pamiy dan pinta Marcel pada Citra.


"Dia aman bersamaku !" Jawab Citra membuat Marcel tersenyum, begitu pun dengan Nara.


"Berhati-hati lah, dan jangan lupa untuk sering menghubungiku !" Ucap Nara pada suaminya.


Marcel kini sudah berada di pesawat jet nya, dengan hanya di temani beberapa bodyguard.


Perasaan Marcel tidak menentu, rasa senang karena akan segera menemukan titik terang masalah besar Nara, juga merasa tidak tenang dengan meninggalkan istrinya di indonesia.


Tidak tenang karena keluarga Wijaya sudah mulai terang-terangan untuk mencelakai Nara, ia hanya takut, jika para bodyguard itu akan lalai. Tapi Marcel sadar jika kekhawatiran nya ini berlebihan, karena dia percaya dengan orang-orang terpilih oleh ayah nya, yang tidak akan lalai dengan tugas nya, dengan keahlian yang sudah mereka mikili, pula mereka sudah sangat terlatih dan profesional, juga yang terpenting mereka sudah di uji kesetiannya, maka Marcel seharus nya tidak meragukan mereka..


Pagi hari di kediaman Wijaya.


Erick di kejutkan dengan adanya surat tilang yang di antar langsung oleh dua orang polisi.


Surat tilang yang berisikan nama Wilona, ksrena Gio dan paman Drax yang sudah menyelidiki siapa yang di balik kemudi itu, yang mngakibatkan Nara dan Marcel hampir saja tertabrak oleh nya.

__ADS_1


"Kami harap, saudari Wilona datang ke kantor poliisi, untuk memberikan keterangannya." Ucap salah satu polisi itu.


Erick hanya mengangguk saja tidak memberikan septah katapun, hingga kedua polisi itu pergi meninggalkan kediaman Wijaya.


"Polisi?" Tanya Anaya pada Erick.


Erick mengangguk. "Hmm, sudah aku bilang bukan, jika kita tidak bisa asal membuat rencana, lihat mungkin saja ini sebuah ancaman untuk kita, agar tidak berbuat macam-macam !" Jawab Erick sambil memberikan surat tilang Wilona pada Anaya.


"Tilang? Erick mungkin saja itu memang dari pihak polisi, dan bukan dari keluarga Admaja." Anaya yang mengutarakan pendapatnya.


"Kau bodoh Anaya, jika hanya tilang, bukan kah Wilona hanya perlu membayar denda tilang, namu ia mesti mendatangi kantor polisi untuk di mintai keterangan, yang mungkin saja akan ada pertanyaan yang mejebak, jika Wilona sengaja melakukan nya, dan itu hanya akan berdampak buruk padanya, lagi pula sangat jarang ada polisi dengan suka rela mengantarkan surat tilanh ke rumah pelanggar bukan?"


Anaya bungkam setelah mendengar pemelasan Erick, jika apa yang di katakan oleh suaminya adalah kebenaran.


Lalu bagaimana nasib Wilona, apa dia akan merasakan apa yang pernah aku rasakan. Batin Anaya.


Wilona kini berada di kantor polisi di temani oleh ibunya, namun Soray tidak ikut ke dalam ruang pemeriksaan dia hanya menunggu di luar, bukan tidak ingin menemani bnamun karena ia tidak di bolehkan masuk olah pihak polisi.


Wilona di berikan beberapa pertanyaan yang membutnya merasa kesal, namun ia mengingat perkataan ayah nya, jika dia mesti koperatif, dan mnegikuti apa yang polisi katakan.


Pagi hari Wilona yang baru bangun dia di minta Erick. Ayahnya untuk datang ke rumah, dengan rasa malas, ia pun datang dan betapa terkejut ya jika pihak polisi meminta ia datang ke kantor polisi untuk di periksa.


"Lihat bukan apa yang ayah katakan, sekarang kau harus datang kenkator polisi dan kau harus koperatif, jangan membantah apapun !"Ujar Erick membuat Wilona mendengua kesal karena ia mau tidak mau harus datang ke kantor polisi.


Dan disinilah Wilona yang berhadapan dengan 2 polis wanita yang aatu mencatat dan satu bertanya padanya.


Wilona sudah menjawab apa yang di tanyakan oleh polisi itu. Ia menjawab dengan santai seolah tidak ada kebohongan saat mengatakan nya, mereka kedua polisi itu pun tahu, jika Wilona berbohong, karena sudah mendengar dari pihak pelapor jika Wilona mengincar nyawa menantu Admaja.

__ADS_1


Wilona hanya di peringatan jika melakukan nya tindalan seperti itu lagi, apa lagi sampai menabrak dan korban hingga terluka atau bahkan meninggal, ia akan mendapatkan hukuman kuruangan penjara kurangvlebih 6 tahun dan denda 12 juta rupiah.


__ADS_2