Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 128


__ADS_3

Erick terus menatap kertas yang terbakar di hadapan nya, hingga memastikan kertas itu telah berubah menjadi abu, setelah itu Erick bergegas berangkat menuju perusahaan nya, karena hari yang sudah semakin siang.


Kediaman Admaja.


Sangat pagi sekali, Marcell yang di awali sebuah drama, membangunkan Safira, karena permintaan Nara yang sangat ingin memakan nasi kuning buatan Marcell, dan sejak subuh ia bangun bahkan Safira yang di minta untuk membantunya, meski Marcell bisa memasak, namun masakan yang penuh dengan bumbu itu membuatnya cukup kesulitan. Marcell tidak mengeluh, bahkan ia merasa tertantang untuk menjadi koki hebat untuk istri dan anak nya.


"Kau tidak merasa keberatan bukan istrimu bersikap seperti itu?" Tanya Safira pada Marcell yang khawatir jika Marcell akan merasa kesal.


Marcell tersenyum." Tidak sama sekali bu, bahkan aku senang, aku tahu wanita yang mengandung dan melahirkan, mereka yang bahkan mempertaruhkan nyawanya, maka dengan Marcell mengabulkan semua keinginan nya itu bukan suatu masalah, karena hal ini cukup mudah untuk Marcell, tidak dengan kalian para wanita. Wanita yang hebat, terimakasih sudah melahirkan Marcell bu." Jawab Marcell dan lalu memeluk ibu nya.


Safira merasa terharu, ia sedikit meneteskan air matanya, sungguh ia sangat beruntung, karena rupanya dia dan juga Arya tidak gagal mendidik Marcell menjadi anak yang berbakti, dengan kepribadian yang sangat baik.


"Sudah, panggilkan Nara, semua telah siap bukan, ibu juga akan memanggil ayah mu, ini sudah cukup siang, seperti nya ayah mu akan terlambat berangkat ke kantor hari ini." Ucap Safira sambil melangkah menuju kamar nya memanggil Arya.


Sedangkan Marcell, ia terlihat menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, ia terkekeh karena akibat ia memasak, jadi cukup siang untuk mereka sarapan, karena Marcell yang belum pernah memasak nasi kuning dan masih kaku untuk memasak dari sebuah instruksi ibu nya, yang juga kadang merasa kesal pada Marcell.


"Ferdi, tolong siapkan semua nya di meja makan, aku akan memanggil istriku. " Perintah Marcell pada Ferdi, kepala pelayan di mansion ini. Ferdi pun dengan lekas menyiapkan nasi kuning beserta lauk nya yang juga di bantu oleh para maid.


Sedangkan Marcell, pergi menuju kamar dan akan memanggil istrinya, karena ia tebak jika Nara sudah bangun dari tidurnya.


"Sayang, kau susah bangun ternyata. " Perkiraan Marcell benar, karena Nara telah siap.


Nara mengangguk." Mengapa tidak membangunkan ku, ku kira kau sudah berangkat kerja. "

__ADS_1


Marcell tersenyum." Maaf kan aku, sayang, suami mu ini belum berangkat untuk bekerja, bukankah aku masih ada cuti selama 2 minggu kedepan, sudah, kita sarapan dulu, bukankah kau mau nasi Kuning buatan ku, aku baru selesai memasak nya." Jawab Marcell membuat kedua bola mata Nara berbinar.


"Benarkah, kau sudah membuatnya Hubby, mengapa tidak memanggilku. Aku ingin melihat mu memasak. " keluh nya yang membuat Marcell merasa gemas.


"Lain kali, kau akan melihat ku memasak lagi, sekarang ayo kita ke bawah. Ku rasa ayah dan ibu sudah menunggu kita di meja makan." Nara pun mengangguk dan menggandeng lengan Marcell.


Setelah sarapan, Marcell bertanya pada istrinya mengenai masakan nya. " Kau suka?"


Nara mengangguk. " Hmm, ini enak, aku suka."


Safira dan Arya tersenyum." Teruslah membuat sulit suami mu, agar dia tahu perjuangan mu nanti nya, lanjutkan obrolan kalian, ayah berangkat kerja dulu, ini sudah sangat siang. " Ujar Arya pada Nara dan juga semua, terutama pada Safira yang berada di samping nya, pamit untuk segera berangkat ke kantor.


"Hmm Marcell sudah sangat berusaha sayang, dia tidak mengeluh, baiklah, berhati-hati lah." Ujar Safira pada Arya yang langsung bergegas berangkat ke perusahaan.


Nara memandang Marcell, seolah ia berkata, jika dia harus menajawab apa mengenai pertanyaan dari ibu mertuanya.


"Apa ibu mau ikut tinggal di bogor?" Ajak Marcell pada ibu nya yang langsung mengangguk kan kepalanya semangat.


"Tentu, jangan tinggalkan ibu, udara bogor sangat bagus untuk ibu hamil, dan juga kita, jadi ibu pasti akan ikut dengan kalian." Ucap Safira senang.


Nara tersenyum, dia sudah sempat merasa takut jika Safira akan marah karena Nara memilih tinggal di bogor, tapi ternyata ibu mertua nya malah ingin ikut bersama dengan mereka, dan tentu Nara tidak merasa keberatan, dia akan senang, karena mungkin ketika Marcell ada kesibukan di jakarta, jadi dia ada ibu mertuanya dan juga kayla yang akan menemani nya.


"Aku senang jika ibu juga mau ikut tinggal di bogor." Jawab Nara.

__ADS_1


Safira tersenyum. "Lalu kapan kita pindah ?"


"Secepatnya bu, mungkin besok atau lusa, jika semua persiapan nya sudah selesai." Balas Marcell di angguki Safira.


Bogor.


"Jadi tuan Marcell dan juga istrinya akan tinggal disini pak?"


"Hmm, benar untuk itulah kita harus membersihkan villa ini segera." Jawab Pak Amir pada putri nya, Rahayu.


Rahayu tersenyum. " Baiklah, oh ya pak di depan banyak tukang kebun, apa mereka akan menanam bunga, karena banyak bunga yang mereka bawa untuk di tanam." Tanya Rahayu kemudian, karena ada cukup banyak tukang kayu yang datang dan akan merombak taman di depan Villa menjadi taman bunga.


Pak Amir menagguk. "Ya itu permintaan istrinya, sudah Kau bantu ibumu di dapur untuk menyiapkan makanan dan juga kopi untuk mereka." Rahayu pun mengangguk patuh pada Bapak nya.


Tuan Marcell sangat menyayangi istrinya, bahkan selalu menuruti keinginan nya, haaah aku iri dengan istrinya yang bisa mendapatkan lekaki seperti tuan Marcell.


Sesuai dengan rencana nya, Erick Wijaya mendatangai Samuel ke perusahaan nya, awal nya dia sudah menghubungi Samuel mengajak nya bertemu, namun Samuel meminta Erick untuk datang saja ke perusahaan.


"Jadi kau ingin aku tetap membiarkan Wilona meraih mimpinya, menjadi model ?" Tanya kembali samuel setelah mendengar keinginan Erick mendatanginya. Erick pun mengangguk dengan mata yang terus menatap Samuel.


Samuel manarik sudut bibirnya dan membalas tatapan Erick." Bisa saja, namun aku ingin dia mengakui jika dia istri ketiga ku!"


Mendengar itu Erick mengeraskan rahang nya. Bukan kah kita sudah sepakat akan hal ini tuan, jika Wilona bebas melakukan apapun dan juga merhsaiakan pernikahan ini." Geram Erick pada Samuel.

__ADS_1


Samuel berdecak. " la awal nya seperti itu. Namun aku tidak suka dengan cara bermain anak mu, dengan memggoda pria - pria kaya di luar sana, demi apa, demi berpisah dengan ku bukan, ch, anak mu sudah menjadi j*lang yang sebenarnya Erick !"


__ADS_2