
Nara membawa Citra ke ruang santai dengan adanya televisi besar, mereka duduk di atas karpet tebal dengan sudah tersedia banyaknya cemilan dan minuman yang tersedia.
Sepasang mata Citra terus berkeliling, mengagumi setiap inci yang ada di dalam Mansion.
Nara tersenyum geli, melihat teman dekat nya seperti itu.
"Rara, dimana mertuamu ?" Tanya Citra, Karena sejak dia datang mertua Nara tidak melihatnya.
"Mereka baru saja keluar, untuk menemui rekan- rekannya, dan mungkin nanti malam mereka kembali!" Jelas Nara sambil memasukkan keripik singkong yang sejak tadi menggoda masuk ke dalam mulut nya.
Citra menghembuskan nafasnya. "Yah, padahal aku sudah senang bisa bertemu orang penting seperti mereka
Nara tersenyum. " Ck, kau ini, jika begitu kau pulang saat malam saja !' Ujarnya pada Citra, yang membuat dia mendengus kesal.
"Bukan kah kau ingin bercerita dengan ku ?" Tanya nya pada Nara yang memang buat awalnya ingin mendengar cerita Nara.
Nara mengangguk membenarkan juka dia akan bercerita pada Citra. "Ku harap, setelah mendengar ini, kau tidak berpikiran buruk dengan ku !"
Citra mengerutkan keningnya. " Maka berceritalah, dan jelaskan semuanya, agar aku bisa mengerti !" Jawabnya pada Nara.
"Lagipula aku yakin kau tidak pernah melakukan hal buruk, aku mengenalmu, Ra!" Lanjutnya lagi, yang membuat Nara tersenyum lega.
Awalnya Nara sedikit khawatir jika harus menceritakan tentang hidupnya, karena menurutnya ini adalah aib yang meski ia jaga dan ia tutupi, namun demi nama baiknya ia meski bercerita walaupun tidak ke semua orang, dan yang terpenting pada orang terdekat kita.
Citra, dia adalah orang yang paling dekat dengannya, yang sejak awal sudah tahu akan kehidupan nya, meski tidak secara detail, karena Nara, dia adalah orang yang cukup tertutup.
"Baiklah akan aku ceritakan !" Ujarnya pada Citra, yang membuat Citra menyimaknya dengan cermat.
__ADS_1
"Kau tahukan, jika aku adalah bagian keluarga Wijaya, dan yang ternyata mereka bukan keluarga kandung ku !" Lanjutnya lagi membuat Citra terkejut, namun ia tidak mengeluarkan sepatah katapun, entah ia begitu terkejut atau, membiarkan sahabatnya menyelesaikan ceritanya lebih dulu.
Nara pun mulai menceritakan sejak awal ia baru mengetahui tentang status ya, yang bukan bagian dari keluarga Wijaya.
"Mereka memaksaku untuk menikahi pria tua yang sudah memiliki istri dua, demi menyelamatkan perusahaan yang terancam gulung tikar !"
"APA! ck, mereka benar-benar tidak waras, untungnya sekarang kau menikah dengan Tuan Marcell. Lalu setelah itu apa yang terjadi? tentunya kau menolaknya bukan, apa mereka menerima penolakan mu ?" Cecar Citra yang penasaran akan kelanjutan cerita dari Nara.
Nara mengangguk. "Mereka tidak menerima penolakan ku, hingga akhirnya aku di kurung di dalam kamar, karena besoknya mereka akan menikahkanku langsung dengan nya, tapi aku beruntung bisa melarikan diri dari sana, dan menginap di sebuah hotel kecil yang tidak jauh dari kediaman Wijaya!"
"Aku kira dengan aku tidak keluar dari hotel sepanjang hari, dan mereka tidak akan menemukanku di sana, namun rupanya, aku sala, malam itu mereka membuatku harus merasakan sakit yang luar biasa, hingga bertemu dengan Marcell dan dia yang menolongku
Pikiran Nara menerawang saat malam itu malam yang membuat hidup nya berubah, dan Citra yang setia menyimak setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya.
Nara terlihat tegar saat menceritakan semuanya pada Citra, seolah dia sudah berdamai dengan masa lalunya, tidak ada dendam dalam hatinya, ia hanya ingin hidup dengan tenang dan bahagia bersama Marcell, pria yang menerima segala kekurangannya.
Miris, itulah kehidupan Nara dulu, kedua orang tua yang dianggapnya ternyata bukan orang tua kandungnya, yang kini mereka malah terus mengusik kehidupan tenang dan bahagia yang selalu di idamkan oleh nya.
"Sabarlah, dan kuat, sekarang kau dikelilingi oleh orang-orang yang sayang padamu !" Ucap Citra menenangkan sahabatnya, dan melepas pelukannya.
Nara mengangguk. "Hmm, aku beruntung bisa bertemu dengan Marcell, seolah dia yang membuka pintu kebahagiaan untukku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak bertemu dengan Marcell, mungkin, mungkin saja saat itu, hidupku yang hanya sampai saat malam itu!" Jawabnya sambil menghapus air mata yang menetes di wajah cantiknya.
"Jodoh, itulah yang dinamakan jodoh, Ra!"
Nara mengangguk dan tersenyum "Sekarang aku hanya ingin mencari tahu tentang orang tua kandungku, yang sulit aku cari, bahkan Marcell dan kedua temannya. Erick Wijaya, dia benar-benar menyimpannya dengan rapat
"Bukankah suamimu orang hebat, maka bersabarlah, aku yakin dia akan menemukan jawabannya, tentang orang tua kandungmu dan juga semua jawaban mengapa mereka memperlakukanmu seperti ini !"
__ADS_1
"Kau benar, aku hanya perlu bersabar !" Jawab Nara dan Citra pun tersenyum.
Di salah satu restoran yang cukup terkenal, kini Marcell dan juga Reno tengah bertemu dengan seorang Klien yang akan mengerjakan proyek besar di Amerika.
Klien itu bernama Miss.Rachel dan asistennya bernama Mr. Jeremy.
Miss Rachel, wanita cantik yang mungkin usianya sama dengan Marcell dan Reno, awalnya Marcell dan Reno heran mengapa klien mereka adalah wanita, namun ternyata perusahaan yang akan bekerja sama dengan nya kini dikelola oleh anaknya.
Mereka terlihat saling berjabat tangan, seolah telah sepakat dengan apa yang sudah mereka bicarakan. Mereka pun memutuskan untuk melanjutkan lebih
dulu makan siang yang tertunda, karena pembahasan bisnis yang akan mereka kerjakan.
Saat telah selesai makan siang, mereka pun berbincang singkat.
Miss. Rachel, wanita itu terlihat terus mengamati Marcell, dia yang begitu kagum dengan pria yang menjadi partner kerja sama nya kali ini, awalnya dia pun sama mengira jika partner kerja samanya adalah pria tua yang seumuran dengan ayahnya.
"Ku rasa setelah ini, Tua Marcell yang meski datang ke negaraku. untuk lebih membicarakan proyek kita disana ?" Tanya Miss. Rachel memulai obrolan lebih dulu.
Marcell mengangguk," Iya, itu sudah ada dalam jadwalku di minggu mendatang !"Jawabnya singkat dengan wajah datarnya.
Miss. Rachel tersenyum. "Kau tahu tuan, aku tidak menyangka jika CEO Admaja Company adalah pria muda sepertimu, maksudku, awalnya aku mengira akan bertemu dengan Tuan Arya !"
Marcell tersenyum tipis. " Apa konferensi Pers tidak sampai kesana, aku kira urusan bisnis akan sampai di telinga para pebisnis !"
"Mungkin, aku tidak tidak tahu, karena aku saja baru gabung di dunia bisnis ini karena paksaan ayahku!"
Marcell mengangguk mengerti karena itu adalah yang sama halnya dengan yang ia alami, dia yang baru terjun didunia bisnis, yang tidak tahu kabar apapun yang ada diluar sana, baginya hanya fokus pada pekerjaannya saja.
__ADS_1