Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 23


__ADS_3

Apa Marcell ? Nara bertanya dalam batinnya.


"Pergilah! sebelum kami bertindak kasar pada kalian!" ucap salah satu bodyguard pada Wilona dan juga Anaya.


"Ck, siapa kalian? jangan ganggu kami, dia hanya wanita ****** yang tidak tahu diri!" ujar Wilona yang kesal karena Nara dilindungi oleh semacam bodyguard.


"Kami diperintah untuk melindungi nona kami, jadi saya harap kalian segera pergi dan jangan mengganggunya lagi!" ucapnya tegas pada Wilona dan Anaya.


Sedangkan mereka tidak mau mengikuti perintah mereka, mereka pikir mereka siapa ucap batin mereka bersamaan.


"Nara?" panggil seorang wanita yang membuat mereka menoleh bersamaan.


"ibu," ucap Nara dan lalu menghampirinya dan mencium tangannya. Safira tersenyum pada Nara.


Rupanya itu adalah Safira yang juga sedang berbelanja, dan ia sedikit penasaran dengan keributan yang terjadi, awalnya ia tidak peduli. Namun, saat ia mendekat, dan ternyata itu adalah menantunya yang sedang di ganggu dan kini Nara yang sedang adu mulut dengan dua wanita yang berbeda usia.


Wilona dan Anaya saling pandang melihat Nara menghampiri wanita paruh baya yang terlihat anggun dan cantik, mereka heran mengapa Nara bahkan memanggil wanita itu ibu.


Safira menatap tajam pada Wilona dan Anaya," kalian, apa tidak memiliki etika melabrak orang di tempat umum seperti ini? dan apa kalian tidak malu jika suatu saat nanti kebenaran akan terungkap, Kinara, dia adalah menantuku, jangan pernah mengusiknya, atau aku akan menyebar luaskan video CCTV yang sudah terekam disini, dan anda nona, bukankah anda seorang model, kurasa jika agensi mu tahu mereka tidak ingin memiliki model yang mempunyai skandal seperti ini."


"Siapa kau nyonya? jangan campuri uauran kami!" ucap Wilona kesal.


Anaya ia terdiam menelisik pakaian yang dikenakan wanita yang mungkin lebih tua darinya sedikit, barang- barang yang dikenakan wanita di depannya adalah barang ber branded yang bahkan keluaran terbaru Anaya lalu menyikut lengan Wilona dan berbicara lirih pada Wilona untuk segera pergi, karena dia pikir jika wanita di hadapannya bukan wanita yang bisa mereka lawan. Akan tetapi ada hal aneh, apa benar jika Nara adalah menantunya, bagaimana bisa? Pikirnya.


"Kita pergi dari sini!" ajak Anaya memaksa Wilona keluar, dengan menarik lengan Wilona, yang masih enggan pergi sebelum membawa Nara, namun Anaya terus menarik Wilona hingga Wilona akhir nya pasrah walau tidak mengerti mengapa ibunya seperti ini.


Saat di luar Wilona yang di pegangannya menatap tajam ibunya, "bu, seharusnya ibu menarik Nara agar ikut dengan kita, mengapa kita harus meninggalkannya, apa ibu takut? apa ibu percaya perkataan Nara, dan juga wanita tua itu?"


"Ck, berhenti mengoceh dan cepatlah masuk ke dalam mobil, nanti ibu ceritakan, dan lagi ini sudah sore bukankah sudah waktunya Samuel kembali ke apartemen?" ujar Anaya yang membuat Wilona mau tidak mau Wilona mengikuti perkataan ibunya.

__ADS_1


Kembali pada Nara dan Safira.


"Kau tidak apa apa Ara?" tanya Safira khawatir.


Nara menggeleng," tidak bu, terimakasih."


Safira tersenyun, "Kalian berjagalah lagi dari kejauhan, dan jangan sampai kecolongan lagi! "ujar Safira pada ketiga bodyguard di hadapan mereka.


"Baik nyonya, dan nona maafkan kami, kami benar benar menyesal." ucap sesal dari ketiga bodyguard itu pada Nara.


"Ah ya tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf," ucap Nara, dan mereka pun mengangguk dan pergi berjaga dari kejauhan lagi.


"Kau belanja?" tanya Safira pada Nara, karena melihat stroller dipenuhi sayuran daging dan buah buahan.


"Iya bu, karena jika harus terus beli makanan di luar kan boros, jadi lebih baik aku yang memasak," jawab Nara, yang membuat Safira tersenyum.


"Ya bu, walaupun hanya makanan rumahan," ucap Ara sediki malu.


Safira tersenyum, "tidak apa, justru Marcell sangat menyukai makanan seperti itu, tadi itu keluarga Wijaya?" tanya Safira dan Nara mengangguk.


"Bu, apa yang tadi itu bodyguard untuk Ara dari Marcell?" tanya Nara penasaran.


Safira mengangguk," Kau tidak tahu?" tanya Safira dan Nara pun mengangguk.


"Ibu juga baru tahu, dan hanya menebaknya jika mereka memang berjaga untukmu. Namun, itu bagus demi keamanan mu bukan ?" ujar Safira yang membuat Nara mengangguk pasrah.


Mereka pun memutuskan untuk berbelanja bersamaan, hingga selesai Nara diminta untuk mengikuti nya ke pulang mansion, karena mendengar Marcell kemungkinan akan pulang larut malam.


"Bu, kenapa sih kita ga bawa Nara sekalian?" tanya Wilona kesal, karena membiarkan buruannya lepas begitu saja.

__ADS_1


"Wilo, ibu sebelum melihat Nara, dia keluar dari mobil mewah, dan tadi wanita tua itu pun bilang jika Nara adalah menantunya, jadi ibu memutuskan untuk membiarkan dia lebih dulu, dari pada nanti malah menjadi masalah, biarkan ayahmu yang mengurusnya," ujar Anaya.


Wilona berdecak kesal,"apa ibu percaya begitu saja?"


Anaya terdiam dan menoleh ke arah Wilona,"sayang ibu memang belum mempercayai ini, tapi jika itu benar maka itu akan menjadi bumerang untuk kita, karena jika ibu lihat wanita tua itu lebih kaya dari kita, bahkan Nara saja mengendarai mobil BMW keluaran terbaru," ucap Anaya membuat Wilona semakin kesal dan marah.


"Bu, jika itu benar aku benar-benar ingin segera membuatnya merasakan penderitaan ku. kenapa sih bu, Nara dia selalu beruntung dibandingkan denganku, aku tidak bisa terima ini, bagaimana pun dia harus lebih menderita dari aku," ucap Wilona pada ibunya, yang sangat tidak rela jika Nara hidup bahagia, sedangkan dia harus menderita karena harus menikahi pria tua.


Anaya mengangguk, "kau tenanglah, ibu yakin ayahmu sudah memiliki rencana," ujar Anaya meyakinkan Wilona meski dalam hatinya ia pun belum bisa merasa tenang, karena walau bagaimanapun untuk menghadapi orang yang statusnya lebih dari mereka itu akan sangat sulit.


"Ara ikutlah dengan ibu pulang ke mansion!" ajak Safira pada Nara.


Nara sedikit berpikir dan setelah itu ia pun mengangguk membuat Safira tersenyum, "belanjaan mu simpan saja, biar pak Tono yang membawanya dan dia juga biar membawa mobilmu, kau ikut ibu," ujar Safira dan Nara kembali mengangguk pasrah.


Safira pun menyuruh Pak Tono supirnya untuk lebih membawa mobil Nara serta belanjaannya ke penthouse.


Saat Safira akan memasuki mobilnya dan juga Nara, Safira terhenti karena ada yang memanggilnya.


"Tante Safira, tante apa kabar?"


"Oh Amara, kabar tante baik," jawab Safira yang sedikit tidak nyaman karena harus bertemu dengan Amara.


Apa Amara sudah tau siapa Marcell batin Safira.


Nara ia hanya terdiam, lagi pula ia tidak mengenal Amara.


Siapa dia apa dia temannya Marcell, tanya Nara dalam hatinya.


Amara menghampiri Safira dan memegang tangannya, bahkan memeluk Safira.

__ADS_1


__ADS_2