Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 35


__ADS_3

"Ck wanita itu, apa hebatnya, dia hanya gadis cupu, Marcell Marcell, kau seorang CEO, seharusnya kau mencari wanita seperti ku. !" kesal Amara membanggakan diri, karena menurutnya dia adalah wanita berkelas yang sangat pantas bersanding dengan pria seperti Marcell, seorang CEO.


Drrt drrt terdengar HP nya bergetar, dengan notifikasi satu buah pesan. Amara segera membaca pesan tersebut, rupanya itu adalah sebuah alamat rumah dimana Marcell tinggal yang ia minta pada orang suruhannya.


"Alamat ini berada di kawasan elit, ck aku sudah bermimpi sejak dulu ingin tinggal di sana, rupanya pria yang ku pikir miskin ternyata memiliki kekayaan yang sangat banyak, bahkan memiliki mansion di sana, baiklah, Marcell kau tunggulah, aku akan segera mengambil hatimu kembali, dan wanita itu, ck kau buang saja !" Ujar Amara dengan kedua sudut bibir nya yang terangkat.


Alex, kekasih Amara yang sedang berada diluar kota, kembali terlihat mengepalkan tangannya. Rupanya ia sudah melihat CCTV yang ia letakkan di apartemen Amara tanpa diketahuinya.


"Jangan harap Amara, kau hanya milikku!"


Alex pun menghubungi seseorang untuk memintanya mengawasi Amara dan jangan biarkan Amara berhasil mendekati Marcell.


"Aku ada tugas untukmu, wanitaku, Amara jangan biarkan dia mendekati Marcell, aku harap kau tidak lagi kecolongan!" Ujarnya kepada seseorang di telepon dan langsung mematikannya sepihak.


Kediaman Wijaya.


Erick yang terlihat termenung di meja kerjanya, memikirkan nasib anaknya yang menderita karena permintaannya.


Erick merasa kasihan pada Wilona, namun ia pun tidak menyalahkan dirinya sendiri, karena sejak awal dia sudah memberi pilihan untuk menikah dan tetap mendapatkan kemewahan, atau tidak menikah dan mereka akan jatuh miskin.


Pilihan berat yang diberikan Erick rupanya mau tidak mau Wilona jalankan, terlebih Anaya istrinya yang sejak awal menentang keras jika dirinya tidak ingin jatuh miskin yang sama halnya dengan Wilona.


Nara yang sejak awal menjadi tumbalnya demi kehidupan mereka, malah berhasil melarikan diri, yang bahkan saat ini dia hidup dengan tenang dan bahagia, yang seharusnya Wilona dapatkan bukan malah penderitaan.


Drrt drtt drtt... HP Erick bergetar tanda ada telepon masuk.


Wilona.


("Halo, sayang kau dimana?")


("Aku di apartemen !")


("ayah, aku ingin meminta tolong padamu")


("apa itu, Wilona?")


("Marcell, aku ingin dia!")

__ADS_1


("Sayang bagaimana mungkin, keluarga Admaja akan sangat sulit disentuh !")


("Aku tidak peduli, aku akan tetap mencobanya, Nara, dia bisa mendapatkannya, mengapa aku tidak bisa, sudahlah aku tidak ingin bernego denganmu, ayah hanya perlu mencari cara agar bisa bekerja sama dengannya!")


Tut tut tut. Panggilan pun terputus sepihak oleh Wilona, membuat Erick menghela nafasnya kasar.


"Ck, anak itu, apa dia tidak tahu, bahkan sejak dulu aku sudah sering mencoba bekerja sama pada mereka, tapi tidak pernah direspon." Erick pun terdiam, memikirkan Wilona yang keinginannya tidak bisa dibantah.


"Nara, ck anak sial itu, lihat saja, jika aku berhasil mendapatkanmu, kau tidak akan kubiarkan lolos.!" Ujar Erick yang sudah berniat mengurung Nara.


Erick yang mengingat keluarga Admaja yang mungkin akan sulit dihadapi, namun ia harus tetap mencari cara agar bisa kembali membawa Nara ke dalam penderitaannya.


Wilona di apartemennya, dia seperti sedang menyusun rencana, yang pasti itu bukan lah hal yang baik.


Sudut bibir Wilona terangkat, mengingat Nara saat itu melarikan diri dalam keadaan obat perangsang yang ia berikan.


"Aku yakin, jika Tuan Marcell hanya memanfaatkannya, ah mungkin saja, Tuan Marcell akan menginginkan tubuhku juga."


"Benar, sekarang aku harus bisa mendekati Tuan Marcell, ku harap ayah bisa mengabulkan permintaanku, karena dengan begitu aku bisa bebas dari budak *** pria tua itu, dan hidupku akan bahagia menikahi pria tampan dan kaya Raya.!" Ujar Wilona, ia tersenyum membayangkan jika dirinya kini di posisi Nara.


Nara yang kini tengah menjadi incaran kedua wanita yang terobsesi menjadi dirinya, kini terlihat bahagia dengan Marcell. yang terus menerus memberikan perhatian pada dirinya.


"Sudah malam, ayo kita kembali ke Villa, bahkan kau pun belum makan malam ?" Ujar Marcell pada Nara.


Nara mengangguk. "Baiklah kita kembali." dengan masih tidak rela, karena sejujurnya dia masih ingin terus berada disini, menikmati pemandangan malam dengan langit yang dipenuhi bintang, dengan ditemani jagung bakar sudah ia habiskan..


Marcell mengerti dengan keinginan istrinya. "Langit disini sama dengan di Villa, kau bisa melihatnya juga disana." Ucap Marcell sambil mengusap lembut kepala Nara.


Nara tersenyum dan mengangguk, benar apa yang dikatakan Marcell.


"Ayo!" Ajak Nara semangat membuat Marcell


terkekeh gemas, melihat tingkah istrinya seperti anak kecil.


"Kita beli makan malam dulu, setelah itu kita pulan ke Villa dan memakannya disana, jika memasak itu akan menghabiskan waktu lagi, kau sudah lelah !" Ujar Marcell dengan penjelasannya, karena jika tidak Nara pasti sudah meminta agar dia memasak saja.


Nara mengangguk, karena apa yang dikatakan Marcell ada benarnya, dia benar-benar lelah, setelah hampir seharian ia berkeliling di sekitar puncak.

__ADS_1


Mereka pun kembali ke Villa, setelah mendapatkan makan malam.


Di Villa, Ayu terlihat duduk di sebuah sofa yang berada di teras Villa.


Sore hari, Pak Amir saat sebelum ke Villa, Ayu bertanya.


"Bapak mau ke Villa?" Tanya Ayu.


Pak Amir yang hendak keluar rumah berhenti menatap putrinya karena bertanya. "ia, mau ngambil motor, siapa tahu tuan Marcell sudah kembali."


Ayu mengangguk. "Biar Ayu aja yang ambil pak, sekalian Ayu mau ke depan, supermarket mau beli sesuatu."Ujar Ayu.


Pak Amir pun berpikir sejenak. "Kalo Tuan Marcell belum kembali ?"


"Ga apa-apa biar Ayu tunggu pak."


"Ya sudah, jika sudah kembali, jangan terlalu larut pulangnya !" Ujar pak Amur pada putrinya.


Ayu pun mengangguk senang dan segera pamit pada bapaknya.


Marcell dan Nara tidak lama sampai di Vill, mereka tidak menyadari keberadaan Ayu, namun Ayu melihat kedapatan pasangan suami istri itu kembali.


"benar, istrinya cantik" Pikir Ayu sesaat ia mengagumi Nara.


Nara menggandeng lengan Marcell, dan Marcell hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang terlihat manja, Marcell senang Nara seperti ini padanya.


"Tuan Marcell." Panggil Ayu dan mendekat ke arah pasangan yang sedang dimabuk cinta.


Marcell hanya menatap Ayu heran, dan Nara yang tidak tahu Ayu pun bertanya pada Marcell


"Siapa?" Tanya Nara lirih.


Marcell tersenyum pada Nara. "Anaknya pak Amir." Jawabnya, dan Nara pun mengangguk.


"Ada apa ?" Tanya Marcell.


"Itu, Ayu mau mengambil motor bapak, Tuan Marcell sudah memakainya?" Tanya Ayu yang terus menatap Marcell dan seperti tidak menghiraukan Nara, namun Nara tidak peduli toh Marcell saja terlihat dingin padanya.

__ADS_1


__ADS_2