
Kepergian Wilona, membuat Anaya merasa khawatir, apakah anak nya akan aman. Anaya pun mencari Erick dan ingin berbicara padanya.
"Apa dia akan aman, tidak akan ada yang mencari nya bukan?" Anaya yang baru saja menemukan Erick di ruang kerjanya, yang terlihat sedang memeriksa beberapa berkas.
Erick menatap Anaya dengan malas, namun tetap menjawab pertanyaan nya. "Aku tidak tahu, kita berdoa saja, jika keberuntungan akan berpihak padanya !"
Anaya berdecak kesal sambil menduduki dirinya di atas sofa yang berada sedikit jauh dari meja kerja Erick." Tidak bisakah semuanya di percepat, aku benar-benar tidak sabar untuk mengakhiri ini, terutama ini demi Wilona, aku ingin melihat nya bahagia !"
"Apa kau pikir, aku tidak ingin melihatnya bahagia, Anaya! Semua ini sudah terencana, kau juga tahu dan mengerti bukan, jadi jangan membahas hal yang membuatku pusing!" Decak kesal Erick pada istrinya.
Anaya yang sudah mengerti namun tetap tidak bisa mengikuti segala perintah ataupun aturan dari Erick, meski bersabar, namun Anaya kadang selalu ingin cepat menyelesaikan semuanya, dengan alasan Wilona.
Anaya melihat sikap Erick terlihat sedang kesal. "Apa, apa aku akan selalu bersikap kasar begitu, aku hanya bertanya baik-baik!"
Erick menatap Anaya. "Ya aku sedang kesal dan pusing. Karena setiap rencana yang di atur selalu gagal, terlebih orang suruhan ku, sulit menembus benteng yang di buat oleh Marcel, dan anak mu, Wilona menambah rasa kesal ku karena bertindak bodoh !"
"Ch, nanti aku akan bantu cari cara, jangan menjadikan ku dan Wilona pelampiasan kemarahan mu, jika begini, malah keluarga kita lah yang akan hancur !" Ucap Anaya yang lalu berdiri dan meninggalkan Erick di ruangannya.
Erick menatap kepergian Anaya, benar saja dia secara tidak langsung melukai hati putri dan juga istrinya, Erick pun mengusap wajah nya kasar, kemarahan dan kekesalan selalu tidak bisa ia tahan, apa lagi ini menyangkut Nara.
Mansion.
Karena kejadian siang tadi akibatnya Marcel memundurkan penerbangannya menuju Korea, setelah kembali memeriksa kehamilan istrinya, dan bersyukur tidak terjadi apapun, Nara hanya kaget dan syok, dan itu juga berlaku padanya.
__ADS_1
Marcel meninggalkan Nara yang tertidur pulas di ranjang king size nya, dia pun segera keluar kamar dan turun menuju lantai bawah, dimana di sana sudah ada paman Drax, Gio dan juga beberapa pengawal.
"Jadi apa ini memang di sengaja?" Tanya Marcel.
"Mungkin pada awalnya tidak, namun karena melihat kalian menyebrang, dia pun melakukan nya." Jawab Gio dengan menunjukan CCTV saat terjadi siang tadi.
"Itu prediksi kami, karena mobil ini pada awalnya melaju dengan kecepatan standartnya." Tambah Paman Drax.
Marcel pun mengangguk." Jika ini sengaja, apa ini mereka?" Marcel yang mencurigai keluarga Erick Wijaya.
Gio mengangguk. "Aku sudah menyelidiki kepemilikan mobil ini, dan itu adalah mobil milik Wilona, dan benar saja ketika ada satu rekaman yang masuk kembali, Erick Wijaya yang marah terhadap anak nya karena bertindak bodoh, juga karena misinya selalu gagal ." Gio yang menjelaskan semua yang di ketahui nya baru saja bersama paman Drax.
Marcel tersenyum." Baguslah, berarti yang kita khawatirkan adalah hal yang seperti ini, seperti di tempat ramai atau tempat umum."
Marcel mengangguk. "Nanti aku bicarakan padanya, saat ini dia sangat shock, jika aku terlambat manarik nya, mungkin hal buruk akan terjadi."Balas Marcel dengan ekspresi wajah yang bercampur marah dan khawatir terhadap istrinya.
Marcel pun jadi takut untuk meninggalkan Nara, namun itu tidak bisa di batalkan oleh nya, karena hal ini juga penting, agar semua menjadi jelas, dan terutama agar Nara yang mungkin saja akan terbebas dari semua ancaman.
"Apa kita bisa laporkan dia ke polisi, karena hampir saja menabrak kami, mungkin dengan laporan mengemudikan kendaraan melebihi batas normal, kita gunakan ini sebagai ancaman untuk mereka, jika apapun yang mereka lakukan, kita pasti akan mengetahui nya, dan menjadi harapan agar mereka tidak akan melakukan hal seperti ini lagi, membuat nyawa istriku terancam !"
"Hmm, aku akan lakukan, itu ide bagus, meski dia hanya akan mendaoat surat tilang, namun itu bisa manjadi ancaman agar mereka tidak Berbuat macam - macam untuk melukai Nara, karena kita juga tidak akan segan untuk melaporkan nya ke pihak kepolisian, dan menjebloskan mereka ke penjara !" Gio yang setuju dengan ide Marcel begitu pun dengan paman Drax.
Mereka tidak akan bermain - main, selagi mereka terlihat bergerak melukai Nara, maka hukuman akan menanti mereka.
__ADS_1
"Aku harus pergi malam ini sayang, kau tidak apa kan ?" Ucap Marcel pada istri cantik nya yang masih berbaring di tempat tidur.
Nara mengangguk. "Hmm, tidak apa hubby, kau punya tanggung jawab. "Jawab Nara.
Marcel tersenyum." Ingat, selama aku pergi, kau harus selalu ingat dengan apa yang sudah aku katakan !" Ucap Marcel pada Nara.
Marcel sudah berulang kali mengatakan pada istrinya, jika dia tidak boleh melanggar aturan yang sudah di berikan Marcel, karena itu semua demi ke amanan nya juga.
Termasuk para bodyguard yang bertambah, dan Nara tidak boleh mengeluh sedikit pun.
Paman Drax dan anak buah nya, sudah Marcel percaya, dan Nara pun sudah di beri tahu, jika nantinya keputusan paman Drax adalah keputusan nya.
"Hubby, bolehkah aku tahu, apa ini ulah keluarga Wijaya, keluarga ku ?" Tanya Nara, dia sangat ingin penasaran dan ingin tahu, apa benar, keluarga Wijaya yang membuat penjagaan di sekitar Nara sangat banyak.
Marcel terdiam menatap manik mata istrinya, yang terlihat sangat bersedih, ia mengerti akan perasaan Nara.
Meski Wijaya adalah keluraga satu-satu nya yang ia ketahui dan ia kenal, namun tidak ada yang menyayanginya, malah mereka sangat ingin membuat nya menderita, atau mungkin memusnahkannya.
Marcel memeluk istrinya yang terlihat ingin menangis, namun di tahan oleh nya, ke adaan Nara yang seperti ini membuat Marcel berat untuk meninggalkan nya, namun ia tidak punya pilihan lain, karena ini juga demi istri nya, demi Nara yang sangat ia sayangi dan cintai, agar ia segera terbebas dari segala ancaman keluarga Wijaya, ataupun yang berapa di korea.
Marcel mengelus rambut Nara dan lalu mencium kening nya setelah melepaskan pelukan nya."Benar, ini karena mereka, kau tidak apa kan ?" Tanya Marcel khawatir.
Nara tersenyum miris, air matanya oun menetes." Apa kedua orang tua ku melakukan kesalahan di masa lalu, hingga mereka membalas dengan penderitaan ku, hubby, apa karena semua itu ?" Tanya Nara kembali pada suaminya.
__ADS_1
"Tidak sayang bukan, kedua orang tua mu adalah orang yang baik, hanya mereka saja. Keluarga Wijaya yang memiliki sifat iri dan dengki, dengar sayang, jangan pernah percaya pada siapapun kecuali padaku, kau mengerti ?" Ucap Marcel sambil menghapus air mata yang keluar dari mata indah istrinya dan Nara hanya mengangguk, namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut nya.